
Sebulan berlalu, Aron tak kunjung bangun dari komanya, Aron seakan-akan sangat damai dalam komanya. Dia enggan terbangun dari apa pun, luka yang berada ditubuhnya pun sudah sembuh, mukanya yang tadinya banyak terdapat luka sekarang sudah kembali bersih.
Thata setia menunggu Aron tersadar sambil mengurus perusahaan Aron dan juga Sikembar. Seakan tak lelah Thata sehabis mengerjakan kegiatannya yang lain, dia selalu menemani Aron, bercerita tentang banyak hal pada Aron.
"Aron kamu sudah tidur selama sebulan, apa kamu tidak ingin bangun hemm? Kami semua merindukanmu!" ucap Thata yang masuk kekamar Aron.
Thata mendudukan dirinya disamping Aron, ia menggenggam tangan Aron lalu mengecupnya sekilas. "Kamu masih wangi seperti biasanya Ron."
"Emm kira-kira apa yang akan aku ceritakan hari ini yah?"
"Aku sebenarnya tidak ingin menceritakan ini padamu Ron, tapi sekarang aku ingin kamu tahu, aku tidak ingin menyembunyikan apa pun darimu."
"Aron kamu pasti ingat dihari pertama kita bertemu," jeda Thata. "Dihari itu aku kehilangan kedua orang tuaku Ron, hari ulang tahunku yang ke 21 benar-benar hari yang buruk, aku juga dikhianati oleh pria brengsek itu, dan malamnya aku ditidurimu. Dihari itu aku benar-benar hancur Ron, aku meninggalkanmu pada saat itu karena keberadaanku memang tidak boleh diketahui oleh orang lain, maafkan aku Ron."
"Apa kamu tahu? disaat aku kabur darimu, aku sempat terpuruk tidak ingin melakukan apa-apa, sampai pada suatu hari aku merasakan sangat ingin makan makanan yang berasal dari negara yang kita tempati sekarang."
"Ketika aku sudah menemukan makanan itu aku memakannya dengan sangat lahap, aku saat itu sedang berada disebuah taman. Entah karena apa pada saat itu pandanganku menjadi hitam, aku terjatuh dan pingsan. Monika menolongku pada saat itu, dan ketika aku dirumah sakit, aku tahu jika ada sikembar didalam perutku. Aku sangat senang pada saat itu, aku mencari keberadaanmu pada waktu itu, tapi nihil aku tidak menemukanmu, sejak saat itu aku memutuskan akan menjadi ibu tunggal untuk sikembar."
"Tanpa sadar aku tidak membencimu ketika kamu menjadi perantara tuhan untuk mendatangkan 2 makhluk kecil yang selalu menemaniku untuk menggantikan kepergian orang tuaku Ron."
"Orang yang aku kira akan menghancurkan kehidupanku justru adalah orang yang membuatku hidup bahagia sekarang dan akan selamanya. Terimakaih sudah mencintaiku sebesar ini, terima kasih kamu menepati janjimu. Aron, aku merindukanmu Ron, padahal aku setiap hari bertemu denganmu tapi aku masih merindukanmu Ron. Aneh bukan hehehe." Air mata Thata menetes membasahi tangan Aron.
Thata menangis sampai tidak terasa ia ketiduran bersender pada ranjang yang digunakan Aron.
***
Rion sedang melamun di laboratorium miliknya, Ares yang melihat bocah kecil itu tidak seperti biasanya, dia meninggalkan pekerjaannya lalu menghampiri Rion.
"Masih pagi loh ini, kenapa ngelamun sih?" tanya Ares.
"Ares, aku merindukan Daddy." jawabnya lirih.
"Hey jangan sedih dong! Masa Jendralnya Zius jadi melow gini." Ledek Ares.
__ADS_1
"Ares, aku sudah tambah tinggi 3 senti dari terakhir Daddy bilang padaku, dia ingin melihatku bertumbuh tinggi Res. Daddy melewatkannya Res, dia tidak melihatku Res, aku ingin Daddy melihatnya Res." ucap Rion penuh emosional.
"Ayo ikut aku!" Ares membawa Rion kesebuah tempat penyimpanan pistol.
"Ambil ini!" Ares memberikan Rion sebuah pistol.
"Kau ingin aku menembakmu yah? Dengan senang hati Res." Sarkas Rion.
