
Thata sedang menyirami bunga-bunganya, sesekali dia bersenandung sambil mengobrol dengan anaknya yang berada didalam perutnya.
"Sayang bagaimana keadaanmu hari ini? terima kasih tidak membuat Mommy muntah-muntah. Tapi mungkin Mommy sebentar lagi akan gendut, karena kamu." ucap Thata, ia berbicara sambil mengelus perutnya, satu tangannya memegang selang untuk menyirami bunganya.
"Mommy," panggil seseorang, Thata membalikan badannya terkejut.
Rion berlari ke Thata, matanya berkaca-kaca, Rion melompat pada Thata, untung saja Thata dalam posisi siap.
"Mommy, maafkan Rion! maaf Rion telah membawa Mommy pada orang jahat seperti Daddy." ucap Rion, air mata yang ditahannya, keluar begitu saja membasahi punggung Thata.
Thata membawa Rion yang berada di gendongnya untuk duduk.
Thata mengusap punggung Rion, "Tenang sayang, ada apa hem? Kenapa anak tampan Mommy bisa nangis begini."
"Daddy jahat Mom, aku gak mau sama Daddy, aku mau sama Mommy saja."
Tangan Thata mengepal kuat, apa yang sudah pria itu lakukan pada anak kesayangannya ini, Rion bukan anak yang gampang menangis, akan tetapi hari ini dia bahkan menangis sampai begitu kencang.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada anakku Ron?" Batin Thata.
"Memang apa yang sudah Daddymu lakukan hemm? Kamu gak boleh beli mobil baru atau gimana?" tanya Thata sambil meledek.
"Mommy, Daddy berani membentakku..." ucap Rion sesenggukan. Thata memelototkan matanya.
"Sialan berani sekali dia." ucap Thata dalam hati.
"Mungkin Daddy hanya terbawa emosi saja sayang..."
"No, Mom." Sanggah Rion, dia menatap mata Thata dalam.
"Perempuan itu datang pada Daddy, aku akan ke kantor Daddy, aku malah melihat perempuan tidak tahu diri itu berada dipangkuan Daddy..." Rion berkaca-kaca, ia menatap Mommynya yang hanya datar saja ekspresi mukanya, tetapi Rion tahu jika hati Mommynya sangat tersakiti.
"Lebih parahnya lagi, Daddy tidak merasa terusik dengan kehadirannya Mom. Ketika aku sedang membicarakan yang sebenarnya, Daddy membentakku karena aku merendahkan perempuan itu. Daddy jahat Mom, dia menyakitiku dan juga Mommy, aku benci Daddy."
Thata memeluk anaknya, hati seorang ibu mana yang tidak merasa sakit ketika sedang berada diposissi Thata.
"Sudah yah, jangan menangis lagi, jadi pria itu harus kuat. Jangan benci Daddymu, Sayang. Mau bagaimanapun dia adalah Daddymu." Thata mengusap air mata Rion.
__ADS_1
"Mommy maaf! Rion telah membawa Mommy pada Daddy, jika tahu begini. Rion lebih memilih tidak pernah kenal dengan yang namanya Daddy, Maaf Mom." ucap Rion lirih.
"Ron tidak cukupkah, hanya aku saja yang kau sakiti, tapi kenapa anaku juga Ron? anakku tidak salah apa-apa Ron." ucapnya dalam hati.
***
Aron termenung diruang keluarga, dia bingung akan apa yang dia lakukan selanjutnya.
"Daddy, kau apakan Kak Rion hah? aku mencarinya dimana-mana tidak ada, kata Kak Ares dia habis kekantor Daddy."
Rara mendekat kearah Aron, "Daddy tidak tahu Ra, tadi Rion pergi meninggalkan Daddy, Daddy tidak bisa mengejarnya." ucap Aron lesu,
"Apa kalian ada masalah?" tanya Rara, Aron menganggukan kepalanya. "Daddy membuat Rion kecewa Ra, Daddy tidak sengaja membentaknya, Daddy benar-benar merasa bersalah."
"Apa karena perempuan itu?" tanya Rara, dia sudah menduganya. Aron mengangguk pasrah.
"Dad, tidak bisakan Daddy membuang dia dari kehidupan kita, jika seperti ini terus Daddy bisa kehilangan semuanya, termasuk aku. Inti permasalahan disini adalah perempuan itu Dad, sadarlah! Jika dia yang bisa merusak keluarga kita. Jangan biarkan dia menggoyahkan Daddy, Daddy tiang utama dikeluarga kita. Bagaimana bisa keluarga kita utuh jika tiangnya saja selalu goyah. Pikirkanlah perkatakaanku Dad!"
