PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Karena Dilon, Thata Bertemu Dengan Aron


__ADS_3

Aron meraba kesisi sampingnya, matanya terbuka dengan malas. Pagi hari yang entah sudah berapa kali Thata tidak berada di sampingnya.


"Aku merindukanmu Tha, sangat merindukanmu." Gumam Aron.


Aron terduduk disisi ranjang, memegang bingkai foto pernikahan mereka. Tak terasa air matanya keluar tanpa ia minta, betapa besar rasa bersalah yang ia miliki pada istrinya. Waktu tak mungkin bisa diputar kembali, namun ia bisa memperbaiki diri disisa waktu yang ada.


"Aku akan berjuang untukmu dan juga sikembar Tha, aku tidak ingin kehilangan kalian! Kalian sangat berharga untukku." ucap Aron yakin.


"Cepat atau lambat kita akan berkumpul kembali sebagai keluarga utuh."


***


Aron berjalan gagah memasuki perusahaannya, ia didampingi sahabat tercintanya yang tidak lain adalah Varel.


Aron akan memasuki lift, namun ada suara yang sangat dikenalnya, memanggil Aron tanpa rasa malu.


"Hay bro." Sapa seorang pria, Aron membalikan badannya.


"Akhirnya kau muncul juga Lon." Gumam Aron.


Kedua pria itu berjalan mendekat satu sama lain.


Senyum dibibir mereka berdua memiliki sejuta arti yang hanya mereka saja yang tahu.


"Sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu Ron." Ucap Dilon.


"Yah, sangat lama. Kau mau apa kemari? Tidak mungkin untuk mengajakku kerjasama bukan? Aku rasa perusahaan mu belum sebangkrut itu untuk meminta kerjasama padaku." Saut Aron santai, Dilon mengepalkan tangannya erat.


"Brengsek, kau Ron, kau bisa berbangga sekarang karena kau memiliki semuanya. Tunggu saat aku sudah berhasil merebut Thata darimu, dan menghancurkan mu perlahan demi perlahan." Ucap Dilon dalam hati.


"Tidakkah kau mempersilahkan aku untuk duduk Ron, aku jauh-jauh datang kesini loh."


"Baiklah, ayo masuk ke ruanganku!"


Dilon mengikuti Aron.


Mereka berdua masuk keruangan Aron, mereka berdua duduk berhadapan di sofa. Dilon melihat sekeliling ruangan Aron, ia menemukan sebuah bingkai besar yang menampilkan seorang gadis yang sangat ia kenal.


"Apa kau kemari untuk mencari istriku hemm?" Tanya Aron, ia menatap dalam pada Dilon.

__ADS_1


"Kau sudah tahu ternyata, dimana dia? Aku yakin dia merindukanku. Aku adalah cinta pertamanya bukan?" jawab Dilon percaya diri.


"Bermimpilah aku merindukan pria brengsek sepertimu Dilon." Ucap Thata masuk kedalam ruangan Aron.


Aron membuka matanya lebar melihat istrinya kembali, namun ia kembali mengondisikan ekspresi senangnya.


Dilon tersenyum melihat Thata yang masih cantik seperti pertemuan pertama mereka, "Masih cantik seperti dulu." Ucap Dilon dalam hati.


"Sayang, kenapa kau membawa pria sampah ini kedalam ruangan mu?" Tanya Thata yang mendekat pada Aron.


Cup... Thata mencium sekilas pipi Aron, "Bersikaplah seperti kita tidak ada masalah." Bisik Thata.


Aron tersenyum mendengar bisikan Thata, ini kesempatannya. Tangan Aron merangkul pinggang Thata, "Kasian dia Sayang, kalau diluar bisa-bisa nanti jamuran di lobi." Muach... Aron mengecup bibir Thata.


"Sangat pandai mengambil kesempatan." Dengus Thata dalam hati.


"Kau yang menyuruhku untuk bersikap seperti biasanya, ya memang seperti ini kan. Sebenarnya ada yang biasa lagi Tha, kau tahu akan hal itu." Bisik Aron, menggoda Thata.


Dilon yang melihat keromantisan Thata dan Aron, tangannya mengepal kuat, ingin sekali rasanya menghempaskan Aron dari sisi Thata.


"Lon jangan iri yah, kamu kan masa lalunya, aku masa depannya." Sindir Aron, Thata menundukan kepalanya menahan untuk tertawa.


"Kalau aku menyingkirkan mu, bagaimana Ron?"


Dilon mengalihkan pandangannya pada Thata yang sedang bermain-main dasi Aron.


"Tha apa kamu sudah tidak memiliki rasa sedikitpun padaku?" tanya Dilon.


