
"Bantai semua orang yang berada disini! Jangan sisakan satu orangpun!" Titah Thata pada anggotanya.
Semua orang dari Zius berpencar kesegala arah, Thata dan Monika menuju kesebuah ruangan bawah tanah yang diduga menyimpan barang-barang yang telah digelapkan oleh sekutu Zius.
Thata dan Monika menemukan bongkahan emas batangan yang berada didalam sebuah peti besar berbentuk kotak, Thata dan Monika bertatapan dua perempuan itu menyeringai dengan mata yang menyeramkan.
"Angkat tangan kalian!" ucap seorang pria dengan banyak pengawal yang berada dibelakangnya.
Pria itu menodongkan sebuah pistol kearah Thata dan Monika.
Thata dan Monika berbalik badan untuk menghadap orang yang sudah menodongkan pistol pada mereka.
"Jebakan." Gumam Thata dan Monika bersamaan.
"Aku bilang angkat tangan kalian!" Thata dan Monika tidak menghiraukan ucapan pria itu, mereka malah duduk santai diatas kotak yang berisi emas itu.
"Kenapa kalian mengkhianati Zius hemm?" tanya Thata.
"Hahaha, organisasi yang besar namun tidak jelas siapa yang menjadi pemimpinnya, aku akan membuat kegaduhan seperti ini, agar pimpinan dari Zius itu muncul. Ketika dia muncul, aku akan melenyapkannya dan aku akan menguasai Zius sepenuhnya." ucap seorang pria bertubuh tinggi dengan kulit kecoklatan. Dia berbicara dengan tingkat kepercayaannya yang tinggi dan sombong.
"Bermimpilah saja kau pria tidak tahu diuntung." ucap Thata dan... Dor..dor..dor Thata menembak pria itu dengan cepat dan akurat, para pengawal orang itu langsung menyerang balik dengan senjata api yang mereka bawa.
Thata dan Monika berhadapan mereka mengangguk arti untuk segera memberantas orang-orang yang berada disana.
Selang 5 menit Thata dan Monika mampu melumpuh kan sekitar 20 orang yang berada disana, mereka hanya melumpuhkan saja tanpa membunuh. Karena peraturan yang berada didalam Zius itu dilarang untuk membunuh.
Anggota Zius yang lain berdatangan.
"Bereskan semuanya! Dan bawa pimpinannya ke markas." titah Tahta pada anggota Zius, Thata dan Monika berlalu pergi begitu saja.
***
Thata turun dari mobil yang dikendarai oleh Monika, ia mengendap-ngendap memasuki rumah Aron, sampai ditaman yang berada persis dibawah kamarnya. Thata melompat memegang sebuah tiang lalu memanjat sampai ke balkon kamarnya.
Grepp... Thata mendarat mulus dilantai balkon, dia melepas topi dan maskernya, tangannya meraih gagang pintu, ia buka pintu itu dengan perlahan. Thata berhasil masuk kedalam kamarnya dan...
Lampu seluruh ruangan menyala ketika Thata baru menginjakan kakinya satu langkah dilantai kamarnya.
"Dari mana saja hemm?" tanya Aron yang sedang bersandar ditembok dengan kedua tangannya yang dilipat ditaruh di dadanya.
Thata terdiam, dia hanya menatap Aron yang sedang mendekat kearahnya.
Aron mendekat lalu mengirup bau Thata, "Kenapa diam sayang? Jawab aku! Kamu dari mana?" Aron membuka paksa jaket kulit Thata, ia kembali menghirup bau Thata yang hanya menggunakan tang top tanpa lengan.
"Sayang kalau mau main petak umpet itu harus total, jangan hanya mengganti jaketmu saja sayang, tapi semua yang kamu pakai harus diganti juga." ucap Aron ditelinga Thata tangannya sambil merapihkan anak rambut Thata yang tidak rapih.
Skakkk... Thata tertangkap basah oleh Aron.
"Bau senjata api dan darah, apa yang telah kamu lakukan sayang? Apa kamu habis membantai sebuah kelompok hemm?" tebak Aron, ia tersenyum kecut pada Thata.
Jujur saja ia kecewa pada Thata, mereka sudah menikah namun kehidupan Thata sama sekali Aron tidak tahu, dan sekarang istrinya pulang dalam keadaan begini, tentu saja mengundang rasa penasaran yang tinggi akan kehidupan seperti apa yang Thata jalani.
__ADS_1
"Aron," panggil Thata lirih, ia merasa bersalah pada suaminya tapi dia juga tidak tahu harus apa dan bagaimana.
Aron tiba-tiba menyatukan bibirnya dengan Thata, Aron menuntun Thata kearah ranjangnya, ia jatuhkan Thata di kasur kemudian dia menindih Thata, bibirnya terus menyatu pada bibir Thata dan tangannya sudah bergeliya kesana kemari. Thata sama sekali tidak melawan, dia justru menikmati belaian Aron, tangannya merangkul leher Aron.
Disaat mereka berdua hanyut dalam kegiatan yang cukup dibilang panas, Aron menghentikannya. Aron akan menyingkirkan badannya namun Thata manarik kerah baju Aron, yang membuat Aron kembali menindih Thata.
"Kenapa berhenti?" ucap Thata tersengal-sengal.
Aron menatap Thata yang sedang kehabisan nafas karena ulahnya, ia belai pipi Thata. "Belum waktunya Sayang, aku akan melakukannya setelah kamu benar-benar mencintaiku. Ini hanya sebuah hukuman kecil untukmu."
Thata melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Aron.
Entah bagaimana bisa Thata merasa kesal dengan Aron, Thata sudah siap jika Aron melakukan yang lebih dari ini, mau bagaimapun itu tugasnya untuk menyenangkan Aron.
