
2 hari kemudian, Rion sudah berhasil menyelesaikan tes DNA nya.
"Bagaimana hasilnya sayang?" Tanya Thata dengan tidak sabarannya.
"Iya kak bagaimana hasilnya?"
"Hasilnya menunjukan 65 persen, itu menandakan mereka memang benar keluarga kita dan pria bernama Aron itu adalah daddy kita."
Entah kenapa Thata bernafas lega, mendengar jika pria bernama Aron lah daddy dari sikembar.
"Lalu apa rencana kalian selanjutnya sayang?"
"Apa kalian mau menemui daddy kalian? Jika iya, Mommy tidak akan melarang kalian."
"Mom aku ingin menemuinya dan menyerahkan informasi perusahaan yang aku curi pada saat itu, bolehkah Mom?"
"Tentu saja boleh, alasan apa yang bisa buat mommy melarang untuk kamu pergi menemui daddymu sendiri."
"Terimakasih Mom." Rion memeluk dan mencium pipi Thata.
"Yah Rara gak bisa ikut dong, Rara ada les piano buat perlombaan nanti." Lesu Rara.
"Tenang aja Ra, nanti kamu bisa bertemu sama daddy kapan-kapan, lagian kamu udah bertemu dengannya kan? Disini yang belum pernah bertemu itu aku hehehe." ucap Rion dengan nyengirnya.
***
"Aron gawat," panik Varel. "Ada apa sih Rel?"
"Orang yang waktu itu ngambil informasi perusahaan ngirim pesan kalau dia ingin bertemu denganmu, gimana ini Ron."
"Tenang lah, aku akan menemuinya."
Varel semakin panik.
"Hey apa kau gila? Dia orang yang berbahaya, kenapa kau mau menemuinya."
"Varel sekarang katakan dimana dia ingin menemuiku?"
"Aku tidak akan memberitahukannya, kenapa kau bisa bodoh sih."
"Jangan membuatku emosi Rel, sekarang cepat katakan dimana dia ingin bertemu denganku, aku akan pergi sendiri, jangan ada satupun orang yang mengikutiku termasuk kamu."
Setan apa yang sudah merasuki pikiran sahabatnya satu ini, bahaya kok ditantang dasar gila. Pikir Varel.
Dengan tidak relanya Varel memberikan nama tempat yang dijanjikan orang itu, dengan segera Aron berangkat meninggalkan perkerjaannya menuju sebuah taman.
***
Di taman, Aron sedang duduk sambil menunggu kedatangan seseorang. Sampai 10 menit Aron menunggu, datanglah seorang pria kecil yang menggunakan topi dan masker sehingga menutupi wajahnya.
"Paman ini semua yang aku curi, aku tidak menyimpan salinannya juga, maafkan aku yang sudah membuat heboh kantor paman."
__ADS_1
Aron tersemyum tipis.
"Tidak papa ini juga nantinya akan menjadi milikmu. Ayo duduk lah temani aku! cuacanya sedang bagus hari ini."
Rion duduk disamping Aron.
"Mau sampai kapan kamu menutupi wajah yang sangat mirip denganku itu hemm." ucap Aron yang seketika membuat Rion menatap mata Aron serius.
Rion membuka topi dan masker yang ia kenakan. "Tidak salah kalau aku dan Rara menjadi pintar, bukan cuman menuruni kepintaran dari Mommy tapi juga dari mu dad."
Deghhh... Jantung Aron berdetak dengan hebat, ketika Rion memanggilnya Dad.
"Kamu panggil aku tadi apa sayang?" Tanya Aron antusias.
"Daddy, apa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu? Baiklah aku aka..."
Greppp... Aron memeluk Rion dengan erat.
"Tentu saja boleh sayang, Daddy hanya terkejut saja ketika mendengar mu memanggil itu, sudah bertahun-tahun Daddy menunggu seorang anak kecil yang memanggil dengan sebutan Daddy." Aron berkaca-kaca dibahu Rion.
"Apa seperti ini pelukan seorang Daddy? Hangat sangat hangat, aku menyukainya." Batin Rion.
"Sayang kenapa kalian baru sekarang menemui Daddy? Daddy sangat merindukan kalian."
Aron melepaskan pelukannya, lalu memangku Rion di pangkuannya.
"Kenapa kaget? Daddy tahu dalang dari semua rencana itu kamu kan. Sayangnya kamu itu anak Daddy jadi Daddy bisa menebaknya."
"Di panti asuhan, Daddy berpikir kenapa sangat susah menemukan kalian, tapi kalian seperti berada didekat Daddy. Saat itu lah Daddy tahu, Daddy tidak bisa menemukan kalian tapi Daddy hanya perlu menunggu kedatangan kalian."
"Jadi bagaimana hasil tes DNA nya? Apa orang yang kalian curi sampelnya itu adalah Nenek kalian?"
