PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Dirgantara


__ADS_3

Prankkk... Pecahan kaca berserakan dilantai, tangan yang tadinya memegang sebuah foto yang dibingkai dengan kaca, sekarang tangan itu menjadi lemas, badan pemilik tangan itu mematung diam ditempat.


"Sayang," pekik Aron yang mendengar suara pecahan kaca dari arah istrinya. Aron mendekat kearah Thata yang masih diam mematung.


Aron memegang pundak Thata, "Are you okey?" tanya Aron, Aron tidak mendapat jawaban dari Thata tapi dia malah mendapat tatapan yang tidak bisa diartikan dari Thata.


Aron melihat kesebuah foto yang tampak tidak asing baginya, yang sudah tergeletak dilantai beserta dengan serpihan kaca.


"Siapa dia?" tanya Thata mengintimidasi sambil menunjuk foto itu.


"Emm dia itu sayang..."


Thata memegang kerah baju Aron, "Siapa dia Ron." Thata sudah mulai tidak bisa menahan emosinya.


"Jawab Ron! Siapa dia?"


"Oke oke aku akan menjawab.." Aron menggendong badan Thata, "Aron aku sedang tidak bercanda." Thata meronta di gendongan Aron. "Sayang sebentar, kita duduk dulu." Aron mendudukan badannya, Thata berada dipangkuan Aron.


"Apa kamu punya masalah dengan gadis itu hemm?" Aron membelai rambut Thata.


"Aron dia siapa?" ucap Thata dengan nada datarnya.


"Namanya Clarissa, dia dulu seorang gadis yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri..." Aron menghentikan ucapannya, entah kenapa dada Thata terasa sesak tiba-tiba, tangannya perlahan mulai menggenggam erat. "Sampai kedua orang tuaku menjodohkan kami." Tangan Aron melingkar erat dipinggang Thata.


"Aku pada waktu itu terpaksa mengiyakan permintaan orang tuaku, aku bahkan sempat ingin membuka hatiku untuknya, tetapi dia malah mengkhianati ku, dia tidur dengan sahabatku sendiri didepan mataku." ucap Aron dengan santainya.


"Dasar wanita sialan, berani-beraninya dia mengkhianati Aron." ucap Thata dalam hati.


"Emm apa kamu mencintainya?" tanya Thata ragu-ragu.


"Hehehe tidak sama sekali sayang, aku dari dulu hanya mencintaimu saja." Aron mengecup pipi Thata.


"Sekarang giliran kamu, apa kamu kenal dengan perempuan itu?" ucap Aron serius.


Mungkin ini waktunya dia menceritakan masa lalunya pada Aron.


Thata membuang nafasnya kasar. "Kamu ingat hari dimana kamu membuat adonan sikembar bukan?" Aron tersenyum malu sambil menganggukan kepalanya.


"Nah hari itu tepatnya pada sore hari, aku melihat perempuan itu sedang berciuman dengan pria brengsek yang pada saat itu menjadi pacarku. Mereka berdua berselingkuh Ron, aku benci dengan mereka berdua."


Deg... Jantung Aron berpacu dengan cepat, "Eh tunggu, sepertinya ada yang aneh disini." Thata menatap Aron yang sedang menatapnya juga.


"Siapa pacar kamu pada saat itu?" tanya Aron.


"Dilon, Dilon Dirgantara pria brengsek yang tidak tahu malu." jawab Thata malas.


Greppp... Aron memeluk Thata, "Apa kamu masih mencintai Dilon?" ucap Aron dengan susah payah.


Thata manarik wajah Aron agar bisa bertatapan dengannya, "Tidak Ron, aku sudah tidak mencintainya." ucap Thata pasti.


"Apa kamu kenal dengan pria brengsek itu?" Tanya Thata.


Aron menganggukan kepalanya, "Iya, dia laki-laki yang sudah tidur dengan Clarissa, dan kejadian itu tepat dihari kita bertemu."


