
BAB 65
“Pamela ini siapa?”, tanya nenek terkejut dengan kunjungan mertua cucunya.
“Ummm.... nenek ini, ini....... ini pemilik villa yang memesan makanan kemarin, nek”, bukannya berkata jujur, tapi lidah dan bibir Pamela begitu berat dan terkunci rapat tidak bisa mengatakannya.
Tuan dan Nyonya Torres tidak tersinggung sedikit pun, mereka tahu sangat sulit bagi menantunya ini, apalagi pernikahan mereka diselenggarakan secara tersembunyi.
Sedangkan Leonard hanya mengawasi dari jauh, sesuai aturan Daddy-nya bahwa Leon dan Pamela akan hidup terpisah untuk waktu yang belum dipastikan. Tuan Besar Torres memaksa putranya untuk mengatur emosi lebih dulu dan mulai minggu depan terapi khusus akan dijalani oleh suami Pamela.
Sementara Pamela akan dipulihkan secara mental, menantunya itu begitu trauma pada Leon. Tentu saja jika ini dibiarkan, mereka tidak akan hidup bersatu, dan Tuan Torres tidak menginginkan hal ini terjadi, ia harus pastikan cucunya mendapat kasih sayang utuh dari kedua orang tua.
Orang tua yang sehat secara mental dan tidak menyimpan dendam satu sama lain.
“Kami adalah mertua Pamela, ini istriku dan Aleandro Leonard Torres adalah putra kami. Mungkin anda telah mendengar ceritanya dari menantu kami”, tutur ayah kandung Leonard.
“Oh, rupanya tuan dan nyonya ini orang tua dari tuan muda jahat? Hah, dimana dia sekarang? Aku akan memukul dan menghukumnya. Berani sekali dia menyakiti cucuku, kalian orang kaya memang tidak punya hati, mempermainkan kami dengan mudahnya”, emosi Nenek berdiri dan berkacak pinggang.
“Nenek”, lirih Pamela memegang tangan keriput nenek. Tidak enak hati pada kedua mertuanya, disini yang bersalah itu Leon bukan kedua orang tuanya, Pamela tidak mau ada keributan atau masalah baru.
Sepasang suami istri ini tidak sungkan meminta maaf atas kelakuan putra mereka, bahkan Nyonya Torres membungkukkan tubuh di hadapan wanita sepuh, ia benar-benar gagal mendidik putra tunggalnya.
Tidak hanya itu tuan besar pun menjelaskan secara rinci kenapa Leonard bisa bersikap sedemikian rupa pada Pamela, nenek mendengarnya tanpa menyela, sebenarnya ada titik di hati kasihan pada Leon, dia juga korban seorang wanita.
Tapi mengingat tingkah arogan dan penderitaan Pamela, membuat wanita tua ini tetap membenci Leonard.
“Lalu, anda menginginkan anak ini? Enak sekali. Kami tidak akan menyerahkannya, dia sendiri yang bilang akan melenyapkan anaknya jika Pamela hamil”, cibir nenek.
__ADS_1
“Kami hanya ingin Leon dan Pamela bersatu, anak itu tidak bersalah, dia harus hidup dalam keluarga yang baik dan utuh, untuk itu kami memiliki rencana”, imbuh Tuan Torres, menjelaskan maksud dan tujuannya kemari selain minta maaf ada hal lain yang harus disampaikan.
“Ah begitu, aku setuju. Memang sebaiknya cucuku tidak melihat wajah menyeramkannya, dia selalu takut meskipun hanya mendengar nama atau berita putra kalian”.
Alonso dan Antonio serta asisten pribadi lain sibuk menyiapkan kebutuhan Pamela serta neneknya. Ya Pamela akan meninggalkan Spanyol malam ini juga, didampingi tenaga medis dalam pesawat serta dokter terbaik dan khusus yang akan membantu psikisnya membaik.
Tuan Torres mengirim Pamela serta Neneknya ke salah satu negara Asia Tenggara, cukup jauh bukan dalam jangkauan Leonard. Tidak hanya itu, fasilitas lengkap pun disediakan untuk Pamela. Mansion, pelayan, dokter, kendaraan dan semuanya akan di penuhi oleh Tuan Torres.
