
"Kak Aron," triak seoarang wanita, Aron sangat hapal dengan suara itu.
Perempuan itu mendekati Aron, dan tanpa malunya ia memeluk Aron.
"Jangan menyentuhku!" Aron mendorong dengan kuat perempuan itu, ia lepas jaketnya lalu membuangnya kedalam tong sampah.
"Kakak maafkan Clarissa Kak, Clarissa menyesal telah mengkhianati Kak Aron." ucap Clarissa memelas. Aron masih dengan muka datarnya saja ia mengacuh kan keberadaan Clarissa.
"Sayang," panggil Aron yang melihat Thata sudah selesai membeli makanan.
Clarissa mengikuti Aron yang sedang menghampiri Thata.
"Sudah semuanya dibeli?" tanya Aron lembut, ia membelai rambut Thata.
"Iya sudah, ayo pulang!" jawab Thata.
"Kak Aron, siapa wanita ini?" tanya Clarissa didepan Thata dan Aron.
Raut muka Thata yang tadinya lembut berubah, ia sekarang hanya menampakan muka datarnya.
"Jangan ganggu aku lagi! Pergilah." Usir Aron, ia merangkul Thata akan pergi dari tempat itu.
Clarissa menghadang mereka berdua, "Jawab dulu siapa dia Kak?"
"Dia istriku."
Deghhh... Clarissa terbengong setelah beberapa detik ia mengejar Aron dan Thata lagi.
Clarissa emosi setelah mendengar jawaban dari Aron, dia menjambak rambut Thata kuat dari belakang.
"Brengsek, beraninya kau menjambak ku." seru Thata dia menarik tangan Clarissa lalu ia tabrakan badan Clarissa kasar pada tembok. Lalu ia hempaskan badan Clarissa sampai badan Clarissa menyentuh tanah.
Aron mematung ketika Thata mendorong Clarissa sampai terjatuh.
"Sayang apa ada yang sakit? Rambutmu bagaimana?" tanya Aron yang khawatir.
"Aku tidak papa Ron." ucap Thata setenang mungkin. Padahal dia sedang menahan rasa sakit yang berada di kepalanya, Clarissa bukan hanya menjambak nya, tetapi juga menancapkan kuku-kukunya yang panjang pada kulit kepala Thata.
"Kakak coba lihat! Perempuan yang kau katakan istrimu itu adalah perempuan yang kasar Kak. Apa pantas dia menjadi istrimu Kak?" Clarissa sudah menangis sesenggukan dihadapan Aron.
Thata akan kembali menghajar Clarissa, namun tangannya di genggam kuat, "Tidak Tha, ayo kita pergi saja." Aron menarik Thata, Thata berusaha melepaskannya akan tetapi Aron malah semakin menggenggamnya erat.
Thata melihat kearah Clarissa hang sedang menggunakan bahasa isyarat.
"Kak Aron tetaplah Kak Aron, dia akan selalu melindungi ku dan membelaku mau bagaimanapun yang aku lakukan. Karena sedari aku kecil Kak Aron sudah berjanji padaku seperti itu. Aku akan merebutnya darimu." seringai Clarissa, dia kira Thata tak tahu akan apa yang dia katakan, tetapi Thata tahu dengan jelas apa yang dikatakan Clarissa. Bahasa isyarat itu hal mudah bagi Thata dia bahkan menguasainya ketika masih sekolah dasar.
Mereka berdua sudah berada dalam mobil Aron, keheningan tercipta didalam mobil itu. Thata memandang kekaca lalu ia sandarkan kepalanya. Thata termenung dengan apa yang sudah dikatakan Clarissa tadi.
Baru saja dia bahagia, bagaimana tuhan bisa memberikan ujian lagi padanya, Tuhan mendatangkan perempuan dari masa lalu Aron dan itu mungkin akan menjadi sebuah cerita didalam kehidupannya. Perempuan yang selalu ia takutkan kehadirannya, sekarang benar-benar sudah datang.
Mobil yang Aron kendarai sudah sampai dihalaman Vila yang mereka tempati.
