
"Sayang bangun! Katanya mau belanja."
"Emm nanti aja Ron, masih dingin, tidur lagi aja. Sikembar juga paling sudah dikuasai Mamah sama Papah kan."
Thata bukannya bangun malah semakin masuk kedalam pelukan Aron, Aron mengenakan baju tidur yang kancingnya terbuka semua, wajah Thata menempel langsung pada kulit dada Aron.
Tangan Thata mengelus kotak-kotak yang berada diperut Aron, Thata melihat kotak-kotak itu pada malam dimana dia tertangkap basah oleh Aron. Pada saat itu dia malah yang membuka kancing Aron satu persatu dan pada saat itu juga dia selalu tertarik dengan perut Aron.
"Ron perut kamu kok bisa kaya gini sih? Jadi suka deh." ucap Thata tanpa rasa bersalah, Aron benar-benar sedang menahan sesuatu pada dirinya karena perbuatan Thata.
"Emm," lenguh Aron. "Sayang cukup! Hentikan tanganmu! Kamu memancing sesuatu hemm."
Thata mendongakan kepalanya menatap Aron, dia melihat wajah Aron yang sedikit memerah.
"Memancing sesuatu apa Ron? Burung atau Lele Ron?" ucap Thata Asal, Aron melototkan matanya setelah mendengar ucapan Thata yang vulgar.
"Belut jumbo Sayang."
"Ada jumbonya yah Ron?" Tangan Thata sudah semakin menjadi-jadi.
Aron sudah benar-benar habis kesabaran, ia mencengkal kedua tangan Thata lalu menindihnya. Thata bukannya takut malah mengedipkan satu matanya menggoda pada Aron, Aron menyeringai.
"Iya Sayang belutnya jumbo sangat jumbo, mau lihat tidak?" tanya Aron usil, tangan Aron sudah meremas dua bongkahan kenyal Thata yang masih tertutup oleh piyama tidur.
"Emm aku bahkan sudah pernah merasakannya, dan belut jumbomu itu yang sudah membuat perutku menjadi besar selama 9 bulan lebih Ron akhh..."
Akhh emm, Thata menggigit bibir bawahnya, tangannya mencengkram bahu Aron kuat. Thata merasakan panas di sekujur tubuhnya.
"Ar_ron aahh ronn." Lenguhan parau Thata.
Thata yang sudah terbawa permainan Aron, Thata menarik badan Aron agar lebih mendekat padanya, dia mencium bibir Aron untuk mengurangi rasa yang sedang bergejolak padanya.
***
Thata berjalan terlebih dahulu meninggalkan Aron yang masih berada dikamar, brakkk... Thata membanting pintu kamar dengan keras.
Thata berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan keras. Aron yang sudah keluar dari kamar sambil membawa tas Thata, dia tersenyum melihat Thata yang masih kesal dengannya.
"Akhh Aron lepaskan aku, aku masih kesal padamu." Thata berusaha melepaskan dirinya dari gendongan Aron.
Thata kesal benar-benar kesal, ketika dia ingin mencapai puncaknya Aron malah menyudahi permainannya, dan lebih menyebalkan lagi Aron menceburkan Thata kedalam bak mandi untuk berendam.
"Sayang jangan banyak gerak! nanti jatuh, Maafkan aku oke, kita melakukannya nanti saja yah, aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya."
Cukup dulu Aron pernah bertindak kegabah dan sekarang dia tidak akan melakukan untuk kedua kalinya, tidak papa belut jumbonya harus berendam air dingin setiap hari, dari pada nanti hubungannya dengan Thata terjadi suatu masalah. Jujur saja, jika Aron masih memiliki trauma akibat kepergian Thata 5 tahun yang lalu.
"Kalau begitu kenapa kamu seperti itu tadi hah?"
"Kamu dulu yang memancing aku Sayang, aku hanya mengikutimu saja."
Blushhhh... Pipi Thata memerah, dia baru ingat jika tadi pagi yang memulai kegiatan panas mereka adalah dirinya, kenapa dia sempat lupa dan malah jengkel pada Aron. Thata merutuki dirinya yang begitu bodoh.