Mereka bertatapan setelah sekian detik mereka tertawa, "Hahaha pasangan sampah." ucap Thata dan Aron bersamaan.


"Mereka berdua benar-benar cocok sayang."


"Yah kamu benar Ron,"

__ADS_1


"Sayang tidak kah menurutmu kalau semua yang berada dikehidupan kita itu saling berhubungan satu sama lain."


Thata nampak berpikir, "Entahlah Ron, tapi aku merasa memang begitu."


"Sayang peluk!" pinta Aron, Thata memeluk Aron, ia usap rambut suaminya.


"Aku mencintaimu Tha, jadi jangan pernah pergi dari sisiku yah, aku mohon!" Aron mengusel diceruak leher Thata.


Aron tentu saja takut jika istrinya pergi, tidak bisa dipungkiri jika Thata pernah mencintai pria lain dan itu yang membuat Thata mati rasa. Tidak menutup kemungkinan jika seseorang yang membuat luka begitu dalam, maka orang itu jugalah penyembuhnya.


"Iya Ron aku janji! dan kamu jangan pernah tergoda dengan perempuan tidak tahu malu itu."tegas Thata. Aron menatap istrinya yang sudah terlihat seperti istri yang suaminya takut direbut oleh pelakor, muka Thata terlihat marah namun menggemaskan.


Thata melingkarkan tangannya dipinggang Aron. "Kau milikku dan juga sikembar Ron, berani kau pergi habis kau Ron." ucap Thata didada Aron.


Aron terbingung dengan tingkah Thata, badannya bermanja namun mulutnya mengucapkan kata menakutkan.


"Sayang kamu ini sebenarnya sedang bermanja atau mengancamku sih?" Aron mengelus lembut rambut panjang Thata, Aron tau jika istrinya saat ini sudah mengantuk.


Thata tak menyauti ucapan Aron, dia tertidur didekapan Aron.


"Ehh malah udah tidur," Aron memindahkan tangan Thata kelehernya agar dia lebih mudah untuk membopong Thata dan membawanya ketempat tidur.


***


Thata terbangun dari tidurnya, ada hembusan udara yang hangat berhembus kewajahnya, wangi maskulin yang menenangkan, aroma yang selalu Thata hirup akhir-akhir ini.


Thata melihat wajah tampan suaminya, rambut Aron menutupi kening, Thata menyingkirkan rambut itu, agar ia bisa lebih jelas melihat wajah Aron.


"Tampannya suamiku." Batin Thata.


"Pantas saja perempuan penakut itu tergila-gila pada Aron, bahkan ketika Aron tertidur saja dia terlihat seperti pangeran." ucap Thata di dalam hati.


"Aron bangun!" Thata menoel- noel pipi Aron.


"Emm,"


"Bangun Ron!" Thata memencet hidung Aron.


"10 menit lagi sayang." Aron menyingkirkan tangan Thata yang memencet hidung mancungnya.


Cuppp... "Bangun Aron kita ada janji sama sikembar."


Aron mengeratkan pelukannya, "Cium lagi sayang!"


Cuppp.. "Jadi malah pengin tidur lagi sayang."


Tok..tok..tok.. "Mommy, Daddy jangan kelamaan didalam kamar! kalian ada janji sama kita loh." Teriak Rion dari balik pintu.


"Itu denger! Anak kamu udah protes Ron."


"Iss itu anak ngikutin siapa sih? Nyebelin tau gak sih." Dengus Aron, ia terpaksa membuka matanya.


"Iya nyebelin persis kaya kamu, udah sana mandi! Keburu Rion datang terus bawa toa loh."


"Mandiin," rengek Aron dengan muka sangat-sangat menggemaskan.


"Akh kenapa ini cowo bisa menggemaskan kaya gini sih, jadi pengin mandiin beneran kan jadinya." Batin Thata meronta.


"Ada 2 pilihan Ron, mandi sendiri aku tidur dikamar ini atau aku mandiin kamu aku tidur dikamar tamu?"

