
Varel sedang mengantri makanan, dia berada di baris ke tiga dari depan.
"Woy ngantri dong main nyelonong aja," ucap seorang gadis dengan nada yang tinggi.
Pria yang diduga merebut antrian itu menolehkan badannya menghadap kearah gadis yang membentaknya.
"Terserah saya dong, siapa kamu beraninya menyuruhku." Bentak Pria berbadan gemuk itu.
"Astaga masih ada yah orang kaya gini di zaman sekarang, Bapak lihat kan antrian ini panjang, tolong mengantri lah sesuai antrian, kasihan yang sedari tadi sudah mengantri."
Gadis yang berucap itu adalah Monika.
Varel hanya memperhatikan betapa beraninya Monika berucap pada seorang pejabat tinggi itu.
"Apa kamu tidak tahu saya? Saya berkuasa di daerah sini."
"Masa bodo Bapak siapa, bahkan jika Bapak pemilik bumi ini sekalipun Bapak juga harus punya sopan santun."
"Brengsek beraninya perempuan ****** sepertimu menyusahkan ku." Bapak Pejabat itu akan menampar Monika namun Monika malah lebih dulu membantingnya.
Varel yang ingin maju karena melihat Monika akan ditampar tapi malah tidak jadi ketika melihat Bapak Pejabat itu tergeletak dilantai.
"Hufhh menyusahkan, aku jadi tidak ingin makan disini."
Monika pergi begitu saja, dan mendapat rasa kagum dari orang-orang yang berada disitu. Verel mengikuti Monika.
"Monika." Panggil Varel, Monika membalikkan badannya menghadap Varel.
"Oh kamu." Monika.
"Hey kenapa kamu selalu lupa denganku, Varel Laksamana Adiguna. Panggil Varel."
"Hehehe sory, kenapa manggil aku?"
"Kamu belum makan siang kan? Ikut aku yuk beli makanan, habis itu kekantor, disana juga ada Thata."
"Apa Thata menemani Banteng bucin itu?" Verel menganggukan kepalanya.
"Yaudah ayo, aku tidak akan membiarkan dia bersama Thata terus."
"Tapikan mereka suami istri Mon."
"Masa bodo dengan ikatan mereka, ayo cepetan kesana."
Monika menarik tangan Varel terburu-buru.
***
Thata sedang tertidur dipundak Aron, ia terlelap ketika sedang menonton drakor.
__ADS_1
Aron terus membelai rambut panjang Thata dan sesekali ia cium kening Thata.
Brakkk... Pintu terbuka, Lolita Vitasari masuk keruangan itu menggunakan baju cleaning servis.
Aron terkejut, dia takut kedatangan Lolita membangunkan Istrinya.
Lolita terkejut melihat seorang perempuan sedang tertidur dipundak Aron.
"Kak siapa perempuan itu? Kenapa kakak tega padaku." Teriak Lolita.
Thata terbangun karena mendengar suara teriakan Lolita.
"Sayang tidurlah lagi, pasti pusing kalau bangun tidur karena kaget."
"Kakak perempuan ****** siapa ini."
Brakkk... Aron menggebrak meja.
"Dia Istriku jangan sekali-kali kau menyebutnya dengan sebutan ******, Aku sudah cukup bersabar denganmu ya Lolita, kalau bukan karena persahabatan orang tua kita sudah kulenyapkan kau dari dulu karena selalu mengusik kehidupanku."
Lolita meneteskan air matanya. "Kakak aku mencintaimu, kenapa kamu tidak bisa mencintaiku? Kurangnya aku apa? Beritahu aku kak! Aku akan berubah sesuai dengan kriteria perempuan yang kamu suka. Aku pasti bisa lebih baik dari pada Istri Kakak itu." ucap Lolita sesenggukan.
"Ku ucapkan untuk kesekian kalinya, Aku tidak mencintaimu, Aku hanya mencintai Istriku, kamu tidak perlu berubah, karena kamu akan berubah seperti apa pun, aku tidak akan pernah mencintaimu. Camkan itu."
Varel dan Monika masuk keruangan Aron sambil membawa 4 porsi makanan.
Lolita yang melihat ada kesempatan, dia mengambil vas bunga keramik lalu melemparkan kearah Thata, Aron yang melihat itu langsung menghadang vas bunga menggunakan tangannya. Prang... Vas bunga itu pecah berserakan dilantai setelah mengenai tangan Aron.
"Sayang lepaskan aku, dia berani akan melukaimu, biar aku kasih pelajaran buat perempuan tidak tahu malu itu." Marah Aron.
"Jangan Ron! Varel bawa perempuan itu pergi, cepat sekarang!" Varel menarik paksa tangan Lolita, Lolita memberontak namun tenaganya kalah dengan tenaga milik Varel.