__ADS_1
"Aduh Sayang, kenapa pundak ku digigit."
"Tapi tetap saja kamu menyebalkan Aron."
"Iya iya aku menyebalkan aku juga yang memulainya, udah ya jangan ngambek lagi, kita mau jalan-jalan loh ini." Thata patuh, dia anteng berada di gendongan Aron, menuju mobil yang akan mereka gunakan untuk kencan.
"Moto hidup seorang suami adalah selalu mengalah pada istri dalam hal apa pun, bahkan jika yang salah itu istri sekali pun." Ucap Aron dalam hati.
***
Thata memeluk posesif lengan Aron, dia kembali kesal karena setiap kali mereka jalan Aron akan selalu menjadi pusat perhatian bagi kaum hawa. Thata awalnya biasa-biasa saja sekarang entah kenapa itu malah mengusiknya, rasanya menjadi tidak tenang dan menyebalkan. Ingin rasanya dia mencongkel mata perempuan-perempuan yang melihat Aron tak berkedip dan memandang Aron sebagai buruan yang sangat menggoda bagi mereka.
Aron yang peka, tangannya merangkul pinggul Thata mesra. "Aron, pengin pulang." ucap Thata lirih, moodnya sudah hancur dia sekarang hanya ingin pulang kerumah dan menonton drakor.
"Uhhh lucunya istriku ini, kalau sedang cemburu. Aku hanya mencintaimu Sayang, jangan memperhatikan orang lain, cukup aku saja yang kamu perhatikan oke."
"Iya aku tau Ron, tapi liat deh itu perempuan-perempuan yang melihatmu! Meleng sedikit bisa kena toel kamu Ron." Dengus Thata kesal, bahkan sesekali dia memelototkan matanya ketika ada perempuan yang ingin mendekati Aron.
( Bau kebucinan seorang Dewi Perangnya Zius lucu yah gayss).
"Mau beli es krim gak? Itu rasa vanilanya menggoda banget loh." ucap Aron sambil jari telunjuknya menunjuk kesebuah kafe es krim yang berada di depannya.
Mata Thata yang tadinya sayu karena tidak bersemangat, sekarang matanya berubah berbinar ia menatap Aron sambil mengedipkan matanya seperti anak kecil.
Aron memalingkan wajahnya, "Astaga kenapa Thata bisa semenggemaskan ini, jadi kepengin cepet-cepet unboxing kan jadinya." Dengus Aron dalam hati.
Thata dan Aron sudah masuk kedalam kafe mereka berdua sudah memilih es krim yang mereka inginkan. Setelah pesanan mereka datang Thata langsung melahap es krimnya dengan lahap, dia semakin senang ketika Aron menyuapinya, hatinya menjadi berbunga-bunga.
"Tuan boleh saya meminta nomer telpon anda?" Tanya seorang perempuan bergaun dengan belahan dada yang terekspos sampai bawah dadanya.
"Maaf saya sudah punya istri, jadi tolong pergilah, jangan menggangguku." saut Aron acuh, dia justru asik bermain game di ponselnya.
Perempuan itu tak mau menyerah, dia terus-terusan mengajak berbicara Aron, tetapi Aron hanya acuh.
Thata keluar dari kamar mandi, dia akan melangkah menuju tempat duduknya, ketika ditengah perjalanan dia menghentikan langkahnya karena melihat ada seorang perempuan yang berusaha mendekati suaminya. Thata mengepalkan tangannya dengan bibir yang yang sudah menyeringai.
Thata berjalan dengan percaya diri, dia memegang tangan perempuan yang berusaha ingin memegang tangan Aron.
"Jauhkan tanganmu! Nanti suamiku bisa terkana virus yang kau bawa lagi." ucap Thata, dia sudah berada dipangkuan Aron.
Muachh.. Thata tanpa malu mengecup bibir Aron sekilas, "Ayo Sayang suapin aku lagi." suruh Thata dengan manja.
Aron mematikan ponselnya dan menaruh ponselnya disaku bajunya, dia menyuapi Thata yang sedang berada di pangkuannya dengan telaten.
