
Aron terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, keringat dingin keluar dari tubuhnya, muka pucat dan tangan gemetaran.
Thata terbangun karena merasakan Aron terbangun dengan terburu-buru.
"Aron kamu kenapa," Thata menepuk-nepuk pipi Aron. "Kamu bermimpi buruk yah?"
"Tenanglah ada aku disini, tarik nafasmu perlahan lalu buang, jangan terlalu memikirkan mimpi, bisa juga itu hanya bunga tidur saja." Thata memeluk Aron dan mengelus rambutnya.
Aron belum sepenuhnya sadar.
Aron perlahan mulai tenang, dia memeluk Thata.
"Sayang mimpiku sangat mengerikan, Aku takut, Aku memimpikan ini sejak masih kecil. Beberapa tahun yang lalu mimpi itu tidak lagi muncul, namun akhir-akhir ini muncul kembali. Akan mustahil mimpiku adalah bunga tidur Tha, ketika aku menanyakan mimpi yang aku alami pada kedua orang tuaku mereka hanya menganggap bunga tidur, tapi aku selalu merasa jika kedua orang tuaku menyembunyikan sesuatu dariku."
"Betapa tersiksanya kamu selama ini Ron? Kamu pasti menderita dengan mimpi burukmu selama ini." ucap Thata dalam hati.
"Aron lihat aku!" Thata membawa wajah Aron untuk menghadapnya. "Kamu boleh merasa takut, namun kamu jangan sampai kalah, kamu harus bisa melawan ketakutanmu, bahkan jika benar mimpi buruk yang selama ini kamu alami itu adalah kenyataan. Kamu harus bisa mengatasinya Ron, jangan lari karena kamu takut, jika kamu terus-terusan merasa takut kamu tidak akan bisa melewatinya. Jangan takut untuk maju, ada Aku, Rion, Rara dan kedua orang tuamu yang berada dilakangmu untuk selalu mendukungmu."
Aron tersadar dari rasa takutnya, benar apa yang dikatakan oleh Thata dia harus keluar dari ketakutannya.
"Ucapanmu sudah kutunggu sejak lama sayang, terima kasih telah menyadarkanku. Aku tidak akan kalah hanya dengan sebuah mimpi."
"Itu baru suamiku." Senyum indah Thata.
"Tadi kamu bilang apa? Coba ulangi!"
"Aku tidak bilang apa-apa tuh." Acuh Thata, padahal jatungnya sudah berdebar karena gugup.
"Sudah sana mandi! Udah siang ini." Thata turun dari ranjang, namun tangannya ditarik oleh Aron, Thata terduduk dipangkuan Aron.
"Iya aku mandi tapi ucapin dulu sebutan kamu tadi." Senyum nakal Aron.
"Ayolah Istriku yang cantik, kamu tadi ngucapinnya gampang loh, kenapa ini susah amat sih." Aron menaik turunkan alisnya.
Thata menunduk, dia merasa jika wajahnya menjadi panas.
"Sayang coba lihat mukanya!" Aron memegang dagu Thata. "Hey pipi kamu jadi merah tuh," Aron memegang kening Thata. "Kamu gak demam, berarti kamu merona yah ini pipi, astaga sangat menggemaskan."
Aron mengunyel pipi mulus Thata, Thata memanyunkan bibirnya. Cuppp... Aron mencium bibir manyun Thata sekilas.
"Aron." Triak Thata, "Iya sayang." saut Aron dengan senyum menggoda.
Thata berusa turun dari pangkuan Aron, namun tangan Aron malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Aron Aku mau ke Rion dan Rara."
"Gak boleh, sebelum kamu manggil aku seperti tadi."
Thata menarik nafasnya, "Suamiku." Lirih Thata. "Apa gak dengar sayang."
"Kupingmu budeg kali Ron." Gumaman Thata.
"Suamiku," triak Thata. "Puas kamu." Aron tersenyum penuh kemenangan.
Thata baru saja berdiri dan melangkahkan kakinya, tangan Aron kembali menarik tangan Thata. Thata kembali kepangkuan Aron.
"Apa lagi Aron." Thata menahan amarahnya.
__ADS_1
"Morning kissnya mana?"
"Harus banget nih?" Aron menganggukan kepalanya.
Cuppp... Thata mengecup Aron, dia ingin menyudahi namun tangan Aron menahan tengkuk Thata, dia menguasai bibir Thata.
***
"Kak Mommy sama Daddy kenapa gak turun-turun sih? Udah lapar akunya." Dengus Rara.
"Kamu makan aja dulu, Mommy sama Daddy mungkin masih lama."
Rara dan Rion memilih untuk makan terlebih dahulu, bahkan sampai mereka diantar pergi kesekolah oleh sopir kedua orang tuanya belum juga keluar dari kamar.
***
Dilon sedang memandangai sebuah foto, arogantnya seketika menghilang ketika melihat foto itu.
"Kamu kemana? Kenapa aku sampai sekarang mencari tidak kunjung bertemu?" ucap Dilon.
