PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Kisah yang Sebenarnya


__ADS_3

"Varel awas!" teriak Monika, ia menarik tangan Varel.


Srakkkk... Darah segar keluar dari lengan Monika.


Monika melawan orang itu dengan lincah, tangannya yang terluka tidak menghentikan dia untuk menghajar seseorang yang berani akan melukai Varel.


Monika menyerang orang itu membabi buta, "Mon, sudah Mon! dia sudah sekarat." Varel menarik Monika menjauh dari orang itu.


Varel memeluk Monika, ternyata benar jika didalam diri monika terdapat jiwa Psikopat.


"Tenang! tarik nafas, kendalikan dirimu Mon! kamu pasti bisa."


Monika meronta dipelukan Varel, "Varel menyingkirlah! aku pelum puas menyiksanya. Aku ingin membunuhnya."


"Tidak Mon, aku tidak akan membiarkanmu membunuh lagi, jika kamu ingin pelampiasan, aku ada Mon, tapi tolong jangan membunuh lagi. Aku tidak mau tanganmu sampai kotor lagi. Ingat! kamu sudah berjanji pada Rion dan Rara kalau kamu tidak akan membunuh lagi."


"Sesuai apa yang kamu inginkan Rel," Monika akan menancapkan pisau pada perut Varel.


"Iya, aku siap Mon. Tapi jika sesuatu terjadi padaku tolong ingat aku diingatanmu yah!" ucap Varel yang masih memeluk Monika, ia menutup matanya, dia siap akan rasa sakit yang akan diberikan oleh Monika.


Monika menghempaskan Varel, "Kamu beruntung Rel, aku tidak bisa melukaimu. Kamu menang Rel, untuk pertama kalinya aku tidak bisa menyakiti seseorang selain Thata dan sikembar. Dan sekarang aku tidak bisa melukaimu."


Senyum itu terlihat dibibir Varel, ia mendekat ke Monika. "Terima kasih." ucap Varel.


"Ayo bersihkan darah yang berada di badanmu!" Varel merangkul Monika untuk masuk kedalam kamar mandi.


Flashback on...


"Varel berhentilah untuk menyukaiku! aku tidak pantas denganmu Rel. Aku sekarang berada disisimu hanya untuk melindungimu dari orang yang sedang mengincarmu." ucap Monika membentak, ia lelah jika harus berdebat seperti sekarang dengan Varel. Jika dia tidak memiliki misi untuk menjaga Varel, mungkin dia sudah pergi dari kehidupan Varel sedari dulu.


"Aku tidak akan berhenti menyukaimu Mon, aku tidak perduli dengan masa lalumu." Kekeh Varel.


Monika menghembuskan nafas panjangnya, "Ayo ikut! akan aku perlihatkan kehidupanku yang sebenarnya." Monika membawa Varel kesuatu tempat.


"Lihat semuanya baik-baik! Apa setelah kamu melihat ini kamu masih mau denganku? Jika iya berarti kamu pria bodoh Rel." ucap Monika dia memilih duduk sambil melihat Varel yang sesekali terlihat kaget dengan apa yang telah ia berikan.


"Mon apa semua ini benar?" tanya Varel.


"Yaa,"

__ADS_1


"Iya, dan sekarang kamu pergilah!"


Varel mendekat ke Monika dia berjongkok didepan Monika, "Tidak ada gunanya kamu menunjukan itu semua Mon, aku akan tetap mengejarmu." ucap Varel pasti.


"Kamu gila Rel," pekik Monika.


"Iya aku memang gila, dan itu karena kamu Mon. Aku bahkan bingung kenapa aku masih mencintaimu ketika aku tau bahwa kamu adalah dulunya Pembunuh Bayaran." Saut Varel dengan nada cukup tinggi.


Varel mencengkram bahu Monika, "Aku tidak perduli dengan semua itu, yang aku ingin hanya kamu Mon."


Monika menarik dasi Varel, "Kau tau Rel? sekarang aku benar-benar sangat ingin membunuhmu." ucap tajam Monika, Varel bukanya takut, dia malah tersenyum lalu lebih mendekat ke Monika.


Varel mendekat kearah telinga Monika dia berbisik, "Lakukanlah Mon, tapi ingat jika kamu akan menyesal nantinya."


Monika mendorong Varel sampai terjatuh. "Kau gila, aku pergi." Brakkkkk.... Monika pergi meninggalkan Varel seorang diri.


Varel berdiri dia kembali menatap layar besar yang berada diruangan itu, semua bukti jika Monika adalah pembunuh bayaran berada dilayar itu.


"Hemm, aku tidak menyangka jika aku mencintai seorang seperti Monika. Aku lebih tertantang untuk menaklukan hatinya." Senyum penuh arti Varel.


Flashback off...


Aron dan Monika sedang jalan sore dipinggiran kota yang menjadi tempatnya berbulan madu. Raut bahagia bisa dilihat jelas dari pasangan pengantin itu.


