
Hansen terkekeh pelan mendengar ucapan Thata ketika tertidur, bahkan ketika adiknya tidur hanya aneka makanan yang terus ia sebut. Hansen mengelus pelan kepala Thata yang berada di pangkuannya.
"Aku mau Martabak telor, kue pai, bakso... uhhh enaknya jika makanan itu masuk kedalam mulutku." Gumaman Thata ketika tertidur.
"Apa tidak ada yang lain selain makanan diotakmu ini hemm?" ucap Hansen gemas pada adiknya.
"Hoamm," Thata menguap, ia perlahan membuka matanya, ia menatap Hansen yang sedang tersenyum padanya.
"Ibu hamil sudah bangun." Thata mendudukan badannya, satu tangannya masih mengucek matanya.
"Kakak aku lapar," ucapnya lirih, Hansen tersenyum, sudah ia duga adiknya ini akan langsung meminta makan.
"Mau makan apa sekarang?" Tanya Hansen.
Thata menundukan kepalanya, "Aku ingin pulang Kak, aku ingin salah satu es krim yang berada disana."
Tidak, tidak mau pulang tapi dia ingin sekali memakan makanan itu.
"Apa kamu juga ingin makan disana?" Tanya Hansen sudah berjongkok didepan Thata. Thata menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu ayo kesana, tunggu apa lagi."
Thata menatap Hansen dalam, "Ada Kakak, tenang saja!"
Thata tersenyum senang, dia tersadar jika ada Hansen dia yakin semua akan baik-baik saja.
***
"Varel bangun!" Monika menepuk-nepuk pipi Varel.
Bukannya bangun Varel malah menaikan selimutnya untuk menutupi seluruh badannya.
Monika berusaha bersabar, "Varel bangun! Aku sudah sangat lapar, ayo kita cari makan."
Varel membalikkan badannya ia menarik tangan Monika agar lebih dekat dengannya.
__ADS_1
"Makan aku saja kamu akan kenyang, baby." ucap Varel diatas tubuh Monika.
"Dengan senang hati." Seringai Monika, ia menarik kerah baju tidur Varel untuk Varel lebih dekat dengannya. Monika menyambar bibir Varel.
Varel tersenyum dengan kelakuan Monika, binal memang, akan tetapi Varel sangat menyukainya.
***
Thata memakan makanannya dengan lahap, Hansen setia duduk didepan Thata, dan sesekali ia mengelap bibir Thata yang belepotan karena es krim.
Thata memakan es krim sudah ke lima mangkok ini, Thata menghabiskan 5 mangkok es krim itu, dia menatap Hansen harap-harap.
"Tidak lagi Tha! Aku takut kamu sakit nanti, sudah yah! kamu gak mau sakit kan? Kasihan kalau kamu sampe sakit. Ingat bayi yang berada di dalam perutmu." ucap Hansen.
Thata menghembuskan nafasnya, "Baiklah,"
Hansen dan Thata keluar dari kafe itu.
"Kak aku ingin berjalan-jalan sebentar," ucap Thata, Hansen menganggukan kepalanya, Thata dengan semangat menarik tangan Hansen ketempat-tempat yang dia inginkan.
Aron sedang berjalan-jalan, entah kenapa ia ingin sekali ketempat ini.
"Aku merindukanmu Tha, kau dimana sekarang? Apa kamu makan dengan baik disana. Lihatlah aku sekarang berada ditempat dimana kita sering datangi. Disini ada banyak makanan yang kamu sukai." Aron melihat satu persatu toko makanan yang berada disana, hanya gambaran Thata yang muncul diotaknya sekarang. Bagaimana Thata tersenyum senang hanya karena makanan yang dia mau dapat ia beli, betapa lahapnya dia makan, sampai-sampai Aron sering mengelap bibir Thata.
Langit mulai mendung, sepertinya akan segera turun hujan, Hansen pergi meninggalkan Thata untuk membeli payung.
Clarissa berlari dengan kencang, keadaannya terlihat memprihatinkan, baju yang compang camping, luka yang berada dibeberapa daerah bagian tubuhnya.
Clarissa melihat Aron, entah kenapa Tuhan begitu baik padanya, disaat seperti ini. Clarissa semakin mengencangkan larinya, ia takut akan tertangkap oleh orang suruhan Ayahnya Dilon.
Brukkk... Clarissa menabrak Aron, "Kak tolong aku!" ucapnya sambil berlinang air mata. "Menyingkirlah! Jangan menyentuhku!" Aron menghempaskan tangan Clarisssa yang berada dilengannya.
