
Puk..puk..pukk. "Mon bangun udah siang." ucap Varel sambil menepuk-nepuk pipi Monika.
"Tha 10 menit lagi, jangan ganggu! Aku habis lembur dari semalam." Gumam Monika.
Varel tersenyum, "Mon ini udah jam 10 siang loh, bangun yah terus makan! Jangan sampai telat makan."
Monika mengerutkan keningnya, "Kok suara laki-laki yang aku dengar." Batin Monika.
Monika dengan malas membuka matanya.
"Varel." Pekik Monika. "Kenapa kamu bisa disini?" tanya Monika bingung.
"Gak penting gimananya, kamu mandi gih sana! Aku mau ngajak kamu kesuatu tempat."
"Gak mau, aku mau tidur aja, kamu pergi sendiri ajah sana." Monika masuk kedalam selimutnya kembali.
Varel naik keranjang Monika dan memeluk Monika dari arah belakang.
"Kalau kamu gak mau ikut, aku temenin kamu tidur aja." Varel mengeratkan pelukannya.
Monika membalikkan badannya, "Dengan senang hati." Seringainya.
Deg..deg..deg Monika mendengar detak jantung Varel yang begitu cepat.
"Jantungmu sangat brisik Rel, aku jadi tidak bisa tidur, jadi ayo pergi cari makan!"
Monika bangun dari ranjangnya dan pergi kekamar mandi meninggalkan Varel yang sedang mematung sambil memegangi dadanya.
***
"Sayang singkirkan tanganmu!" ucap Aron dengan mendesak.
"No Aron, kalau aku menyingkirkan tanganku kamu akan terus melakukannya." Kekeh Thata.
"Memangnya kenapa sayang? Kalau aku ingin terus melakukannya hemm."
"Kamu juga menikmatinya kan." Senyum menggoda Aron.
Thata menghembuskan nafasnya menghadapi ulah Suaminya, Thata bahkan harus merelakan acara makan pagi bersama kedua anaknya dan malah menemani Aron dengan banyak tingkahnya di dalam kamar.
"Sayang aku hanya menciumu loh, masa kamu udah nyerah sih, aku belum melakukan yang lebih dari ini Baby."
Thata menggelengkan kepalanya, "Aron kamu memang baru menciumku, tapi lihat ciumanmu ini!" Thata menunjuk pada bibirnya.
Aron terkekeh pelan, "Malah nyengir kamu, ini bibir aku udah kebas loh Ron kamu hisap terus dari tadi, bibir aku juga udah kaya habis disengat tawon jadi besar gini." Kesal Thata.
Bagaimana tidak bengkak bibir Thata jika sudah sedari pagi Aron menghisap, menjilat, mengulam bibir Thata dengan rakus.
"Maaf Sayang, bibir kamu itu manis dan enak buat dimainin."
"Jadi maksud kamu aku harus nyalahin bibir aku sendiri karena bisa manis sama enak gitu?" Thata melototkan matanya sambil berkacak pinggang.
"Sayang jangan marah-marah dong, lagi PMS yah."
__ADS_1
"Iya kenapa? Mau buat aku jadi singa betina ngamuk hah?"
Aron menelan luadahnya kasar.
"Maafin aku ya Sayang," mohon Aron, Thata membuang mukanya.
"Aduh bisa gawat kalau Thata marahnya lama ini, bisa-bisa bibir aku nganggur." Batin Aron.
"Jangan marah oke, kita beli cilok, sama cilor yuk! Kamu udah lama gak makan jajanan itu kan." Bujuk Aron.
Mata Thata langsung berbinar.
"Oke, aku mandi dulu." Thata berlari kekamar mandi.
Aron memegang bibirnya, "Kamu gak jadi nganggur hehehe." Gumaman Aron.
***
"Rel kamu gak bakal kenyang kalau ngeliatin aku terus." Sindir Monika sambil memasukan makanannya kedalam mulut.
"Perut aku emang gak kenyang Mon, tapi hati aku kenyang kalau ngeliat kamu." Senyum manis Varel.
"Terserah lah."
Selang beberapa menit mereka berdua selesai sarapan pagi namun waktunya yang sudah siang.
Varel mengemudikan mobilnya kesebuah gedung berwarna putih.
"Rel kenapa kamu membawaku kesini?" Bingung Monika karena Varel mengajaknya kesebuah Rumah sakit jiwa.
Mereka berdua masuk kedalam rumah sakit jiwa itu. Mereka menuju taman yang sedang banyak orang yang melakukan berbagai macam aktifitas. Varel membawa Monika kearah pohon besar yang tampak nyaman untuk berduduk-duduk, disana ada seorang wanita paruh baya yang sedang duduk disebuah bangku besi dengan 2 perawat berada dibelakangnya.
