
"Hay Sayang, maaf aku tadi meninggalkanmu sebentar. Aku merindukanmu, apa kamu tidak merindukanku hemm?" ucap Thata dia membelai pipi Aron dan mengusap rambutnya.
Thata melepas kalung yang ia pakai, ia genggam kalung itu bersamaan juga dengan tangan Aron.
"Kenapa kamu menggunakan bunga Sweet Pea pada kalung yang diberikan untukku Ron?" Thata sudah tahu akan arti bunga itu.
"Kamu ini benar-benar tidak tahu artinya atau bagaimana sih? Kamu berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku, tapi malah memberikan kalung yang berarti selamat tinggal. Otakmu itu habis terbentur apa sih? Bisa-bisanya aku punya suami bodoh seperti mu." Omel Thata, ia mencubiti lengan Aron pelan.
Thata meletakan tangan Aron dipipinya, "Katanya cuman tidur sebentar, tapi kok ini lama sih? Bangun dong Sayang! Kita bikin adik buat sikembar yuk! Aku sudah mencintaimu loh. Berarti sekarang kita bisa melakukan yang begituan." ucap Thata dengan semangat.
"Akhh kamu nyebilin, biasanya kalau bahas yang kaya gini semangat, tapi boro-boro semangat, kamu gerak juga kaga."
Air mata Thata mulai menetes, "Aron bangun! Aku kesepian tanpamu, aku merindukan tingkah jahilmu."
"Bagun yah, gak papa deh kalau nanti sering grepek-grepek aku, tapi bangun yah Ron, aku gak akan ngelarang lagi kok janji." Thata menautkan jarinya dengan jari Aron.
"Aku tidur dulu yah, nanti kamu harus bangunin aku seperti biasanya oke." Thata mencium tangan Aron dan menjadikan tangan Aron menjadi bantalnya.
***
"Dimana perempuan yang semalam dibawa oleh Mommy?" Tanya Rion.
"Disana Jendral," jawab seorang pria.
Rion dan Rara mengikuti pria itu, mereka masuk kedalam ruangan bawah tanah.
"Tante jahat bangun!" ucap Rara pada Lolita, byurrrr... Rion mengguyur Lolita dengan air dingin.
Uhukk..uhukk.. Lolita terbatuk, karena air yang disiramkan oleh rion masuk kedalam hidungnya.
"Ka_lian mau ap_pa." Lolita ketakutan setelah melihat Rion da Rara.
"Kakak lihat keadaanya sekarang! Mommy benar-benar murka Kak. Aku menyayangkan Mommy harus mengotori tangannya untuk menyiksa perempuan itu, tidak bisakah Mommy menembaknya saja sekalian." ucap Rara sedikit kesal, Lolita yang mendengernya gemetar ketakutan.
"Ra apa kamu pikir jika Mommy menggunakan pistol, dia masih hidup sekarang? Tidak Ra, Mommy pasti sudah membuatnya meninnggal." ucap Rion datar.
Rion mengambil sebuah suntikan dan cairan yang berada didalam botol kaca kecil, dia mendekat ke Lolita.
"Apa yang akan kamu lakukan padaku?" Lolita berusa melepaskan rantai yang berada ditangan dan kakinya.
"Tenang lah Tante! Tante hanya akan merasakan gigitan semut saja Kok." ucap Rion, dia menyuntikan cairan itu.
"Ribuan semut maksudnya," jelas Rara.
Rion dan Rara meninggalkan Lolita yang sudah mulai merasakan efek dari cairan yang diberikan oleh Rion.
***
Rangga mendekat kemenantunya, "Thata kamu pulang dulu yah, istirahat sebentar nanti kesini lagi."
__ADS_1
"Gak mau Pah," tolak Thata. "Aku ingin disini sampai Aron sadar Pah." ucapnya lirih.
Rangga mengelus rambut menantunya, "Tha ingat! Kamu juga harus menjaga Sikembar, jadi kamu harus mempunyai tenaga yang lebih, Aron pasti setuju dengan Papah."
"Jadi sekarang pulang dulu yah! Nanti malem kamu kesini lagi." bujuk Rangga.
"Baiklah Pah, aku titip Aron yah, jika ada perkembangan apa pun tolong kabari aku."
"Pasti, istarahat yang cukup yah."
Thata meninggalkan ruangan itu.
***
Thata sedang dikamarnya, niatnya untuk beristirahat namun dia malah diganggu oleh bayang-bayang Aron disegala penjuru ruangan, dia merindukan kehadiran suaminya.
Thata memilih untuk beres-beres terlebih dahulu, Aron yang masih sampai saat ini tidak siuman, Thata berniat membantu urusan perusahaan Aron.
Thata memilih-milih berkas yang sekiranya penting, ia akan membawa berkas-berkas itu ke rumah sakit. Thata melihat sebuah buku tebal, ia ambil buku itu yang bertuliskan Pasien Aron Junio Sandres.
Thata membukanya selembar demi selembar, air matanya menetes ke lemabar-lembar kertas pada buku itu.
"Aron maafkan aku telah meninggalkanmu 5 tahun yang lalu," ucap Thata, dia merasa sangat sangat bersalah.
