PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Pembalasan Untuk Clarissa


__ADS_3

"Akhh brengsek, sialan." Amuk Dilon. "Kenapa dia begitu bodoh! Mengurusi Aron saja tidak bisa, dasar perempuan tidak berguna." Ucap Dilon, ia menyesali dengan apa yang dilakukan oleh Clarissa.


"Lon kau ini hanya bisa marah-marah saja, lakukan sesuatu!" Timpal Yoga ayah Dilon.


"Apa yang bisa aku lakukan Yah? Aku menyerang perusahaan Aron tapi tidak terjadi apa-apa, dia seperti dilindungi oleh orang yang kuat Yah."


Dilon sudah buntu, Clarissa yang menjadi harapan terakhirnya untuk merusak hidup Aron, malah dia menghilang entah kemana.


"Istri Aron itu gadis yang kamu cintai bukan?" tanya Yoga.


"Iya benar Yah,"


"Coba Ayah lihat fotonya!" Dilon memberikan satu-satunya foto Thata yang ia miliki.


"Nama gadis ini siapa?"


"Agatha, aku biasa memanggilnya Thata."


Yoga menyeringai memandangani foro Thata, "Agatha, namanya tidak asing." ucap Yoga.


"Apa Ayah mengenalnya?"


"Tidak, tapi Ayah rasa Ayah memang mengenalnya." Dilon memberikan foto itu kembali pada Dilon.


"Ada yang harus Ayah selidiki." Yoga berlalu pergi meninggalkan Dilon yang masih bingung dengan tingkah laku Ayahnya.


"Dasar aneh."


***


Hansen memandang sikembar dengan gemas, "Mungkin anak kecil yang seperti mereka tidak ada lagi di dunia, bagaimana bisa anak kecil sama sekali tidak takut bermain-main degan nyawa seseorang. Ikut siapa sih itu anak astaga." Gumam Hansen takjub, namun merinding juga melihat apa yang sedang dilakukan oleh Rion dan Rara.


"Jiwa psikopatnya mereka, aku rasa ngikutin aku Kak." Saut Thata duduk di sebelah Hansen, ia memberikan teh hangat pada Hansen.


Hansen menerima teh hangat buatan Thata, "Terima kasih."

__ADS_1


"Iya, aku rasa jiwa psikopatnya mengikutimu Tha, tapi kadang aku berfikir kalian punya jiwa psikopat tetapi kenapa tidak pernah membunuh manusia? Bahkan sekarang sikembar sedang bermain-main dengan nyawa Clarissa, aku yakin mereka tidak akan membuat Clarissa meninggal." tebak Hansen, Thata tersenyum sambil melihat kedua anaknya.


"Karena bagi kita melihat musuh kita merasa tersiksa itu lebih menyenangkan dari pada melihat musuh kita mati dengan cara yang mudah Kak."


"Dan kembali lagi pada peraturan Zius yang pertama, tidak boleh membunuh bahkan jika kau sangat ingin membunuh."


Ucap Thata santai sambil menyeruput teh miliknya.


"Tha, kamu serius ingin meninggalkan Aron? Kamu masih mencintainya bukan?"


Thata menaruh cangkirnya, "Aku masih mencintainya Kak, tapi aku juga tidak bisa bersamanya. Aku juga belum menemukan suatu hal yang membuatku ingin kembali bersama Aron." Thata menghembuskan nafas panjangnya.


"Kisah kalian sangat rumit, bukan hanya cinta kalian saja, tapi masalalu kalian juga begitu. Masalalu kalian saling berhubungan satu sama lain."


"Kau tahu Tha? Jika seorang anak yang Kakek tolong itu Aron, aku tidak membicarakannya karena aku tidak di perbolehkan oleh Kakek. Tapi sekarang kau tahu, Kakek sempat menitipkan pesannya padaku untuk menjaga kalian berdua."


Thata menatap dalam Hansen, "Tha 3 keluarga sekarang sedang dalam 1 lingkaran yang rumit, Victory, Sandres dan Dirgantara. Tidak kah kau ingin bersatu dengan Aron untuk memecahkan misteri masalalu kita."


"Maksud paman itu bagaimana?" Saut Rion.


