
"Akhh mamah tolong aku! Aku tidak mau ditempat menyeramkan ini, aku takut mah." ucap Aron ketakutan.
"Diamlah kau! Jangan ucapkan satu katapun dari mulutmu itu." Bentak salah seorang.
"Pam_an ka_mu ken_apa men_culikku, a_ku sa_lah apa pam_an." Saut Aron terbata-bata.
"Karena kamu terlahir dari keluarga Sandres, maka kamu akan aku pastikan meninggal dengan cara yang tragis." ucap pria itu menyeramkan.
Aron ketakutan bukan main, dia memilih menutup matanya dan kedua tangannya menutup telinganya. Aron yang mendengar perdebatan beberapa orang-orang yang berada disana dia memilih tidak menghiraukannya, perkataan yang menyeramkan, perkataan yang kasar, perkataan bernada ancaman semua terdengar jelas walaupun Aron menutup telinganya.
"Akhh anak itu mengganggu pemandanganku, aku akan membunuhnya terlebih dahulu, aku benci dengan muka yang di milikinya."
Salah seorang pria menodongkan pistol kearah Aron. Dan...
Dorrr... Suara tembakan menggema diruangan serba putih itu, peluru itu mengenai bagian jantung seseorang.
Aron membuka matanya, betapa terkejutnya dia melihat ada seorang pria yang sudah lanjut usia, mengeluarkan darah begitu banyak didaerah jantung, dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Pria lanjut usia itu menyelamatkan nyawa Aron, namun sayang dia menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Aron. Aron menangis histeris dan berusaha menyadarkan pria lanjut usia itu.
"Tidakkk." Teriak Aron terbangun dari tidurnya.
"Akh kenapa mimpi ini kembali muncul lagi setelah sekian lama menghilang."
"Aku selalu penasaran, kenapa mimpi itu selalu sama, seperti nyata, dan ketika aku tanya mamah, mamah hanya bilang bunga tidur. Tapi tidak mungkin bunga tidur itu akan sama setiap kalinya aku bermimpi. Mamah memang sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku tapi apa? kenapa aku tidak bisa mengetahuinya. Akh kenapa aku seperti menghadapi teka-taki yang rumit sih aahh."
Nafas Aron masih tersengal-sengal, keringat membasahi tubuhnya, raut mukanya menjadi pucat, badannya terasa lemas. Mimpi buruk yang sangat menyeramkan untuk Aron. Di mimpi itu Aron masih sangat kecil mungkin umurnya sekitar 4 tahunan.
Setelah menormalkan kondisinya, Aron bangun dari tempat tidurnya dan akan mandi untuk segera berangkat kekantornya.
***
Thata sedang menengguk teh hangat di balkon kamarnya, angin pagi yang sejuk menerpa badannya yang menggunakan gaun tidur panjang menjuntai, rambut panjangnya berkibar seirama arah angin.
"Aron Junio Sandres." ucap lirih Thata sambil menyunggingkan senyumnya.
"Dia pria yang lumayan." Thata menggoyang-goyangkan gelasnya.
"Kita lihat! Apa dia mampu membuka hatiku ini yang sudah lama mati akan cinta dari seorang pria."
Thata menengguk teh terakhirnya.
__ADS_1
Drett..drett.. ponsel Thata bergetar.
Thata melihat nama yang menelponya, dia tersenyum.
"Kenapa kamu menelponku pagi-pagi begini nona cantik Monika Ester. Apa kamu kurang kerjaan emm?" ucap Thata setelah menerima panggilan itu.
"Yakkk Agatha Victory ibu dari dua anak yang mempunyai body aduhay, aku akan menyusulmu kesitu yah, aku rindu pada sikembar." Saut orang disebrang.
"Aku sudah muak dengan berkas-berkas yang aku kerjakan, ini tidak menantang sama sekali Tha, kenapa kamu menyuruhku untuk hal yang seperti ini sih." Keluh Monika.
"Monika kamu itu perempuan, belajarlah lemah lembut sedikit kenapa, pantas saja tidak ada pria yang mendekatimu."
"Hehhh jangan mengatai ku yah, emangnya kamu juga sudah punya pria hah?" Saut monika menggebu-gebu.