Pengawal khusus disiapkan, untuk menjaga menantu serta calon cucu sekaligus pewaris Torres Inc. Untuk Leon sendiri, dilarang mengunjungi Pamela sendirian, harus didampingi Tuan atau Nyonya Torres, itu pun memiliki jarak tidak bisa seenaknya dekat sebelum mental Pamela benar-benar pulih dan bisa menerimanya kembali.
Pamela berdiri di ujung tangga, ia menoleh kebelakang rasanya begitu berat meninggalkan Spanyol. “Ini mungkin yang terbaik untuk kita”, mengelus perut buncitnya.
“Jangan temui aku Leon, hiduplah dengan bahagia bersama yang kamu cintai, aku dan anak ini tidak akan mengganggumu, terima kasih telah memberi kami kehidupan yang layak”, batin Pamela.
“Pamela ayo masuk, angin malam tidak baik bagi tubuhmu, nanti masuk angin”, nenek menarik tangan cucunya semakin masuk dalam pesawat.
Burung besi berlogo Torres Inc ini lepas landas meninggalkan benua biru, dan Leon mengepal erat kedua tangan. Rahangnya mengetat, sorot mata biru safirnya menatap pesawat hingga menghilang dibalik awan.
“Hem”, jawab Leon masih memandang langit gelap yang bertabur bintang.
“Jalan Alonso, cepat”, perintah Leon, semakin jauh laju mobil semakin teriris jantungnya. Ingin rasanya ia mendekap tubuh Pamela dan membawanya pulang ke penthouse.
Ide ayahnya sangat buruk bagi Leon tapi ada benarnya, karena terkahir bertemu dengan sang istri begitu ketakutan seolah ia sosok monster menyeramkan.
“Ini hanya sementara Leonard, Pamela dan anakku akan kembali, ya kau harus yakin semua bisa dilewati. Aku harap kalian berdua selalu sehat”, getir Leon dalam hati, sungguh ia ayah yang jahat pernah berkata buruk pada istrinya.
Leon pun tidak bisa menemani masa-masa kehamilan Pamela.
__ADS_1
“Tuan ada pesan untuk anda”, Alonso memberitahu Leon dan membuyarkan pikirannya yang terlarut dalam memikirkan Pamela dan hanya Pamela.
“Hem”, Leon segera membuka email yang dikirim oleh Antonio. Sontak mata biru safirnya menukik tajam pada layar ponsel. “KURANG AJAR, Brengsek”, umpat Leon mencengkram erat benda pipih miliknya.
**
Mansion Manassero
“Kenapa cintaku harus pergi?”, tangis Dylan yang menjadi cengeng setelah mengenal Pamela.
Mimpinya untuk menjadi ayah sambung bagi anak dalam kandungan Pamela pupus sudah tidak tergapai, semula Dylan senang karena Pamela tidak ingin bertemu lagi dengan Leon.
Namun sekarang, Tuan Besar Torres turun tangan langsung dan itu artinya Leon akan kembali bersama Pamela entah kapan hanya menunggu waktu saja.
Tangis Dylan pecah, layaknya remaja putus cinta dan diselingkuhi begitulah kata yang cocok menggambarkan suasana hati Dylan. Pria yang terkenal Casanova meneteskan air mata, selama ini ia yang selalu ada untuk Pamela tapi dengan mudahnya wanita itu pergi.
“Bos, apa perlu aku cari wanita yang mirip Nona Pamela?”.
“Diam kau, tidak ada yang bisa menggantikan Pamela, dia berbeda”, bentak Dylan pada asisten pribadinya.
Saat manis bersama Pamela hanya tinggal kenangan baginya, kini Dylan berteman sepi dalam dinginnya malam.
Ia lebih baik mendengar suara cerewet nenek yang selalu memarahinya, dari pada Pamela pergi jauh.
“Kau, cari tahu kemana wanitaku pergi, aku ingin semuanya. Awasi terus pergerakan Leonard, aku tidak ingin kalah darinya meskipun tidak ada celah tapi aku akan berusaha sampai akhir”, Dylan mengepalkan tangan, menyusut air mata yang menganak sungai.
“Bos?”
__ADS_1
“Awasi Leonard !!!!”
...TBC...