"Tidurlah! Ini sudah malam," Aron mendekap Thata. "Aron jika kamu ingin..." ucapan Thata terjeda.
"Tidak Sayang, sekarang tidur yah!" Saut Aron tangannya membelai punggung Thata.
"Tapi kamu Ron," Thata bukan perempuan bodoh yang tidak tahu situasi kondisi, Thata merasakan jika suaminya sedang bertarung dengan dirinya sendiri karena menahan hasratnya.
"Tidak papa Sayang, nanti juga akan normal kembali." ucapnya lembut.
"Maaf,"
"Hemm."
***
"Aron?" panggil Thata dengan suara seraknya, Thata tidak mendapat jawaban.
Thata bangun dari ranjangnya kemudian dia melihat kekamar mandi, nihil tidak ada tanda-tanda keberadaan Aron, Thata melangkahkan lagi kakinya kuruang pakaian dan hasilnya sama Aron tidak ada ditempat itu.
Tok..tok..tok.. Pintu kamar terketok, Thata membukanya, dia melihat Yolanda dan juga Rara yang sedang tersenyum padanya.
"Mamah liat Aron gak? Dia tidak ada dikamar."
"Aron tadi pagi-pagi sekali sudah berangkat kekantor Sayang, dia tidak ingin membangunkanmu, jadi dia pergi diam-diam."
Deghhh... Begini kah rasa yang Aron alami tadi malam, ditinggal pergi tiba-tiba tanpa pemberitahuan sedikitpun, kesal, kecewa, marah. Yah itu rasa yang dialami oleh Aron tadi malam dan sekarang dia merasakannya.
Yolanda melihat Thata yang masih terdiam.
"Kamu mandilah dulu! lalu menyusul kita ke ruang makan! Kita tunggu."
"Baik Mah."
***
Brakkk... Aron terkaget dengan pintu ruangannya terbuka secara kasar.
Aron memandang sebentar orang yang sudah membuatnya terkejut, lalu dia kembali dengan komputernya kembali.
__ADS_1
"Aron kamu masih marah denganku?" tanya Thata dengan tidak sabarannya.
Sejak tahu Aron berangkat kekantor tanpa memberitahunya terlebih dahulu, perasaannya tidak tenang sampai pada saat Rion memergoki Thata yang tidak fokus pada makannya. Rion anak kecil yang dingin namun memiliki kepekaan yang luar biasa dengan keadaan di sekelilingnya, Rion dengan mudah bisa menebak jika Daddy dan Mommynya sedang ada masalah, dan benar saja tebakannya benar jika Daddynya sedang marah pada Mommynya.
"Tidak," jawab Aron singkat.
"Lalu kenapa kamu pergi pagi-pagi sekali? Kamu menghindariku Ron."
"Aku ada perkerjaan mendadak Tha, maaf aku tidak memberitahumu tadi pagi, aku tidak ingin membangunkanmu." Aron masih fokus dengan komputernya.
Thata sebal karena merasa diabaikan oleh Aron, "Aron, kenapa kamu hanya terus memperhatikan komputermu sih? Apa aku kurang menarik untuk dipandang dari benda kotak itu." Sungut Thata galak, Thata duduk dipangkuan Aron.
"Aron ada..." ucap Varel terjeda.
Varel terbengong melihat Thata yang sedang berada diatas pangkuan Aron.
"Varel kamu gantikan dulu pertemuan kali ini, aku masih ada perlu dengan Aron." ucap Thata.
"Tapi Tha, ini pertemuan penting."
"Kamu mau sekarang ngewakilin Aron dulu atau aku suruh Monika pulang kenegara asalnya."
"Jangan suruh Monika kembali! Iya aku ngewakilin Aron sekarang." Saut Varel dengan cepat tanpa ragu sedikitpun, lebih baik sekarang dia menuruti kemauan ibu bos dari pada harus tidak pernah bertemu dengan Monika.
"Aron kalau tender ini berhasil aku menangkan, kamu harus memberikan hadiah yang banyak padaku!" Varel pergi dari ruangan Aron.
Aron menatap Thata, "Apa? Mau nekat ikut pertemuan itu? Jangan harap aku membiarkanmu pergi dari ruangan ini Ron."
"Hehehe," Aron tertawa kecil sambil mengacak rambut Thata. "Istriku bisa galak juga ternyata." Aron membenarkan posisi Thata, ia memeluk Thata.
Grepp.. Thata memeluk Aron dia merasa suaminya telah kembali seperti semula. "Maaf, aku janji ketika aku pergi, aku akan memberitahukan mu dahulu nanti, jangan marah lagi yah." ucap Thata dengan manja, kepalanya ia gesekan pada leher Aron.
"Janji yah."
"Emm." Thata mengangguk mantap.
"Jangan menghindariku, jangan menjauh dariku, jangan mengacuhkanku lagi Ron! Itu benar-benar menyebalkan tau."
"Aku tidak seperti itu Sayang,"
Thata melepaskan pelukannya, dia menatap Aron tajam. "Iya iya baiklah, maafkan aku oke." Bujuk Aron. Thata hanya mengangguk saja.
"Ron kayanya ada yang kurang deh," Aron mengerutkan keningnya, ia bingung dengan apa yang dimaksud oleh Thata.
Muachhh... "Morning kiss Ron hehehe." Cengir Thata setelah mengecup bibir Aron.
Aron ikut tertawa dengan tingkah Thata. "Ini sudah bukan pagi lagi sayang..."
Muachh..muachh..muachh. Thata mengecup bibir Aron berulang kali.
Bersambung...
__ADS_1
...Hay hay, jangan lupa like, komen, vote, tambahkan ke favorit dan search keorang-orang yang kalian kenal yah. Aku tunggu apresiasi kalian🤗 Terimakasih🙏...