
2 minggu kemudian.
"Huek..huek..huekk" Thata mengeluarkan semua isi didalam perutnya. Dia terduduk lemas dilantai kamar mandi.
"Akhh kenapa aku muntah-muntah terus sih!" ucapnya kesal, sedari kemarin dia terus muntah-muntah, padahal dia hanya makan sedikit saja.
Thata berusaha berdiri, mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar lalu mengambil tas, kunci mobil dan ponselnya.
Dirumah sakit, Thata masih sangat terkejut dengan sesuatu kenyataan yang terjadi padanya sekarang.
"Selamat ibu hamil 1 bulan." ucapan dokter perempuan itu terngiang-ngiang di kepala Thata.
Dia sudah melakukan cara agar tidak hamil, tapi sekarang kenyataannya apa? dia hamil anak Aron, kenapa anak ini datang disaat situasi seperti ini. Aron tidak menginginkan anak ini.
Ketika dia ingin pulang memperbaiki semuanya, dia sudah berusaha mencoba memaafkan kesalahan Aron. Alasannya karena ada sikembar yang masih butuh sosok keluarga yang utuh, tidak papa dia memendam semua ini, yang terpenting Thata melihat orang-orang yang disayanginya bahagia. Thata berpikir mungkin inilah takdirnya, memakai topeng agar dirinya bisa membahagiakan orang disekitarnya. Thata juga tahu jika Clarissa sekarang sudah mulai mendekati Aron.
Thata berjalan lunglai memasuki kamarnya, dia duduk dibalkon kamarnya, memandang nanar pemandangan yang sangat indah didepannya, satu tangannya mengelus perutnya yang masih rata.
"Sayang Daddymu tidak menginginkanmu," ucapnya terjeda Thata mengeluarkan air matanya. "Tapi jangan merasa sendirian yah, ada Mommy yang akan selalu menemanimu." Thata tersenyum menghadap perutnya.
"Ternyata Mommy selalu muntah-muntah gara-gara kamu yah!" ucap Thata seolah-olah kesal. "Kenapa kamu mengeluarkan makanan Mommymu ini hem? Apa kamu didalam kesempitan atau bagaimana?" Thata terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Terima kasih telah datang diperut Mommy yah, Mommy jadi merasa tidak sendirian lagi."
"Sayang, Mommy akan mempertahankanmu apa pun yang terjadi, bahkan ketika Daddymu menolak kehadiranmu sekalipun dan meninggalkan Mommy, Mommy akan tetap mempertahankanmu. Jadi tolong! jadilah anak yang kuat yah sayang, Mommy menyayangimu." ucapan Thata berhenti ketika perutnya berbunyi, makhluk kecil yang berada didalamnya ingin mendapatkan asupan energi dari Mommynya.
"Kamu yah, masih sempat-sempatnya pengin makan ketika kita sedang membahas hal yang serius."
***
"Aron ini bagaimana? perempuan tidak tahu malu itu selalu mengacau diresepsionis." ucap Varel kepada Aron, sudah dari beberapa hari yang lalu Clarissa datang kekantor Aron untuk bertemu dengan Aron. Sudah berbagai cara dilakukan oleh Varel untuk menyingkirkan pelakor itu dari sisi Aron. Namun masih ada saja akal bulus Clarissa untuk dapat masuk kedalam perusahaan Aron.
"Suruh dia kesini!" ucap Aron datar, Varel melongo mendengar perintah dari Aron.
"Kau jangan gila ya Ron."
"Varel aku tidak ingin berdebat denganmu, cepat suruh dia kemari!"
__ADS_1
"Dasar orang aneh," dengus Varel, dia keluar dari ruang Aron.
Clarissa masuk kedalam ruangan Aron, "Kak Aron." ucap Clarissa bersemangat.
"Duduk!" titah Aron, Clarissa duduk disofa.
"Kakak aku merindukanmu, aku minta maaf dulu pernah menghianatimu..."
"Tujuanmu kemari ingin apa?" tanya Aron datar.
"Aku ingin bersamamu Kak," Aron menyeringai. "Lalu kau kemanakan pria itu?" tanya Aron sinis.
"Aku sudah tidak bersamanya lagi Kak, dia sering menyakitiku, dia hanya menjadikan aku sebagai mainan diranjangnya saja. Dia tidak bertanggup jawab padaku, aku salah mengira tentangnya. Aku menyesal mengkhianatimu Kak, dengan pria brengsek seperti itu." Clarissa menampakan muka memelasnya, dulu raut muka seperti itu yang selalu meluluhkan Aron. Aron terdiam menatap Clarissa, sekelibatan ingatannya bersama dengan Clarissa.
"Sudah aku duga kak Aron masih seperti dulu." ucap Clarissa dalam hati.
