PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Kemarahan Pria Dingin


__ADS_3

Varel datang kerumah Thata untuk menjemput bos besarnya yang mogok kerja, Aron yang masih terus nempel pada Thata setelah mengantarkan sikembar les prifat.


Monika yang menjadi nyamuk dan penonton dari kebucinan seorang Aron.


"Sayang sayang sayang." Panggil Aron.


"Apa Ron? Kamu kenapa gak berangkat keperusahaan aja sih?"


"Aku mau sama kamu sayang, kalau kamu mau ikut keperusahaan nanti aku mau keperusahaan."


"Heyy tolong jangan perlihatkan kemesraan kalian padaku!"


"Monyet diem dong nanti Thata sakit telinga dengar suara jeleknya kamu." Saut Aron.


"Heyy berhenti memanggilku Monyet, dasar Banteng."


Entah bagaimana 2 julukan Monyet dan Banteng itu terucap dari Aron dan Monika, tapi mereka sekarang terus menerus memangil satu sama lain dengan panggilan hewan.


Thata yang sedang mengerjakan pekerjaannya menjadi tidak konsen, bagaimana bisa konsen kalau Aron terus menempel padanya dan ada Monika yang dari tadi terus beradu mulut tanpa kenal lelah.


"Sayang kenapa kamu tampung Monyet disini sih? Usir aja dong dia! Gak guna juga keberadaannya, yang ada cuman ngabisin bahan makanan kamu."


"Tha awas aja sampai kamu ngusir aku cuman gara-gara pria bucin ini."


Braakkk... Thata melempar berkas-berkas yang tebal ke meja, Aron dan Monika terdiam. Varel datang dengan kebingungannya melihat suasana ruang keluarga Thata yang terlihat tegang.


Varel menatap sahabatnya yang terdiam kaku dan Thata yang terlihat menahan emosi, pandangannya seketika teralihkan dengan seorang gadis yang hanya menggunakan kaos oblong dan celana panjang longgar, rambut yang diikat asal.


Deghh.. Varel memegang dadanya yang terasa berdebar hebat.


Monika menatap Varel yang terlihat aneh dimatanya, Varel yang ditatap oleh Monika dia gelagapan.


"Ron kamu kenapa gak kepurasahaan sih? Pekerjaan numpuk, aku udah 2 hari gak tidur sampai pagi yah, plis lah Ron kasihanilah sahabatmu ini." Kelus Varel yang terduduk lemas di sofa.


Monika terkekeh pelan mendengar keluhan seorang pria yang menurutnya lucu.


"Bawa pergi aja tuh Banteng Bucin, udah bosen aku ngelihat mukanya yang nyebelin."


Varel bingung mendengar yang diucapkan oleh Monika, dan kemudian... "Bhuahahah." Tawa Varel pecah "Banteng Bucin astaga, nama yang sangat cocok, kamu pintar memberikan julukan untuk pria ini."


"Akhh awas kamu dasar Monyet hutan."


"Hey Ron cantik-cantik gini kenapa kamu panggil Monyet sih, gak cocok banget tahu." Protes Varel.


Monika tersenyum bangga.


"Sayang tolong aku dong." ucap Aron dengan imutnya pada Thata.


Varel dan Monika mencebikkan bibirnya, mereka jengah melihat pria bucin bernama Aron.


Thata menghembuskan nafasnya kasar.


"Aron lebih baik kamu pergi keperusahaan deh sana! Kasian Varel, nanti kalau pekerjaan sudah selesai kamu bisa kesini lagi." Bujuk Thata dengan sabar.


"Emm oke deh, tapi nanti aku kesini lagi yah, ikut makan malam oke, kalau gak oke aku gak jadi pergi nih."

__ADS_1


"Banteng kamu lebih baik pergi selama-lamanya deh, nyusahin doang kamu kalau hidup, kasihan Thata."


"Oke oke nanti kamu kesini lagi."


"Varel cepet bawa sahabatmu ini sebelum berubah pikiran dia."


Aron memeluk Thata terlebih dahulu kemudian melewati Varel, dia melenggang pergi tanpa pamitan kepada Monika terlebih dahulu.


***


"Rara mau gak jadi pacar aku?"


"Gak mau."


"Aku kaya loh, aku juga tampan."


"Gak tertarik."


"Rara kenapa kamu nolak aku terus sih? Kurangnya aku ini apa?"


"Kan sudah aku bilang berulang kali, kalau aku gak suka sama kamu."


"Pokoknya kamu harus jadi pacar aku titik."


Paksa teman Rara yang kelas 3 sekolah dasar.


"Apa Hakmu memaksa Rara hah?" Rion yang tiba-tiba muncul dikantin sekolahan.


