Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife

Penyesalan Suami : Forgive Me My Wife
Bab 63 - Trauma


__ADS_3

BAB 63


Alonso yang baru saja keluar dari toilet langsung berlari sangat cepat, ia takut tidak gajian karena membuat Tuan Muda Torres lama menunggu.


“Kenapa perutku tidak bisa berkompromi”, keluh Alonso menepuk perutnya yang mulas.


“Hah?”, mulut asisten pribadi Leonard ini melongo, kedua bola matanya melotot menatap tidak percaya, di area parkir sama sekali tidak ada mobil yang membawanya sampai ke rest area. “Dimana Tuan Muda Leon?”, Alonso menelusuri rest area, tak ada satu pun mobil majikannya.


“TUAN APA INI HUKUMAN UNTUKKU?”, akhirnya Alonso yang tampak gagah menggunakan setelan jas edisi terbatas, serta harum parfum maskulin harus rela berdiri dalam bus, karena tidak mendapat jatah tempat duduk.


Semua orang menatap heran dan aneh padanya, “Tuan anda benar-benar keterlaluan meninggalkan ku”, batin Alonso.


Alonso kembali berjuang mencapai villa keluarga Torres, tubuh atletis yang selalu harum ini harus bermandikan keringat, “Huh, huh, huh, baiklah ini tidak ada apa-apanya asalkan gajiku selamat”.


Sedangkan Leon melihat Pamela yang masuk dalam Villa, segera menepikan mobil dan turun, ia berjalan tergesa-gesa. Hatinya mendadak senang dan sedih sekaligus takut, iya takut, Leon takut jika istrinya itu tidak akan memaafkan segala kesalahannya.


Memperhatikan lekat-lekat, wajah yang semakin berseri dan tubuh berisi Pamela, Leon mengintip di balik dinding. Menunggu waktu yang pas untuk bertemu istrinya, “Kenapa jadi seperti ini?”, seorang Leonard pimpinan Torres Inc begitu disegani dan ditakuti bisa merasa berdebar dan gemetar saat wanita yang dinanti ada di depan mata.


“Tuan”, ucap Alonso yang tiba-tiba muncul di belakang tubuh kekar Leonard.


“SHIT ALONSO, kau sangat mengganggu. Diam !!!!!!”, bentak Leon suaranya tertahan.


“Anda sedang apa tuan? Mengintip para maid? Apa tuan melupakan nyonya?”, celetuk Alonso dengan suara nyaring.


“KAU TIDAK AKAN KU BERI GAJI BULAN INI”, gertak Leon supaya asisten kepercayaannya pergi menjauh.


“Tu-Tuan tapi apa aku melakukan kesalahan ?”, Alonso yang sama-sama kaku masalah percintaan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan tuannya.


Leon mendengar derap langkah Pamela dan suara lembutnya mengucap syukur, dadanya semakin berdetak tidak karuan.


“Akh”, pekik Pamela tersentak.


“L-Leon”


“Tuan”


“Nyonya”

__ADS_1


Sontak Pamela mematung, napasnya tertahan, paru-paru wanita hamil ini kekurangan pasokan oksigen, kakinya gemetar, kening Pamela pun mengeluarkan keringat.


“Pamela”, tatap Leon sangat bahagia bisa menemukan istrinya, pria ini lantas memeluk erat dan menghidu aroma manis yang menguar dari tubuh Pamela.


“Lepas, Lepaskan aku Leon”, ucap Pamela terdengar lemah, ia masih sangat trauma berdekatan dengan pria kejam ini. Sikap dan segala perilaku Leon masih terekam jelas dalam ingatan Pamela.


“Tidak”


Pamela berusaha mendorong tubuh suaminya, walau tenaganya masih kalah jauh yang penting Pamela akan melarikan diri dari Leon.


Pelukan terurai, ditatapnya perut yang membesar itu dengan rasa bersalah, Leon mengulurkan tangannya namun ditepis kuat oleh Pamela. “JANGAN”, bibir ranum ini bergetar, sebisa mungkin Pamela menghindari kontak mata dengan Leon, tubuhnya mundur beberapa langkah dan nyaris terjatuh karena terbelit kakinya sendiri.


“Akh”


“Seharusnya kau lebih hati-hati”, kata-kata Leon begitu lembut terdengar, telapak tangan kokohnya menyangga pinggang dan bahu Pamela.


“LEONARD”


Suara panggilan Nyonya Torres yang kesal karena putranya bukan masuk berkumpul bersama keluarga tetapi menunggu di paviliun.