Rara masuk kedalam kamarnya.
Ucapan Rara memang terasa seperti ada ribuan sayatan yang berada dihatinya, tetapi dia tidak bisa menyangkalnya, benar apa yang dikatakan oleh Rara dia selalu goyah jika mengenai Clarissa.
***
"Paman Hansen," pekik Rion kaget melihat pria yang sangat tampan datang menggunakan pesawat jet dengan mantel berwarna hitam dan juga kacamata yang serupa dengan mantelnya.
Rion berlari kearah pria itu, dia melompat kedalam pelukan Hansen, "Kenapa paman tidak pernah keliatan sih, Rion kangen paman." ucap Rion manja berada digendongan Hansen. Pria berkulit putih itu terkekeh mendengar ucapan Rion.
"Paman kan sudah bilang jika, Paman ingin libur panjang." Rion mengerucutkan bibirnya.
"Hay Kak," sapa Thata, Hansen tersenyum manis pada Thata, senyuman yang akan membuat perempuan manapun meleleh dibuatnya, tapi tidak dengan Thata.
Hansen menurunkan Rion, dia mendekat kearah Thata, Thata membuka tangannya lebar-lebar.
"Kemarilah adik kecil Kakak," Hansen memeluk Thata. "Gara-gara kamu aku jadi harus berhenti keliling dunia." ucap Hansen disela pelukannya.
"Bukan aku Kak, tapi Rion, dan bayi yang berada di perutku ingin kamu datang, kamu dulu tidak sempat meluangkan waktu untukku ketika aku hamil Rion dan Rara. Jadi aku tagih sekarang." ucap Thata tersenyum, Hansen adalah seorang pria yang selalu membuat Thata tersenyum, Thata bisa merasa bebas ketika bersama Hansen, melakukan apapun yang dia mau. Dia tidak merasa takut akan apapun ketika bersama Hansen.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, sesuai pertintahmu tuan putri, saya akan berada bersama kalian dan merawat meraka." Hansen melepaskan pelukannya, dia mengacak rambut Thata, entah sudah berapa lama dia tidak melakukannya.
Thata mendekat ke telinga Hansen, "Kak beritahu Rion gih! jika aku sudah hamil, dia akan lebih senang jika tahu darimu." Bisik Thata. Hansen memberikan kode ok pada Thata.
Hansen mendekat ke Rion, "Rion kalau kamu punya orang seperti Rara bagaimana?" Hansen mendudukan tubuhnya disamping Rion.
"Rara tak tergantikan Paman," ucapnya datar.
"Bukan seperti itu Rion," sanggah Hansen.
"Lalu."
"Kamu akan punya adik lagi, Mommymu sedang mengandung." Bisik Hansen
Thata melihat anaknya, dia menunggu reaksi seperti apa yang akan diberikan Rion.
"Paman jangan bercanda." Saut Rion tak percaya.
Hansen mengarahkan pandangannya pada Thata, Rion mengikuti Hansen, Thata menganggukan kepalanya.
"Mommy," teriak Rion, dia berlari kearah Thata.
Rion ingin melompat kepelukan Thata tetapi...
"Aku gak mau digendong, nanti kasihan adikku hehehe." Ucapnya lalu mengelus perut rata Thata.
Thata tersenyum melihat tingkah Rion, "Cieee yang punya adik baru." ledek Hansen.
"Iya Paman, jangan iri yah." ucap Rion asal.
"Hey hey, siapa yang iri, aku punya seorang adik yang sangat cantik," Hansen merangkul Thata. "Lihatlah! adikku sangat cantik bukan." sombong Hansen merangkul Thata.
"Iya dong pasti, adik Paman kan Mommyku." Saut Rion.
Thata dan Rion tertawa bahagia ketika Hansen dengan banyaknya cerita konyolnya, yang diceritakan pada Thata dan Rion. Hansen mampu merubah suasana yang tadinya sedih, sekarang lebih ceria lagi.
John Hansen adalah seorang pria berumur 33 tahun, dia adalah sekertaris dari mendiang kedua orang tua Thata. Dibesarkan sejak kecil oleh kedua orang tua Thata, menjadikannya ingin membalas budi pada keluarga itu, dia mengabdikan dirinya pada keluarga itu. Hansen sudah menjadi sekertaris Ayah Thata semenjak ia bersekolah dibangku SMA, kepintarannya dan kejujuran yang Hansen miliki, membuat kedua orang tua Thata mempercayakan Victory Group pada Hansen.
__ADS_1
Bersambung...