
"Mah, Pah, aku merindukan kalian." Ucap Thata sambil melihat makam kedua orang tuanya.
Thata meletakan bunga diatas kedua makam itu.
"Mah, Pah. Kalian harus bangga karena mempunyai cucu yang sangat hebat. Cucu kalian yang menemukan teka-teki kematian kalian. Mamah sama Papah pasti melihatnya dari atas sana kan."
Thata duduk di tengah-tengah kedua makam orang tuanya, "Mah, Pah aku berjanji akan segera menemukan seseorang yang membuat kalian sampai meninggal, aku akan membalas apa yang kalian rasakan."
"Mamah sama Papah di atas pasti sudah bertemu dengan Kakek sama Nenek kan. Salam buat Kakek dan Nenek yah!"
"Thata pergi dulu ya Mah, Pah. Thata akan sering kemari, Thata janji. I Love You Mah, Pah."
Thata melangkah pergi dari kedua makan orang tuanya.
Selepas Thata pergi tanpa ia sadari ada seseorang yang sangat ia kenali datang kemakam kedua orang tuanya. Seorang wanita paruh baya membawa bunga lili putih.
"Hay Ra," sapa Yolanda pada Kejora. "Kamu disana hidup dengan baik kan? Sahabatku yang cantik tidak boleh tidak bahagia."
"Ra kenapa kamu meninggalkanku sangat cepat? Kau bahkan belum sempat mengenalkan anak perempuanmu hemm." Ucap Yolanda lirih.
"Ra, kamu tahu tidak? Aku punya seorang menantu yang sangat mirip denganmu. Dia memiliki senyum sepertimu dia dewasa sepertimu, aku kira dia anak perempuanmu tapi entahlah aku tidak tahu tentang keluarganya, dia perempuan cantik yang misterius." Curhat Yolanda, berteman dalam kurung waktu yang lama membuat Yolanda menganggap Kejora sebagai adiknya sendiri.
"Membahas tentang menantuku, aku jadi merindukan dia." Yolanda menatap nanar pada makam Kejora.
"Anakku yang bodoh itu membuat menantu cantikku pergi dari rumah. Ais kenapa aku punya anak sebodoh itu, menyebalkan." Kesal Yolanda.
Masih banyak yang Yolanda ceritakan pada sahabatnya itu, raganya memang sudah tidak ada lagi namun masih ada kenangan yang tersimpan dalam otak dan hatinya.
***
Brughhh... Rara terjatuh karena menabrak seseorang, ia sedang berlari dari Hansen karena sedang bermain petak umpet di sebuah taman.
"Aauu sakit," pekik Rara mengusap bokongnya.
"Hey gadis kecil kau tidak papa kan?" Tanya seorang pria yang bertabrakan dengan Rara.
"Tidak papa Om, tapi..." Rara memandang malas ketika tahu yang ia tabrak adalah Dilon.
"Akhh kenapa aku bertemu dengan pria jahat satu ini." Ucap Rara dalam hati.
"Dia sangat mirip dengan Thata." Batin Dilon.
Rara berbalik badan akan meninggalkan Dilon...
"Jangan pergi!"
__ADS_1
"Lepaskan aku paman!" ucap Rara sedikit mulai kesal.
"Kamu putrinya Thata kan?" Tebak Dilon, ia baru teringat jika Thata memiliki seorang putri.
"Lepaskan dia!" Hansen datang dan melepaskan genggaman Dilon.
"Daddy," panggil Rara, Hansen mengendong Rara.
"Kamu?" tanya Dilon yang masih bingung.
"Aku Daddynya, kenapa dengan anak saya? Apa dia membuat masalah sampai anda menahannya pergi?" tanya Hansen pada Dilon, Rara tersenyum di balik punggung Hansen.
"Aku tadi menabraknya Dad, terus dia menahanku pergi, aku takut Dad." ucap Rara yang seolah-olah takut, matanya mulai berkaca-kaca.
Hansen menatap tajam pada Dilon.
"Aa bukan maksudku seperti itu, dia sangat mirip dengan kenalanku. Jadi aku pikir dia anaknya."
"Ouh begitu," ucap Hansen, Dilon menganggukan kepalanya.
Hansen pergi begitu saja, Rara dan Hansen saling menatap bibir mereka tersenyum lalu...
"Gak sia-sia kita ikutan liat drakor sama Mommymu Ra." ucap Hansen.
"Oh ya Paman, kenapa Mommy dan Kak Rion tidak melakukan apapun pada Dilon?"
"Mommymu masih main halus Ra, toh kita belum tahu apakah Dirgantara punya bekingan atau tidak."
"Ouh begitu."
"Paman," panggil Rara.
"Kenapa Hemm? Kamu mau ketemu Daddymu yah?" tebak Hansen.
