
"Daddy kenapa kau membawa perempuan itu kemari?" Ucap Rara sedikit meninggi ketika dia melihat Clarissa yang berada didalam gendongan Daddynya.
Aron tanpa menghiraukan Rara, dia berjalan kearah ruangan kamar tamu untuk meletakkan Clarissa diatas ranjang.
Rara yang kesal menarik tangan Aron, "Daddy kenapa bawa dia kesini? Daddy itu mau memperbaiki hubungan dengan Mommy atau malah merusaknya sih." Sudah cukup Rara bersabar, dia sekarang kesal dengan tingkah laku Aron.
"Rara, Daddy hanya menolongnya saja, dia tadi dikejar oleh para suruhan orang jahat." ucap Aron lembut, dia mengirimkan pesan untuk Varel, untuk membawa dokter.
"Lalu kenapa dia di bawa kemari Dad."
"Tempat ini aman untuknya Ra."
Rara menghempaskan tangan Aron yang berada dipunggungnya.
"Daddy, jangan pura-pura miskin yah, Daddy kaya. Daddy bisa mengirimnya kesalah satu rumah Daddy, bukan kesini Dad. Ini rumah pribadi keluarga kita." ucap Rara tak terima, enak saja rumah ini bisa ditinggali oleh Clarissa, pikir Rara.
"Asal Daddy tahu, rumah ini aman karena Mommy yang melindunginya bahkan ketika dia tidak ada. Dan sekarang Daddy bilang rumah ini aman? Lucu sekali Dad, jika Mommy tahu rumah yang dilindunginya dari orang seperti dia. Malah berhasil dimasuki karena kebodohanmu Dad. Daddy harus ingat siapa sebenarnya Mommy, dia tahu semua aktifitas yang Daddy lakukan, apa menurut Daddy, Mommy akan menerima ini semua? Tidak Dad, aku yakin tidak."
"Kau tega sama Mommy Dad, tahu tidak? Selama ini aku berada disamping Daddy itu karena aku disuruh oleh Mommy. Mommy takut jika Daddy seperti dulu lagi, ketika Mommy meninggalkanmu Dad. Tapi lihat! kebaikan yang diberikan Mommy dibalas dengan apa olehmu Dad."
Dibalik pertengkaran Rara dan Aron, Clarissa tersenyum bahagia mendengar itu, dia semakin yakin untuk bisa merebut Aron dari Thata.
Aron cengo mendengar ucapan Rara, pantas saja perusahaannya seperti damai sekali, apa istrinya yang melakukan itu semua?
"Bengongmu menandakan betapa bodohnya dirimu Dad." Sindir Rara.
"Rara kamu tahu dimana Mommymu?" tanya Aron serius
"Tidak, tapi jika aku pergi dari sisi Daddy, pasti Mommy akan mendatangiku." Ucapnya berlalu pergi dari hadapan Aron.
***
Hansen terduduk sambil menundukan kepalanya, baju yang basah sedari tadi belum ia ganti, Hansen masih setia menunggu kabar dari dokter tentang keadaan Thata.
Dokter itu keluar setelah selesai memeriksa keadaan Thata.
"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Hansen tidak sabar.
"Istri anda tidak papa Tuan, anaknya juga baik-baik saja, tapi tolong jangan bikin dia tertekan yah." ucap Dokter.
"Baik Dok, terimakasih." Dokter itu berjalan pergi meninggalkan Hansen.
__ADS_1
Hansen masih merasa ada yang ganjil, dia berbalik ingin menghadap Dokter. "Saya Kakaknya dok, bukan suaminya." Ucapnya cepat sambil membalikan badan, tetapi Dokter itu malah sudah tak terlihat.
"Aelah malah udah pergi, ya udah lah." Ucap Hansen acuh, dia masuk kedalam ruangan Thata.
Thata ternyata sudah terbangun, dia sedang bersandar pada bantalnya, Thata sedang melamun. Hansen menyalakan TV yang sedang menayangkan berbagai makanan-makanan yang dapat menggugah selera makan.
Thata menatap TV itu, muka yang tadinya tak bersemangat, seketika berubah menjadi muka yang mengharap dan mendamba. Thata menatap Hansen yang berada disampingnya, Hansen menaik turunkan alisnya.
"Kakak," Rengek Thata. "Hemm." jawab Hansen seolah tak peka.
"Mau itu Kak." Thata menunjuk pada layar TV itu.
"Apa? Gak kedengeran Tha." Hansen seolah tak mendengar suara Thata, telinganya ia majukan pada Thata.
Thata mengerucutkan bibirnya, "Kaka belikan makanan yang seperti di TV itu. Aku lapar."
"Gak mau ah, kamu masih cemberut gitu." Thata memaksakan senyumnya. "Itu senyum palsu Tha."
Thata menarik nafasnya, demi makanan, pikirnya.
Thata tersenyum manis, "Kak belikan itu yah, adik cantikmu ini sangat lapar loh." Hansen melengoskan wajahnya, bumil satu ini kenapa terlihat sangat menggemaskan.
