
Thata bangun sangat pagi, dia meninggalkan Aron yang masih tertidur dibawah selimut, Thata melangkahkan kakinya kearah kamar putranya. Thata membuka pintu, dia melihat putrinya sedang memeluk erat putranya seperti tidak ingin terlepas.
"Rara, Kakak harus bangun, ada sesuatu yang harus aku lakukan." ucap Rion mengendurkan pelukan Rara.
Thata masih melihat sikembar dalam diam didepan pintu.
"Ini hari minggu Kak, bangun tidurnya siang aja yah, temenin Rara tidur, Rara suka ketika dipeluk sama Kakak, pelukan Kakak hangat." Saut Rara dengan manja.
Rion tak bisa berkutik setelah mendengar ucapan manis Rara, hatinya luluh, entah kenapa adiknya sangat pandai untuk membujuk orang terutama dirinya.
Thata terkekeh melihat Rion yang pasrah akan keinginan adiknya, Thata mendekat kearah ranjang.
"Mommy." pekik Rion dan Rara.
Rion dan Rara sudah dalam posisi duduk, Thata juga ikut duduk disisi ranjang.
"Kenapa pagi-pagi udah brisik hemm?"
"Gara-gara aku Mom, aku gak mau tidur sama Rara jadi Rara tadi mohon sama Rion buat tetap menemani dia tidur, jadi sedikit brisik hehehe."
"Gak Mom aku yang salah aku maksa Kakak buat gak bangun aku kan pengin Kakak itu istirahat yang banyak, ini hari minggu waktunya mengumpulkan tenaga Mom."
Sama seperti biasanya kedua anaknya akan saling menyalahkan diri mereka, karena untuk sodaranya agar tidak kena omel.
"Kalian ini kenapa masih salah-salahin diri sendiri sih, Mommy tuh dari tadi udah liat kalian, kalian tuh gak ada yang salah. Rara benar Rion kalau kamu harus banyak istirahat, ingat kesehatan, sehat itu mahal. Dan kamu Rara kalau mau manja-manjaan sama kakakmu itu bilang langsung jangan buat bingung, jangan gangguin kalau kakakmu itu memang lagi sibuk." Thata mengusap rambut kedua anaknya.
"Baik Mom." jawab serempak si kembar
"Mom Daddy mana?" tanya Rara yang sudah berada di pangkuan Mommynya.
"Daddy masih dialam mimpi sayang."
Rara memandang Rion, entah apa yang dimaksud dari tatapan mereka berdua senyum tipis dibibir sikembar terlihat. Thata yang mulai sadar akan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya.
"Hey apa yang sedang kalian rencanakan pada Daddy kalian hemm?" Selidik Thata.
"Ayo Mom kita nyamperin Daddy." Ajak Rara.
"Gak jadi tidur lagi sayang?"
"Gak jadi Mom, ayo liat pertunjukan."
Thata mengerutkan keningnya bingung, namun dia tetap mengikuti kedua anaknya yang membawanya kekamar Aron.
Ceklekk.. pintu dibuka oleh Rion, mereka bertiga berjalan tanpa suara, tiba-tiba Rara mendekat kearah ranjang.
Dia mengeluarkan sebuah spidol berwarna pink tua, tangannya terulur kewajah Aron dengan perlahan, Rara menggambar kumis, jenggot, bunga dan kupu-kupu.
Thata ingin menghentikan kegiatan jahil Rara namun tiba-tiba ingatanya terlintas ketika Aron yang kemarin mebuat bibirnya bengkak seperti habis di sengat tawon.Thata hanya berdiam sambil memperhatikan kedua anaknya.
Rara selesai membuat karya di wajah Aron.
"Sudah Kak." ucap Rara pada Rion.
Ada lagi? Pikir Thata.
Rion menarik nafasnya dalam lalu....
"DADDY BANGUN ADA KEBAKARANNNNN." Rion berteriak dengan sangat kencang.
"Mana dimana kebakarannya? Istri dan anak-anakku mana?" ucap panik Aron yang terbangun karena terkejut, dia langsung loncat dari ranjangnya dan berdiri tegap memperlihatkan wajah paniknya.
