
Air pantai mengenai kaki Aron, Thata dan juga Sikembar, sinar matahari yang cukup panas tidak membuat ke empat orang itu untuk menepi, mereka terlalu asik dengan kegiatan mereka, mereka sedang membangun sebuah istana pasir besar ditepian pantai.
Istana besar berwarna putih itu sekarang sudah jadi, menaranya menjulang tinggi.
"Yeyy, akhirnya selesai." pekik mereka berempat.
Thata, Aron duduk selonjoran diatas pasir pantai, sikembar berada dipangkuan mereka masing-masing.
"Mom, Dad, Kak kita bikin sebuah rumah seperti istana yang kita bangun yuk!" ucap Rara penuh harap.
"Apa rumah Daddy masih kurang mewah hem?"
Aron saking gemasnya pada putrinya dia mencubit kedua pipi yang kenyal itu.
"Ih rumah Daddy mewah Dad, saking mewahnya harus pake alat dulu kalau mau berkeliling, berasa kek lagi bertamasya tau Dad." saut Rara asal, ucapan Rara mampu membuat ketiga orang itu tertawa dengan gemas.
"Dad, Rara benar kalau ngomong, rumah Daddy saat ini, itu sudah kaya tempat bertamasya tau, ada binatangnya juga lagi. Udah kaya kebun binatang jadinya Dad hehehe." saut Rion yang menambah gelak tawa keluarga itu.
Dalam tawa Thata, dia melihat ketiga makhluk yang sedang tertawa itu, sekilas bayangan Aron yang pergi meninggalkannya terlintas, Thata yang tadinya tertawa dengan bahagianya, sekarang dia hanya menundukan kepalanya dengan tatapan mata yang kosong.
"Mommy are you oke?" tanya Rion yang melihat Mommynya aneh, Rion memegang tangan Thata.
Thata yang sadar jika dia terus seperti ini malahan akan membuat suasana yang bahagia itu akan hilang, Thata langsung tersenyum pada Rion. "Mom oke sayang," jawab Thata sambil tersenyum.
Aron mengusap punggung Thata, "Semua akan baik-baik saja Sayang." bisik Aron. Thata menganggukan kepalanya.
"Anak-anak Daddy, kalau kalian mau rumah seperti istana pasir yang kita buat itu, kalian mau yang bagaimana?"
"Harus ada ruangan musik dan butik yang bisa aku gunakan untuk membuat pakaian yang menakjubkan Dad." ucap Rara dengan penuh semangat.
"Kalau aku sih harus ada dealer mobil, laboratorium, dan arena tembak Dad." saut Rion yang tak kalah bersemangat.
"Kalau kamu mau yang bagaimana Sayang?" tanya Aron pada Thata, ketiga orang itu sudah menatap penasaran pada Thata, mereka mununggu jawaban Thata.
"Kalau aku sih cuman mau ada ruang keluarga yang memiliki kesan hangat untuk kita bisa selalu berkumpul disana." jawab Thata yang mendapatkan jempol dari sikembar, dan jempol itu beralih ke Aron. Bertujuan untuk Aron mengabulkan apa yang diminta oleh Thata.
Aron mengangguk tanda setuju,
Mereka pergi meninggalkan istana pasir itu, ada sebuah ombak yang cukup besar dan menghantam istana pasir itu, istana pasir itu kehilangan bagiannya, sampai entah keberapa ombak yang menghantam istana pasir itu. Sekarang istana pasir itu sudah tidak berwujud lagi, bagian-bagiannya sudah merata dengan permukaan pasir pantai. Istana pasir yang dibuat oleh keluarga Aron menghilang.
***
Aron tiduran dipaha Thata, mereka sedang menonton sebuah rekaman ketika sikembar sedang belajar berjalan, mereka berdua sesekali tertawa ketika Sikembar terjatuh, terguling dan ketika dengan jahilnya sikembar menumpahkan krim kue pada muka Monika.
"Hahaha," Aron tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Monika yang sedang menahan marah.
"Astaga anakku ternyata sangat pintar mengerjai orang, Sayang coba lihat mukanya si Monyet! Mukanya memerah seperti udang yang habis direbus. Aku takjub pada Sikembar usianya masih sangat belia tapi sudah membuatku terkagum-kagum."
Plakkk.. "Hey kau ini Daddynya bukan sih? Anaknya jail minta ampun malah seneng," Dengus Thata.
__ADS_1
"Hehehe, bukan gitu juga Sayang." Cengir Aron, dia menegakkan kepalanya menatap lurus muka Thata.
"Mereka jahil itu ngikutin kamu Aron," Thata mencubit hidung mancung Aron.
"Astaga kemana saja aku selama ini, bisa-bisanya aku baru sadar jika memiliki suami setampan Aron." batin Thata.
"Kenapa ngeliatin segitunya hemm?"
"Terpesona ketampananku yah?" tanya Aron sambil manaik turunkan kedua alisnya.
"Yah betul, aku baru sadar kalau kamu sangat tampan Ron." Jawab jujur Thata.
Aron mengulum senyumnya malu karena dipuji oleh istrinya, dia menyembunyikan wajahnya diperut Thata.
"Aron geli," Aron semakin menguselkan wajahnya pada perut Thata.
"Hey kau ini sedang malu yah? Seorang Aron bisa malu juga ternyata hehehe."
