
"Nona saya sudah menjalankan perintah anda," ucap seorang pria bertubuh besar dan hitam.
Lolita menyeringai, "Semuanya bersih bukan?"
"Bersih Nona, anda tidak perlu khawatir."
"Lalu bagaimana keadaannya?"
"Aku sudah pastikan jika dia sudah meninggal Nona." ucap Pria itu yakin.
"Baguslah kalau begitu, nanti bayarannya akan aku transfer." ucap Lolita, pria bertubuh besar pergi meninggalkan Lolita.
"Hahaha," Lolita tertawa seperti orang gila. "Orang yang aku cintai mati," Lolita melihat dirinya didepan cermin. "Dan aku yang membunuhnya, hahaha." Lolita kembali tertawa dengan aneh.
"Kak Aron maaf aku telah membunuhnu hiks..hiks..hikss." Lolita tiba-tiba menangis, sambil memegang satu buah foto Aron.
Lolita menghentikan suara tangisnya, dia tersenyum. "Tapi tenang saja Kak, aku akan menyusul mu nanti. Kita akan hidup bahagia nanti Kak." Lolita tersenyum sambil menggulung-gulung rambutnya.
"Hahaha perempuan iblis itu, dia tidak akan bisa bersama kak Aron, hanya aku saja yang bisa bersamanya hahaha. Kasihan sekali dia, baru saja menikah sudah ditinggal pergi hahaha, kenapa aku sangat senang sekali yah." Lolita tertawa ketika membayangkan betapa menyedihkan kehidupan Thata ketika kehilangan Aron.
***
Pintu ruang operasi Aron terbuka.
Semua orang berdiri lalu menghampiri Dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan Daddyku?" tanya Rion.
"Tuan Aron memang mengalami keajaiban bisa hidup kembali, namun..." Dokter itu terlihat susah untuk mengucapkan kata-katanya.
"Namun apa Dok?" saut Thata tak sabar.
"Namun, Tuan Aron mengalami kelumpuhan otak," Thata terhuyung, badannya ditangkap oleh Monika. "Cidera yang berada diotaknya sangat parah Nyonya, saya tidak bisa memastikan berapa lama Tuan Aron akan siuman." lanjut dokter itu.
"Kalian bisa menjenguk Tuan Aron ketika nanti sudah dipindahkan kekamar ICU, saya pamit terlebih dahulu."
Rara mendekat kearah Thata, tangan kecilnya menggenggam tangan Thata erat, "Mommy tenang saja yah! Kita pasti bisa membuat Daddy bangun kembali, aku dan kak Aron akan menemukan caranya Mom. Jangan bersedih yah!" ucap Rara lembut, Rion mendekat kearah Thata.
"Benar Mom, aku akan menemukan caranya, aku tidak akan membiarkan Daddy lama tidurnya." saut Rion.
"Terima kasih sayang, Mommy bangga pada kalian." ucap Thata sambil mendekap kedua anaknya.
"Aron lihatlah kedua anakmu ini! Mereka sangat mirip denganmu ketika sedang berusaha menenangkan ku. Jadi tolong cepat bangun yah! Aku sudah merindukanmu Ron." ucap Thata dalam hati.
__ADS_1
***
Aron sudah dipindahkan keruangan ICU, Thata, Rara dan Rion sudah diperbolehkan untuk menjenguk Aron, sedangkan kedua orang tua Aron sedang tidak berada disitu karena Yolanda masih pingsan dan belum sadarkan diri semenjak mengetahui anak tunggalnya meninggal dunia.
Monika mengambilkan pakain ganti untuk Thata dan juga sikembar, Rion mengambil pakaian Thata.
"Mom ganti bajumu dulu! ada sesuatu yang harus Mommy selesaikan." Thata menatap kedua anaknya, kedua anaknya menganggukan kepalanya. Monika paham dengan itu namun Varel melengo melihat ibu dan anak itu seperti sedang berbicara dalam tatapan mereka satu sama lain.
Thata mengambil baju yang sudah di berikan oleh Rion, Thata masuk kekamar mandi.
Selang 15 menit, Thata keluar dengan keadaan badannya sudah bersih dari darah Aron yang menempel padanya.
"Siapa orangnya Rion?" tanya Thata, sambil memakai jaket kulitnya.
"Perempuan penakut itu Mom," Thata menyeringai. "Luar biasa dia, ucapanku padanya waktu itu tidak ia dengarkan, maka seharusnya dia sekarang sudah siap dengan apa yang akan aku berikan padanya."
"Tunggu Mommy!" Thata yang akan berjalan keluar dari ruangan Aron dihentikan oleh Rion.
"Sebelum kecelakaan terjadi, Daddy sudah membuat pelajaran untuknya Mom. Tanya saja pada Paman Varel, dia tahu persis kejadiannya."
Thata mendekat ke Varel, "Apa yang sudah kalian lakukan hah?" tanya Thata menakutkan.
"Aron membuatnya tidur dengan pemuda yang biasanya menjadi pengganti Aron."
