
"Aahhh sakit, bisakah kau pelan sedikit." pekik seorang gadis kesakitan.
"Pelan katamu? Bermimpilah saja." saut seorang pria itu.
Gadis itu adalah Clarissa Kim, ia menangis berada dibawah seorang pria bernama Dilon Dirgantara. Yah mereka sekarang sedang melakukan adegan ranjang, Dilon tidak bermain lembut sama sekali, permainannya menuntut dan terus menuntut.
Sejak pengkhianatan Clarissa pada Aron 5 tahun yang lalu, dia hidup bersama Dilon, dengan entah status seperti yang mereka punya, yang pasti adalah mereka berdua selalu menghangatkan ranjang satu sama lain. Clarissa yang awalnya menyukai Dilon sekarang rasa sukanya mulai luntur, dia sudah berung kali meminta Dilon untuk menikahinya, tetapi Dilon hanya akan menjawab nanti dan itu terjadi selama 5 tahun ini.
Dilon yang dulu memang tidak bersikap terlalu manis, namun itu cukup untuk membuat seorang wanita bertekuk lutut dibawah dekapannya. Namun Dilon yang sekarang menjadi pria pemain wanita yang amat gila, sering kali dia bermain dengan para wanitanya didepan Clarissa tanpa rasa malu atau menyesal sedikit pun. Clarissa sekarang menyesali pengkhianatannya pada Aron pria yang dia sukai sejak kecil namun pria itu menganggapnya hanya sebagai adik, lambat laun Clarissa memendam perasaannya, dan bertemulah Dilon yang membuatnya merasakan kenikmatan surga dunia. Clarissa tidak benar-benar mencintai Dilon, dia hanya sangat suka pada Dilon ketika sedang menjamah tubuhnya. Itu membuat Clarissa menggila. Clarissa menyesal akan keputusannya pada saat itu, Dilon sekarang bersikap seenaknya saja, pergi tanpa pamit dan datang hanya untuk berhubungan badan, dan itu terjadi sangat lama, bahkan sampai suatu hari Clarissa sampai dibawah kerumah sakit karena bagian bawah Clarissa kram hebat.
"Tidak bisa aku pungkiri, tubuhmu itu berbeda dari perempuan lain, tubuhmu adalah favoritku."
Dilon menggila menguasai tubuh Clarissa, dia tidak mendengar rontaan Clarissa, dia hanya fokus pada apa yang harus dituntaskannya malam ini.
"Tapi sayangnya kamu bukan perempuan yang aku cintai, jadi aku hanya menyukai tubuhmu saja." Batin Dilon.
***
Hari Bertamasya.
Aron sebenarnya sudah berjanji pada Thata jika ia akan bertemu disekolahan sikembar, tetapi Aron memaksakan untuk datang kerumah Thata karena dia ingin berangakat bareng bersama sikembar agar lebih terlihat seperti keluarga harmonis. Thata yang hanya nurut dengan rengekkan pria dewasa itu, entah kenapa dia tidak bisa tahan jika Aron merengek padanya gemas namun juga menyebalkan yang dirasakan Thata.
Aron sejak pagi dini hari sudah membuat seisi rumahnya berantakan dan yang paling menderita adalah Varel, Varel yang baru tidur satu jam karena mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk, tidur nyenyaknya sudah diganggu oleh Aron, hanya untuk memilihkan baju yang cocok untuk Aron pakai untuk bertamasya.
Entah sampai kapan penderitaan Varel akan terus berlanjut gara-gara bapak 2 anak bucin itu.
Arom masuk kerumah Thata, Thata yang sebenarnya belum ingin memberikan alamatnya tetapi Aron memaksa, dan Thata yang tidak ingin Aron merengek terus menerus akhirnya memberikan alamat rumahnya.
__ADS_1
Thata beserta dua anaknya sedang menyantap roti tawar dengan toping selai stroberi dan coklat. Thata, Rion, dan Rara memang lebih suka jika akan pergi pada pagi hari makan hanya dengan roti saja.
"Aku gak dikasih nih?" ucap Aron yang tiba-tiba muncul dan membuat sikembar kaget.