Aron mengigit perut Thata, "Aron jangan digigit ihh."
Aron mengusap-ngusap bagian yang tadi ia gigit. Matanya menatap sayu pada perut rata Thata.
"Sayang," panggil lirih Aron. "Emm."
"Mau tidak kalau nanti disini, ada benihku yang sedang berkembang?"
Aron menatap Thata, tangannya masih betah mengelus perut rata Thata. Thata menatap Aron, dia tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Yah aku mau." ucap Thata tanpa rasa ragu.
"Aku ingin menemanimu ketika kamu hamil Sayang, aku ingin menebus waktu yang telah kamu lalui ketika mengandung Sikembar tanpa adanya aku. Aku ingin menjadi suami yang selalu siaga ketika kamu membutuhkanku."
"Akhhh membayangaknnya saja sudah membuatku sangat bahagia," senyum Aron tulus memandang Thata yang sedang mengusap rambut kepalanya.
"Tapi aku tidak mau sekarang Sayang, aku belum siap, aku masih takut terjadi sesuatu padamu. Cerita Rion pada saat itu masih melekat dikepalaku."
Wajah Aron berudah mendung.
"Aron kapanpun kamu mau punya Anak lagi dariku, aku siap Ron. Udah yah, jangan pikirkan yang buruk-buruk oke! kita harus bisa maju kedepan."
Aron kembali memeluk perut Thata.
"Aku mencintaimu Tha." ucapnya yang bisa didengar oleh Thata. Thata mengelus rambut Aron sayang.
***
Thata dan Monika sedang berada disebuah pusat perbelanjaan terlengkap yang berada didaerah itu.
"Tha, kamu tau gak...?"
"Gak tau tuh." jawab Thata acuh, padahal sahabatnya belum juga selesai berbicara.
__ADS_1
"Aku belum selesai berbicara Thata," dengus Monika kesal, ingin sekali dia mencakar wajah sahabatnya ini.
"Tha bisakah kamu mengangganti misiku saja?"
"Tidak bisa Mon, hanya kamu yang mampu melindungi Varel dari orang-orang Dirgantara."
"Akhh sialan." umpat Monika.
"Bersama Varel itu sangat menyebalkan Tha, tau tidak? kalau sekarang aku tidur satu kamar dengannya. Di apartemen sebesar itu hanya ada 1 kamar saja, apa kamu pikir itu masuk akal? Tidak Tha, tidak. Varel semakin hari semakin menyebalkan, dia bahkan sekarang tanpa rasa malu masuk kekamar mandi saat aku sedang mandi. Dia gila Tha, kamu mau aku bersama dengan orang yang seperti itu hah?" Monika berucap berapi-api, tangannya bahkan sudah menggenggam gelas kaca dengan kuat.
"Nikmatilah saja hari-harimu itu Mon."
"Ayo kita pergi, aku akan membeli sesuatu."
Thata tanpa rasa bersalah, dia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Monika yang masih kalut dengan rasa kesalnya.
"Kamu emangnya mau beli apa sih? Dari tadi gak ketemu-ketemu, cape aku tuh ngikutin kamu Tha."
"Aku mau kasih hadiah untuk Aron, Mon."
"Lah bukannya kamu yang mau ulang tahun, kenapa malah beli hadiah buat Aron?" tanya Monika bingung.
"Aku sadar sekarang, jika aku selalu mendapatkan sesuatu dari Aron. Tapi Aku belum pernah sekalipun memberikan sesuatu pada Aron."
"Emm, iya benar juga sih apa yang kamu katakan, bahkan apa yang kamu kenakan sekarang dari ujung rambut sampai ujung kaki itu semua pemberian dari Aron, kan."
Thata melihat sebuah toko jam terkenal.
"Ayo kesana!" Thata menarik tangan Monika.
Thata membeli sebuah jam tangan berwarna hitam dan putih yang akan ia jadikan sebagai hadiah untuk Aron.
"Tha kenapa kamu memilih jam?" tanya Monika penasaran.
"Karena aku ingin menghabiskan setiap waktuku bersama dengan Aron, dan jam ini menjadi saksi untuk kita." jawaban tulus Thata.
"Apa kamu sudah mencintai Aron?"
Thata menghentikan langkahnya, dia tampak berpikir selang beberapa detik dia tersenyum lalu menatap Monika.
"Yah, aku sudah mencintai Aron." jawabnya tanpa ragu.
Monika terlihat berkaca-kaca, "Huwaaaa," tangis Monika pecah. "Akhirnya kamu bisa jatuh cinta lagi Tha, walaupun dengan si Banteng bucin itu. Tapi tidak papa, aku tau dia benar-benar tulus mencintaimu."
Monika melepaskan dekapannya, dia menatap Thata. "Apa Aron sudah tahu?" Thata menggelengkan kepalanya.
"Aku akan memberitahunya ketika kita kencan nanti, besok aku ulang tahun. Dan Aron mengajakku makan malam, aku akan memberikan jam ini lalu mengatakan jika aku sudah jatuh cinta padanya."
"Emm, baguslah. Semoga kamu bahagia selama-lamanya bersamanya Tha." harapan tulus dari Monika.
__ADS_1
Bersambung...
...Hay hay, jangan lupa like, komen, vote, tambahkan ke favorit dan search keorang-orang yang kalian kenal yah. Aku tunggu apresiasi kalian🤗 Terimakasih🙏...