"Jadi seperti ini Rion, Daddy kamu kemungkinan besar satu-satu orang yang menjadi saksi Kakeknya Mommy kalian meninggal. Dan jika benar berarti hanya dia yang dapat memecahkan misteri ini, dan juga untuk kedua orang tua Thata, kalian bilang jika itu berkaitan dengan Dirgantara bukan? Aku merasa semua ini berkaitan dari Kakek terbunuh sampai kedua orang tua kecelakaan."


Rara menyeringai, ia merinci setiap perkataan Hansen pada papan tulis yang berada disitu.


"Coba lihat ini!" Rara menunjukan rincian yang ia buat.


"Paman sangat pintar," puji Rion. "Aku sekarang akan lebih fokus pada pergerakan Dirgantara."


"Aku pernah menyelidiki semua anggota keluarga mereka, ada yang aneh pada pernikahan Yoga ayahnya Dilon. Dia memiliki ikatan pernikahan yang rumit." Saut Thata.


"Iya benar Mommy, dia menikah dengan seorang perempuan entah siapa, lalu dengan anehnya dia membawa perempuan lain sebagai nyonya Dirgantara."


"Mereka bukan seseorang yang bisa dianggap remeh, mereka berkaitan dengan kematian kedua orang tua Thata. Sampai sekarang saja kita belum menemui titik terang. Aku semakin yakin jika Dirgantara lah yang telah mengacaukan Victory dahulu. Dan Dirgantara juga mengincar Aron."


Rion, Rara dan Thata setuju dengan pendapat Hansen.

__ADS_1


Rion melihat kearah Clarissa.


"Aku rasa efek sampingnya sudah mulai bekerja, ayo lihat perempuan itu." Ajak Rion.


Thata, Hansen mengikuti sikembar, Thata menatap Clarissa dengan datarnya, perempuan itu sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


Rion menatap jam tangannya, "1 2 3." Clarissa berteriak dengan kerasnya, badannya seketika kejang lalu kulitnya terkelupas, kuku-kukunya terlepas dari jari-jarinya.


Hansen begidik ngeri melihat bagaimana sikembar melakuakan percobaan pada Clarissa, anak kecil yang sangat kejam, pikirnya.


"Mom lihatlah! Kita hebat bukan? Racun yang kita buat berhasil, ini bisa menjadi senjata kita Mom." Ucap Rara dengan semangat, semakin banyak senjata rahasia yang dimiliki oleh Zius. Semakin kuat organisasi itu.


"Apa yang dirasakan Clarissa sekarang?" tanya Thata.


"Panas seperti sedang dibakar oleh api secara langsung, dan pada kukunya itu seperti tercabut dengan paksa. Dan organ yang berada didalam tubuhnya serasa terbakar semuanya." jawab Rion, rasa senangnya bisa terlihat dengan jelas di kedua matanya.


"Apa ini bisa untuk membunuh?"


"Tentu bisa Mom, 1 jam 20 menit badan Clarissa akan lenyap seperti abu, dan jika didiamkan abunya akan lenyap tanpa sisa. Jadi jika ingin melenyapkan manusia, Rion pastikan tidak akan meninggalkan jejak."


Anaknya ini benar-benar luar biasa, membuat sesuatu yang sangat berbahaya dengan waktu singkat dengan umur yang masih muda.


"Bravo." ucap Thata.


"Lalu kapan kamu ingin memberikannya obat penawar?"


"1 jam lagi Mom, aku ingin melihat kulitnya mengelupas semua."


"Dasar anak kecil yang kejam." Ucap Thata gemas pada kedua anaknya.


Thata mendekat ke Clarissa, "Tha tolong aku! Aku menyesal Tha, aku mohon lepaskan aku! Aku tidak tahan lagi. Anak kamu sangat kejam."


Thata tersenyum melihat Clarissa yang mengenaskan, "Aku sudah tidak memiliki hak untukmu Clarissa, aku sudah menyerahkan mu pada kedua anakku. Jadi nikmati saja prosesnya oke."


"Tha, jangan pergi! Aku mohon keluarkan aku dari sini. Aku tidak mau tinggal di neraka buatan anak-anakmu Tha."

__ADS_1


Thata tak menghiraukan ucapan Clarissa ia berlalu pergi begitu saja.


Bersambung...


__ADS_2