
"Mommy, apa yang akan kamu lakukan pada Clarissa? Luka tembaknya sekarang sudah mulai membusuk Mom." Tanya Rion.
"Katanya kamu butuh seseorang untuk uji coba, pakai saja dia, hitung-hitung dia bisa mempunyai manfaat sebelum meninggal." Jawab santai Thata.
Rion menyeringai, "Dengan senang hati Mom, Rara bersiaplah untuk bermain-main."
"Beres Kak, tanganku sudah sangat gatal untuk segera melakukan uji coba padanya." Ucap Rara dengan semangat, Thata melihat kedua anaknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar kalian itu yah, kalau yang begituan semangat."
"Oh ya, tapi jangan cepat-cepat untuk menghilangkan nyawanya dulu, aku ingin melihat dia tersiksa terlebih dahulu."
"Mom, serahkan saja pada Rion. Rion akan menyembuhkan lukanya dahulu, lalu melakukan percobaan padanya."
"Mom mau beri waktu berapa lama dia hidup?" Tanya Rion pada Thata, Thata tampak berpikir. "Emm terserah kamu deh, Mommy menyerahkan semuanya padamu." Jawab Thata.
Rion tersenyum mendengar jawaban Thata, ini yang sudah ia tunggu-tunggu, menyiksa perempuan yang sudah membuat Mommnya tersiksa. Dan yang sudah menghilangkan adiknya.
"Aku bersumpah, kau akan merasakan yang namanya neraka Clarissa." Ucap Rion dalam hati.
***
Varel dan Monika berjalan sambil bergandengan tangan memasuki Rumah Sakit Jiwa.
"Rel aku merindukan Mamah," ucap Monika.
"Aku juga Baby, dia pasti akan sangat senang melihatmu."
"Emm, Rel bagaimana kalau Mamah kamu kita ajak pulang?" Ide Monika, Varel merangkul pinggang Monika.
"Baby, Mamah di sini itu kemauannya sendiri, kecintaannya pada dunia dokter membuatnya memilih untuk tinggal disini. Mamah masih memiliki trauma tentang rumah, kau tahu dulu aku pernah membawa Mamah kerumah. Dia malah mengahancurkan rumahku Mon, dia membakarnya dengan sadis."
Monika menatap Varel tak percaya.
__ADS_1
"Papahku meninggal ketika berada dirumah kita dahulu, dan suasana sebuah rumah membuat Mamah mengingat mendiang Papah. Oleh karena itu dia memilih tinggal disini."
"Kalau begitu kita tinggal saja disini, ikut Mamah, Rel."
"Aku juga pernah berpikiran seperti itu Mon, kau tahu tidak respon Mamah ketika mendengar ideku?" Monika menggelengkan kepalanya.
"Mamah mau mencoret namaku dari kartu keluarga kalau aku tetap disini, katanya nanti kalau aku disini malah akan menganggu ketentraman RSJ. Karena banyak orang yang mengejar-ngejarku ketika aku disini, coba saja kau bayangakan ketika aku tinggal disini. Orang waraspun akan masuk kesini karena ingin melihatku, dan itu yang membuat Mamah melarangku. Percaya atau tidak pacarmu ini idaman semua kalangan Baby."
Monika menepuk jidatnya, baru pertama kali menemukan keluarga segokil ini. Anak dan ibu sama-sama aneh, pikir Monika.
"Mamah, Mantu Mamah yang cantik ini datang loh." Teriak Varel, saking kerasnya Varel berteriak Monika sampai menutupi telinganya.
Anita menoleh pada suara yang sangat melengking itu.
"Hay Tan, apa kabar?" Sapa Monika.
Anita menatap kedua orang yang berada didepannya itu sambil tersenyum, "Baik cantik." Jawab Anita.
"Seperti ada yang baru pada diri kalian?" tebak Anita, ia melihat Monika dan Varel bergantian.
"Ais kalian kenapa baru mengabari sekarang heh? Mamah sudah menunggunya lama tahu." Saut Anita.
"Maklum Mah, Mantu Mamah jual mahal. Jadi lama deh." Sindir Varel, ia melirik pada Monika.
"Anak Mamah aja yang gak bisa buat aku yakin cepet-cepet." Saut Monika tak mau kalah.
