
Flashback on...
Thata berjalan keluar dari pesawat jetnya, ia turun lalu masuk kedalam sebuah kastil yang berada diperbukitan.
"Sudah 20 tahun aku meninggalkan tempat ini, entah kenapa aku ingin kesini." ucap Thata ia merebahkan badannya diatas sofa.
Thata ingin memejamkan matanya, ia teringat sesuatu.
"Tidak, tidak mungkin." Thata berlari keluar dari kastil, ia berlari menuju belakang kastil.
Thata berlari menuju ke sebuah pohon besar yang berada tepat dipusat tempat itu.
Thata menemukan kenyataan yang membuatnya terkejut, dadanya tiba-tiba sakit.
"Hahaha," tawa Thata pecah. "Apa maksud semua ini? Lucu sekali hidupku astaga."
Thata tertawa miris, dia terduduk di rerumputan, memandangi ukiran nama yang barada disitu.
...Thata...
...Aron...
...Clarissa...
***
"Mon, Monika." Panggil Varel.
Monika yang tadinya akan mandi mengurungkan niatanya karena mendengar suara bising dari Varel.
Varel sampai didepan Monika.
"Mon, Thata pergi Mon, apa kamu tahu keberadaannya?"
"Lah memang dia pergi ke korea bersama Aron kan." Ucap Monika santai.
Varel manarik nafasnya, "Thata pergi entah kemana karena ada masalah dengan Aron Mon, keberadaan Thata bahkan tidak bisa dilacak oleh Rion, Mon."
"Brengsek, apa yang dilakukan pria gila itu hah?" Ucap Monika marah, dia mencengkram kerah baju Varel kuat.
"Aku juga tidak tahu Mon, aku tadi dapet kabar dari Mamahnya Aron." ucap Varel jujur.
"Baru saja aku bisa percaya dia membahagiakan Thata, sekarang apa Rel? tidak bisakah Aron membiarkan Thata hidup bahagia saja."
__ADS_1
"Sudah cukup dia merasakan penderitaan sedari kecil sampai sekarang Rel, aku bahkan masih bertanya-tanya bagaimana bisa Thata bertahan sampai sekarang." ucapnya melirih, dia membayangkan bagaimana kerasnya dunia yang Thata jalani.
Monika menghempaskan badan Varel, Monika pergi dari apartemen Varel.
***
"Akhh, kamu bersembunyi dimana Tha? Kenapa susah sekali mencarimu."
Ucap Aron frustasi, sudah berjam-jam dia meretas rekaman kamera, tapi Thata hilang ntah kemana, bahkan pesawat jetnya pun tidak bisa terdeteksi.
Dilain sisi Thata sedang tersenyum kecut melihat laptopnya.
"Aron, kenapa kau susah-susah cari aku hemm, aku ada ditempat dimana hanya kamu yang tau Ron." ucap Thata lirih.
Brakk... Monika datang dengan wajah marahnya, Aron sudah bisa menduga jika dia akan menjadi sasaran amukan Monika.
"Kau berbuat apa pada sahabatku hah? Dasar brengsek. Kalau kamu tidak bisa mebuatnya bahagia bilang Ron! Masih ada banyak pria diluar sana yang menginginkan Thata." Bugh.. Monika meninju Aron, Aron hanya berdiam diri, mau mengelakpun dia percuma.
Monika masih asik memukuli Aron, "Tante stoop! Jangan pukuli Daddy lagi." ucap Rara, Monika langsung berhenti memukul Aron.
"Daddy ayo bangun!" Rara membantu Aron bangun.
Rara mendekat kearah Monika, dia memegang tangan Monika lembut. "Tan kita cari Mommy bareng-bareng yah, jangan emosi oke! Tante lebih baik ke markas dan mencari Mommy beserta Kak Rion." Senyum lembut Rara dapat meluluhkan Monika.
"Rara bagaimana kamu masih bisa baik pada Daddy?" tanya Aron heran, Rion saja tidak kunjung pulang, Rara justru selelalu menemaninya.
"Emm, aku hanya berpikir jika Daddy tidak ada yang mengurus nanti Mommy berpaling bagaimana?" jawab Rara yang membuat Aron terkekeh pelan.
"Karena Mommy Dad, Karena Mommy berpesan padaku jika harus merawatmu. Mommy masih memperdulikanmu Dad, aku yakin kalian akan segera baikan." Ucap Rara dalam hati.
