Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 70 - Akhirnya Berkunjung


__ADS_3

BAB 70


Dokter menyampaikan kondisi terbaru Pamela pada Tuan dan Nyonya Besar Torres. Sepasang suami istri ini tampak terkejut karena Pamela tidak makan dengan baik belakangan ini. Kendati demikian, berat badan janin dalam keadaan normal tidak ada masalah, hanya asupan nutrisi yang diperlukan ibu dan anak menjadi berkurang.


Walaupun Pamela mau bicara dan bercerita pada orang lain selain neneknya, tidak pernah sekalipun nama Leonard keluar dari bibir ranum itu. Ketika di tanya apa Pamela ingin ditemani suami saat melahirkan, wanita ini tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan.


Keluarga Torres harus lebih ekstra sabar dalam menghadapi Pamela yang memiliki trauma, jalan untuk membawanya kembali pulang ke Spanyol masih berliku. Wanita hamil ini sangat senang tinggal di Jakarta, jauh dari jangkauan Leonard.


Setelah beberapa hari di Jepang, kedua orang tua Aleandro Leonard bertolak ke Jakarta menemani Pamela di masa akhir hamil dan menanti kelahiran cucu pertama keluarga Torres.


“Nyonya Muda, Tuan Besar dan Nyonya Besar tiba di bandara, satu jam lagi akan tiba di mansion. Mohon persiapkan diri anda”, ucap seorang kepala pelayan.


“Tuan dan Nyonya kemari? Apa membujuk ku lagi untuk kembali dengan Leon?”, gumam Pamela menggigit bibir bagian bawah.


Untuk sekarang dan beberapa waktu ke depan, Pamela belum memiliki keinginan kembali pada suami kejamnya.


“Apa.......apa dia, ummm.... maksudku, ikut. Dia?”, gugup Pamela, lidahnya mati rasa mengucap nama Leon.


“Maksud Nyonya, Tuan Muda Leon? Tidak, beliau masih sangat sibuk dengan pekerjaan”, jawab kepala pelayan.


“Ah ya itu maksudku. Terima kasih. Aku akan turun sebelum Tuan dan Nyonya tiba”, tersenyum ramah.


Sebenarnya Pamela merasa canggung dan takut, ia lebih baik tinggal sebagai rakyat biasa dari pada harus hidup di bawah bayang-bayang keluarga Torres. Pamela takut, mertuanya akan membawa pergi anak dalam kandungannya, ia juga takut Leon tidak akan menyayangi bayi itu.


“Leon, sedang apa dia disana?”, untuk pertama kalinya Pamela mengingat dan mengucapkan nama suami kejamnya meski hanya dalma hati.


“Ah tidak, mungkin dia bersama wanita lain”, gumam Pamela, tidak lagi memikirkan Megan karena Nyonya Torres dengan lantang mengatakan bahwa Leon dan Megan tidak akan bersatu, keduanya berpisah karena alasan tertentu. Untuk hal ini sengaja ibu mertua tidak memberitahu apapun atas permintaan Leon.


.


.


Tepat pukul 9 malam Tuan dan Nyonya Torres memasuki mansion, keduanya sangat senang dan selalu tersenyum. Perjalanan jauh dan berdiam diri di pesawat tidak membuat pasangan paruh baya ini mengeluh, semua dilakukan demi cucu tersayang.

__ADS_1


Para pelayan membawa banyak barang, semua perlengkapan bayi, baik yang di beli dari Madrid ataupun Tokyo.


“Ah, menantuku. Mom sangat merindukan mu, nak. Bagaiman kabarmu?”.


“Baik nyonya, ummm maksudku mom”, masih begitu kaku padahal ini bukan kali pertama mertuanya menjenguk.


“Lihat apa yang mommy bawa, ini semua untuk cucuku. Dimana nenekmu? Mom juga bawakan oleh-oleh”, demi apapun Nyonya Torres adalah sosok ibu mertua sempurna bagi Pamela, bersama wanita paruh baya ini dirinya merasa disayangi oleh ibu kandung.


Tapi kembali lagi Pamela tidak ingin terbuai, pikiran buruk selalu menghantui bahwa ayah dan ibu mertuanya hanya menginginkan anak dalam rahimnya, dan ia khawatir berpisah dengan buah hatinya.


“Tubuhmu , sedikit kurus. Apa kamu tidak makan dengan baik, ada apa? Katakan pada mom?”