"Akh Daddy menyebalkan, pura-puralah tidak tahu dong, Daddy menurunkan harga diriku." Kesal Rion.
"Hahaha," Aron tertawa dengan gemas, dia mengambil sesuatu yang berada didalam tote bag yang dia bawa tadi.
"Iya maaf-maaf nanti lain kali Daddy pura-pura tidak tahu oke, makanlah!" Aron memberikan es krim rasa coklat untuk Rion.
"Coklat? Bagaimana Daddy tahu kalau aku suka rasa coklat dan hanya rasa ini yang bisa aku makan." Bingung Rion.
"Itu juga kesukaan Daddy sayang, kamu juga suka mobil sport kan? Waktu itu Rara dan Daddy bertemu disaat kamu beli mobil kan?"
"Iya Dad, Daddy juga mobil sport kah?"
"Kamu sudah seperti Daddy versi kecilnya sayang."
"Oh yah nama panjang kalian siapa?"
"Aku, Akasha Rigel Orion. Sedangkan Rara, Adhara Bellatrix Aurora."
"Nama kalian sangat indah sayang, kalau nama panjang mommy siapa?"
__ADS_1
"Agatha Victory biasa dipanggil Thata."
"Bukannya Victory itu nama marga yah? Lalu kenapa kalian tidak diberi nama marga mommy kalian?"
"Itu bukan marga Dad, itu hanya sebuah nama saja." ucap Rion.
Aron tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh anaknya tapi itu tidaklah penting untuk sekarang, yang dia inginkan adalah kebersamaan bersama anaknya yang sedang memakan es krim coklat dengan lahapnya.
"Sayang apa mommymu tidak membenci Daddy?"
"Mommy pernah bilang pada kita, kalau mommy tidak akan membenci Daddy sebelum mommy tau apa yang sebenarnya Daddy lakukan pada malam itu, dan alasan apa yang membuat Daddy melakukan itu pada mommy."
"Apa kalian boleh memanggil aku Daddy oleh mommy?"
"Yah boleh, karena memang Daddy adalah Daddy kita, bahkan ketika belum tahu Daddy kita siapa, mommy tidak pernah marah jika kita menanyakan tentang Daddy. Dia akan menjawab apa adanya."
"Apa mommy kalian merawat kalian sendiri?"
"Iyah, mommy mejadi ibu tunggal yang luar biasa buat kita."
Peraaan bersalah Aron muncul seketika.
"Daddy jangan khawatir mommy membesarkan kita dengan tidak kekurangan apa pun dad."
"Sayang, Daddy ingin masuk kekeluarga kalian yah, bawa Daddy mohon."
"Daddy mencintai mommy kalian, Daddy menyayangi kalian."
"Kalau ingin masuk, rebut hati mommy Dad, buat mommy juga menginginkan kehadiran Daddy."
"Kalau begitu, bawa Daddy pada mommy sayang.
"3 hari lagi, Daddy bisa ketemu mommy di Bazar makanan. Daddy harus bisa bikin mommy tidak membenci Daddy, jangan berbohong apa pun pada mommy, karena mommy tahu semuanya."
Rion turun dari pangkuan Aron.
"Waktunya Rion pulang Dad, sampai nanti ketemu 3 hari lagi."
Aron yang sebenarnya sangat tidak ikhlas membiarkan Rion pergi, kerinduannya belum benar-benar terobati.
"Baiklah sayang, mau Daddy antar pulang?"
"No Dad aku sudah besar, aku bisa pulang sendiri."
Aron terkekeh mengdengar ucapan Rion, ia peluk Rion dengan erat dan mengecup keningnya, sebelum Rion pergi, Aron masih setia ditempat duduknya sambil melihat malaikat kecilnya berjalan perlahan menjauhinya, sampai bayangan anak laki-lakinya tidak terlihat. Aron barulah bangkit dari duduknya dan kembali keperusahaan menuntaskan pekerjaan yang tidak ada habisnya.
Dengan rasa bahagia yang dia miliki, Aron masuk kedalam perusahaan dengan senyum yang terbit dari bibirnya. Varel yang melihat itupun terheran-heran. Sampai saat Varel tersadar jika sahabatnya kembali seperti dulu kala, tidak lagi dingin, ramah pada semua orang. Varel menanyakan kenapa perubahan pada Aron namun nihil Aron tidak menjawab pertanyaan Varel dengan benar. Justru balik dengan isengnya, Aron menyuruh Varel untuk segera menikah atau mencari pacar. Seketika darah tinggi Verel naik sampai ubun-ubun karena perkataan Aron.
Untung sahabat sendiri kalau orang lain udah gua ledakin tuh otak. Pikir Varel dengan kesalnya.
Bersambung...
__ADS_1