"Yang jelas aku sudah bertemu pria yang benar-benar menyukaiku, dan itu Daddy sikembar."
Ucapan Thata membuat gadis yang bernama Monika itu menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya.
"Hahaha," tawa Thata. "Kemarilah, nanti akan aku ceritakan semuanya, tapi ingat! Kamu harus menyelesaikan tugasmu dulu yang berada disitu."
Tanpa menunggu jawaban dari Monika, Thata menutup telponnya, dia berjalan masuk kekamarnya, lalu dia akan berniat memasak untuk sarapannya dan juga sikembar.
***
"Kak Aron akhirnya muncul juga kamu kak, aku merindukanmu." ucap Lolita.
Lolita Vitasari seorang model internasional, yang terkenal dengan kecantikannya dan kemolekan tubuhnya yang luar biasa indah. Lolita jatuh cinta pada Aron ketika kedua orang tuanya mengajaknya makan malam bersama kedua orang tua Aron yang ternyata berteman dekat sejak semasih kuliah. Dari situlah Lolita sangat tertarik dengan Aron, berulang kali dia mendekati Aron, namun selalu diacuhkan oleh Aron. Sekarang Lolita menjadi medel dari berlian yang sedang diluncurkan oleh perusahaan Sandres Group.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Lolita, Lolita berniat semakin mendekatkan dirinya pada Aron dia mencintai pria itu, dia sangat menggilai seorang Aron Junio Sandres.
Lolita yang akan memeluk Aron, namun badan Varel dengan sigap menghadangnya. Aron acuh, dia memilih berjalan terus menuju ruangannya, moodnya sedang tidak bagus gara-gara mimpi buruk yang dialami dipagi harinya.
Aron memasuki ruangannya sendiri karena Varel masih sibuk mengurusi perempuan bernama Lolita itu.
Aron duduk menghadap kejendela, dan tiba-tiba sebuah video call terlihat diponsel Aron. Moodnya yang sedang tidak baik seketika lenyap entah kemana setelah tau siapa yang video call, Rara peri kecilku. Itu nama yang disematkan oleh Aron.
"Dad lihat deh!" Rara dengan semangatnya, mengarahkan kameranya kepada Thata yang sedang membuat kue, Thata yang tidak menyadari tingkah usil anak gadisnya tetap fokus pada adonan kue yang dia buat.
Pipi Aron merona ketika melihat Thata yang sedang menggulung rambutnya dan memperlihatkan leher jenjang Thata yang putih.
"Thata kamu masih sama seperti dulu yang selalu bisa membuatku menggila." ucap Aron dalam hati.
__ADS_1
"Emm sayang Mommy lagi bikin kue yah?"
"Iya Dad, mommy kalau buat kue enak banget loh Dad."
"Punya mommymu juga sangat enak sayang." Batin Aron.
"Sayang kamu lagi video call sama siapa?" tanya Thata.
"Sama Daddy, Mom." Rara menunjukan layar yang memperlihatkan wajah tampan Aron.
Lidah Aron sangat susah untuk digerakan, dia masih asik menatap Thata yang sangat cantik.
"Oh hay Ron, apa kabar." Sapa Thata tersenyum manis.
"Hay sayang, kabar aku baik, lagi bikin kue apa, baunya kecium sampai sini loh."
"Brownies Ron."
"Aku mau, aku kesitu yah."
"No Dad belum waktunya." Saut Rion.
Raut muka Aron terlihat kecewa.
"Tapi kita kan bisa ke Daddy, Mommy aku mau bawa brownies ini ke Daddy boleh?" tanya Rara dengan semangatnya.
"Boleh dong sayang, nanti Mommy masakin makan siang buat kalian sekalian yah."
Aron mendengar itu sangat bahagia.
"Yeyyy makasih Mom,"
"Kalian kemarilah Daddy sedang berada diperusahaan nanti Varel yang akan menjemput kalian."
"Em Ron tapi apa kamu lagi gak sibuk?"
"Mau sesibuk apapun aku, aku akan selalu ada waktu untuk kalian bertiga." Senyum Aron.
"Yaudah bye Dad sampai ketemu nanti aku mau bantuin mommy masak dulu."
"Yah Daddy tunggu kedatangan kalian."
__ADS_1
Video call berakhir.
Bersambung...