"Daddy kenapa pagi-pagi kesini? Mau ngapel Mommy yah? Tapi Mommy akan ikut kita pergi Dad." saut Rion.
Aron sudah duduk dikursi meja makan, dan seperti biasa Rara duduk dipangkuannya, Aron yang peka terhadap putri cantiknya itu, dia menyuapi Rara roti dengan telaten. Thata yang melihat itu menyunggingkan senyumnya tipis.
"Daddy hanya pengin main bareng kalian, sebelum kalian pergi bertamasya."
"Udah makan belum Ron? Mau roti atau yang lain, nanti aku buatin." Tawar Thata.
"Roti aja."
Thata mengambil roti dan ia olesi dengan coklat seperti milik Rion.
"Sayang suapi, kedua tangan akukan lagi menyuapi Rara."
"Loh Daddy kok ikut naik mobil sih? Daddy kan mau keperusahaan." tanya Rara bingung.
Aron tanpa menjawab langsung mengemudikan mobil Thata menuju sekolahan sikembar.
"Loh Daddy kenapa ikut turun?"
Aron menggendong Rara.
"Sayang Daddy itu akan ikut kalian bertamasya, boleh kan?"
__ADS_1
Rion menatap Thata, Thata hanya menganggukan kepalanya.
Rara semakin mempererat pelukannya dan mencium pipi Daddynya berkali-kali.
Aron menggendong Rara dan menggenggam tangan Rion, dan Thata juga menggenggam tangan Rion satunya. Mereka memasuki gerbang sekolahan, tak sedikit mata yang melihat takjub kepada Thata, Aron dan sikembar. Orang tua yang rupawan anak yang juga tak kalah rupawan, para orang tua yang berada disitu sudah mengetahui Rara dan Rion, karena para anak-anak nya selalu menbicarakan sikembar yang memiliki kepintaran yang luar biasa yang hanya baru berusia 5 tahun.
"Sayang kenapa para pria itu menatapmu terus sih, padahal kan meraka bersama anak dan istrinya, dasar tidak tahu malu." kesal Aron.
"Dan para perempuan itu melihat ke Daddy tanpa berkedip." saut Rara.
Aron ingin membantah namun ketika ia melihat tempat para orang tua wali berkumpul benar adanya jika para ibu-ibu itu memperhatikan dirinya tanpa berkedip.
"Rion, Rara orang tua kalian menghebohkan para orang tua teman-temanmu loh." ledek guru sikembar.
"Justru kalau gak heboh bukan orang tua Rara bu." saut Rara dengan tengilnya.
Ibu guru itu hanya terkekeh dengan ucapan Rara, dia mempersilahkan Aron dan Thata untuk naik bis karena waktu untuk berangkat akan segera tiba.
Selang beberapa waktu bis itu mulai melaju ketempat yang akan dituju, tempat pertama yang akan dituju adalah pantai. Jarak dari sekolahan sikembar kepantai kurang lebih sekitar 45 menitan. Suasana didalam bis sangat ramai, anak-anak yang happy terus bersenandung dengan riangnya dan para orang tua melihat anaknya yang bahagia bersama teman-temannya.
Aron dan Rion hanya berdiam diri sambil sesekali tertawa pembawaan mereka berdua memang kalem dan cool, berbeda dengan Thata yang tampak mengikuti riangnya Rara.
"Dad diperusahaan Daddy ada seorang pengkhianat, Daddy berhati-hatilah." ucap Rion.
"Kamu hanya melihat satu kali data perusahaan saja sudah langsung tahu, kamu hebat sayang, anak Daddy gituloh." Bangga Aron.
"Daddy sudah tahu siapa pengkhianat itu, tapi Daddy memang sengaja belum menyingkirkannya, karena Daddy sedang mencari siapa dalang dari semua ini. Entah kenapa Daddy merasa jika permasalahan yang Daddy hadapi itu rumit. Tapi kamu tenang saja yah, Daddy pasti bisa menanganinya."
__ADS_1
"Aku percaya pada Daddy."
Bersambung...