Clarissa bangun dari duduknya ingin mendekati Aron, Clarissa yang memakai hak tinggi, ia terpleset ketika akan mendekati Aron. Aron yang melihatnya, dia menarik tangan Clarissa agar tidak terjatuh, Clarissa tidak jadi terjatuh tetapi dia sekarang duduk dipangkuan Aron
Mereka berdua saling bertatapan, wajah malu-malu Clarissa seketika membuat Aron ingin tertawa, dia dulu sering meledeki wajah Clarissa yang menjadi mereah karena malu.
Wajah ceria Rion seketika berubah menjadi tatapan manakutkan ketika melihat Daddynya sedang memangku perempuan yang membuat Mommynya pergi. Tangan Rion terkepal degan kuat, ketika Daddynya bahkan merasa tidak terusik dengan kehadiran Clarissa, dan apa tadi yang Rion lihat. Daddynya diam saja ketika Clarissa ingin mencium Aron.
Aron yang tersadar menghempaskan Clarissa seenaknya, ia menatap panik pada Rion.
"Say..."
"Maaf telah mengganggu aktifitas kalian." Rion membalikan badannya akan pergi dari ruangan terkutuk itu.
Aron memegang tangan Rion, "Sayang Daddy bisa jelaskan, bukan seperti yang kamu lihat." Rion tersenyum kecut.
"Dad aku tidak buta Dad, bahkan kalau benar jika memang tidak seperti yang aku lihat. Daddy tetap menikmati ketika perempuan itu dipangkuan Daddy kan?" Aron terdiam, benar kata Rion, dia tadi menikmati itu.
"Ternyata benar, baiklah aku mengerti sekarang. Aku pamit Dad." Rion melepaskan tangan Aron dari tangannya.
"Oke-oke Daddy salah, maafkan Daddy! Daddy tidak akan melakukannya lagi." ucap Aron memohon.
"Kak siapa anak tampan ini? dia sangat mirip denganmu ketika masih kecil." saut Clarissa.
__ADS_1
"Kau pergilah Clarissa!" ucap tegas Aron, Clarissa menuruti kemauan Aron.
"Kenapa disuruh pergi Dad? Daddy malu punya aku iya?" ucap Rion penuh arti.
Aron berjongkok didepan Rion, "Bukan seperti itu sayang , Daddy hanya ingin berbicara lebih tenang denganmu saja."
"Yang tadi kamu lihat bukan seperti yang berada dipikiranmu Rion."
"Dad, aku anakmu, apa kamu pikir ada seorang perempuan j*lang yang sudah membuat aku jauh dari Mommyku, sedang bermesraan denganmu, aku terima? tidak Dad. Aku muak melihat wajah perempuan tidak tahu diri itu, berada disekeliling kita. Dad tadi apa? dia ada dipangkuan Daddy, dan Daddy bahkan tidak mengusirnya, apa yang kalian akan lakukan jika aku tidak datang tadi hah? berpindah dari sofa kekasur iya? Kalian sama-sama brengsek." ucap Rion penuh emosi dia berteriak dan menatap tajam pada Aron.
"Rion cukup! kau tidak pantas berkata seperti itu kepada Daddy dan Clarissa kami tidak seburuk yang kamu pikirkan...." Bentak Aron.
Rion bukannya takut dengan bentakan Aron dia malah tersenyum menatap Aron.
Aron tersadar jika dirinya baru membentak Rion, "Sayang maaf..."
"Dad, Mommy yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku saja tidak pernah sekalipun membentakku Dad, sedangkan Daddy yang hanya baru beberapa bulan mengenalku sudah berani membentakku. Dan lebih gilanya lagi itu karena perempuan itu."
"Apa Mommy mengalami apa yang aku alami sekarang Dad? Jika benar aku akan mendukung Mommy untuk pergi dari Daddy."
Aron mematung, lidahnya keluh untuk menanggapi ucapan Rion yang sarat akan makna.
"Kau tahu Dad? penyesalan terbesar apa yang pernah aku lakukan." tanya Rion.
"Membawa Mommy kepadamu Dad." ucap Rion, dia melenggang pergi dari Aron.
Aron akan mengejar Rion, namun dicegah oleh Varel.
"Kau jahat Ron, hanya demi perempuan j*lang itu kau membuat 2 orang itu terluka." ucap Varel marah, sedari tadi dia mendengarkan pembicaraan Rion dan Aron.
Varel lepaskan! aku ingin mengejar Rion, Rel.
"Tidak akan,"
"Akan aku pastikan! jika kau terus memilih perempuan itu, kau akan kehilangan semuanya Ron. Termasuk aku, aku tidak mau punya seorang sahabat brengsek sepertimu."
Bersambung...
__ADS_1