PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Bulan Madu


__ADS_3

Monika dan Varel kembali ke apartemen Varel setelah lebih dari sebulan ia menemani keluarga kecil Aron.


Monika sedang memasak, Varel memeluknya dari belakang.


"Mon kapan kamu bisa mencintaiku? Aku ingin segera menikahimu. Aku takut kamu diambil oleh pria lain." ucap Varel, ia menggigit telinga Monika pelan.


"Sudah kubilang berapa kali padamu Varel, aku bukan perempuan yang pantas untukmu." Tegas Monika.


Varel membalikkan posisi Monika, "Dan sudah kukatakan berapa kali kalau aku tidak masalah dengan semua itu Mon, hatiku sudah memilihmu Mon. Aku yakin kamu pasti punya walau sedikit saja rasa padaku."


Benar, Monika tanpa sadar mulai membuka hatinya untuk Varel, dia selalu menginginkan kehadiran Varel dalam kesehariannya walaupun kehadiran Varel hanya membuatnya darah tinggi karena tingkah menyebalkannya.


Varel memeluk Monika, "Aku mencintaimu Mon, ayo kita menjalin hubungan yang serius." ajak Varel.


"Beri aku waktu Rel!" ucap Monika membalas pelukan Varel.


***


Seperti janji yang diucapkan Thata untuk berbulan madu dengan Aron setelah Aron sembuh, dia sekarang sudah berada di korea dengan suami tampannya.


Mereka sampai dikorea saat sore tiba.


"Sayang." Aron menggesekkan badannya pada Thata.


"Aku mandi dulu Aron, sabar sebentar yah!". ucap Thata lembut.


"Sayang sekarang saja, aku sudah tidak tahan lagi." bisik Aron dengan suara beratnya.


"Nanti yah, aku mandi dulu, aku bau nih." Thata menyingkirkan tangan Aron.


"Yasudah kita mandi bersama saja." ucap Aron, dia langsung menggendong Thata kedalam kamar mandi.


Mereka berdua sampai dikamar mandi, Aron tanpa malu melepaskan semua pakainnya terlebih dahulu. Thata pasrah-pasrah saja ketika Aron melepaskan pakainnya. Aron membawa Thata untuk mandi dibawah shower.


Aron dengan telaten menyabuni Thata, Thata sesekali mengeluarkan suara aneh ketika Aron dengan sengaja menyentuh bagian-bagian intinya.


Mereka selesai mandi, Aron memakaikan kimono handuk pada Thata, ia menggendong Thata lalu ia letakkan diatas ranjang kamar itu.


"Sayang, sekarang boleh?" Tanya Aron dengan lembut.


Suara lembutnya membuat Thata tanpa sadar menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Aron melepaskan handuk yang melilit dipinggangnya, dan ia melepaskan handuk yang menutupi tubuh indah istrinya.


Tubuh indah Thata membuat Aron semakin panas dingin, begitupun dengan Thata, ia terpesona dengan suaminya. Rambut yang masih basah membuat penampilan Aron semakin perfect.


Aron dengan perlahan menindih Thata, ia mencium bibir Thata dengan lembut, tanganya meraba kesemua lekuk tubuh Thata.


"Sayang sekarang," ucap Aron serak, dia tidak bisa lagi untuk menunggu lebih lama, belut jumbonya sudah mengamuk.


"Lakukan saja semaumu." Genit Thata, ia membelai perut Aron.


Senyum smirk muncul dibibir Aron.


( Selanjutnya kalian bayangkan sendiri yah, thoor takut bab ini ditolok hehehe😹).


***


Pagi harinya, Aron terbangun, ia melihat istrinya yang masih tertidur dipelukannya. Aron tersenyum ketika mengingat momen malam panasnya dengan Thata, istrinya benar-benar membuatnya menjadi ketagihan.


Aron menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Thata, "Di balik muka kalem ini, ternyata kamu agresif juga." Gumam Aron ketika ia menatap wajah Thata, ia teringat bagaimana Thata menandingi pertempuran mereka. Aron ketika awal menyentuh Thata dulu, Thata seperti perempuan lemah yang tiadak bisa melawan, tetapi sekarang Thata sangat bertolak belakang dengan dulu. Akan tetapi perubahan itu Aron suka.


"Aron kamu sudah bangun," ucap Thata dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Good Morning, baby. Tidurnya nyenyak hemm."