__ADS_1


"Aku mandi sendiri aja sayang." Aron ngacir langsung masuk kekamar mandi.


Thata terkekeh lucu dengan tingkah suaminya.


***


Rion membawa Thata ke markas Zius yang terhubung dengan laboratoriumnya yang berada dirumah Thata.


Semua orang yang berada disitu tertunduk setelah melihat Dewi Perang beserta anak kecil yang biasa dipanggil dengan Jendral Kecilnya Zius. Monika juga ikut bersama Thata dan Rion sebutan Monika adalah Si Gadis Berdarah Dingin.


Rion Thata dan juga Monika sampai diruangan milik Rion.


Tangan Rion bergerak lincah diatas keyboard komputer miliknya, sebuah layar besar memperlihatkan sebuah tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang sulit diartikan.


Tangan Thata tercengkram dengan kuat, setelah melihat penemuan yang ditemukan oleh Rion.


"Sialan beraninya dia." Marah Thata.


Monika menatap bingung Thata, kenapa sahabatnya bisa terlihat semarah itu hanya karena tulisan dan gambar yang tidak jelas itu.


"Mommy, apa Mommy kenal dengan orang yang bermarga Dirgantara?" tanya Aron.


"Yah Mommy kenal dengan salah satu orang bermarga itu."


"Mommy ini gawat, mereka berusaha menjatuhkan perusahaan Daddy dan entah apa motif mereka, mereka sekarang malah mengincar Paman Varel Mom."


Monika terkaget dengan ucapan Rion, jika kedua orang itu sudah sepanik ini, berarti akan ada suatu badai besar yang akan terjadi.


"Apa aku tidak salah dengar Rion? Varel, Varel kenapa bisa diincar orang?" ucap Monika panik.


"Aku tahu sekarang kenapa pria itu mengambil pel*cur itu dari sisi Aron." gumaman Thata.


"Hah?" Rion dan Monika menatap kearah Thata.


"Begini, Aron dulu pernah punya seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, tiba-tiba orang tuanya menjodohkan mereka berdua, dan saat Aron akan bertemu dengan gadis itu, gadis itu malah sedang berduaan dengan sahabatnya sendiri yang bernama Dilon Dirgantara. Dan sialnya Dilon itu juga mantan pacar aku."


"Mommy, berarti mereka memang sudah merencanakan semua ini sejak lama Mom."


"Betul Rion, Mommy rasa mereka menyerang dengan cara licik, mereka akan mengambil sesuatu hal yang berharga dikehidupan Aron. Itu cara mereka untuk menghancurkan Aron."


"Dan sekarang target mereka adalah paman Varel."


"Yah betul, sekarang kamu cari tahu semua tentang silsilah dari keluarga Dirgantara, dan perkuat penjagaan di sekeliling kita."


"Baik Mom." Rion dengan cepat mengirim pesan pada anak buahnya untuk segera bertindak.


Monika terdiam sejak tadi, "Kalau kamu cemas sama Varel, pergi gih sana! samperin Varel biar kamu tenang." tebak Thata sambil melihat Monika.


"Siapa juga yang cemas." Elak Monika.


"Mon sekarang aku beri kamu tugas untuk tetap berada disamping Varel, nyawanya sedang terancam, dan kamu adalah orang yang bisa melindunginya. Aku tidak mau sesuatu hal buruk terjadi pada Varel, karena aku tidak ingin nantinya Aron bersedih dan menyalahkan dirinya sendiri."


"Baiklah kalau begitu." Monika dengan segera langsung keluar dari ruangan itu dan pergi menuju letak keberadaan Varel.


"Sekali dayung dua pulau terlampaui nih Mom ceritanya." ucap Rion sambil menaikan alisnya.


"Yoi sayang, kasian tante mu jomblo mulu, selagi ada kesempatan kenapa gak diambil coba." Saut Thata dengan santainya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2