
BAB 56
“ALEANDRO LEONARD TORRES, kau mau kemana? Hey”, teriak Nyonya Torres, putranya ini melewatkan sarapan dan sekarang pergi terburu-buru. “Anak itu semakin bertambah usia tidak bisa ku kendalikan lagi, jangan sampai aku meninggal karena menghadapi kelakuan bodohnya”, geram Nyonya Torres kembali bersikap anggun dan merajut ditemani para maid.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Leon menghubungi seseorang untuk memerintahkan sesuatu. “Kosongkan jadwalnya hari ini, aku ingin bertemu dengannya. AKU TIDAK PEDULI”, berteriak sampai mengundang perhatian pengawal dan maid yang berlalu lalang.
Mengendarai mobil seperti kerasukan, Leon tak mau membuang waktu. Lihatlah akibat ulahnya kini kehilangan Pamela, wanita sesungguhnya yang ia cintai sejak remaja. Benar-benar bodoh Leonard, cerdik dan disegani dalam dunia bisnis tetap saja otaknya tidak bisa berpikir dengan baik dan sikapnya arogan.
Leon tiba di pelataran rumah sakit milik keluarganya, ia melepas kacamata hitam yang melekat dan melangkah masuk, tatapannya garang hingga tidak ada yang berani menyapa.
BRAK
Membuka kasar pintu ruangan spesialis obgyn, ya dokter yang Leon percaya untuk menyuntikan obat pencegah kehamilan pada tubuh istrinya. Dokter setengah baya ini tidak lagi terkejut karena cepat atau lambat pasti Tuan Muda Torres akan datang padanya, mungkin lisensinya sebagai dokter akan dicabut, itu hal mudah bagi seorang Aleandro Leonard.
“Saya pikir anda menerimanya, cukup lama rupanya seorang cerdas untuk menemukan sesuatu”, sinisnya, wanita ini mengetahui apa yang Leon lakukan pada Pamela.
Istrinya itu harus menahan alergi yang seringkali muncul setelah mendapat suntikan obat, tapi karena takut pada Leon, Pamela mengkonsumsi obat alergi khusus.
“Cepat katakan apa yang kau tahu, bagaimana bisa Pamela hamil?”, desis Leon.
“Kenapa bertanya padaku? Anda suaminya, anda melakukannya, seharusnya anda tahu hal itu menyebabkan pembuahan dan ya sekarang istri anda mengandung”, Dokter Spesialis Kandungan ini tak gentar pada pria kejam di depannya.
“Baiklah, saya selalu mengirim pesan pada NYONYA MUDA TORRES beberapa hari sebelum dilakukan suntik, tapi sepertinya istri anda melupakannya. Entah kenapa bisa, itu saya tidak tahu, ah ya Nyonya bilang bahwa ponselnya rusak”, mendengar penjelasan ini semakin besar pula rasa bersalah Leon.
“Kenapa Pamela bisa pendarahan?”, tanya Leon tanpa mau duduk pada kursi yang tersedia.
“Usia kandungan yang muda memang sangat rentan keguguran, Nyonya menyimpan luka dan pikirannya terbebani, ini tidak baik bagi kesehatan ibu serta kandungannya. Selain itu, Nyonya menerima perlakuan buruk, anda melakukannya tidak hati-hati”, jelas Dokter yang kini memperhatikan perubahan pada wajah Leon.
Leon mengingat hari dimana ia menghentak kasar tubuh Pamela, menggagahinya dengan kasar dan tanpa henti.
“Cukup !!!!!! Apa kandungannya selamat?”, lidah Leon bagai dirantai mengucap kata ‘anaku’, masih sangat berat untuk mengatakannya.
__ADS_1
“Kenapa anda bertanya seperti itu? Apa.....”
“Ya Pamela melarikan diri, katakan apa kandungannya baik-baik saja?”
“Tentu, tapi kondisinya sangat lemah, memerlukan bedrest beberapa minggu”, jawab Dokter, seketika Leon pergi meninggalkan rumah sakit, menghubungi Alonso hingga berkali-kali tapi tidak bisa.
Leon pun menuju apartemen, melampiaskan amarah atas tingkah bodohnya memukul punching bag di ruang kerja. Sampai berjam-jam tidak juga reda rasa bersalah yang mulai menggerayangi batinnya.