Thata membuka pintu mobil itu, ia keluar dan meninggalkan Aron yang masih berdiri mematung, Aron biasanya akan membukakan pintu untuk Thata, tapi ini Thata buru-buru meninggalkannya lalu masuk kedalam Vila.
Didalam kamar, Thata sedang mengemasi barang-barangnya, Aron yang melihatnya terkaget. "Sayang kamu mau apa?" pekik Aron keget, Thata tidak menjawabnya, Thata hanya diam dengan muka datarnya.
Aron semakin kaget ketika Thata mengambil paspornya dan Thata letakkan dalam tas selempangnya.
"Sayang kamu mau kemana?" Aron memegang tangan Thata ketika Thata akan keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Sayang kamu ini kenapa mau pergi? apa aku ada salah padamu? Kalau iya maafkan aku. Tapi jangan seperti ini caranya Tha." ucap Aron.
"Kamu tidak salah Ron, aku yang salah." Thata berusaha melepaskan pegangan Aron, tapi justru Aron menggenggamnya erat.
"Aku yang salah karena pada waktu itu aku percaya dengan omonganmu Ron."
"Lepas Ron, aku mau pergi."
Brakkk... Aron menarik Thata, badan Thata ia hempaskan keranjang.
"Tidak, sebelum kamu bilang kenapa kamu tiba-tiba berubah Tha." ucap Aron dia menindih Thata.
"Aron jangan lakukan! lepaskan aku!" Ronta Thata, Aron sedang mencium semua bagian tubuh Thata.
"Tidak akan Tha."
"Aron aku memang lemah dengan belaianmu, tapi bukan berarti aku tidak bisa melawanmu Ron." Thata mendorong kuat Aron, dengan tekniknya ia bisa menyingkirkan Aron dari atasnya.
Thata bangun, Aron kembali meraih tangannya. "Kamu ini kenapa Tha? apa karena Clarissa? aku tidak ada apa-apa dengannya Tha."
"Hahaha," tawa Thata. "Kau pikir aku bodoh Ron? Kau melindunginya bukan? Sebelum aku akan membunuhnya?"
"Aku tidak melindunginya Sayang." elak Aron.
Thata menyeringai, "Itu hanya omonganmu saja Ron, tidak dengan tindakanmu. Aku tidak sebodoh itu Ron. Dulu ketika Lolita ingin mengahajarku apa yang lakukan? kau ingin menghajarnya dan menghabisinya Ron. Tapi sekarang apa? Clarissa yang datang dan menjambakku terlebih dahulu lalu mengataiku dihadapanmu, kamu malah membawaku pergi. Itu sangat jelas jika Clarissa punya arti tersendiri di dalam hidupmu Ron. Mungkin itu hanya terlihat kecil bagimu Ron, tapi tidak denganku Ron. Aku ini istrimu Ron, bagaimana bisa, aku biasa-biasa saja ketika suamiku malah terlihat membela perempuan lain dibandingkan dengan istrinya sediri, yang jelas-jelas perempuan itu yang salah."
Aron terdiam, "Kenapa diam hah? sudah tahu apa salahmu iya?"
"Dan tadi apa yang kamu mau lakukan padaku? kau berpikir jika kita berhubungan badan akan menyelesaikan masalah? Tidak Ron. Aku malah merasa jika aku seorang pel*cur Ron. Jika kau ingin perempuan seperti itu, aku rasa kau tahu siapa perempuan itu Ron." ucap Tandas Thata.
Jlebbb... Kata-kata Thata membuat Aron merasa sangat bersalah, bagaimana bisa dia sebodoh itu bisa membuat istrinya meresa jika istrinya pel*cur.
Thata berjalan kehalaman vila, Aron menyusul sambil berlari.
"Sayang jangan pergi tolong!" Triak Aron.
Thata memutar tangannya seperti membuat kode, lalu banyak orang muncul dari titik-titik vila itu. Mereka adalah anggota bayangan Zius.
"Cegah dia agar tidak bisa mengejarku." titah Thata.
Zius mengepung Aron, "Tha, jangan seperti ini Tha, aku minta maaf aku tahu aku salah tapi jangan pergi yah, aku mohon Tha." ucap Aron.