Ceklekk... Pintu ruangan terbuka.
"Ada apa kesini?" tanyanya.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Masih maju, sangat sulit untuk menjatuhkannya Yah, dia seperti tidak ada celah."
"Jika kamu tidak bisa menjatuhkan Aron dengan perusahaan maka jatuhkan dia dengan orang terdekatnya, seperti 5 tahun yang lalu." ucap Ayah Dilon yang bernama Yoga Dirgantara.
"Dilon, pakai sahabatnya terlebih dahulu, kamu harus kejam jika ingin mendapatkan kekuasaan, dunia ini keras Lon jangan jadi lembek. Singkirkan orang-orang yang menghalangi jalan kita."
"Baiklah Yah."
"Dilon bagaimana kabar perempuan yang kau rebut dari Aron itu?"
"Dia sekarang menjadi pemuas nafsuku Yah, setiap saat aku melakukannya dengannya." Seringai Dilon.
"Kenapa kamu betah sekali dengannya selama ini?"
"Tidak bisa dipungkiri jika kenikmatan yang diberikannya berbeda dengan yang diberikan oleh perempuan lain Yah."
"Boleh dong Ayah mencicipinya."
"Boleh sih cuman nanti pakai obat perangsang aja Yah, biar dia yang bermain, Ayah tinggal santai aja." Seringai Dilon.
"Pintar gak itu perempuan kalau main?" tanya Yoga.
Dilon mengacungkan dua jempolnya, kemudian mereka berdua terkekeh bersamaan.
***
Keesokan harinya, tepat hari sabtu jadwal Aron membeli mobil sport, dia mengajak anak laki-lakinya.
"Daddy lepasin Rion! Rion mau jalan aja, Rion udah besar Dad masa digendong mulu." Aron tersenyum memandang Rion yang sedang cemberut.
"Besar apanya? Kamu itu masih kecil, tinggi kamu aja baru seperut Daddy." Rion mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Tunggu aja nanti Rion pasti bisa lebih tinggi dari pada Daddy."
"Oke Daddy tunggu saat waktu itu tiba, anak tampannya Daddy."
"Daddy ngajak aku ke dealer mau beliin Aku mobil, atau Daddy mau pamer kalau setiap minggunya Daddy beli mobil sport disini?"
"Astaga sayang pikiran kamu itu loh, Daddy mau membelikan kamu mobil sport yang kamu pilih apapun itu."
"Tapi Dad kayanya aku udah punya semua mobil yang terbaru deh."
"Mommy kamu kaya banget yah?"
"Iya Dad Mommy itu kaya, Aku dan Rara juga gak kalah kaya hehehe."
"Ditambah Daddy kita jadi keluarga milyader Dad."
"Selamat siang tuan," sapa pegawai dealer.
Aron hanya menganggukan kepalanya.
Aron berjalan sambil menggendong Rion dan melihat-lihat beraneka ragam mobil sport.
"Apa ada yang kamu inginkan?" Rion menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu kita lihat mobil yang sudah Daddy pesan."
Pegawai dealer menuntun Aron dan Rion ke sebuah ruangan yang sudah ada mobil sport pesanan Aron.
Rion membelalakkan matanya melihat mobil yang dipesan oleh Daddynya.
Pagani Huayra Tricolore mobil yang dia inginkan selama ini namun dia tidak berhasil mendapatkannya karena sudah habis stoknya, yang hanya dibuat 3 unit saja di dunia.
Rion menatap Daddynya yang sedang tersenyum bangga.
"Daddy menyebalkan, aku akan membeli mobil ini malah sudah kehabisan, ternyata Daddy yang membelinya huhff." Kesal Rion.
"Hahaha," Aron tertawa ringan. "Ini mobil kamu sayang, Daddy beli ini buat kamu. Jangan ngambek dong."
"Serius ini buat aku?" Aron menganggukan kepalanya.
Muachhh... Rion mencium pipi Aron. "Makasih Dad."
"Kamu emang pengin beli ini mobil buat apa?"
Rion tersenyum penuh arti. "Buat aku lihat mesinnya terus aku pelajari kenapa itu mobil bisa semahal sekarang."
Aron terbengong, "jadi Daddy kasih kamu ini mobil cuman buat dibongkar gitu?" Tanya Aron yang masih tak percaya.
"Yes Dad, tenang saja! Nanti aku kembalikan uang yang Daddy keluarkan untuk membeli mobil ini dengan uang yang lebih banyak berkali-kali lipat.
Bersambung...
...Hay Hay, para pembaca semuanya.🖐️🖐️🖐️Terima kasih sudah membaca novelku dan memberikan apresiasi yang luar biasa pada novel ini.🙏🙏🙏...
...Aku mau minta maaf kalau untuk 2-3 hari kedepan PERFECT FAMILY gak up dulu yah, karena Aku ada banyak tugas kuliah. Jangan berpindah ke lain hati oke!! karena gak bisa ketemu Keluarga Milyader 4 A ini.🤗🤗🤗...
...See You Again......
__ADS_1