Thata melirik perempuan yang masih betah duduk didepannya itu dengan tatapan tak bersahabat.
"Mbaknya kurang kerjaan yah? Jadi nontonin KEMESRAAN kita terus?" Sindir Thata.
"Mbaknya pergi deh sana! Jangan merusak kencanku dengan suamiku." Usir Thata dengan kejam, dia bahkan sedikit mengeraskan suaranya agar para pengunjung yang lain dapat mendengarnya.
Perempuan itu dengan muka yang sudah memerah karena menahan kesal dan malu, dia pergi dengan tergesah dari kafe itu sesudah mengumpati Thata didalam hatinya.
__ADS_1
"Hehehe," kekeh Aron lucu. "Kenapa ketawa?" Galak Thata.
"Kau tau sayang? Kamu itu sekarang berubah, dulu kamu sangat cuek padaku tapi sekarang kamu sangat manja padaku."
"Terus kenapa kalau aku berubah? Kamu tidak suka lagi padaku? Jika kamu berani tidak menyukaiku maka akan ku potong Belut Jumbomu itu Ron." tegas Thata.
Aron menelan salivanya kasar, sesuatu yang barusan disebut Thata tiba-tiba terasa dingin dan kaku.
***
Aron dan Thata masuk kesebuah butik yang terkenal yang berada didalam mall, yang sedang menjadi tempat kencan mereka berdua.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Carikan sebuah gaun yang cantik berwarna putih."
"Dan ukurannya..." belum selesai Aron berbicara, Thata sudah membungkam mulut Aron menggunakan tangannya ketika Aron akan menyebutkan ukurannya.
"Jangan sok tau dengan ukuran ku Ron," bisik Thata, Aron menyunggingkan bibirnya.
Setelah sekian lama Thata memilih baju dan mengukur ukuran badannya, dia sekarang sedang berada diruang ganti baju.
Thata melepas semua pakaian yang di kenakan nya, ketika dia ingin membuka bungkus dari 2 benda kenyalnya, dia merasakan ada sesuatu yang meraba badannya dari arah belakang.
"Aron kenapa kamu berada disini?" pekik Thata terkejut.
"Sayang kau bilang aku tidak tahu ukuran badanmu bukan?"
"Sekarang coba aku ukur badanmu," Aron menyentuh lembut bahu Thata, dan dia menebak ukuran lingkar bahu Thata dengan benar.
Tangan Aron turun kepinggul Thata, dia memegangnya dan memutar tangannya dari depan sampai belakang, Aron menyebutkan ukuran Thata, dan benar untuk kedua kalinya.
Dan yang terakhir tangan Aron mengukur lingkar dada Thata, Thata berdiri mematung, dia tidak bisa bergerak lagi, karena Aron sudah menyudutkan Thata pada pojok ruangan itu.
"Sayang yang aku ucapkan tadi benar ukuranmu bukan?"
Thata mengangguk pasrah, untuk kesekian kalinya dia dibuat pasrah oleh tindakan Aron.
Aron menerobos pegangan Thata yang berada di dua gundukannya, Aron memainkannya lalu mengucapkan ukuran lingkar dada Thata, dan untuk ketiga kalinya Aron menjawab dengan benar.
"Badanmu lebih padat dari pada dulu Sayang, dan itu benar-benar menggoda Sayang." ucap Aron berbisik ditelinga Thata dari arah belakang.
"Aron cukup! jangan membuatku seperti ini, jika kamu tidak mau menuntaskannya Ron."
Thata sudah tidak bisa tahan lagi jika tangan Aron akan bermain lebih lama lagi di badannya, bisa-bisa malah dia yang memperkosa Aron.
Aron menghentikan aktifitasnya, dan membantu Thata mengenakan gaun yang telah dipilih oleh Aron untuk dipakai dihari ulang tahun Thata nanti.
Bersambung...
...Hay hay, jangan lupa like, komen, vote, tambahkan ke favorit dan search keorang-orang yang kalian kenal yah. Aku tunggu apresiasi kalian🤗 Terimakasih🙏...
__ADS_1