Aron kembali menindih Thata, "Aron apa yang kamu lakukan? Yang sore sampai malam masih kurang?"


"Iya masih kurang Sayang, kamu mau juga kan?" Aron mulai memainkan tangannya.


"Tidak," jawab Thata cepat. "Jangan bohong! mulutmu mengatakan tidak tapi badanmu mengatakan iya." Senyum menggoda Aron.


Mereka mengulang aktifitasnya seperti semalam ketika mereka dipertengahan permainan Aron tiba-tiba menghentikannya.


"Aron kenapa kamu berhenti?" ucap Thata kesal.


Aron menyingkir dari atas tubuh Thata, dia terduduk. "Sayang dari kemarin aku memasukan benihku banyak kerahimmu, aku tidak memakai pengaman Sayang. Bagaimana kalau kamu hamil? aku belum siap." ucap Aron lemah.


Thata terbangun, ia duduk dipangkuan Aron.


"Tenang saja, aku sudah suntik kb kok. Jadi aku belum bisa hamil walaupun kamu menyemburkan banyak benihmu." Thata lebih mendekat ke Aron, sampai menyatu miliknya.


"Benarkah?" Thata mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Emm."


***


"Kakak, rumah jadi sepi gak ada Mommy sama Daddy, kenapa kita ditinggal sih?" ucap Rara kesal,


"Percuma juga kamu ikut Ra, Daddy sama Mommy pasti cuman didalam kamar doang. Kita gak bisa jalan-jalan disana nanti." jawab Rion.


Ares datang dan ikut duduk disofa yang sama seperti Rion dan Rara, Ares memangku Rara. Seperti biasanya dia mengepang rambut panjang Rara.


"Sudah selesai, cantiknya kamu Rara." ucap Ares.


"Terima kasih Kak Ares."


"Kita jalan-jalan aja yuk? dari pada kalian galau kaya sekarang." ide Ares.


"Mau Kak, ayo sekarang aja!" Saut Rara semangat.


"Bocah tengik kau ikut tidak?" Tanya Ares pada Rion.


"Aku jelas ikut, aku tidak mau sampai Rara diculik olehmu." Sungut Rion.


Rara menghembuskan nafasnya pasrah, dua orang yang bagaikan api dan es itu jika selalu dipertemukan pasti tidak akan ada kata akur didalam kamus mereka.


***


"Sayang aku mau tanya?" Aron berada dipangkuan Thata.


"Tanya apa hemm?"


"Ares itu apanya kalian sih sebenarnya?" Aron penasaran tentang Ares, dia tahu jika Thata tidak membiarkan orang lain tahu tentang identitasnya, akan tetapi dengan Ares berbeda. Ares sudah seperti keluarga mereka sendiri.


"Awal mulanya Ares itu dicap sebagai pemuda gila karena ide-ide yang dia temukan untuk pengobatan itu aneh Ron. Rara menemukan Ares yang pada saat itu terlantar dijalanan, Ares anak yatim piatu, dia tumbuh besar bersama anak-anak jalanan. Rara yang pada waktu itu sedang melihat Ares sedang dipukuli oleh banyak orang karena dia mencuri makanan, Rara menolongnya kebetulan pada waktu itu Rara juga bersama dengan Monika. Mereka menolong Ares, lalu Ares memberikan satu botol obat pada Rara, Rara menerima itu lalu ia berikan pada Rion. Rion bilang pada kita, kalau kita harus menemukan Ares, dari situlah kita membawa Ares kedalam keluarga kita."


"Lalu kenapa dia selalu mengatakan Rara akan menjadi istri masa depannya?"


Thata tersenyum, "Aku tidak tahu dia serius dengan ucapannya atau tidak Ron, tapi dia selalu mengutamakan kebahagian Rara, dia akan melakukan apa pun untuk Rara. Mungkin Ares menganggap Rara sebagai malaikat penolongnya, Rara orang yang pertama kali tidak memadang remeh Ares dan Rara juga yang membawa Ares kedalam keluarga kita."


"Jika Ares benar-benar mencintai Rara, kamu akan bagaimana Ron?"


"Itu tergantung padanya, dia bisa membuatku yakin atau tidak." tegas Aron.

__ADS_1


"Udahlah jangan bahas mereka, mereka juga belum cukup umur dengan masalah begituan, kita lihat saja alur cerita yang diberikan oleh Tuhan pada mereka."


Bersambung...


__ADS_2