"Sayang kenapa kamu membiarkan dia pergi? Aku belum mengasih pelajaran padanya." Tanya Aron dengan nada lembutnya kembali.
"Aron dia hanya mencintaimu, hanya saja caranya yang salah, jadi biarkan lah dia, nanti juga sadar sendiri dan orang tua kalian bersahabat bukan? Jangan hanya gara-gara masalah kalian, merusak pertemanan orang tua kalian." Jelas Thata.
"Tuh dengerin kata Istri kamu, Banteng Bucin." saut Monika.
"Hey kenapa kau bisa kesini? Kamu tidak diundang disini." ucap Aron.
Monika mendudukan bokongnya disofa dengan santainya.
Varel datang dengan sedikit berkeringat.
"Rel kenapa kamu membawa Monyet kesini? Seharusnya kamu bawa Monyet ke kebun binatang."
"Yaakkk kurang ajar, Banteng diamlah kau! aku ingin makan."
"Aron sudahlah, sebaiknya kita makan terlebih dahulu. Dan mengobati luka pada tanganmu."
__ADS_1
Aron luluh, dia memilih ikut makan setelah Thata mengobati tangannya, bersama musuhnya yaitu: Monyet alis Monika.
Ketika makan pun Banteng dan Monyet selalu menatap satu sama lain dengan tatapan permusuhan.
Thata dan Varel menggelengkan kepalanya melihat sikap dua orang yang hanya baru beberapa hari ketemu itu langsung akrab, namun keakraban mereka berbeda dari yang lain.
***
Yolanda sedang berjalan sendiri menikmati udara segar dipagi hari, dimusim panas di negara dengan julukan Negeri Ginseng.
"Mamah." Yolanda mengerutkan keningnya mendengar suara itu.
"Hay Mah apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kabar Mamah, Papah dan kak Aron?"
Clarissa Kim nama seorang gadis yang tidak akan pernah dilupakan oleh Yolanda karena pengkhianatan nya pada Aron.
Yolanda jengah melihat gadis yang berwujud seperti bidadari namun nyatanya gadis itu sebenarnya iblis.
Yolanda melangkahkan kakinya akan pergi meninggalkan Clarissa.
"Mamah kenapa seperti ini sih? Aku tahu aku salah Mah, tapi Aku sudah menyesal Mah, maafkan Aku Mah tolong. Mamah tahu bukan kalau Aku sudah menyukai Kak Aron sedari kecil, tolong beri Aku kesempatan lagi Mah untuk mendapatkan cinta kak Aron." Yolanda menghempaskan tangan Clarissa.
"Aku tidak akan membiarkan anakku memiliki sesuatu yang bekas orang, ingat itu! Jangan lagi mengharapkan Aron karena dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang." Tegas Yolanda. Yolanda melenggang pergi dari hadapan Clarissa.
Clarissa terpaku mendengar ucapan Yolanda, Yolanda yang dulu seperti ibunya sendiri merawatnya sejak kecil karena kedua orang tuanya sibuk bekerja, sosok lembut Yolanda berubah menjadi sosok yang sangat membenci dirinya.
"Mah aku akan mendapatkan Kak Aron kembali bagaimanapun caranya, walaupun harus menyingkirkan mu sekalipun Mah."
"Yang Aku perlu pikirkan sekarang adalah bagaimana Aku bisa lepas dari genggaman Dilon."
Clarissa pergi dari tempat itu dan pergi akan menemui Dilon yang sudah menunggunya untuk memuaskan hasrat Dilon.
***
Ceklekkk... Clarissa masuk kedalam kamar Dilon, dia mendengar suara air dari kamar mandi, tidak pikir lama dia langsung membuka pakaiannya dan tidak menyisakan sehelai benang sekalipun.
Clarissa masuk kekamar mandi dan langsung memeluk Dilon yang sedang berdiri dibawah shower.
"Sayang Aku ikut mandi yah." ucap Clarissa menggoda, tangannya membelai perut Dilon lalu turun kebawah sedikit demi sedikit.
"Akhhh." lenguh Dilon akibat tangan nakal Clarissa.
"Kamu yang mulai terlebih dahulu Clarissa, dan Aku akan memuaskan mu."
Selanjutnya kalian pasti tau aktifitas apa yang akan mereka lakukan.
"Tidak papa aku sekarang seperti perempuan murahan, yang terpenting sehabis ini aku bisa lolos dari jeratan Dilon. Dan aku akan kembali lagi kepada Kak Aron, dia pasti mau menerimaku kembali." ucap Clarissa dalam hati.
Sekarang Clarissa meyakinkan dirinya untuk bisa lepas dari jeratan seorang Dilon, dia sudah sangat bosen dengan kegiatannya sekarang.
__ADS_1
Bersambung...