Ares melototkan matanya pada Rion, "Hey kau ini anak kecil kenapa ucapanmu bisa begitu sih, aku umurnya 19 tahun loh, kamu itu harus nyebut aku Kak, bukan Res Res gitu. Mana kalau ngomong bikin jantung mau copot." dengus Ares.
"Gak bakal aku nyebut kamu Kak Ares," kekeh Rion.
"Iya kan aku yang bakal jadi adik ipar kamu yah, aku kan nanti bakal jadi suaminya Rara."
Plakkk... Rion menampik lengan Ares.
"Banyak omong kamu Res, aku gak akan jadi kakak ipar kamu, Rara terlalu berharga untuk pria sepertimu Res. Jadi ini mau buat apa kamu ngasih pistol hah?" Saut Rion sedikit marah. Moodnya sedang tidak baik malah bertemu dengan Ares yang suka seenak jidatnya dan selalu mengaku-ngaku sebagai suami Rara dimasa depan.
"Kita berburu, ayo ikut aku!" Ares membawa Rion pergi menuju hutan yang berada dibelakang laboratorium milik Rion.
***
"Memang pantas dipanggil dengan sebutan Jendral," gumaman Ares.
Ares melihat sebuah rusa dibalik semak-semak, "Rion coba lihat rusa itu! Kamu tembak dia, tapi sebelum itu kamu kumpulkan segala rasa yang mengganjal didalam hatimu, lalu tembak rusa itu." titah Ares, Rion menutup matanya, dia mengumpulkan segala rasa yang berada dihatinya. Rion membuka matanya dengan pasti, dia menatap rusa itu lalu mengarahkan pistol yang dia pegang tepat dikepala rusa.
Dan... Dor... Rion berhasil menembak rusa itu.
"Bravo," ucap Ares girang, mereka berdua mendekat kearah rusa yang sudah tergeletak tak berdaya itu.
"Aku paham sekarang Res," ucap Rion. "Baguslah, aku biasa berburu jika sedang ada banyak masalah yang aku pikirkan. Berburu adalah pelampiasanku." terang Ares.
"Terimakasih, aku mau melanjutkan perburuan ini, mungkin 3 kali lagi."
__ADS_1
"Yah, yah baiklah. Aku tunggu disini yah."
Rion pergi meninggalkan Ares untuk melanjutkan perburuannya.
***
"Tha ada yang mau aku bicarakan padamu," ucap Varel pada Thata, mereka berdua sedang berada diruang tamu.
"Bicaralah Rel!"
Varel memberikan stop map berwarna coklat pada Thata, "Bukalah!" titah Varel, wajahnya yang biasanya tengil sekarang terlihat datar.
Thata membuka map itu, ada beberapa lembar kertas didalamnya.
"Rel ini..."
"Iya itu rumah yang dibangun oleh Aron dari sebulan yang lalu."
"Aron menitipkan pesan padaku, jika aku harus memberikan sertifikat ini padamu setelah selesai pembangunan."
"Aku pikir pada saat itu Aron bicara ngaco Tha, kenapa dia harus menyuruhku jika dia saja bisa memberikannya. Mungkin pada waktu itu Aron sudah mendapatkan firasat tentang apa yang akan terjadi Tha." terang Varel
"Urusanku sudah selesai Tha, aku pamit dulu! Masih ada urusan kantor yang harus diselesaikan." ucap Varel bangkit dari duduknya.
"Baiklah Rel, terima kasih atas semuanya, aku titip perusahaan Aron. jika ada sesuatu kabari saja aku."
"Siap bu bos," Varel pergi.
Thata masih tak percaya jika Aron akan mengabulkan keinginannya dan juga sikembar pada saat mereka sedang dipantai satu bulan yang lalu.
Rumah yang dibangun Aron sama persis dengan istana pasir yang mereka bangun, tempat yang diinginkan Sikembar juga ada, Laboratorium dan Butik. Aron membuatnya persis seperti yang Sikembar ucapkan pada waktu itu. Dan juga ruang keluarga yang hangat berada didalam rumah itu, Aron benar-benar membuat rumah itu sesuai dengan kemauan keluarga kecilnya.
"Aron untuk kesekian kalinya kamu membuatku merasa beruntung memiliki suami seperti kamu Ron." senyum bangga Thata sambil memandangi beberapa foto rumah barunya.
__ADS_1
"Terima kasih Tuhan engkau telah menjadikan Aron sebagai suamiku. Tolong bangunkan dia dari tidur panjangnya, aku merindukannya, kami semua merindukan kehadirannya kembali."
Bersambung...