"Kakak Clarissa mohon tolong Clarissa, Clarissa tidak mau tidur dengan ayahnya Dilon Kak. Dia sangat kasar pada Clarissa." Aron memperhatikan tampilan Clarissa, hatinya bergetar ketika melihat banyaknya luka pada tubuh Clarissa.
Orang suruhan Ayah Dilon sudah semakin mendekat, Clarissa semakin ketakutan, Aron melihatnya.
__ADS_1
"Kakak tolong Clarissa Kak! Aku tidak mau lagi tidur dengan Ayahnya Dilon, dia sangat kasar, bawa aku pergi Kak, tolong. Bawa aku pergi dari jeratan mereka, aku sudah tidak tahan lagi Kak." ucap Clarissa lemas, tenaganya sudah hampir habis, ketika dia melarikan diri dari Ayah Dilon saat menyergah tubuhnya.
Aron membuka jaketnya, ia selampirkan pada tubuh Clarissa.
Thata berjalan santai, hatinya entah kenapa sangat senang hari ini, tapi kenapa langit begitu mendung hari ini? Padahal didalam perkiraan cuaca hari ini adalah panas terik.
Thata menghentikan langkahnya ketika melihat bayangan orang yang sangat ia kenal, Aron. Yah Thata melihat Aron, dia melihat Aron memakaikan jaketnya pada Clarissa, hahaha lucu sekali bukan? Dia datang ketempat ini menuruti kemauan bayinya, apa bayi yang berada didalam perutnya memperlihatkan betapa brengseknya Daddynya didepan mata Thata. Thata tersenyun sinis, hatinya terasa sakit, sangat sakit. Rintik hujan mulai turun, Thata masih melihat betapa romantisnya dua orang itu dari kejauhan, Aron menggendong Clarissa, Clarissa mengalungkan tangannya pada leher Aron.
Thata yang masih asik menikmati rasa sakitnya melihat Suaminya dengan perempuan yang sangat ia benci. Hansen datang dia memakai tubuhnya untuk menutupi apa yang dilihat Thata, Thata melihat Hansen dalam, matanya mulai berkaca-kaca, Hansen mendekatkan badannya pada Thata ia menarik Thata kedalam dekapannya. "Sudah yah, jangan dilihat lagi." Ucap Hansen lembut.
Huwaaaa... Tangis Thata pecah dipelukan Hansen, hujan turun dengan lebat mengiringi suara tangisan Thata.
"Kakak, kurangnya aku itu apa Kak? Kenapa gadis sialan itu selalu menang dariku Kak?" ucap Thata berteriak pada Hansen, dia mencengkram baju Hansen kuat. Payung yang sedang digenggam oleh Hansen terlepas, karena brontakan Thata.
Air hujan mengenai kedua orang itu, "Tha, tenang yah, jangan terlalu dipikirkan." Hansen memeluk Thata kuat, ia usap kepala Thata.
"Kakak, kenapa mencintai seseorang itu begitu menyakitkan Kak?" Ucap Thata lirih.
"Dimasa kecil aku kalah dengannya Kak, dan sekarang akupun begitu. Apa aku harus menyerah saja Kak? Aku lelah, aku tidak sanggup lagi."
"Tidak Tha, kau tidak boleh menyerah, kamu wanita kuat Tha. Lelah boleh tapi jangan menyerah yah."
"Kakak, aku tidak tahu apa lagi hal yang bisa membuat Aron tetap bersamaku Kak, bahkan sekarang aku mengandung anaknya saja, dia tidak akan menerima anak ini Kak. Dia tidak menginginkannya Kak."
"Aku harus bagaimana Kak? Aku tidak tahu lagi menghadapi semua ini." Raungan Thata pada Hansen, sekian lama dia menyimpan semuannya, akhirnya sekarang bisa melepasnya bersama Hansen.
Hansen tak mendengar suara lagi dari Thata, Thata pun tak bergerak, Hansen menarik badan Thata untuk ia lihat. Panik Hansen ketika Thata pingsan dipelukannya.
"Tha, Thata bangun!" Ucap Hansen menepuk pipi Thata sambil menggoyangkan tubuhnya.
Hansen menggendong tubuh Thata kedalam mobil, ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit, dia melihat Thata kebelakang, wajahnya sudah sangat pucat. Hansen takut jika terjadi apa-apa pada Thata dan juga bayi dalam perut Thata.
"Tha bertahanlah sebentar! Sebentar lagi kita sampai rumah sakit."
"Akhh sialan kau Ron, berani-beraninya membuat Thata seperti ini." Hansen memukul setir kemudinya, mengingat ucapan-ucapan Thata yang putus asa akan Aron. Andai saja dia datang lebih cepat, mungkin semua ini tidak akan terlalu parah.
__ADS_1
Bersambung...