Dengan langkah pasti menghampiri dua insan yang saling tatap penuh arti, sigap Nyonya Torres memisahkan Pamela dalam rangkulan Leon.


“Leonard, lepaskan wanita itu. Kau jangan mengambil kesempatan. Pamela itu istri orang”, tegas wanita paruh baya ini, menyembunyikan Pamela dibalik punggungnya.


“Mom, bagaimana bisa mengenal Pamela?”, Leon menatap Pamela yang ketakutan dan Nyonya Torres bergantian.


Alih-alih menjawab, Nyonya Torres membawa Pamela masuk ke Villa, memegang erat tangannya. Agar ikut bergabung bersama keluarga besar lain, tapi Pamela menggelengkan kepala, perutnya mendadak kram dan luruh di atas lantai.


“Akh”, pegang Pamela pada perut  buncitnya.


Terlalu mendapat kejutan mendadak hari ini membuat Pamela pusing dan bayi dalam kandungannya memberontak. “Mom”, batin Pamela sembari menatap wajah wanita paruh baya yang baik hati ini.


Tak tinggal diam, Leon menyusul ibu dan istrinya ke dalam, keduanya saat ini berada dalam kamar. “Apa yang terjadi?”, tanya Leon sangat panik, apalagi wajah kesakitan nampak jelas ditunjukan istrinya.


Nyonya Torres mengusir putra tunggalnya dari kamar, karena hanya akan mengganggu Pamela yang sedang hamil, tapi pria itu dengan lantang mengatakan bahwa Pamela adalah istrinya.


.

__ADS_1


.


Leon, Pamela dan kedua orang tuanya duduk di ruangan yang lebih sepi dan jauh dari keramaian, usai mendapat penangan oleh dokter dan istirahat, keadaan Pamela membaik.


“Katakan, apa benar Pamela istrimu?”, tegas Tuan Torres.


“Ya, kami menikah 1 tahun yang lalu”, jawab Leon melirik pada istrinya yang sengaja memilih duduk berjauhan.


Nyonya Torres meremat dadanya dan menangis karena wanita yang selama ini ia kenal adalah menantunya, seandainya tahu sejak dahulu pasti kejadiannya tidak akan seperti ini. Penjelasan Leon beberapa bulan lalu semakin mengiris hati, kerap kali menyiksa fisik dan psikis istrinya.


“KAU MEMANG KETERLALUAN LEONARD”, memukul brutal tubuh Leon yang kini duduk di menunduk.


“HENTIKAN”, perintah ayah dari Leon yang pusing mendengar suara istrinya selalu mengumpat dan menangisi hal yang terjadi. “Berapa usia kandungan mu sekarang?”.


“Ya? E-enam bulan, T-tuan”, cicit Pamela, merasa hidupnya terancam luar biasa. Ia khawatir Leon akan membunuh anak dalam kandungannya saat ini.


Tuan Besar Torres menatap keji pada putranya yang bisa setega itu menelantarkan istrinya, dan dari sikap Pamela ia bisa melihat bahwa terdapat traumatis dalam diri, yang masih belum sembuh atas semua sikap putranya.


Sementara Nyonya Torres syok berat dan terduduk lemah di sofa sembari terus menangis, gagal sudah ia mendidik putra satu-satunya.


Leon mendekati istrinya dan berusaha menyentuh perut Pamela, “Apa dia baik-baik saja?”, tanya Leon.


“Hem, terima kasih perhatiannya tapi kami tidak membutuhkan apapun dari anda, apa aku boleh pulang”, tanya Pamela berusaha menegarkan diri.


“TIDAK, KAU HARUS KEMBALI BERSAMAKU”, lantang Leon yang tidak mau kehilangan istri serta calon anaknya. Apapun akan ia lakukan asalkan Pamela kembali bersamanya, Leon masih tidak mengerti jika ibu dari anaknya ini begitu sakit dan sulit hidup bersama Leon.


“Tapi aku mau pulang, Tuan, Nyonya permisi”, Pamela melangkah hendak keluar ruangan, tapi sebelum itu terjadi Leon menggendong istrinya menuju kamar pribadi di lantai 3.


“Diam dan menurut padaku”, bisik Leon lembut tapi yang Pamela rasakan adalah ketakutan, merinding mendengar suara iblis bicara.


Bagaimanapun Pamela harus keluar dari Villa ini, ia tidak ingin kembali hidup bersama suami kejamnya.


...TBC...


 


 

__ADS_1


__ADS_2