Thata masih melanjutkan jalannya, sampai tiba sebuah jet berada didepannya.
Aron masih bergulat dengan anggota Thata, dia memang pintar bela diri namun menggadapi 100 orang tentu saja dia kewalahan.
Thata masuk kedalam jet itu ia meninggalkan Aron yang masih terus memanggil-manggil namanya.
Thata duduk disamping jendela jet itu, ia menatap kosong pada pemandangan diluar sana.
"Aron kamu lupa, jika rasa sakit terbesar seseorang itu terjadi karena disakiti oleh orang yang paling di sayanginya." Air mata Thata menetes begitu saja.
"Aron kenapa semua ini terjadi, baru saja aku merasa bahagia olehmu, sekarang kau jatuhkan kembali. Aku mencintaimu Ron, aku tidak mau meninggalkanmu Ron, aku takut kamu seperti dulu lagi. Tapi aku juga tidak bisa bersama seseorang yang menomer duakan ku. Apa yang kamu lakukan itu sangat menyakitiku Ron, apa kamu lupa jika sesuatu yang aku miliki dulu direbut oleh perempuan itu. Tidak bisakah dia jangan merebutmu dari ku Ron. Itu semua tergantung padamu, aku percaya padamu awalnya, tapi sekarang kenapa kamu membuatku goyah Ron? Kenapa?"
Thata menangis sambil menggigit tangannya kuat, ia tidak mau jika suara tangisnya bisa didengar orang lain.
***
Rara sedari tadi gusar, dia tidak bisa duduk dengan tenang.
__ADS_1
"Rara kenapa kamu terlihat gelisah begitu? ada apa? coba bilang pada Kak Ares." ucap Ares.
"Rara juga tidak tahu kenapa Kak,"
"Kak Rion coba cek semua orang Kak!" ucap Rara dia duduk disamping Rion.
Aron mengambil laptopnya, "Gawat ada yang tidak beres dengan Daddy dan Mommy Ra." ucap Rion, Rion semakin fokus pada laptoonya.
"Daddy, apa yang kamu lakukan pada Mommy, sehingga Mommy tidak bisa dideteksi keberadaannya." Seru Rion marah.
Rara melihat laptop Rion dan benar saja Mommynya pergi dan tidak meninggalkan jejak apa pun.
"Rion, Rara." panggil Aron masuk kedalam rumah, ia berlari mendekat kearah dua anaknya yang sedang menatap Aron meminta penjelasan.
Aron berjongkok di depan Sikembar.
"Aku tidak tahu keberadaan Mommy Dad, dia mengeblock semuanya." ucap Rion sinis.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? apa ada sangkut pautnya dengan Clarissa? Aku tidak tahu masalah kalian apa Dad, yang jelas jika Mommy sudah melalukan semua ini dia benar-benar terluka." Raut kecewa dimuka Rion terlihat jelas.
"Maaf, Daddy bersalah pada Mommy kalian. Daddy ingin membawanya kembali, tolong bantu Daddy yah." Harap-harap Aron, tidak ada yang bisa menolongnya kecuali kedua anaknya ini.
"Daddy, jika Kak Rion saja tidak bisa menemukan Mommy, aku tidak bisa Dad. Mommy bukan tandingan kita Dad." Saut Rara.
"Dad, aku tanya sekali lagi apa semua ini ada hubungannya dengan Clarissa. Aku melihatnya yang memandang kalian dari jauh." tanya Rion, dia masih berusaha menahan emosinya.
Aron menganggukan kepalanya.
"Apa yang dia lakukan pada Mommy? apa dia berani menyentuh Mommy Dad?" Aron terdiam, anaknya bisa semarah ini kenapa pada saat itu dia malah terdiam saja, dan malah melihat Thata bertarung seorang diri.
"Jawab Dad! apa yang dia lakukan pada Mommy? kenapa Mommy bisa menghapus semua rekaman kalian ketika bersama Clarissa. Mommy menyembunyikan apa dari kita Dad?"
