Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 84 - Ini Bukan Mimpi


__ADS_3

BAB 84


Alonso berat mengatakan keadaan yang sebenarnya, jujur selama bekerja dengan Leonard tidak pernah ia merasakan hal seperti ini.


“Cepat katakan Alonso, bagaimana dengan Leon? Apa yang terjadi? Lukanya tidak serius kan?”, tanya Pamela beruntun.


“Nyonya Pamela, sebenarnya yang terluka bukan Tuan Muda Leon, melainkan Tuan Muda Manassero”, Alonso meringis ngilu melihat keadaan mengenaskan yang terjadi pada Dylan, tulang rusuk pria itu patah dan mengalami pendarahan, sampai saat ini belum sadarkan diri.


“Leon, bagaimana keadaannya? Katakan dimana dia sekarang Alonso”, Pamela mencengkram erat jas Alonso, menarik kuat melepas segala emosi yang ditahannya sedari mendengar kabar buruk tentang Leonard.


“Tuan menghilang Nyonya. Kami sudah mengerahkan tim untuk mencari tuan di hutan tetapi belum menemukan hasil”, jelas Alonso, seketika Pamela menangis histeris.


Ada setitik harapan dalam dadanya, Leon baik-baik saja dan segera kembali pulang ke mansion. Tapi ia juga cemas, mendengar kata hutan pikiran Pamela berjalan pada hal yang tidak-tidak, binatang buas dan orang asing. “Hentikan, pasti Leon akan baik-baik saja”, lirihnya dalam hati.


“Tapi bagaimana bisa Leon menghilang Alonso?”, tanya Nyonya Torres yang kembali terisak.


“Dilihat dari satu-satunya CCTV yang terpasang –“, Alonso menjelaskan apa yang ia lihat dari CCTV sirkuit ilegal itu.


Posisi Leon berada di belakang Dylan, serta lebih tanggap pada keadaan dan memaksanya membuang helm dan melemparkan pada Dylan dengan tujuan pria itu terhindar dari badan truk, tapi lemparan helm Leon meleset.


Akibat dari ia yang tidak fokus, bagian roda depan motornya terkena kepala truk dan Leon terpental masuk dalam hutan.


“Leonard putraku”, teriak Nyonya Torres.


“Tenanglah ini bukan kali pertama anak nakal itu mengalami kecelakaan”, Tuan Besar Torres berusaha menenangkan istrinya.


Semua orang kembali ke mansion, tidak ada yang istirahat setelah perjalanan jauh, semua berkumpul di ruang keluarga, termasuk Pamela dan El. Bayi itu berada dalam dekapan ibunya, terlelap damai.


Menonton acara televisi, headline berita mengenai kecelakaan hebat yang terjadi pada dua tuan muda penerus perusahaan besar. Gambar truk dan motor yang rusak serta helm milik Leon masih berada di tempat kejadian perkara. Lokasi itu dipenuhi oleh petugas keamanan yang masih menyisir hutan untuk menemukan Leonard.


“Nenek”, lirih Pamela menangis kuat, ia tidak percaya apa yang menimpa suaminya kemarin malam.


“Tenanglah Pamela, suamimu itu pria kuat. Nenek yakin dia baik-baik saja, kamu harus jaga kondisi demi El, sebaiknya sekarang nenek antar ke kamar, El serahkan pada nenek”

__ADS_1


Pamela menggelengkan kepala, sungguh ia tidak mau berbaring nyaman sementara di luar sana keadaan Leon tidak ada yang tahu.


“Nenek aku.......aku seharusnya memaafkannya kan? Bukan seperti ini. Bukan yang aku inginkan”, Pamela menangis tanpa henti.


Anggota keluarga Torres dan kepala pelayan tertegun mendengar sesuatu yang diberitakan, semuanya saling tatap tidak percaya tapi berharap itu kenyataan.


Tiba-tiba pintu utama mansion terbuka, para maid menunduk hormat. Ya Leonard pulang dalam keadaan selamat, iblis berwujud pria ini berjalan tertatih menghampiri keluarganya yang menatap haru.


Dipapah seorang petugas kepolisian Leon tiba dengan selamat di mansion utama.


“Leon?”, peluk Nyonya Torres.


“Anak nakal, dad yakin tidak semudah ini kau menyerah”, Tuan Besar Torres mengacak rambut putra tunggalnya.