Sikembar tertawa sampai mengeluarkan air mata, sedangkan Aron masih seperti orang linglung.
__ADS_1
Thata sebenarnya sangat ingin tertawa melihat Aron, bagaimana tidak wajah yang di penuhi maha karya Rara yang nampak sangat lucu diwajah putih Aron, dan wajah paniknya yang terlihat menggemaskan bagi Thata. Thata memalingkan sedikit wajahnya untuk terkekeh pelan sangat pelan.
"Jangan salahkan aku atas kejahilan anakmu Ron, mereka mengikuti tingkah jahilmu." ucap Thata dalam hati.
"Sial, aku dikerjain sama mereka." Umpat Aron dalam hati.
Aron berjalan mendekat kearah ketiga orang yang paling di sayanginya, Aron menampakan wajah marahnya. Rion dan Rara yang tadinya tertawa sekarang tiba-tiba diam dengan canggung.
Aron berkacak pinggang, "Kalian mengerjaiku hemm." Ketiga orang itu menganggukan kepalanya.
Entah kenapa ketiga orang itu nampak menggemaskan ketika dirinya menampakan kemarahannya, Aron tersenyum menyeringai.
"Sayang kenapa kamu diam saja ketika aku dikerjain sama mereka hemm." Tanya Aron pada Thata.
Rion berpindah tempat didepan Thata, dia mendongakan kepalanya untuk menatap Daddynya. "Daddy jangan salahin Mommy, aku yang merencanakannya, kalau Daddy mau kasih hukuman, biar aku saja yang di hukum Dad." ucap lantang Rion.
"Dengan senang hati Daddy akan menghukummu sayang." Aron menggendong badan Rion.
"Daddy mau ngapain?" panik Rion.
"Mandi bareng sama kamu." Seringai Aron.
Rion memberontak di gendongan Aron namun tenaganya kalah dengan Aron.
"No Dad, Rion mohon hukumannya jangan mandi bareng yah pleasee." Mohon Rion, namun Daddynya tidak menghiraukannya.
Aron memang sengaja menjerat Rion dengan hukuman, sebenarnya dia dari dulu sangat ingin memandikan anak laki-lakinya yang tampan ini, namun anaknya malah selalu menolak, saat ini adalah kesempatan emas untuknya.
Aron memasuki kamar mandi.
Rara dan Thata bertatapan.
Mereka mengucapkan secara bersamaan. "Satu.. dua.." mereka tersenyum tipis. "Tig..."
"Rara apa yang kamu lakukan pada muka Daddy." Triak Aron dari dalam kamar mandi.
Aron yang masih kesal didalam kamar mandi sambil membersihkan maha karya putrinya di wajah tampannya.
"Apa lihat-lihat." ucap Aron pada Rion yang sedang duduk di sampingnya.
Rion hanya nyengir, "hehehe."
"Waktunya kita mandi sayang," Aron berusaha membuka pakaian Rion.
"No Dad, ini melanggar hak asasi badan Rion Dad."
Aron tidak mengiharaukan ucapan Rion.
"Daddy pelecehan, aku akan tuntut Daddy." Triak Rion bersulut-sulut.
"Hey mana ada pelecehan sayang, Daddy hanya ingin memandikan mu saja kok."
Aron mengangkat badan anaknya lalu memasukan badan anaknya kedalam bak mandi yang sudah diisi air hangat oleh Aron terlebih dahulu.
"Balikan badanmu!" Titah Aron. Rion pasrah, dia mengikuti printah Daddynya.
"Daddy mau ngapain?"
"Menggosok punggungmu, nanti kalau sudah selesai gantian yah."
Aron menggosok punggung putranya, Aron melihat badan anak laki-lakinya yang sudah terlihat lebih besar di bandingkan anak-anak yang lain, sama seperti dirinya ketika seumuran Rion.
Selesai Aron menggosok punggung anaknya, sekarang giliran Rion menggosok punggung Daddynya.
__ADS_1
"Dad sampai kapan aku menggosok punggungmu? Punggungmu terlalu lebar Dad." Aron hanya terkekeh.