“Arrrrgh”, teriak Leon menyambar apapun yang bisa diraih, melempar sampai membentur dinding.
Ponsel bergetar, nama Alonso tertera pada layar, tanpa menunda Leon menerimanya dan kedua bola mata yang semula menunjukan amarah kini berubah bahagia.
“Katakan sekarang juga dimana?”
“Aku di penthouse, tunggu di lobby. Kita bertemu 10 menit lagi”
Leon menutup sambungan telepon, ia puas dengan kinerja Alonso yang sangat cepat menemukan keberadaan istrinya. Ia juga membawa banyak pengawal yang akan membantu mencari Pamela di desa itu.
Bergegas menuju lobby dan Alonso sudah menunggu Tuan Mudanya, mereka memasuki mobil menuju desa dimana Pamela berada.
Alonso menemukan pembelian 2 tiket kereta atas nama Pamela dan neneknya, memang sangat mudah bagi Alonso.
“Apa penampilanku sangat baik?”, tanya Leon tiba-tiba dan Alonso menoleh ke belakangan.
“Ya tuan sangat sempurna seperti biasa”
“Jadi maksudmu penampilanku biasa saja?”, begitu dingin suara Leon, mengalahkan salju yang turun.
“Bukan begitu maksudku tuan”, Alonso menelan saliva, “Memang susah berhadapan dengan orang yang baru menyadari kesalahannya”.
“Hey, Alonso, berhenti di toko bunga, aku ingin membawa sesuatu untuk Pamela”
__ADS_1
“Siap tuan”
Perjalanan memakan waktu cukup lama, 4 jam Leon harus bersabar untuk bertemu dengan istrinya. Bibirnya menyunggingkan senyum, semakin dekat dengan desa yang dituju, dada Leon berdebar, ia akan pastikan Pamela ikut pulang bersamanya.
Mobil mewah ini menarik perhatian sekitar, Leon serta anak buahnya mendapat sorot mata penuh tanda tanya, untuk apa orang kota datang ke desa terpencil.
Detik ini juga Leon mengerahkan anak buahnya mencari Pamela di setiap rumah. Ia tidak sabar bertemu dan mencium harum tubuh istri mungilnya itu.
**
Di sisi lain Pamela dan neneknya menikmati sup hangat, yang menemani di musim dingin, rasa mual pun kini sedikit berkurang tidak lagi mengganggu kegiatan Pamela. “Lezatnya, aku selalu rindu masakan nenek”, senyum Pamela kini penuh kedamaian, berbeda ketika berada dalam istana Leon, semua senyum yang terukir itu palsu.
“Nenek perhatikan kamu tidak lagi mual, anak itu sangat baik dan mengerti ibunya”
“Benar nek, ternyata sejauh ini aku bisa menjalaninya. Terima kasih nenek”, Pamela memeluk neneknya, sangat menyayangi wanita senja ini.
“Ah ya nenek tahu tidak, aku berpikir bagaimana kalau kita membuka usaha catering nek, aku perhatikan disini peluangnya cukup bagus, desa dekat sini bisa menjadi pasarnya, tapi kita perlu menjalin kerja sama dengan beberapa orang. Bagaimana menurut nenek?”
“Nenek setuju, kemampuan mu itu jangan disia-siakan tapi setelah kandungan lewat 4 bulan baru nenek mengizinkan. Sementara ini kita pakai saja uang yang ada untuk kebutuhan, biaya hidup disini cukup murah Pamela”, saran dari nenek ini memang harus dipertimbangkan Pamela karena kondisi kandungannya yang lemah.
“Apa tuan muda yang berbohong itu menghubungimu? Nenek khawatir dia memberitahu suamimu tentang keberadaan kita”
“Tidak ada, pasti Dylan sibuk. Dia bukan orang biasa seperti kita yang banyak memiliki waktu luang. Untuk Leon....... ummm nenek tenang saja, yang kita lakukan ini sudah benar”, Pamela menggenggam erat tangan keriput neneknya dan tersenyum, keduanya kembali menikmati sup hangat.
“Nenek, boleh aku nambah?”, Pamela membawa mangkuk ke dapur untuk menuangkan sup hangat.
Tok...tok
Perhatian keduanya teralih mendengar ketukan pintu, dengan cepat nenek menuju pintu untuk membuka pintu depan.
“Kamu tunggu disini, biar nenek yang membukanya”
__ADS_1
...TBC...