"Kakak." Rara berlari kearah Rion.


"Masa bodo dengan kamu suka dengan adikku, yang aku pedulikan adalah adikku, dia merasa terusik dengan kehadiranmu, dan aku akan menyingkirkanmu Rayhan."


Rayhan langsung memukul muka Rion dengan keras sampai bibir Rion berdarah, Rayhan akan menarik tangan Rara mamun Rion menghempaskan badan Rayhan.


Rion yang memilih bertahan diri dari serangan Reyhan yang mempunyai badan lebih besar 2 kalipatnya. Rara berusaha menghentikan pertarungan kakaknya namun malah dia yang terlempar tidak sengaja oleh Reyhan dan Rion yang tidak terima mulai memberikan perlawanannya. Sampai pada saat seorang guru melerai mereka, dan membawa ketiga anak itu keruang kepala sekolah.


***


Thata berjalan tergesah, karena mendapat kabar dari sekolahan sikembar kalau anaknya berkelahi.


Thata juga menelpon Aron namun hp Aron tidak aktif, mungkin Aron sedang sibuk. Pikir Thata, Thata mengirim pesan teks pada Aron.


Diruang kepala sekolah Rion duduk dengan dinginnya sambil memegang tangan Rara yang sedikit ketakutan. Muka Rion dipenuhi luka sedangkan Reyhan tidak mendapat luka terlalu banyak karena ketika pertengkaran tadi Rion hanya bertahan diri saja tanpa melawan, dan ketika dia mulai melawan sialnya ada guru yang memisahkan mereka.


Ceklekk... Pintu ruangan dibuka oleh Thata.


Thata menghampiri anaknya yang sedang menatapnya, Thata ingin sekali meneteskan air matanya yang melihat putranya banyak memiliki luka ditubuhnya dan anak perempuannya yang sedikit ketakutan namun tidak terluka sedikitpun. Thata bisa menduga kalau Rion melindungi adiknya, Thata tahu persis bagaimana Rion tidak sukanya jika ada orang yang mengusik keluarganya.


"Sayang kenapa banyak sekali luka dimuka tampanmu ini hem?" ucap Thata dengan gemetar, tangannya berusaha membelai wajah anaknya yang terluka dan yang paling aneh adalah luka pada anaknya itu tidak diobati sama sekali, darah yang ada di muka Rion bahkan sampai mengering.


"Wali dari Rion diharap kesini!" Titah kepala sekolah perempuan yang tidak lain adalah ibu Reyhan.


Thata yang menahan emosinya berusaha setenang mungkin menghadapi kepala sekolah.


"Ibu Agatha tolong ajari anak anda hal yang baik-baik, lihat! Anak anda berkelahi dengan anak saya, dan menyebabkan luka yang parah, anak anda menyerang anak saya secara brutal." ucap Kepala Sekolah dengan nada yang sedikit tinggi.

__ADS_1


"Jangan berani-beraninya kamu meninggikan suaramu pada Mommyku." ucap Rion yang tak terima.


"Sayang tenanglah."


"Maaf ibu sebenarnya kenapa anak saya bisa berkelahi? Tidak mungkin jika anak saya tidak memiliki tujuan yang jelas, dan kenapa anda tidak mengobati luka anak saya? Tetapi anda mengobati anak anda. Apa ini tindakan yang benar untuk dilakukan sekolahan internasional ini." ucap Thata dengan datarnya namun penuh penyindiran.


"Anak saya awalnya mengajak Rara bermain namun entah bagaimana anak anda menyerang anak saya secara brutal."


"Bohong," teriak Rara. "Reyhan yang memukul kakak terlebih dahulu, kakak hanya ingin aku tidak terusik dengan kehadiran Reyhan yang terus menggangguku dan Reyhan yang tidak terima malah memukul kak Rion secara brutal, kak Rion hanya bertahan, tapi ketika aku terjatuh karena Reyhan, kak Rion baru melawan Reyhan." Jelas Rara.


Thata yang mendengar penjelasan dari Rara dia naik pitam.


"Diamlah kamu! Kami itu adiknya Rion jelas saja kamu pasti dipihak kakakmu dan menyalahkah anakku." Bentak Kepala Sekolah.


Brakkk... Rion memggebrak meja yang berada didepannya.


"Berani kamu membentak adikku hah? Mommy saja sama sekali tidak pernah membentaknya, dan dengan mudahnya kamu yang hanya kepala sekolah membentaknya? Apa otakmu sudah hilang hahh? Kepala sekolah macam apa kamu? Yang tidak bisa menjaga perilaku dan membentak muridnya sendiri." Marah Rion.