"Udah jangan ribut, baru pacaran masa udah ribut, nanti kalau putus nangis." Monika dan Varel tertawa mendengar perkataan sekenanya Anita.
Kedatangan Monika dan Varel bertepatan dengan acara lomba masak yang sedang diadakan di RSJ itu. Pesertanya para pasien dan para karyawan. Acara itu biasa diadakan 2 bulan sekali.
"Mon, ayo ikut Mamah masak yah." Ajak Anita.
"Emm Mah, itu aku..."
__ADS_1
"Kamu tidak bisa masak?"
"Bisa Masak kok Mah dia, tapi Monika lebih pintar memenggal kepala ikan, ayam dan hewan-hewan lainnya."
"Yakkk, aku juga bisa memenggal kepala anak Mamah yang satu ini Mah, biar enggak kebanyakan ngomong." Saut Monika kesal.
Varel terkekeh melihat Monika yang sedang kesal padanya. Senang rasanya melihat gadis itu memanyunkan bibirnya dengan wajah yang sedikit memerah karena menahan marah.
"Aaa sudahlah, ayo kita masak saja Mah, aku bosen melihat wajah tengil anakmu." saut Monika, ia menarik tangan Anita. Anita menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Monika yang unik tapi menggemaskan.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Varel, ditengah-tengah Monika dan Anita memasak. Monika sangat pandai dalam hal potong memotong ayam dan aneka ikan. Tapi pemahaman memasaknya masih kurang, Monika hanya bisa memasak, makanan yang simpel-simpel saja.
Anita menatap Varel ketika Monika sedang memotong ikan yang akan dibuat untuk sushi, Varel mengangkat bahunya lalu tersenyum pada Anita.
"Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Varel, Monika sangat pandai dalam hal potong memotong." ucap Anita dalam hati.
"Iyalah Monika pintar potong memotong, pekerjaannya dulu pembunuh bayaran. Aiss satu-satu pembunuh bayaran yang terlihat keren itu cuman dia, Akhh itu pacarku." Gumam Varel.
***
Yolanda dan Rangga melihat iba pada anak laki-lakinya, hati orang tua mana yang tidak sakit melihat anak satu-satunya itu terlihat murung setiap hari, seperti tidak memiliki keinginan hidup.
"Pah aku kasihan pada Aron, tapi aku juga tidak tahu harus bagaimana? Aron sudah melakukan kesalahan yang fatal pada Thata. Aku bisa memahami bagaimana yang dirasakan oleh Thata, dia sangat terluka." Sebagai seorang wanita Yolanda memahami bagaimana rasa ketika kita seperti di nomer duakan oleh pasangan kita sendiri.
"Iya Mah, mau bagaimanapun semuanya berawal dari ketidak tegasan Aron dalam bersikap. Kita doakan saja mereka akan menemukan kebahagiaannya masing-masing, tapi aku berharap mereka bisa bersama lagi. Keduanya masih memiliki cinta yang sangat besar satu sama lain." Saut Rangga, ia kecewa melihat anaknya yang tidak memiliki ketegasan dan goyah pada perempuan lain.
"Papah benar, semoga cinta Thata pada Aron lebih besar dari pada rasa bencinya, dan rasa cinta yang dimiliki oleh Aron akan membuatnya memperbaiki dirinya sendiri untuk orang yang dia cintai." Ucap Yolanda, ia dan Rangga berjalan pergi meninggalkan anaknya, Aron saat ini butuh instropeksi diri.
Aron sedari pagi masih betah memandangi langit dari balkon kamarnya, "Sayang, apa kamu sudah terbang meninggalkanku?" Ucapnya parau. Ingin sekali dia mengejar istrinya, tetapi ia takut malah akan membuat Thata semakin membancinya.
"Aku merindukan kalian, Thata, Rion, Rara kembalilah! Aku mohon, hidupku terasa sangat hampa tanpa adanya kalian." Entah sudah berapa banyak Aron mengerluarkan air matanya.
"Thata aku belum menjelaskan sesuatu padamu, Sayang. Aku masih punya hutang padamu. Jadi tolong perginya jangan lama-lama yah."
__ADS_1
Bersambung...
Wih gak kerasa udah sampai 50 episode aja. Semoga kalian selalu suka dengan cerita yang aku buat yah. Terimakasih untuk semua pembaca novel ini, Love You gays...