Varel melepaskan tangan Monika, dia berjongkok didepan wanita paruh baya itu.
"Mamah apa kabar? Aku sangat merindukanmu Mah, maaf aku lama tidak berkunjung." Varel memeluk wanita paruh baya itu yang ternyata adalah orang tuanya.
"Mamah juga merindukan anak tampannya Mamah, maaf Mamah gak bisa pulang ke apartementmu, Mamah masih belum bisa tinggal ditempat yang seperti rumah, itu membuat Mamah mengingat papahmu." Ucap Anita Mamah Varel.
Anita mengelus rambut anak tunggalnya itu.
"Tidak papa Mah, Varel akan sabar menunggu Mamah pulang." Senyum Varel.
"Oh iya Mah, aku kesini mau ngenalin perempuan cantik sama Mamah," Varel menarik tangan Monika kedepan hadapan Anita.
Monika bingung menatap Varel.
"Aduh dia sangat cantik Rel, ayo perkenalkan namamu cantik."
Dengan gugup Monika menyambut uluran tangan Anita. "Monika Ester Tante." Monika tersenyum walaupun canggung.
Anita mempersilahkan Varel dan Monika duduk.
"Rel kamu bawa Monika kesini buat apa? Mau kamu ijin jadi pacar atau buat jadi istri hemm?"
__ADS_1
"Gak dua-duanya Tante aku cuman temennya Varel aja kok." Jawab Monika cepat.
Anita melemparkan tatapannya pada Varel.
"Aku ditolak Mah sama dia, Marahin dia dong Mah! bisa-bisanya dia nolak cintanya anak tampannya Mamah." Cemberut Varel.
Anita tertawa mendengar aduhan dari anaknya.
"Monika kenapa kamu menolak Varel hem?" ucap Anita lembut.
"Emm aku tidak mencintai Varel tan." ucap Monika tanpa ragu.
Plakk.. Anita memukul lengan Vare.
"Kamu ini bodoh yah Rel? Kenapa belum bisa buat Monika mencintaimu juga hah? Anak Mamah ternyata bukan penakluk wanita huh." Kesal Anita.
Monika terbengong, yang dia kira Mamahnya Varel akan marah padanya karena menolak cinta anaknya, namun ini malah anaknya yang kena omel.
Setelah perdebatan Anita dan Varel selesai dengan Monika yang menghentikan mereka berdua.
"Sayang kamu sekarang kerjanya apa?" tanya Anita pada Monika. Verel ikut penasaran dengan pertanyaan yang ditanyakan Mamahnya pada Monika.
"Aku sekarang jadi pengangguran Tan." Jawab santai Monika.
"Terus kalau kamu pengangguran, kamu ngapain aja hari-harinya?"
"Tidur, kekamar mandi, makan, tidur lagi, nonton tv, makan lagi, tidur lagi. Gitu aja sih Tan kegiatan aku sehari-hari."
"Hahaha," Anita tertawa, Varel baru kali ini melihat tawa lepas dari Mamahnya setelah kematian papahnya yang membuat hidup Mamahnya hancur.
Bagaimana bisa hanya dengan ucapan Monika yang jujur dan apa adanya membuat tawa seseorang yang sudah lama hidup didalam kegelapan, seperti menemukan secercah cahaya yang menyinarinya lagi.
Varel bertekad akan membuat Monika selalu berada dihidupnya, dia tidak akan melepaskan perempuan yang sudah mengambil hatinya, dan membuat Mamahnya kembali tertawa.
"Astaga Varel dimana kamu bisa menemukan perempuan seunik Monika?" tanya Anita masih dengan tawanya.
"Dipinggir jalan Mah." ucap asal Varel.
Plakkk... Monika memukul lengan Varel.
"Apa kamu bilang hah?"
"Gak bilang apa-apa aku Mon."
"Telingaku masih normal Varel."
"Ya bagus dong jadi gak usah kerumah sakit."
"Tan anaknya boleh aku gantung diatas pohon ini gak?" ucap Monika sambil menahan kesal.
Anita menganggukan kepalanya, "Boleh dong Sayang, sana gantung aja biar nanti jadi temennya mba kunti."
Tawa Anita semakin pecah ketika Varel lari dari kejaran Monika.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa bahagia bersama Monika yah Nak, Mamah yakin kalau Monika perempuan yang bisa membuatmu bahagia. Berjuanglah untuk mendapatkan hati seorang perempuan yang kamu cintai. Maafkan Mamah yang membuatmu hidup dalam kesepian, maafkan Mamah yang tidak bisa memberikan sosok seorang ibu padamu, semoga kamu berbahagia yah sayang. Saat ini Mamah sudah ikhlas jika dipanggil oleh tuhan untuk menemui papahmu disurga." ucap Anita tersenyum.
Bersambung...