"Aku pamit."
"Aku ikut denganmu ya Tha?" mohon Monika.
"Kamu disini dahulu, jaga mereka sampai aku kembali."
Ceklekkk, pintu ruangan itu tertutup Thata sudah pergi dan entah apa yang akan dia lakukan.
Prokkk.. Sikembar tos, "Mommy kembali keasalnya Kak," ucap Rara semangat.
"Jika Dewi kita sudah turun akan aku pastikan tidak akan ada orang yang berhasil lolos dari incarannya." Gumaman Monika.
"Mon itu Thata mau pergi kemana coba malem-malem begini?" tanya Varel. "Entahlah," jawab acuh Monika.
Varel mendengus pasrah, dia merasa menjadi orang bodoh karena tidak tahu apa-apa didalam ruangan itu.
"Daddy ayo buruan bangun! Daddy mau melihat siapa sebenarnya Mommy kan. Daddy pasti akan terkejut jika tahu siapa sebenarnya Mommy. Tapi Daddy tenang saja, Mommy akan selalu menjadi milik Daddy, aku akan menjaminnya 100%." ucap Rion lirih ditelinga Aron.
***
__ADS_1
Sebuah mobil sport berwarna hitam dan mobil besar berwarna hitam juga memasuki sebuah pekarang rumah yang sangat besar, pengemudi itu turun dari mobilnya dengan gagahnya. Thata datang kerumah Lolita, dia dengan mudah membobol keamanan rumah Lolita yang tidak seberapa itu.
Thata berjalan dengan santai, aura yang berada disekilingnya terlihat menakutkan dan menyeramkan. Ada banyak orang yang berada dibelakangnya.
Brakkk... Thata membuka kamar Lolita yang ternyata Lolita sedang bermain dengan 2 pemuda bayarannya.
"Tidak bisa meniduri Suamiku, tetapi langsung meniduri 3 pria sekaligus dalam satu hari. Kamu itu sangat hebat atau murahan sih?" Cibir Thata, dia menyuruh para anak buahnya untuk tidak bergerak sama sekali.
Lolita tersenyum menatap Thata, dia tidak menghentikan aktifitasnya.
Thata menarik 1 kursi yang berada tidak jauh darinya, ia duduk dikursi itu menghadap monika yang sedang melakukan gaya yang aneh.
"Kenapa kamu datang kemari hah? Mau melihatku iya?" ucap Lolita disela-sela desahannya.
"Silakan saja lihat aku, karena kamu tidak akan bisa lagi melakukan seperti yang aku lakukan sekarang." Lolita menggila pada 2 pemuda itu.
"Cihhh tidak tertarik, lihat saja milik pria bayaran mu itu! Punyanya tidak seberapa jika dibandingkan milik Aron." ucap Thata bangga.
Lolita menghempaskan pemuda yang dimaksud oleh Thata, "Tapi kamu sekarang tidak akan pernah merasakannya lagi, karena Kak Aron sudah aku bunuh hahaha." Lolita memakai jubahnya lalu mendekati Thata.
Sudah cukup acara untuk penyambutan Lolita, Thata berdiri mendekat ke Lolita, ia tarik rambut Lolita lalu ia benturkan kepala Lolita kepada kaca.
Prankkkk... Kaca itu pecah dengan darah yang menempel pada permukaannya.
Thata belum puas dengan membuat luka pada kepala Lolita, kretekkkk... Thata mematahkan tangan kanan Lolita.
"Brengsek, beraninya kamu membuat suamiku seperti sekarang.
"Hahaha terus saja siksa aku! Dengan begitu aku akan segera bertemu dengan Kak Aron." ucap Lolita penuh harap.
"Sesuai dengan kemauanmu," seringai Thata.
Prankkk... Brakkk... Berkali-kali Thata menyiksa Lolita sampai badan Lolita berlumuran dengan darah.
"Tunggu," Thata menghentikan aktifitasnya, tangannya mencengkram kuat pada rambut Lolita, ia hadapkan Lolita pada wajahnya agar mereka bisa saling menatap. "Emm, bagaimana kalau aku biarkan kamu hidup, agar benih pria yang kau pikir Aron itu bertumbuh di rahimmu?" ucap Thata datar dengan muka bengisnya.
"Jangan! Bunuh aku sekarang juga! Aku tidak mau benih pria lain bertumbuh di rahimku." ucap Lolita memohon, ia menangis dan memegang kedua kaki Thata.
"Waktu itu aku sudah bilang jangan mengusikku lagi, dan sekarang kamu telah berani mengusikku. Maka kamu harus menerima akibatnya, dasar perempuan tidak tahu diri." Thata menghempaskan badan Lolita.
"Bawa dia kemarkas! dan berikan dia obat penyubur kandungan. Awasi setiap pergerakannya, jangan sampai dia mencelakai tubuhnya sendiri, karena hanya aku yang boleh melukainya." Titah Thata pada para anggota Zius.
Bersambung...
__ADS_1