
Monika sedang bersama dengan Varel, dengan wajah datarnya. Monika makan siang bersama Varel disebuah kafe yang tidak jauh dari perusahaan Aron. Karena paksaan dari Varel, dia terpaksa menyetujuinya.
Monika berjalan ketoilet, sesudah dia selesai dengan urusannya, Varel menarik Monika lalu ia dempetkan Monika diantara tembok.
"Mon, aku sudah tidak bisa sabar lagi. Aku ingin kau menjadi milikku Mon." ucapnya serius.
Monika akan menjawab..."Aku tidak perduli tentang masa lalumu Mon, aku hanya ingin kau." tegas Varel.
"Kalau begitu cium aku!" Varel menatap heran Monika.
"Aku akan memutuskan menjadi pacarmu atau tidak ketika kita berciuman." ucap Monika, Varel langsung menyambar bibir Monika.
Monika memejamkan matanya, Varel merangkul pinggang Monika, satu tangannya ia letakkan dipipi Monika untuk membelai pipi gadis itu. Monika mengalungkan tangannya pada leher Varel.
Ciuman mereka berlangsung cukup lama, sampai Monika yang menghentikannya dahulu, gadis itu menatap Varel yang sedang menaruh harapan besar padanya.
Monika tersenyum, senyum yang sangat jarang sekali Monika tampilkan. "Kita berpacaran." ucap Monika pasti.
Varel menatap Monika tak percaya, "Benarkah?" tanya Varel, Monika menganggukan kepalanya.
Varel memeluk Monika erat, "Terimakasih, kalau tahu begini dari dulu udah aku cium kamu, sekalian aku hamilin kamu biar cepet nikah sama aku." Ucap Varel ditelinga Monika.
Monika memeluk erat Varel, "Jangan macam-macam yah kamu, kau tahu aku siapa bukan?"
"Tidak mau, aku akan bermacam-macam denganmu, kau sekarang milikku Mon."
Monika mencubit perut Varel, "Aaauuu,' pekik Varel.
***
"Kak Hansen, Kak." Panggil Thata, ia sudah mengelilingi rumah namun tak kunjung bertemu dengan Hansen.
Hansen mengeluarkan kepalanya dari air kolam renang, ia mengibaskan rambutnya beberapa kali menggunakan tangannya, ia menatap Thata yang terlihat bingung mencarinya.
"Aku disini," ucap Hansen, Thata mendekat kearah kolam renang.
Thata datang dengan wajah cemberutnya, "Kakak kau kemana saja? Aku dari tadi mencarimu."
Hansen keluar dari dalam kolam renang, tubuh kekar dan perut kotak-kotak Hansen terlihat menggoda ketika terkena air, rambutnya yang basah membuat kesan maskulin pada Hansen. Sungguh indah ciptaan tuhan yang satu ini.
Hansen duduk dipinggiran kolam renang menyusul Thata yang sedang cemberut.
"Kenapa mencari Kakak hemm?" ucap Hansen lembut.
"Aku mau nasi goreng buatan Kakak," pinta Thata sambil mengedipkan matanya pada Hansen.
__ADS_1
"Buat sendiri kamu kan, pinter masak." Saut Hansen.
Thata mendorong badan Hansel sampai masuk kembali kedalam kolam renang, "Kakak jahat, aku kan penginnya Kakak yang masak." ucap Thata marah.
Hansen malah tertawa, "Ibu hamil ini gampang banget marah sih, jadi gemes kan." Hansen menarik Thata agar masuk kedalam kolam renang.
"Kakak aku gak mau berenang, aku maunya nasi goreng."
"Iya nanti Kakak buatkan, kita renang dulu, renang bagus loh untuk ibu hamil."
Thata masuk kedalam kolam renang ia merangkul leher Hansen, ia sangat enggan untuk berenang.
Hansen menuntun Thata kedalam kolam renang yang lebih dalam, byurrrr... Hansen menuang air kolam dengan tangannya.
Badan Thata sudah basah semuanya, "Kakak kau menyebalkan," byurrr... Thata membalas Hansen. Mereka berdua bermain main dengan seru, Thata tak henti-hentinya tertawa ketika dikerjai oleh Hansen.
Dari kejauhan Rion melihat dua orang itu berinteraksi, dia tersenyum melihat Thata dan Hansen.
"Paman terimakasih sudah membuat Mommy tersenyum lagi." ucap Rion.
***
Lenguhan seorang gadis terdengar dipenjuru kamar, "Bagaimana? apa kamu berhasil membuat Aron goyah?" tanya Dilon yang berada diatas tubuh Clarissa.
"Akhh Dilon, terus Dilon. Iy_ya aku berhasil, aku yakin Kak Aron akan meninggalkan perempuanmu Lon."
