PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Permasalahan dimasa Lalu


__ADS_3

Aron yang sudah mendapat kabar bahwa Clarissa telah sadar, ia langsung menyusulnya.


Byurrr... Aron menyiram Clarissa menggunakan air dingin, Clarissa menekik kesakitan, luka tembaknya baru saja dijahit dan sekarang sudah terkena air.


"Hay Kak, kau merindukanku yah? Makanya kau datang kemari."


"Mimpi!" Sarkas Aron.


"Kak bagaimana keadaan perempuan itu? Dia sudah mati belum?" Tanya Clarissa santai.


"Kau yang akan mati Clarissa!" Saut Aron.


"Emm Kak, aku tebak jika dia sedang marah denganmu. Kenapa kau masih mempertahankannya Kak? Aku lebih dari segala-galanya dari pada dia." ucap Clarissa sombong.


"Kau tahu? Kau bahkan tidak ada satu persenpun jika dibandingkan dengan istriku."


Aron seketika teringat jika dia kehilangan anaknya karena perempuan yang sedang berada didepannya.


Plakkk... "Kau wanita sialan, gara-gara kau aku harus kehilangan anakku yang bahkan belum terlahir kedunia ini." Bentak Aron, ia sekarang benar-benar frustasi.


"Hahaha, aku membunuh anak kalian? Astaga kenapa aku merasa sangat bahagia atas kabar ini Kak." Ucap Clarissa seperti psikopat.


Aron mengambil sebuah pisau yang berada di atas meja, "Brengsek, aku akan membunuhmu sekarang juga." Aron akan menusukkan pisau itu pada Clarissa...


"Aron hentikan!" Teriak Hansen, ia menarik badan Aron.


"Jangan bertindak kegabah Ron, jika pun orang yang pantas membunuhnya, itu adalah Thata bukan kamu Ron." Ucap Hansen dengan nada sedikit tinggi.


Mata marah Aron seketika reda melihat Hansen, pria ini kenapa bisa seperti ini? Dia spesial, apa yang dimilikinya? Pikir Aron.


"Kau tenangkan dirimu dulu, soal Thata jangan temui dia dahulu, beri dia waktu sebentar untuk bisa memaafkan mu Ron."


"Baiklah," pasrah Aron.


"Kak Aron," panggil Clarissa, Aron dan Hansen melihatnya malas.


"Kak, apa kau pernah berpikir kenapa istrimu terlihat sangat membenciku?"


"Karena kau pernah merebut Dilon darinya, perempuan sialan."

__ADS_1


"Tidak Kak, bukan karena itu." Clarissa menggelengkan kepalanya.


Aron menatap Clarissa yang sedang tersenyum padanya, "Bicara yang jelas Clarissa!"


"Kak apa kau ingat, sewaktu kecil kita pernah liburan disebuah Vila di perbukitan."


Aron sedikit berpikir, lalu ia menganggukan kepalanya. "Kau ingat gadis yang dulu pernah membuatku menangis?"


"Iya, lalu apa hubungannya dengan istriku perempuan sialan."


"Hahaha, jelas ada hubungannya Kak, gadis kecil itu adalah istrimu. Gadis yang sudah kau umpamakan sebagai pencuri, gadis yang pernah kau marahi karena membelaku. Gadis yang pernah kau suruh pergi dengan kejam. Gadis itu adalah istrimu Kak."


"Oh ya Kak, aku mau memberitahu padamu, jika pada waktu itu coklat yang berceceran di tanah itu sebenarnya punya dia. Dia menitipkan padaku untuk aku berikan padamu sebagai ucapan rasa terima kasih. Tetapi aku malah menghancurkan coklatnya, aku membuat tangannya terluka parah, aku menendangnya, aku menyiksanya Kak. Dan yang lebih asiknya, kau percaya dengan sandiwara ku dan kau memakinya ahahah."


"Kau tahu Kak? Kejadian ketika kita di korea sama seperti masa lalu kita, kau membelaku, tidakkah kau melihat istrimu pada waktu itu terlihat sangat membenciku." Clarissa menyeringai.


Mata Aron berkedip berkali-kali, kakinya seketika lemas, ia bertopang pada meja. "Tidak, tidak mungkin gadis itu Thata, tidak." Gumamnya pelan, Hansen memegang pundak Aron.


"Percuma saja jika kau mengelaknya Ron, gadis itu benar Thata, kalau kau tidak percaya lihat pada tangannya, terdapat bekas luka halus di situ."


