PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Pernikahan


__ADS_3

"Akhh, sialan kenapa Thata bisa bersama dengan Aron. Akhhhh kenapa harus dengan pria itu." Umpat Dilon.


Tangannya berlumuran darah karena memukul sebuah cermin besar yang berada di depannya, rambut yang berantakan dan baju kemeja yang sudah lusuh. Pria tampan yang putus asa akan cintanya.


"Sia-sia aku selama ini menjaga hati untukmu Tha, kamu mengkhianatiku." Ucap Dilon sambil menghisap sebatang rokoknya.


Sampai detik ini, Dilon tak tahu alasan kenapa Thata meninggalkannya 5 tahun yang lalu.


"Aku tidak akan membiarkanmu berada disisi Aron, Tha. Aku akan merebutmu kembali." Ucapnya serius, entah sudah berapa botol wine yang ia habiskan, rasanya tidak cukup untuk membuang rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


***


Seorang gadis cantik berdiri di sebuah lobi perusahaan terbesar, pakain yang minim menempel di badannya yang berlekuk bagaikan gitar spanyol.


Varel dan Monika masuk melewati pintu utama sambil bergandengan tangan. Senyum Monika luntur setelah melihat perempuan yang bernama Audrey itu sedang mendekat kearahnya.


"Hay Varel," sapa Audrey pada Varel. "Aku menunggumu lama tahu disini." Ucap Audrey yang mengabaikan kehadiran Monika.


"Cihh perempuan tidak tahu malu," gumam Monika.


"Baby ayo kita masuk saja, jangan hiraukan dia." Varel merangkul pinggang Monika.


Audrey akan memegang tangan Varel... "Eits jangan berani-beraninya kau memegang sesuatu yang menjadi milikku." Sarkas Monika, ia menghempaskan tangan Audrey begitu saja.


Dari kejauhan Aron memandang perseteruan yang menurutnya lucu, sahabatnya tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Tapi sekarang sedang di perebutkan oleh 2 wanita sekaligus.


"Hey bukan urusanmu yah, menjauhlah dari Varel! Aku ingin mengajaknya jalan."


"Kamu siapanya Varel aku tanya hah?"


"Emmm aku..." Gagu Audrey.


"Bukan apa-apa kok belagu, gak usah kebanyakan gaya deh ya." Jawaban Monika mampu membuat Audrey terpojok.


Aron memegang ponselnya, ia sedang merekam adegan perebutan seorang pria bernama Varel.


Audrey mendekat kearah Monika, "Aku sudah melakukan banyak hal bersama Varel. Mau apa kau dengan itu hah? Aku hanya perlu mengingatkan bagaimana bahagianya kita ketika dulu." Bisik Audrey, Audrey yakin bahwa Monika akan kena serangan mental tapi...


Monika menyeringai ia mendekat ke telinga Audrey, "Kau memang pernah membuat Varel bahagia dulu, tapi aku sudah membuat Varel merasakan kenikmatan sebagai seorang pria. Menurutmu siapa diantara kita yang menang hemm?"


Audrey menelan salivanya, matanya melotot pada Monika. Dia tidak percaya, bahkan ketika dulu dirinya dan Varel masih pacaran mereka berdua hanya melakukan kontak fisik hanya perpegangan tangan saja tidak lebih.


"Kau tidak percaya? Iya lah kau tidak percaya karena Varel tidak melakukannya denganmu." Sindir Monika.

__ADS_1


"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti." Audrey berjalan menjauh dari Monika.


"Aku tunggu!" Saut Monika sedikit mengeraskan suaranya.


"Kau bilang apa tadi padanya? Sampai-sampai dia pergi begitu saja." Tanya Varel.


"Rahasia." jawab Monika.


"Rel kau hebat ya sekarang, sudah punya pacar tapi masih digebet sama mantanmu juga." Saut Aron yang datang pada pasangan itu.


"Diamlah kau!" Acuh Varel. Aron terkekeh lucu.


"Ikut aku!" Monika manarik tangan Varel.


"Baby mau kemana?"


"Ke KUA."


"Hey kau tahu tempat apa itu bukan?" tanya Varel, hampir saja ia terkena serangan jantung mendengar ucapan Monika.


"Kita menikah sekarang! Sebelum perempuan itu berbuat yang tidak-tidak padamu yang masih sangat polos ini."


"Hey aku tidak sepolos itu yah."