Dilon bangun dari badan Clarissa, "Bagus lanjutkanlah, dengan begitu aku akan segera mendapatkan gadisku kembali." ucap Dilon, ia berjalan kekamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah penuh dengan keringat.
"Tunggu sebentar lagi Kak Aron! aku akan berada disisimu segera." ucap mantap Clarissa, ia memakai kain tidur yang sangat tipis, kemudian dia memakai selimut dan akan tertidur.
***
Aron menatap ponselnya, wallpaper foto cantik Thata ketika dikorea, ia mengusapnya pelan.
"Aku merindukanmu Sayang," Aron membuka riwayat panggilannya.
Ribuan, yah ribuan kali Aron menelpon Thata tak mendapat jawaban barang satu kalipun, pesan yang entah sudah berapa kata tiap hari dia ketikan. Permohanan maaf itulah yang terlihat jelas diketikan Aron.
"Daddy, ayo makan." Ajak Rara.
"Sayang, Daddy sedang tidak berselera makan. Kamu makan dulu yah sama Grandma." ucap Aron lembut.
"Daddy jangan banyak gaya Dad, pake acara mogok makan, Daddy mogok makan, tidak akan membuat Kak Rion dan Mommy kembali. Ayo sekarang makan, kalau Daddy sakit, siapa yang akan mengurus semua tanggung jawab Daddy." Omel Rara.
Rara menarik paksa tangan Aron, entah kenapa akhir-akhir ini Daddynya sering bermalas-malasan, terlihat tidak berselera makan, dan terus mengurung dirinya didalam kamar.
__ADS_1
***
"Thata makan pelan-pelan! tidak akan ada yang merebut makananmu." Ucap Hansen, khawatir kalau Thata tersedak.
"Kakak tenang saja, aku hanya sedang lapar saja, masakanmu benar-benar enak Kak." ucap Thata ia mengangkat 1 jempolnya pada Hansen.
Hansen menghembuskan nafasnya pasrah, ia duduk disamping Thata sambil melahap makanannya, baru beberapa sendok masuk kedalam mulut Hansen...
"Kakak nasi gorengnya lagi! aku masih lapar." Rengek Thata. Hansen menelan makanannya yang sedang di kunyah dengan susah payah.
Hansen melihat ke Thata tak percaya, Hansen sudah membuatkan nasi goreng untuk porsi 3 orang tetapi Thata masih saja kurang.
"Kakak, ayo buat lagi, Thata masih lapar. Tapi yang ini sedikit pedas ya Kak."
"Paman tenang saja! perut Mommy tidak akan meledak, yang makannya banyak itu adikku, jadi perut dia yang besar." saut asal Rion.
Hansen melihat dua orang itu tak percaya, "Baiklah-Baiklah akan aku buatkan lagi, tunggu sebentar!" Hansen kembali ke dapur untuk membuat nasi goreng pesanan Thata.
Selang 25 menitan Thata menunggu nasi gorengnya dengan setia, wajahnya berubah ceria ketika melihat Hansen membawa piring yang berisikan nasi goreng pesanan Thata, dari jarak yang lumayan jauh Thata tahu jika masakan itu sangat enak. Air ludahnya ingin menetes ketika nasi goreng pesanannya berada didepannya.
"Makanlah," ucap Hansen mengelus rambut Thata, ia kembali duduk disamping Thata sambil melanjutkan makanannya yang tertunda tadi.
Thata yang kekenyangan, dia memilih untuk keruang keluarga, ia menyalakan tv, dan seperti biasa dia melihat drama korea kesukaannya. Thata menguap beberapa kali, dia perlahan menutup matanya, kepalanya menyender pada bahu Hansen yang sedang membaca koran.
Hansen menatap Rion, "Bawa Mommy kedalam kamar Paman, kasihan jika dia tidur disini."
Hansen membetulkan posisi Thata agar ketika ia menggendong Thata, Thata merasa aman. Hansen mengangkat Thata dengan hati, ia masuk kedalam kamar Thata, ia letakan badan Thata keranjang dengan sangat pelan.
Hansen menyelimuti Thata, ia membetulkan anak rambut yang menutupi wajah Thata.
"Selamat tidur adik kecilku." ucapnya lalu keluar dari kamar Thata.
Thata sebenarnya mendengar apa yang diucapkan Hansen, masih sama seperti dulu, Hansen selalu memanggilnya adik kecil, padahal sekarang dia sudah besar bahkan punya 2 orang anak dan satu lagi yang berada diperutnya.
Bersambung...
Jonh Hansen, sitampan yang selalu memanjakan adik kecilnya yaitu Thata.
Clarissa Kim, seorang gadis yang selalu membuat Aron goyah.
__ADS_1
Dilon Dirgantara, cinta pertama Thata dan sabahat Aron, yang mengkhianati kedua orang itu dihari yang sama.