"Dasar anak haram, berani kamu mengataiku? Pantas saja prilakumu seperti ini, karena aku yakin kamu tidak dirawat oleh ayahmu dan hanya dirawat ibumu. Ibumu hanya ibu tunggal bukan? Aku penasaran siapa laki-laki itu yang datang bersama kalian pada saat tamasya apa itu target baru ibumu iya?"


Kepala Sekolah itu tahu jika Rion dan Rara hanya dirawat oleh ibunya saja lewat data-data yang diberikan oleh Thata pada sekolahan, yang menyatakan bahwa dirinya singel dan kartu keluarganya tidak ada seorang ayah dari sikembar.


Rara menangis mendengar ucapan kepala sekolan tentang keluarganya. Thata terdiam memang benar dia hanya mengurus sikembar sendirian tanpa adanya sosok seorang ayah.


Rion naik pitam. "Aku punya Daddy, Jangan berbicara yang tidak baik menganai Mommy. Mommy memang membesarkanku seorang diri, tapi Mommy menjadi sosok ibu yang luar biasa untukku. Apa salahnya menjadi ibu tunggal? Jika memang bisa mendidik anaknya dengan benar, dari pada anda berkeluarga utuh tapi tidak bisa mendidik anak anda yang kasar dan pemaksa ini. Berkacalah terlebih dahulu! Apa setelah ini kalian akan mengeluarkan ku dari sekolahan ini? Silahkan aku juga tidak butuh sekolahan yang didalamnya orang-orang tidak berguna. Orang yang tidak menyelediki sebenarnya suatu kejadian bermula, apa kalian sebodoh itu? Kalian punya cctv kenapa tidak melihatnya dan malah melimpahkan kesalahannya padaku yang bukan seorang anak dari kepala sekolah seperti Reyhan. Dan kalian malah mengatai keluargaku, hahaha benar-benar orang yang memiliki pendidikan tinggi namun tidak beradab."


"Ayo Mommy kita pergi! kita tidak perlu membuang-buang waktu dengan orang yang tidak beradab seperti mereka."


Rion pergi melenggang meninggalkan Thata dan Rara, Thata mengejar anaknya tanpa mendengarkan ucapan dari kepala sekolah itu. Rara mengikuti kakak dan mommynya keluar ruangan itu.


Aron datang dengan berlari karena panik, dia lebih panik lagi ketika melihat putranya terluka parah diwajahnya, Aron akan mendekat kearah Rion namun Rion berlari kencang dan dikejar oleh Thata.


"Daddy jangan dikejar biar Mommy saja." ucap Rara sesenggukan.


"Sayang sebenarnya ada apa? Jangan menangis oke Daddy ada disini."


"Kalau Daddy mau tahu lihat di hp Rara ada rekaman suara dan rekaman ketika Kak Rion berkelahi. Daddy harus menyelesaikan masalah ini, tolong yah Dad. Rara kejar Mommy sama Kak Rion dulu." Rara berlari meninggalkan Aron.


Hati Aron terasa teriris, hatinya sakit melihat putranya yang terluka dan dua gadisnya menangis.


Aron mencoba membuka hp Rara sambil berjalan kearah ruangan Kepala Sekolah, amarah Aron memuncak mendengar ucapan yang terlontar pada keluarganya.


Brakkk.. Aron masuk dengan tidak sabarannya diikuti Varel yang baru saja tiba.


"Brengsek punya nyali besar kalian membuat masalah pada keluargaku."


Kepala sekolah melihat Aron dan akan memarahinya namun ketika dia melihat Varel yang merupakan tangan kanan dari pemilik Sandres Group ada disitu dia menurunkan egonya untuk marah pada Aron.


"Kenapa diam hah? Kamu sudah berani-beraninya membentak kedua gadisku dan memfitnah putraku. Aku Aron Junio Sandres akan membalas apa yang telah kamu lakukan pada keluarga 100 kali lipat lebih menyakitkan. Tunggu saja."


Jeduar... Ketika Aron mengucapkan nama panjangnya kepala sekolah itu langsung terduduk lemas dilantai. Apa ini akhir dari hidupnya? Pria yang baru saja mengucapkan namanya itu adalah anak tunggal dari keluarga Sadres, dia menyesal sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan. Anaknya melukai penerus tahta, dan dirinya mengucapkan kata-kata yang menyakitkan pada ibu dan anak perempuannya.


Varel yang melihat keterkejutan dari kepala sekolah dan beberapa orang guru yang berada diruangan itu yang sedang ketakutan. Varel menyunggingkan senyum mengejeknya.


"Berani sekali kalian mengusik orang-orang kesayangan dari seorang Aron, tamatlah kalian." Varel menyusul Aron yang sudah pergi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2