“Aw, sakit mom”, ringis Leon memegang bagian perut, mata biru safirnya mengarah pada Pamela yang berdiri gemetar menatapnya.


“Mom, bisa lepaskan? Aku malu, wanitaku melihat hal ini. Terima kasih mom , dad masih mencemaskan anak nakal kalian ini”, gurau Leon berjalan pelan sembari menyunggingkan sedikit senyum pada Pamela.


“Dasar anak nakal”, Nyonya Torres terharu melihat putranya baik-baik saja meskipun mengalami luka.


“Akhirnya kamu pulang”, senyum tipis Leon lalu menatap El yang digendong oleh nenek.


“L-leon? Apa ini bukan mimpi”, lirih Pamela yang begitu tidak percaya, ia tidak mau terjerumus pada kenyataan yang pahit. Takut semua ini bayang yang hidup dalam benaknya semata dan ketika terbangun Leon belum juga pulang.


“Apa tidak suka suamimu pulang?”, datar Leon, menggerakkan satu tangan yang begitu kaku, selain karena gugup, tangannya pun sakit terbentur pohon.


“Ini aku Pamela, kamu tidak bermimpi, ini kenyataan”, membelai satu pipi yang masih basah akibat menangis.


“Leon”, peluk Pamela erat, sungguh meskipun pria ini memberi banyak luka padanya tetapi belakangan menunjukan kesungguhan dari dalam hati, Pamela tidak kuasa jika Leon terluka apalagi sampai tidak membuka mata selama-lamanya.


“Kamu kembali? Terima kasih, maafkan aku Pamela”


Pamela yang tidak bisa menjawab apapun hanya mengangguk lemah, menyusut air matanya yang masih lancang mengalir.

__ADS_1


“Eh”, kaget Pamela.


Leon bersimpuh di depan istrinya, menahan sakit pada kedua kaki yang terluka. Ia juga memegang kedua tangan Pamela, mengecup punggung tangan yang selalu dilukainya.


"Pamela, maaf. Maafkan aku, aku salah. Aku pantas dihukum dan apapun itu akan aku terima. Kamu bebas menghukumku, tapi maafkan aku Pamela, aku benar-benar menyesal”, Leon yang begitu kuat dan tidak mudah goyah, menangis di depan istrinya.


“Bangun !!!!! semua luka yang kamu beri belum tertutup dan sembuh sempurna Leon. Aku.......aku akan mencoba menerima maafmu”, balas Pamela.


Sontak Leon menengadah dan melihat wajah istrinya, “Benarkah? Terima kasih, aku rela menerima hukuman apapun, Pamela kembalilah bersamaku”, Leon mecoba berdiri dan ia memekik sakit karena kakinya yang menekuk.


“Panggil dokter, cepat”, perintah Nyonya Torres.


“Dasar anak muda, kenapa kamu tidak menerima perawatan di rumah sakit, hah? Keras kepala”, memukul bahu Leon.


PLAK


“Aw, mom sakit”


“Mom”, Pamela tidak menyangka ibu mertuanya masih memukul putranya yang terluka.


“Tenang Pamela ini bukan masalah besar, aku akan sembuh, hanya memerlukan sedikit perawatan saja”, Leon menjaga citra kuatnya di hadapan sang istri, padahal jelas sekali wajahnya pun terdapat lebam, dan darah yang mengering dari sudut bibir serta pelipis.


Dokter keluarga Torres datang membawa peralatan lengkap serta dua orang perawat yang akan membantu Tuan Muda Torres.


“Tuan Muda sebaiknya anda berbaring, kami tidak bisa melakukan tugas dengan baik jika tuan tetap berdiri”.


“Kalian itu banyak omong,  cepat lakukanlah”


“Leon, benar. Kamu berbaringlah untuk membantu pengobatan”, ujar Pamela yang berdiri tegang, melihat lengan, punggung dan wajah suaminya yang terluka, dan lebam.


“Hey, lepaskan tangan kalian”, menepis tangan perawat yang akan membuka sabuk serta celananya.


“Aku bisa melakukannya sendiri”, meloloskan celana panjang dan betapa terkejutnya Pamela ternyata kedua kaki Leon juga terluka meskipun tidak separah anggota tubuh bagian atasnya.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2