"Nah gini dong senyum terus, kan cantiknya jadi nambah." Hansen mencubit pipi Thata yang terlihat sedikit membesar.
Hansen pergi membeli makan setelah mengelus kepala dan mencubit hidung Thata.
Thata menatap Hansen, dia senang sangat senang pria yang sudah ia anggap sebagai Kakaknya sendiri, dapat sedikit menghilangkan beban yang dia rasa.
Sampai saat ini Thata masih bertanya-tanya kenapa Kakaknya itu pergi, setelah selesai mengurus kematian kedua orang tuanya. Dan baru sekarang ia kembali lagi.
"Mah, Pah terima kasih telah membawa Kak Hansen kedalam kehidupanku." ucap Thata sambil menutup mata, satu tangannya ia taruh di dadanya. Kedua orang tuanya memang sudah tidak ada, tapi Thata yakin jika kedua orang tuanya selalu mengawasinya.
"I love You Mah, Pah and I Miss You."
***
Malam harinya dirumah besar Aron, dia sedang tertidur. Tiba-tiba ada yang merayap keatas tubuhnya, bau ini! Bau yang sangat ia kenal.
"Sayang," ucap Aron dengan mata yang tertutup.
"Hemm." jawab Clarissa tangannya membelai wajah Aron.
__ADS_1
Aron membuka matanya, namun keadaan kamarnya sangat gelap. "Kamu pulang Tha?" tanya Aron kaget, dia kira perempuan yang berada diatas tubuhnya adalah Thata.
"Hemm." Jawab Clarissa. Tangan Clarissa mulai menjalar kemana-mana.
Aron merasa aneh, "Sialan kau, pergi dari badanku." Aron menghempaskan badan Clarissa. Ia menyalakan lampu kamar itu.
Aron melihat jijik pada Clarissa, "Kau perempuan tidak tahu diuntung Clarissa, aku sudah menolongmu, tapi kenapa kau seperti ini hah?" Bentak Aron marah, ia mengusap badannya berulang kali yang sudah disentuh oleh Clarissa.
Clarissa berusaha merangkak mendekati Aron, "Kak aku memang bekas, tapi aku dapat memuaskanmu Kak. Bahkan lebih dari istrimu Kak."
Plakkkk... Aron menampar pipi Clarissa keras, ia mencengkram dagu Clarissa dengan sangat kuat.
"Jangan berani-beraninya wanita sepertimu membandingkan istriku, apa lagi denganmu wanita j*lang." Bantak Aron, menghempaskan dagu Clarissa kasar.
Clarissa menyeringai, "Hahaha," tawa Clarissa pecah. "Yah benar, aku wanita j*lang, tapi kau lebih brengsek Kak Aron. Lebih parah dari pada aku. Kau menyakiti keluargamu sendiri, istri dan anakmu sekarang pergi meninggalkanmu. Karena kau membelaku. Jadi disini siapa yang menurutmu orang yang paling bersalah hah?"
"Hentikan omong kosongmu Clarissa."
"Kenapa menyuruhku diam hah? Kau tidak mau mengakui jika disini kau yang paling bersalah hah? Kau yang tergoda denganku Kak. Kau goyah karena aku Kak, sadarlah jika aku masih ada tempat spesial dihatimu Kak."
"Kemarin memang iya, aku masih sempat berpikir menganggapmu sebagai seorang adik. Tapi sekarang najis aku menganggapmu sebagai adik, dasar iblis." Sarkas Aron.
Aron memerintahkan orang untuk mengusir Clarissa dari ruangannya.
Rara tersenyum diluar kamar Aron, dia ingin mengambil makanan didapur malah mendengar percakapan yang membuatnya senang.
"Akhirnya kau sadar juga Dad." Ucap Rara bergumam..
Clarissa diseret kasar dari rumah Aron, "Tunggu saja pembalasanku Kak, aku tidak terima dengan apa yang kamu lakukan padaku hari ini." Clarissa dengan membawa rasa malunya pergi meninggalkan rumah itu.
Aron terdiam di balkon kamarnya, entah sudah beberapa kali dia menghembuskan nafas. Aron menatap kesamping nya, tempat dimana Thata biasa berdiri dengan baju tidurnya dan rambut
panjang yang digerai.
"Aku merindukanmu Tha, kamu dimana sekarang? Aku menyesal, benar-benar menyesal." ucapnya parau.
"Pulanglah Sayang! dan bawa Rion kembali."
Aron mengambil satu batang rokoknya, dia sudah lama tidak merokok, tetapi malam ini dia benar-benar butuh.
Angin malam yang dingin menerpa badan Aron, yang masih setengah basah, dia mandi bahkan lebih dari 1 jam. Kulit putihnya pada bagian tertentu ada yang memerah karena dia gosok dengan sabun begitu kuat, dia merasa jijik pada tubuhnya sendiri karena dipegang oleh perempuan lain, selain istrinya.
__ADS_1
Bersambung...