Aron terperangah dengan ucapan Rion, Thata menghapus semuanya ketika bersama Clarissa, apa istrinya berusaha melindunginya agar anaknya tidak tahu bagaimana cara Aron dapat melukai Thata. Aron tidak bisa mengira akan semarah apa kedua anaknya jika tahu Mommynya dilukai dan dikatai oleh orang lain, dan dia tidak tahu akan nasibnya, kedua anaknya pasti meninggalkannya karena kecewa. Aron dengan jelas membela perempuan yang sudah melukai Mommy mereka.
"Dad, apa Daddy lupa jika sebelum Daddy membenci Clarissa Mommy lebih dahulu membencinya. Dad, Clarissa yang sudah merebut kekasih Mommy dulu, Clarissa adalah salah satu penyebab Mommy mati rasa Dad." Saut Rara.
Aron terduduk lemas dilantai, bagaimana bisa dia lupa dengan itu, rasa sakit yang dialaminya dulu tidak sebanding dengan apa yang dirasakan Thata dahulu. Dan sekarang apa yang dilakukannya, dia membela seseorang yang sudah menyakiti istrinya. Aron menertawakan kebodonnya sendiri, entah sekarang bagaimana cara dia mendapatkan kepercayaan Thata kembali.
Terlintas dimemori Aron, Thata yang sangat terkejut jika Aron kenal dengan Clarissa, ketakutan Thata akan di khiati lagi. Ucapan Thata memohon untuk Aron jangan berubah jika Clarissa datang.
"Dad, Mommy hanya memiliki kita Dad. Tidak bisakah kita membuatnya selalu bahagia saja Dad? Daddy paati sudah tahu bagaimana Mommy menjalani kehidupannya sedari dia kecil. Mommy sekarang pergi, dia akan kesiapa Dad? Mommy tidak mempunyai tempat untuk berpulang selain kita Dad." Ucap Rion, Rion pergi keluar rumah itu, dia akan pergi menenangkan dirinya, dia akan mencari tahu semua yang terjadi pada Daddy dan Mommynya. Rion tidak ingin membuat keputusan yang akan merugikan semuanya.
Aron hanya terpaku diam, lidahnya keluh untuk mengucapkan sebuah kata. Bahkan untuk mengejar Rion saja tangannya sudah tidak ada tenaga.
Rara menyusul Rion, Ares menepuk punggung Ares. "Aku akan menjaga mereka berdua." ucap Ares lalu meninggalkan Aron.
Selang beberapa menit Aron terbengong, Yolanda datang. Yolanda yang baru sampai dirumah itu dikejutkan dengan percakapan Aron dan juga Sikembar, dia memilih untuk tidak ikut campur dahulu.
"Bangun Nak!" ucap Yolanda, ia membantu anaknya untuk bangun.
"Mamah apa yang harus Aron lakukan mah? Aron menyesal Mah, kenapa Aron pada saat itu malah tidak melawan ketika Thata dikatain sama jal*ng itu Mah. Kenapa aku begitu bodoh Mah. Aku menyakiti perasaan Thata Mah, dan lebih parahnya aku malah memaksa dia untuk berhubungan badan Mah. Aku melukai fisik dan mentalnya Mah." Ucap Aron sesenggukan didalam pelukan Yolanda.
Yolanda terkejut dengan Aron, bagaimana anaknya melakukan perilaku seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, anaknya memang sudah melakukannya.
"Aron apa yang kamu lakukan pada Thata sudah sangat keterlaluan Ron, tidak kah kamu pernah berpikir jika kamu melukainya dia akan kesiapa untuk tempatnya bersandar. Kamu sekarang berada dipelukan Mamah, sedangkan sekarang Thata sedang bersama siapa Ron? Dia sendirian diluar sana. Dia menangis dalam diam, dia memendam semua rasa sakit yang dia miliki."
Yolanda melepaskan pelukannya, "Kamu harus bisa memperbaiki semuanya Ron, Mamah tidak akan rela jika harus kehilangan menantu seperti Thata. Dan jika kamu tidak bisa membawa Thata kembali kamu juga harus siap jika nantinya ditinggalkan oleh Rion dan Rara." ucap Yolanda, dia pergi meninggalkan Aron.
Bersambung...
__ADS_1