"Hehehe, kok tau sih Paman?" kekeh Rara.
"Apa sih yang gak Paman tahu tentang gadis cantik ini." Saut Hansen gemas, Rara bukan hanya mirip rupanya saja dengan Thata namun perilakunya juga sama dengan Thata.
***
"Daddy," teriak Rara yang masuk kedalam kantor Aron.
Aron yang sedang fokus laptopnya kaget mendengar teriakan suara merdu anaknya.
"Sayang." Saut Aron, ia mendekap putri kecilnya yang sudah lama tak bertemu.
__ADS_1
Hansen tersemyum melihat kedua orang di depannya, andaikan saja Aron tidak melukai Thata mungkin keluarga kecilnya akan baik-baik saja, namun itu hanya andai-andai saja. Kenyataannya luka yang dibuat meninggalkan bekas begitu dalam, merubah semua yan tadinya kebahagian menjadi kesedihan.
Aron menatap Hansen, tatapannya seakan mengatakan terimakasih pada Hansen. Aron tahu jelas jika Hansen mencoba memperbaiki hubungannya dengan Thata, dan Hansen pula yang selalu melindungi istrinya.
"Daddy, kenapa matamu jadi seperti panda begitu?" tanya Rara.
"Daddymu sibuk kerja Ra, lihat tuh berapa banyak berkas yang berada di mejanya." Saut Hansen, ia peka jika Aron bingung menjawab pertanyaan dari Rara. Masa dia akan bilang jika dirinya sekarang suka lembur karena memikirkan Mommynya, dia menjadi seorang yang menatap komputer terus menerus dan melupakan makan.
"Benar apa yang Hansen katakan Ra, belum lagi si Varel itu sedang enak-enakan bulan madu." ucap Aron.
"Hahaha, aku tebak Paman Varel nanti minta tambah bulan madunya Dad. Dia kan emang kadang suka seenaknya."
"Kalau begitu Daddy tinggal potong saja gajinya." Saut Aron.
"Aron kau benar potong gajinya saja, toh sekarang dia menghidupi Monika pastilah dia sekarang takut dengan yang namanya pemotongan gaji." Timpal Hansen sambil memasukan camilan kedalam mulutnya.
"Iya sih pasti Paman Varel pasti takut, Tante Monika kan, tidak suka hidup miskin."
"Tapi kenapa kita jadi ngibahin Paman Varel sih? Telinga dia pasti panas sih." ucap Rara heran.
"Dia memang enak untuk jadi bahan gibahan Ra." Saut Aron tanpa rasa bersalah.
"Hahaha benar juga Dad."
"Oh iya Dad, tadi aku bertemu dengan Dilon." Aron menatap panik kearah Rara.
"Tenang Dad! aku tidak kenapa-kenapa lihatlah!"
"Kenapa kamu bisa bertemu dengannya?" tanya Aron yang khawatir.
"Aku tadi sedang bermain di taman bersama Paman Hansen, lalu aku tidak sengaja menabraknya, berhubung mukaku sangat mirip dengan Mommy. Dia sempat mencegahku pergi, untung saja Paman Hansen datang kita berakting sebagai anak dan ayah. Dilon yang bodoh itu percaya dengan drama kita. Lalu kita kemari." jelas Rara.
Aron menghembuskan nafasnya lega, "Makasih," Aron menepuk pundak Hansen. "Sama-sama." jawab Hansen.
"Dad, Dirgantara yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua Mommy. Mereka juga sedang mengincar mu Dad. Lebih peka terhadap keadaan lingkungan Dad, mereka biasanya menggunakan cara yang licik, terutama pada Grandma, mereka akan sangat mudah menjebaknya. Perkuat penjagaan agar tidak kecolongan lagi seperti saat Clarissa. Kita memang sedang tidak tinggal bersama tapi kita masih tetap dapat saling menjaga satu sama lain."
"Semua yang Rara katakan benar Ron, jangan biarkan dulu kedua orang tuamu pergi meninggalkan rumah. Dan kalau untuk Varel kau jangan khawatir dia sudah bersama dengan seseorang yang tepat."
"Fokus kita sekarang adalah menjaga orang-orang yang kiranya menjadi target Dirgantara dan khusus untukmu. Kau harus berusaha mengingat masa lalu mu, kamu saksi satu-satu dari masa lalu dan kamu juga kunci dari Agatha, Sandres dan Dirgantara."
"Aku tahu kamu pasti akan mengingat kejadian yang menyeramkan, tapi tolong berusahalah! dan juga kulik kejadian itu pada kedua orang tuamu. Mereka pasti tahu sesuatu."
"Baik Kak, aku akan berusaha." jawab pasti Aron.
Bersambung...
__ADS_1