"Kau melukai harga diriku Mon." Lirih Varel, ia malu mengakuinya tapi yang dikatakan Monika benar adanya, kalau dirinya masih sangat polos diusianya yang sudah kepala 3.


"Sudah tidak papa, nanti aku ajari. Ayo sekarang kita jemput Mamah, lalu kita menikah." Monika dan Varel memasuki mobil.


***


"WTF," pekik Thata kaget, ia menjatuhkan ponsel yang ia genggam.


"Ayo siapakan barang-barang kalian kita pulang." Teriak Thata.


Rion dan Rara yang sedang menonton tv terkejut dengan suara Thata. Sedangkan Hansen sedang minum kopi, dia sampai akan menumpahkan kopi yang masih panas itu.


"Astaga Mom, Tha bikin kaget saja." Ucap ketiga orang itu bersamaan sambil mengelus dadanya.


"Varel dan Monika akan menikah. Ayo cepat kita pulang! Sebelum acara pernikahan mereka selesai."


"Mom bagaimana mereka bisa menikah? Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" Tanya Rara penasaran.


"Mommy tidak tahu Ra, Mommy tadi dapat kabar dari Daddymu." Jawab Thata.

__ADS_1


Mereka berempat tergesah-gesah mempersiapkan diri lalu berangkat ketempat acara pernikahan Varel.


Varel dan Monika selesai menyelesaikan acara pengesahan janji suci mereka.


Varel dan Monika sekarang berhadapan dengan Thata, Hansen dan juga sikembar.


"Sekarang jelaskan kenapa kalian menikah tanpa menghubungi kami? untung saja Aron menghubungiku. Kalau tidak, pasti aku tidak ada disini sekarang."


"Itu karena Va..." Varel membungkam mulut Monika, bisa berabe kalau istrinya ini keceplosan.


"Kami hanya ingin cepat-cepat menikah saja Tha, masalah tidak mengabari mu itu karena kami pikir kamu sibuk dan kami akan mengundang kamu pada resepsi nanti. Kamu liat sendiri kita menikah sangat sederhana."


Thata menghembuskan nafasnya panjang, "Baiklah, sekarang kalian minta apa untuk hadiah pernikahan?" Tanya Thata.


Varel menatap Aron lalu menatap Thata kembali, "Aku ingin bulan madu tanpa gangguan pekerjaan sedikitpun, tidak perlu lama-lama cukup 2 minggu saja. Kamu mau mengabulkannya kan Tha?"


"Yaakk tidak bisa! pekerjaanmu masih banyak Rel. Setidaknya 3 hari cukup, jangan 2 minggu Rel." Saut Aron.


Thata menatap tajam Aron, Aron menelan salivanya gugup.


"Baiklah kau pergilah sana bulan madu selama 2 minggu, aku akan siapkan pesawat jet juga untuk kalian bisa pergi-pergi sepuas kalian." Ucap Aron pasrah.


Aron melototkan matanya pada Varel, "Puas kau sekarang, sana liburan yang lama biar sekalian aku gak usah gaji kamu lagi." Batin Aron.


"Kelemahan terbesarmu itu Thata Ron, aku tahu itu dan akan aku manfaatkan terus untuk membuatmu tidak seenaknya sendiri. Rasakan kau sekarang." ucap Varel dalam hati.


"Paman, Tante. Cepat kasih kami adik yah!" pinta Rara. Muka Varel sudah memerah.


"Tuh dengar! kau sudah disuruh buat adik untuk sikembar Rel." Bisik Monika.


"Baby stop, jangan membuatku bertingkah memalukan nantinya." ucap Varel di telinga Monika.


"Baik-baiklah aku nurut, tapi kau harus membayar nanti malam yah. Emm btw kita bakal sampai pagi tidak Rel?" tanya Monika, senang sekali rasanya menggoda pria yang sudah menjadi suaminya ini.


"Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan besok pagi Mon, dan aku akan segera memberikan adik pada sikembar. Puas kau." jawab Varel.


"Kira-kira gaya apa yang akan kau pakai untuk membuatku tidak bisa berjalan Rel?"


"Akan aku coba semua gaya, aku tidak akan membuatmu istirahat walaupun hanya sebentar saja Mon, aku akan habisi kau malam ini." ucap Varel sekenanya.


"Baiklah aku tunggu nanti malam aksimu Rel." bisik Monika menggoda.


Thata, Aron, Hansen dan juga sikembar melihat heran pada acara bisik-bisikan pengantin baru itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2