“Aku makan dengan baik, terima kasih mom menyiapkan semua ini. Aku....aku tidak tahu harus bagaimana membalasnya”, tutur Pamela.


Sepasang wanita berbeda usia ini duduk di sofa empuk, hangat dan nyaman. Nyonya Torres banyak bercerita pengalamannya mengandung Leonard sampai melahirkan. Pamela sedikit tertawa mendengar kalau ibu mertuanya ini pernah mengidam hal yang sangat aneh.


Ya aneh, karena Tuan Besar Torres harus mendatangkan aktor hollywood terkenal ke mansion utama, tidak hanya itu. Nyonya Torres pun ingin disuapi makan selama satu minggu oleh aktor idolanya.


“Menyenangkan sekali bisa mendapat perhatian dari suami”, Pamela menyentuh perut buncitnya, selama ini pria yang perhatian pada Pamela hanyalah Dylan, tapi pria itu menghilang bagai ditelan bumi. Terkahir mengirimi Pamela busana khusus ibu hamil.


“APA? Dia..... mana mungkin mom, hatiku tidak mungkin lancang merindukannya, karena itu terlarang dalam perjanjian”, telak Pamela dalam hati.


Dilarang mencintai


Dilarang merindukan


Dilarang menghubungi satu sama lain


Kata-kata yang Pamela ingat dalam kontrak pra nikah.


“Aw”, pekik Pamela seketika memegang perut yang mendapat tendangan kuat dari dalam. “


"Apa kamu merindukannya? Ku harap tidak, karena aku akan menjadi ayah sekaligus ibu untukmu”, batin Pamela.

__ADS_1


“Eh, dia bergerak? Ah mom selalu merindukan gerakan janin, boleh mom pegang?"


“I-iya, mom silahkan”


“Kamu tahu Pamela, Leon mengalami perubahan setelah lebih dari 2 bulan terapi”      


Cukup lama Nyonya Torres dan Pamela berbincang, hingga tidak terasa waktu menunjukkan tengah malam.


“Pamela, maafkan mommy, ayo mom antar ke kamar. Sebaiknya kamu tidak begadang, ini tidak baik, maafkan mom”, berlalu cepat dari kamar Pamela dan mendatangi kamar tidur dokter obgyn serta psikolog.


Hendak mendengar penjelasan langsung dari kedua orang yang merawat Pamela, sangat berharap hasilnya sesuai ekspektasi semua orang.


Mulai menerima orang lain dalam hidup bukan berarti Pamela telah menerima Leon masuk dalam hidupnya saat ini, luka yang ditorehkan sangat dalam dan membekas.


“Apa ada cara lain agar Pamela menerima suaminya lagi?”, tanya Nyonya Torres.


“Aku ingin cucuku hidup penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya”


“Maaf Nyonya besar, kami selalu berusaha dan hanya waktu yang bisa menentukan serta keputusan Nyonya Muda pada akhirnya harus kami hargai”, tutur psikolog yang mengawasi Pamela.


“Ku harap kalian bisa bekerja lebih giat lagi, aku percayakan pada kalian semua”


Sedangkan dalam kamar, Pamela yang meluruskan pinggang merasa tidak nyaman dan nyeri pada bagian punggungnya.


“Aw, kenapa ini? Kenapa rasanya semakin kuat?”, berusaha mengatur nafas perlahan dan menghembuskan pelan. “Pasti kontraksi palsu lagi, sepertinya hari ini mama banyak membawamu bergerak ke sana kemari, ayo kita istirahat. Apa kamu mau mama bacakan dongeng?”, bertanya dengan suara lembutnya.


Pamela menyimpan beberapa buku di kamar, mempermudahnya tidak harus bolak-balik kamar bayi. Mulai membacakan dongeng sampai dirinya sendiri merasa mengantuk.


Ketika menarik selimut, Pamela meringis cukup kuat dan tetap mengatur napasnya. Ia tidak ingin kejadian minggu lalu terulang. Semua pelayan mansion panik karena Pamela di bawa ke rumah sakit, mengalami kontraksi yang cukup intens.


Ternyata hanya kontraksi palsu, tidak menyebabkan pembukaan. Sama halnya saat ini, Pamela tidak memberi tahu siapapun apa yang dirasakan


Tangan kiri Pamela mencengkram sudut meja, menahan rasa yang mengganggu pada bagian perut dan punggungnya.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2