Thata menitipkan pesan pada Rara, jika harus menjaga Aron dan Rion selama dia tidak pulang. Thata takut jika akan terjadi perpecahan pada Aron dan Rion.
***
"Dilon ada berita penting!" ucap Clarissa.
Dilon acuh, dia pikir Clarissa akan minta perhiasan dan lain-lain.
"Kak Aron sudah menikah," Dilon menatap tak percaya.
Clarissa duduk santai disofa yang berada diruangan itu.
"Terserah kau percaya atau tidak Lon, tapi aku tidak bohong." ucap Clarissa ngotot
__ADS_1
"Tunggu!" Clarissa mendekat kemeja kerja Dilon, dia mengambil sebuah foto yang tersimpan dilaci itu.
"Pantas saja saat pertama kali aku melihatnya terasa tidak asing, ternyata aku pernah melihatnya disini."
Clarissa menaruh foto yang ada wajahnya Thata, "Dia istrinya Kak Aron, Lon."
"Tidak mungkin, dia kekasihku, bagaimana bisa dia menjadi istrinya Aron?" Dilon terkaget.
Clarissa menyeringai, mungkin ini kesempatan agar bisa lolos dari jeratan Dilon.
"Aku bersumpah Lon, dia orangnya."
"Akhhh sialan, aku menunggunya selama ini dia malah menikah dengan Aron." Dilon memberantakan semua yang berada dimeja kerjanya.
"Dilon tenanglah, dia akan menjadi milikmu. Rebut dia Lon, kamu sudah lama mencarinya bukan?"
"Itu sudah pasti, aku akan merebutnya kembali." Ucap Dilon mantap.
"Bisakah kita berkerja sama untuk menghancurkan keluarganya?"
Dilon tampak berpikir, "Jangan terlalu banyak berpikir Lon, mari berkerja sama. Kita berdua akan mendapatkan untung jika berhasil menghancurkan rumah tangga mereka. Aku bisa mendapatkan Kak Aron dan kamu juga bisa bersama dengan gadis yang kamu cintai."
"Baiklah kita bekerja sama, kamu kacaukan dulu mereka dengan kehadiranmu karena sudah kembali ke sisi Aron. Nah nanti disaat itu aku akan mengambil hati Thata kembali, aku cinta pertamanya aku pasti bisa. Aku bisa menghancurkan rumah tangga mereka aku juga bisa menghancurkan Aron dari tahtanya."
Dilon memang pemain wanita akan tetapi hanya bersama Thata, dia memberikan ikatan khusus. Thata mampu membuat seorang Dilon hanya mencintai satu perempuan saja selama hidupnya, kepergian Thata yang tiba-tiba tidak membuat Dilon untuk berhenti mencintainya.
***
1 minggu kemudian, pencarian Thata tak kunjung ditemukan titik terang, Rion lembur pun didepan laptonya juga sama sekali tidak menemukan hasil.
"Daddy sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Mommy sih? bagaimana bisa Mommy sampai seperti ini?" Tanya Rion.
"Kakak, Daddy sudah mengakui kesalahannya, kenapa Kakak, seolah-olah menyalahkan Daddy terus sih." Saut Rara yang ikut bergabung dengan kedua pria itu.
"Rara, apa yang diperbuat oleh Daddy itu menyebabkan Mommy, tidak pulang selama 1 minggu Ra. Mommy bagaimana keadaannya, kita tidak tahu. Siapa yang akan merawatnya? akhh, semua ini gara-gara Daddy." ucap Rion dengan nada tinggi.
"Rara tahu Kak, tapi..."
Aron mengelus rambut Rara, "Daddy yang salah pada Mommy kalian, kami yang ada masalah jangan sampai kalian juga ikut-ikutan. Daddy minta maaf kalau gara-gara Daddy, kalian jadi tidak bisa bertemu dengan Mommy." ucap Aron dengan penuh kelembutan.
Dilain sisi lain Thata sedang tersenyum melihat interaksi Aron beserta sikembar, namun hatinya merasa miris. Thata ingin ditempat itu juga, dia sudah sangat merindukan sikembar dan juga Aron. Namun kondisinya saat ini tidak memungkinkan untuk kembali. Entah karena tekanan batin atau karena dia hujan-hujanan dihari itu.
"Aku rindu mereka," Thata mengusap layar laptopnya. "Tapi aku tidak bisa bertemu dengan mereka, tetapi aku akan menjaga kalian dari sini." ucap Thata, dia memilih untuk tidur kepalanya terasa sangat pusing.
__ADS_1
Bersambung...