
BAB 43
“Pagi Nona”, sapa hangat dan senyum seorang wanita paruh baya.
Pamela melenguh, tubuhnya terasa sakit dan remuk akibat ulah Leon yang selalu tak cukup menikmati kegiatan malamnya.
“Nona, silahkan diminum. Ini adalah minuman penambah stamina yang baik untuk tubuh”, ucap seorang wanita. “Tidak perlu ragu nona”, menyadari tatapan Pamela yang menyelidiki kandungan minuman itu.
“Eh tidak perlu, aku bisa sendiri. Terima kasih”, Pamela menolak bantuan yang diberikan oleh kedua maid. Sebenarnya ia mau tapi sangat malu mengigat bagaimana banyak tanda di balik selimut ini.
“Tidak perlu sungkan nona. Anda beruntung bisa dicintai Tuan Muda”, celoteh satu maid.
“APA? BERUNTUNG? Di bagian mana aku merasa beruntung? Kenapa semua orang mengatakan jika aku beruntung? Mereka tidak tahu kalau hidupku selalu jantungan setelah menikah”, gerutu Pamela dalam hati.
“Tuan tidak pernah kemari bersama wanita lain, Tuan Muda Leon selalu berkunjung bersama Nyonya Besar dan Tuan Besar. Hanya anda perempuan satu-satunya yang Tuan izinkan langsung memasuki Villa bahkan tidur di atas ranjang yang sama”, ucap maid malu-malu.
Pamela hanya menoleh sebentar, memastikan kebenaranya dari kedua maid itu. Rasanya tidak mungkin ia wanita pertama yang Leon bawa ke Villa Keluarga Torres. Jelas bukan kekasih Leon bernama Megan lebih dulu menjalin hubungan dengan suaminya. Pamela sedikit tersentuh mendengar penuturan para maid, tapi ia tepis. Tidak, tidak boleh merasa senang hanya karena kalimat yang diucapkan maid.
Pada akhirnya Pamela dibantu mandi dan mengeringkan rambut oleh maid, tidak lupa rambut pun ditata sebaik mungkin.
“Silahkan nona, Tuan Muda menunggu di ruang makan”
“Hem ya terima kasih, kalian sangat baik”, Pamela tersenyum kaku pada dua maid yang usianya jauh di atas Pamela, lebih cocok sebagai ibu, sejenak ia pun merindukan sentuhan dan kasih sayang ibunya yang telah lama meninggal.
.
.
Pamela duduk di depan Leon yang tampak segar dan tampan pagi ini, keduanya menikmati sarapan yang disajikan maid. Tidak ada kehangatan di atas meja makan, hanya keheningan dan perasaan was-was Pamela.
“Makan yang banyak,setelah ini ikut aku”, perintah Leon pada istrinya yang baru setengah menghabiskan makanan dalam piring.
“Iya tu.... Iya Leon”, jawab Pamela.
__ADS_1
BRAK
Pamela yang sedang menguyah makanan pun langsung tersedak karena suaminya mendadak menggebrak meja, “Uhuk uhuk”, terasa perih di kerongkongan dan hidungnya.
“Bisa pelan-pelan? Kau memang selalu ceroboh”, Leon menyentuh punggung Pamela dan menepuknya pelan. Sungguh bagai sebuah sengatan listrik tepukan tangan Leon. Pamela yang mudah terharu pun sedikit menghangat dalam hati.
“Terima kasih Leon”, gugup Pamela.
Sedetik kemudian rasa hangatnya berubah menjadi waspada, kala Leon menunjuknya dengan garpu tepat di depan wajah Pamela. “Aku tidak mau kau memanggil kaku namaku, ingat itu Pamela”, desis Leon.
“Iya Leon”, Pamela merubah nda suara dan sedikit membubuhkan senyum pada suaminya.
.
.
Leon menggandeng tangan istrinya untuk berjalan di sekitar Villa, lebih tepatnya pulau pribadi karena hanya ada satu Villa disini. Menyusuri pantai, berjalan telanjang kaki menikmati mentari pagi yang hangat menyinari. Leon beberapa kali menarik tangan istrinya agar mendekat dan menempel dengannya , tapi Pamela selalu saja memundurkan tubuh memberi jarak diantara mereka.
“Hah? Maksudnya?”, bingung Pamela, tidak mengerti. Lagi pula ini bukan di tempat umum atau acara khusus kenapa juga ia harus dekat dan menempel pada Leon.