"Hahaha, apa kau pikir kau akan dimaafkan oleh istrimu Kak? Tidak akan, kau sudah berbuat kesalahan yang sangat fatal."


***


"Baby, makan yah! Nanti sakit loh." ucap Varel pada Monika. "Gak mood makan Rel, aku tuh masih kepikiran sama Thata." Saut Monika.


"Nah kalau kepikiran terus kenapa gak mau makan? Seharusnya kamu tuh makan, biar sehat nanti bisa ngerawat Thata. Seseorang yang sedang terkena tekanan batin itu, harus ditemani oleh orang-orang yang memberi kesan positif, gak kaya kamu sekarang, horor tau lihat kamu."


Plakkk... "Kau berani menyebutku horor hah?" Sungut Monika kesal.


"Iya Baby, jadi sekarang makan yah! Biar gak keliatan horor ok." Varel menyuapi Monika, Monika yang masih kesal akhirnya mau menerima suapan dari Varel. Sampai tak terasa makanan Monika sudah habis.


"Bilangnya gak mood makan, tapi satu piring penuh habis." Ledek Varel.


"Biarin lah, menghargai tangan yang terus menerus menyendokan makanan padaku." Saut Monika.


"Aku mau ketoilet dulu," ucap Monika. "Habis diisi udah langsung keluar yah." Senyum Varel.


"Varel diamlah! Jangan membuatku malu, ini tempat lagi ramai loh." Bisik Monika, ia mencubit perut Varel sebelum pergi ke toilet.

__ADS_1


"Dia mantan pembunuh bayaran tapi kenapa bisa menggemaskan seperti itu yah? Akhh, aku semakin mencintainya." Gumamnya sambil tersenyum tak jelas.


"Varel," panggil seorang wanita, Varel menatap perempuan itu dengan tatapan aneh.


Perempuan itu duduk dikursi yang tadinya diduduki oleh Monika.


"Pergilah! Ada banyak tempat duduk yang tersisa." Ucap Varel, mengusir perempuan itu.


"Rel jangan cuek seperti itu dong! aku kembali kesini untukmu loh." Ucap perempuan itu.


"Kita sudah tidak ada urusan lagi, lebih baik kau pergi sekarang! Aku tidak mau pacarku salah paham kalau dia melihatmu." Saut Varel tajam, perempuan itu melototkan matanya ketika mendengar Varel menyebutkan pacarnya.


"Heh bagaimana kau bisa punya pacar lagi? Aku tidak percaya kau pasti mengada-ngada. Kau hanya mencintaiku Rel, aku Audrey, Rel. Aku cinta pertamamu, bagaimana bisa kau punya pacar lagi..."


Byurrr... Jus mangga milik Monika membasahi baju Audrey karena Monika menyiramnya.


"Kalau memang Varel sudah punya pacar kenapa? Masalah buatmu hah?" ucap Monika pada Audrey.


"Siapa kau?" Audrey menjeda ucapannya. "Kau perempuan menyebalkan itu kan? Hey kenapa kau selalu merusak momenku sih." Ucap Audrey marah.


"Iya aku perempuan yang pernah menyelamatkanmu, tetapi malah kau tidak berterima kasih padaku. Dan sekarang, aku pacarnya Varel, kau mau merebutnya dariku iya? Jangan bermimpi!"


Varel menatap kagum pacarnya, ia enggan untuk menghentikan pertengkaran itu, entah kenapa dia suka melihat Monika yang sekarang. Tampak sangat menggemaskan dimata Varel.


"Rel benar perempuan gila ini pacar kamu?" Tanya Audrey pada Varel, ia masih tidak percaya seorang Varel bisa memacari perempuan bar-bar seperti Monika.


"Iya dia pacarku," jawab Varel singkat, padat dan jelas.


Monika tersenyum tipis menatap perempuan yang sudah dipastikan sedang mengumpat Monika di dalam hatinya.


"Nah sudah jelas kan, saya pacarnya, apa kurang jelas lagi hemm? kalau iya, berarti telinga kamu budeg."


"Sebaiknya kau pergi sana! Jangan mengusik kita yang sedang berkencan."


"Dan satu lagi, kau memang mungkin cinta pertamanya Varel, tapi aku cinta terakhirnya Varel."


Audrey berdiri dari kursi itu dengan rasa malu dan kesalnya, karena sudah dipermalukan oleh Monika.


Audrey sebelum meninggalkan rumah makan itu, ia menatap Monika. Dan dengan savage nya Monika memberikan jari tengahnya pada Audrey beserta dengan senyum mengejeknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2