"Betapa bodohnya aku meninggalkanmu pada malam itu, Aron betapa tersiksanya dirimu menghadapi semua ini. Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku Ron, kamu menyembunyikan dengan sangat baik Ron, aku tertipu dengan senyumnya yang selalu tampak baik-baik saja. Tapi nyatanya, tidak."
Thata memegang dadanya yang terasa sesak, "Aron aku mencintaimu, aku tidak akan mengecewakanmu Ron." Serunya dalam tangis.
***
Thata tiba diruangan Aron, "Loh kok kesini sekarang Sayang? Bukannya kamu mau kesini nanti malam yah?" ucap Yolanda yang melihat kedatangan Thata. keadaan Yolanda kembali pulih ketika mendengar anaknya tidak jadi meninggal.
"Mamah," Thata masuk kedalam pelukan Yolanda. "Kenapa kalian tidak pernah bilang jika Aron pernah sangat terpuruk selepas kepergianku Mah."
Yolanda mengeratkan pelukannya, dia tidak tahu bagaimana Thata bisa mengetahuinya, tetapi dia jelas tahu jika Thata merasa sangat bersalah.
"Hikss..hikss.. Mamah aku orang jahat, aku yang sudah membuat Aron sampai depresi." ucap Thata parau.
"No Sayang, kamu bukan orang jahat, jangan salahkan dirimu! Itu sudah berlalu dan Aron juga sudah sembuh."
Tanpa orang-orang sadari, Aron ikut meneteskan air matanya.
Yolanda melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata pada mata menantunya itu. "Jangan nangis! Aron nanti ikut sedih kalau kamu begini."
"Mamah.. apa aku pantas untuk Aron? aku sekarang merasa tidak pantas Mah, aku sudah banyak membuat luka padanya Mah." sesal Thata.
Yolanda akan menjawabnya....
Aron tiba-tiba kejang-kejang, Thata langsung memencet tombol untuk memanggil Dokter.
__ADS_1
Disaat keadaan panik, Sikembar datang, mereka langsung berlari menuju Aron.
"Dad, Daddy kenapa Dad?" Rara berucap sambil memegang tangan Aron.
"Semuanya dimohon untuk keluar!" ucap Dokter.
"Rara ayo keluar dulu, biar Daddy ditangani oleh dokter dulu." Rion menarik tangan Rara.
Mereka semua menunggu kabar dari kondisi Aron.
Selang 20 menit Dokter keluar, "Tuan Aron sudah baik-baik saja, apa tadi terjadi suatu kejadian yang menyebabkan tubuh tuan Aron meresponnya?"
"Sayang dengar! Mamah rasa tadi Aron merespon ucapanmu. Dia pasti tidak ingin kamu menyalahkan dirimu sendiri, jangan bicara yang tidak-tidak seperti tadi yah."
"Jika memang benar, maka terus lah lakukan, tapi saya sarankan jangan membuatnya seperti tadi. Jika terjadi lagi, saya tidak tahu akan terjadi seperti apa nantinya."
Dokter itu pamit, semua orang kembali masuk kedalam ruangan Aron.
"Mommy, kita bawa Daddy kerumah kita saja Mom, disana Daddy akan mendapatkan perawatan yang lebih bagus. Dan Mommy tahu jika disana juga ada Ares Mom." Saran Rion.
"Tunggu! Grandma sepertinya tidak asing dengan nama Ares yah."
Yolanda melongo, "Jangan bilang jika Ares yang kalian maksud itu adalah dokter muda yang dikenal dengan otak jeniusnya."
"Dia temannya Kak Rion, Grandma, mereka sama-sama gila jika sedang berkutat pada obat-obatan."
Ponsel Rion berbunyi, "Aisss panjang umur sekali orang ini, baru juga diomongin udah nongol aja." Rion menekan tombol berwarna hijau.
"Hay Kak Ares," sapa Rara. "Hay cantiknya Kakak makin cantik ajah nih, jadi pengin Kakak nikahin deh." Saut Ares disebrang.
"Bilang apa tadi kamu hah?" Galak Thata, Ares menggaruk kepalanya malu.
"Ampun Kak ampun! Iya aku nunggu Rara besar kok, tenang aja."
"Aku mau membahas soal yang kemarin Rion katakan, aku sudah menemukan pengobatan yang pas untuk Kak Aron. Jadi kapan aku bisa kesana?" ucap Ares serius.
"Mom bagaimana? Kalau menurut Rion Daddy bawa saja kerumah kita, semua yang berada disana dapat membantu Daddy cepat pulih."
"Mah bagaimana?" tanya Thata pada Yolanda yang sedari tadi bengong melihat muka Ares yang berada di ponsel Rion.
"Hah? Apa? Mamah ikut kalian saja."
"Oke kalau begitu kamu dengar sendiri kan Res, kita akan membawa Daddy kesana jadi persiapkan semuanya."
"Siap, bye bye cantiknya aku." Pamit Ares, lalu ia mengedipkan matanya menggoda pada Rara.
Thata menatap Aron, "Semoga kamu bisa cepat bangun Ron, ketika kamu bangun nanti aku akan mengajakmu kesuatu tempat yang sangat berarti untukku disana." ucap Thata dalam hati
Bersambung...
__ADS_1