“Sudahlah lupakan”, Leon menghentak kuat tangan Pamela hingga menubruk tubuh kekarnya dan melingkarkan tangan pada pinggang ramping, menahan satu tangan di tengkuk Pamela, menarik pelan hingga bibir keduanya menyatu di tengah deburan angin dan pantai yang indah.
Pamela sedikit bingung dengan sikap lembut suaminya ini, tidak biasanya Leon sangat manis .Pamela pun memasang kuat sabuk pengaman tak kasat mata, ia khawatir Leon melakukan sesuatu terhadapnya.
Selesai saling bertukar saliva Leon mengurai pelukan, berjalan lebih dulu dan meninggalkan Pamela yang mengikuti tepat di belakangnya.
“Kemarilah”, Leon mengulurkan tangan kanannya.
Ragu-ragu Pamela berikan tangan kanan untuk menyambut uluran Leon, rupanya pria ini mendudukkan Pamela di atas jet ski, ia pun menyusul duduk di depannya usai membantu Pamela makai pelampung.
“Pegangan”, perintah Leon pada Pamela.
Tak kunjung menerima pelukan di pinggang, Leon menarik paksa tangan istrinya hingga tubuh depan Pamela menempel dengan punggung Leon.
__ADS_1
Jet ski perlahan mulai melaju, Leon menikmati momen menyenangkan ini begitu pun dengan Pamela. Pertama kalinya setelah menikah berbulan-bulan sepasang suami istri ini bisa saling tersenyum. Sungguh Pamela merasa lemah sebagai seorang wanita, senyuman Leon begitu memabukkan.
“AHHHH LEON”, teriak Pamela ketika kendaraan air itu mulai melaju cepat, keduanya tertawa lepas di atas air laut, tubuh yang terciprat air sedikit menyegarkan Pamela dan Leon.
“Berpeganglah erat Pamela”, teriak Leon lalu memacu lebih cepat jet ski.
Bolehkah Pamela merasa bahagia saat ini? Leon seperti suami selayaknya yang ia impikan begitu menyenangkan dan hangat.
“Semoga ini awal yang baik”, gumam Pamela dibalik punggung suaminya. Ia pun pertama kali mendengar suara tawa lepas Leon.
.
.
Leon memerintahkan Alonso mengatur makan malam romantis tepat di depan Villa dan pinggir pantai. Dengan bertelanjang kaki Pamela dan Leon duduk di kursi, ditemani pemandangan langit bertabur bintang. Beberapa kali Pamela melirik pada suami kejamnya ini, benarkah ini Leon yang ia kenal? Kenapa tiba-tiba berubah dan menyenangkan seperti ini, atau mungkin Leon memiliki saudara kembar, semua pikiran tak masuk akal Pamela berputar.
“Kenapa, kau tidak suka? Berterima kasihlah padaku Pamela”
“Aku suka Leon, tapi kenapa kamu melakukan semua ini?”, tanya Pamela sangat penasaran.
“Kau ingin tahu?”, balas Leon.
“Iya, tentu. Jika kamu berkenan menjawabnya aku ingin tahu”, jelas Pamela menunggu jawaban dari suami yang berubah drastis sikapnya pagi ini.
“Aku merasa kasihan padamu Pamela, tidak pernah kah kau mendapat perlakuan manis dari seorang pria? Apa pria yang kau kencani sebelumnya tidak sekaya aku? Ah ya ini hadiah untuk mu karena menuruti semua perintahku”, jawab Leon mematahkan kebahagiaan Pamela, sebelumnya ia pikir Leon mulai melunak. Oh ternyata tidak, kata-kata pedasnya kembali terdengar, Pamela yang diterbangkan ke langit langsung terhempas sangat keras ke dasar bumi.
Lagi-lagi ia selalu berharap Leon menerimanya sebagai seorang istri, “Huh”, Pamela menghela napas, memejamkan kedua matanya. Kembali menetralkan semua rasa yang ada dalam dada, tidak sepatutnya ia bermimpi.
“Kenapa? Kau pikir aku mencintaimu seperti itu?” tanya Leon, seringai licik tampak jelas pada bibirnya yang berbisa dan beracun.
“Tidak Leon, aku tidak pernah mengharap perasaanmu”, jawab Pamela tegas mengingkari isi hati yang sesungguhnya.
...TBC...
__ADS_1