Thata merangkul lengan Aron manja, sejak Aron tersadar dari komanya Thata berubah menjadi sangat manja pada Aron. Dia merasa ada seseorang yang bisa untuk ia jadikan senderan setelah sekian lama.


Hidup belasan tahun seorang diri dan jauh dari keluarga, dan ketika dia ingin bertemu, orang yang menjadi tempat berpulangnya, pergi meninggalkannya seorang diri. Thata pada dasarnya memiliki sifat yang manja dan nakal, dia dewasa karena terbentuk oleh lingkungannya yang sudah keras sejak dia masih kecil.


Dan sekarang dia menemukan tempat berlabuhnya lagi yang tidak lain adalah suaminya sendiri.


Dikorea pada saat ini sedang dalam musim gugur, jalanan dipenuhi dengan gugurnya bunga-bunga dan daun-daun, udara yang sejuk saat sore hari menambah nuansa hangat.


"Tha apa boleh aku bertanya tentang keluargamu?" tanya Aron.


Thata menganggukan kepalanya, "Apa orang tua kamu sedari dulu selalu menyembunyikanmu?"


"Iya sedari aku lahir, mereka trauma dengan kematian Kakek ku Ron, Kakek memiliki kepintaran yang sama denganku. Kakak meninggal karena Pada saat itu beliau sedang menjalankan sebuah proyek yang sedang menjadi perebutan pada beberapa pihak. Kakek meninggal dengan tragis Ron, dia meninggal dengan luka tembak yang parah. Kakekku meninggal karena kehabisan darah." Jelas Thata.


"Apa Kakekmu meninggal karena menyelamatkan seseorang?" tanya Aron. Thata menghentikan langkahnya, ia menatap dalam Aron.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tahu? Itu adalah rahasia besar dikelurgaku, sebelum kakek meninggal dia bahkan berpesan jika semua orang yang mengetahui kejadian kenapa Kakek sampai sekarat. Bagaimana kamu bisa tahu Ron?" Thata menatap tajam Aron.


Aron mengajak Thata ketempat yang lebih sepi. Mereka duduk dibangku taman yang terlihat sangat sepi, Aron seperti biasanya ia mendudukan Thata dipangkuannya.


"Percaya tidak? Kalau Kakekmu meninggal karena menyelamatkanku." ucap Aron sangat hati-hati.


Aron mengambil ponselnya, ia menunjukan sebuah sketsa seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum.


"Aron,"


"Ini benar Kakekmu kan Tha,"


"Iya itu Kakekku, bagaimana kamu bisa tahu Ron?" ucap Thata kaget.


"Kamu ingat ketika aku bermimpi buruk pada waktu itu?" Thata menganggukan kepalanya.


"Mimpi burukku itu, tentang kematian Kakekmu Tha, Kakekmu meninggal karena menyelamatkan ku sewaktu kecil."


"Benarkah?"


Aron menganggukan kepalanya, "Aku tidak tahu dengan jelas bagaimana ceritanya Tha, tapi bisa aku pastikan jika Kakekmu yang menolongku pada waktu itu." ucap Aron yakin.


Thata terdiam mematung, dia kehilangan Kakeknya karena menolong suaminya, apa itu masuk akal? Apa dunia sesempit itu?


"Aku tahu mungkin memang sulit untuk dipahami Tha, tapi tolong percayalah padaku. Aku adalah saksi bagaimana Kakekmu meninggal Tha, dan mungkin hanya aku yang pernah melihat pelakunya."


Deghhh... Mungkin hanya Aron yang tahu pelakunya, berarti kemungkinan besar Aron juga mengetahui siapa yang membunuh kedua orang tuanya. Kasus kematian keluarga Thata memang sangat rumit untuk dipahami.


"Aron sejak kapan kamu yakin jika Kakekku, yang menyelamatkanmu?"


"Sejak aku terbangun dari koma, mungkin konyol, tapi aku hidup untuk kedua kalinya juga berkat Kakekmu Tha. Kakekmu mengatakan kalau beliau tidak akan menyalahkan ku atas kematiannya. Beliau yang membawaku kedunia ini lagi, dan dia menitipkan mu dan juga sikembar padaku." Terang Aron, Thata melongo dengan penjelasan Aron, selang beberapa waktu kemudian...


"Huwaa," tangis Thata pecah. "Terima kasih Kakek telah menolong suamiku dulu, aku menyayangi Kakek. Kakek tenang disana yah, sudah ada Aron yang selalu bersamaku." Ucap Thata sesenggukan.


"Aaaa, Aron aku makin mencintaimu. Kakek itu dulu katanya bisa sedikit membaca masa depan Ron, lewat mimpi. Mungkin Kakek memimpikanmu terlebih dahulu sebelum kejadian itu."


"Iya Kakek juga bilang padaku jika aku seorang pria yang sangat mencintaimu dan akan selalu membahagiakanmu Sayang."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2