Rion yang tadinya serius menggosok punggung Daddynya, dengan jahilnya tangan mungilnya menggelitik perut Daddynya yang memiliki banyak bentuk kotak-kotak.
"Hey kenapa kami sangat jahil." Aron membalikan badannya, dia membalas gelitikan Rion.
"Hahaha Dad stop Dad! Ampun Rion ngaku kalah Dad!!" ucap Rion.
"Gak akan Rion, kamu yang memulainya terlebih dahulu."
Dua pria itu asik dengan kegiatan mereka, jahil menjahili, Rion yang tadinya sangat tidak suka mandi bersama orang lain, sekarang dia malah menikmati momennya dengan Daddy Aron.
Sedangkan pihak perempuan sudah selesai mandi, mereka sedang menyirami bunga-bunga di taman sambil menunggu waktu makan pagi tiba dan juga menunggu 2 pria tampan mereka.
"Rara lihat deh! Bunga ini sangat mirip dengan gaunmu." Rara melihat gaun dan bunga yang ditunjuk oleh Thata.
"Iya Mom sangat mirip, mereka sama-sama indah." Binar Rara.
"Indah sepertimu Sayang." Tangan Thata membelai rambut panjang Rara.
"Seperti Mommy juga hehehe."
Dilain sisi Aron dan Rion menghampiri 2 wanita kesayangan mereka, namun mereka memilih duduk dibangku taman terlebih dahulu.
"Rion ceritakan tentang Mommymu dong! Daddy masih belum banyak mengetahui Mommymu dan kisahnya."
"Emm yang aku ceritakan, mungkin tidak akan pernah diceritakan oleh Mommy pada Daddy."
Aron penasaran dengan cerita yang akan diceritakan oleh anaknya.
"Dad Mommy pernah akan kehilangan nyawanya," Rion menjeda omongannya. "Ketika Mommy melahirkan kita, Mommy sempat pendarahan hebat, Mommy memiliki golongan darah yang sangat sulit untuk dicari, waktu itu dokter pun sampai frustasi mencari donor darah untuk Mommy. Mommy sudah sangat sekarat, sampai tante Monika datang membawa 2 orang yang entah siapa untuk mendonorkan darah mereka pada Mommy, Mommy berhasil selamat karena tante Monika membawa darah itu dengan tepat waktu, terlambat 1 menit saja nyawa Mommy sudah melayang Dad."
Aron mendudukan Rion yang sudah meneteskan air matanya di pangkuannya.
Sebenarnya Aron sangat rapuh ketika mendengar cerita dari Rion namun akan sangat tidak berguna jika dirinya terlihat lemah di depan anaknya.
Baru kali ini Aron melihat anaknya yang dingin menangis, Aron tahu jika kelemahan terbesar Rion terletak pada keluarga mereka terutama dengan Mommy dan Adiknya.
"Hey anak tampan jangan nangis dong! Malu kalau di liat Mommy nanti." Aron melihat ketakutan dan kesedihan di mata Rion.
"Jangan sedih lagi oke, liat Mommy sekarang sehat dan mampu membesarkan mu sampai sebesar ini, jika kamu merasa bersalah cukuplah menjadi anak yang selalu Mommy kamu sayangi, jangan menyia-nyiakan pengorbanan Mommymu."
"Dan satu lagi Rion kamu harus menjadi kuat jika ingin melindungi keluargamu, jangan jadikan kelemahan mu menjadi penghalang mu untuk menjadi kuat, tapi jadikan kelemahan mu itu menjadi motivasi yang membuatmu semakin kuat yah sayang."
Rion menganggukan kepalanya. "Baik Dad."
Bersambung...
VISUAL
Aron Junio Sandres, Daddy sikembar dan juga suami dari gadis cantik yang menjadi cinta pertamanya bernama Thata.
Agatha Victory, Mommy sikembar dan juga istri dari pria bucin bernama Aron.
Akasha Rigel Orion, anak tampan dan juga cerdas kebanggaan Keluarga Milyader 4 A.
__ADS_1
Adhara Bellatrix Aurora, gadis kecil yang selalu menjadi mood booster dengan tingkahnya yang jahil di Keluarga Milyader 4 A.
...Semoga kalian suka sama visual yang aku berikan yah🤗...