Thata menatap Aron, Aron sebenarnya juga sangat penasaran dengan jawaban Thata.


"Tidak sama sekali, dan satu lagi yang mau aku perjelas." Jeda Thata, menatap Dilon tajam. "Jika kamu bukan cinta pertamaku, aku pernah mencintai seorang pria sebelum kedatangan mu Lon. Jangan pernah mengharapkan apapun lagi padaku, karena aku sudah menemukan duniaku. Dan yang terakhir jangan pernah kau mengusik orang-orang yang berada di dekatku, jika kau ingin selamat." Thata berdiri dari tempat duduknya.


"Ron aku pulang dahulu, aku ada janji dengan anak kita."


"Baiklah, hati-hati."


Thata berlalu pergi, tanpa pamit ataupun melihat keberadaan Dilon.


"Siapa sebenarnya cinta pertama Thata kalau bukan Dilon?" Ucap Aron dalam hati.

__ADS_1


"Aku sangat ingin mengejarnya, tapi pria brengsek ini masih berada disini, sialan."


"Sekarang kau katakan! Kedatangan mu kesini untuk apa? Aku sudah membuang waktu berhargaku untukmu."


"Aku akan merebut Thata darimu Ron, bagaimanapun caranya."


"Kau kekurangan perempuan atau bagaimana Lon, masa istri orang mau kau embat juga." Sindir Aron.


"Ron satu hal yang harus kau tahu, aku memang pemain wanita tapi aku setia pada satu wanita. Aku tidak pernah goyah akan godaan perempuan lain sepertimu Ron. Aku yakin jika aku dapat lebih membahagiakan Thata dari pada kamu Ron. Dan secepatnya aku akan membawa Thata pergi dari sisimu." Dilon berdiri lalu meninggalkan Aron, yang masih diam dengan pikiran yang kemana-mana.


Aron melamun, ucapan Dilon terus berputar-putar di kepalanya, ucapan Dilon benar adanya. Apa aku seburuk itu? Pikir Aron.


***


Dorrr... Hansen mengagetkan Thata yang sedang melamun.


"Iss kakak ini kenapa mengagetkanku sih." Kesal Thata.


"Bagaimana tadi? kamu pergi untuk bertemu Aron bukan?" Tanya Hansen.


"Kau menyebalkan Kak, kau tahu semua yang aku lakukan." Saut Thata pasrah.


Hansen memakaikan jaketnya pada Thata, "Kita sudah tumbuh bersama sejak kecil, bagaimana aku tidak tahu kelakuan adik kecilku ini hemm."


"Kau tahu, jika Dilon mendatangi Aron, jadi kau menyusul kesana bukan? Kau takut jika terjadi sesuatu pada Aron?" Thata menganggukan kepalanya.


"Kau masih mencintai Aron lalu kenapa kau tidak kembali saja padanya? Apa beberapa minggu ini belum cukup untuk kau mempertimbangkan Aron kembali? Kau tahu jika Aron selalu berusaha menemukanmu dan juga sikembar, dia berusaha dengan keras agar tidak depresi kembali, dia menjadi gila kerja."


"Tha, kamu mungkin masih merasa sangat sakit dengan luka yang diberikan oleh Aron. Tapi pernahkah kamu memikirkan kenapa kamu bisa merasa sangat tersakiti? Itu karena kamu punya tempat terdalam untuk Aron di hatimu. Percaya padaku, Aron memang penyebab luka paling sakit untukmu, tapi dia juga obat yang paling bisa menyembuhkan lukamu Tha."


Thata menatap Hansen, selang beberapa waktu matanya berkaca-kaca. Huwaaaa... tangis Thata pecah.


"Kakak kenapa kau bisa bicara seperti itu? Rasanya kau pernah mengalaminya, padahal kau jomblo akut Kak." Ucap Thata sesenggukan.


"Yakkk, kau memang adik kurang ajar ya Tha. Bisa tidak jangan bawa-bawa statusku. Kau juga kalau bukan karena Aron dulu menghamili mu, kau mungkin sekarang belum menikah." Ucap Hansen tak mau kalah.


Plaakkk... "Mungkin takdir mempertemukan kita dengan cara yang unik, tapi Kakak itu kasihan sekali. Umur Kakak sudah 33 tahun tapi masih belum merasakan surga dunia hahaha." Thata tertawa namun ia juga menangis.


Hansen bangun dari duduknya, "Terserahlah kau mau bilang apa Tha." Kesal Hansel pergi meninggalkan Thata.

__ADS_1


"Tha asal kau tahu jika aku paham dengan semua itu, karena aku pernah merasakannya sendiri." Ucap Hansen dalam hati.


Bersambung...


__ADS_2