
POV
Selama 7 tahun aku menjadi gadis Rapunzel, yang hanya hidup didalam rumah saja. Di usiaku yang menginjak 7 tahun ini, kedua orang tuaku membawaku kesebuah kastil yang berada diperbukitan dengan pemandangan yang sangat indah, aku sangat-sangat bahagia, untuk pertama kalinya aku menghirup udara selain udara yang berada dirumah ku. Kedua orang tua ku memperbolehkan ku untuk bermain sebebasnya.
Aku berjalan sambil bersenandung, aku sudah sangat menyukai musik sedari kecil, aku berjalan seorang diri sambil membawa boneka beruang yang berwarna putih. Kakiku yang kecil sesekali melompat-lompat ketika melihat pemandangan yang sangat indah.
Ketika aku sedang asik berjalan sambil mengajak bonekaku berbicara, aku selama ini tidak punya teman, temanku hanya musik dan mainan-mainan yang selalu diberikan oleh kedua orang tuaku saja.
Aku melihat bayangan seseorang yang berada dibawah pohon besar, aku dan bayangan orang itu berjarak lumayan jauh. Aku mendekatinya karena penasaran. Pria kecil tampan yang sedang menggambar pada sebuah kertas gambar, dia terlihat sangat mempesona bagiku, poni rambunya berkibar karena terpaan angin bukit. Pria kecil itu adalah orang pertama yang aku lihat secara langsung.
Kakiku tanpa sadar mendekat kearahnya, "Siapa itu?" ucapnya, ketika aku menginjak sebuah ranting pohon. Jantungku berdebar cepat ketika mendengar suaranya, aku bingung kenapa jantungku bisa berdetak seperti itu. Biasanya jika jantungku berdar itu ketika aku sedang memegang laptopku. Aneh sekali bukan? Tapi rasanya menyenangkan.
Pria kecil itu melihatku, aku terdiam kaku. Dia ingin mendekat padaku, aku juga sambil menunduk akan mendekatinya.
"Kak Aron," ada seorang gadis bekulit putih dan bermata sipit memanggil pria kecil itu. Pria itu membalikkan badannya dariku, aku buru-buru mencari tempat untuk bersembunyi.
Pria kecil itu ternyata bernama Aron, baru mengetahui namanya saja aku sudah sangat senang, bagaimana jika aku bisa dipeluknya seperti gadis yang sedang memeluknya itu.
"Aku ingin diposisi gadis itu." ucapku lirih, aku senang bisa melihat pria itu tertawa dengan bahagianya, ia menggendong gadis kecil itu dipundaknya.
"Aku ingin seperti mereka!" ucapku, aku pergi meninggalkan kedua orang itu yang sedang asik bercanda, melihat mereka semakin aku tahu jika aku adalah seorang gadis rapunzel yang kesepian.
Aku berjalan lungai menuju kastilku, sebelum membuka gerbang aku menampilkan senyum semanis mungkin. Aku ingin membuat orang tuaku tidak mengkhawatirkanku, aku ingin kedua orang tuaku hanya melihat senyumanku saja, aku tahu kedua orang tuaku sudah sangat sulit untuk menyembunyikan keberadaanku.
***
Setiap hari aku datang ketempat yang sama saat aku pertama kali melihat pria bernama Aron itu.
Hari ini adalah hari ke 4, aku menunggunya sambil duduk diatas sebuah batu. "Lily, kenapa dia tidak pernah muncul lagi, aku ingin melihatnya." ucapku pada boneka kesayanganku yang aku berinama Lily.
Aku sudah lelah menunggu, aku berniat untuk pulang, ketika aku sedang turun dari batu itu...
"Aaauuu." Aku terjatuh karena menginjak bagian batu yang lincin.
"Hey kau ini bodoh yah? Masih ada banyak tempat yang bisa kau duduki, kenapa malah duduk di batu itu." ucap Aron, aku terbengong melihatnya yang sedang mengomel.
"Kau ini banyak omong, bantu aku berdiri dulu!" ucapku, dia membantuku berdiri.
"Bajumu saja yang bergambar bunga, tapi kelakuanmu seperti pria." ucapnya yang membuatku sebal.
"Terima kasih membantuku, aku pulang dulu." pamitku, sebenarnya aku masih ingin bersamanya, tetapi hari sudah sore aku tidak mau membuat orang tua ku khawatir karena aku tak kunjung pulang.
Aku berjalan dengan kakiku yang sebelah kiri pincang, "Naik kepunggungku! aku antarkan kamu sampai rumahmu." Titah Aron, dia sudah berjongkok didepanku.
"Cepat naik! Sebelum hari larut malam." Aku naik kepunggungnya, keinginanku sudah tercapai.
__ADS_1
Punggungnya sangat nyaman seperti papahku.
"Namumu siapa?" tanyanya. "Panggil saja Thata." Tidak ada pembicaraan lagi, suasananya sangat sepi tapi aku tidak merasakan kesepian seperti biasanya.
Pada sore itu Aron mengantarkanku sampai depan kastil.
***
2 hari kemudian, kakiku sudah sembuh, aku kembali ketempat biasanya, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Aku membawa satu kotak coklat yang sempat aku buat bersama dengan Mamahku.
Aku menunggunya, "Hey mau apa kemari? Kamu nunggu Kak Aron yah?" ucap gadis kecil yang tempo hari bersama Aron.
Aku tersenyum pada gadis yang terlihat sangat menggemaskan itu, pastas saja jika Aron terlihat sangat menyukainya.
"Iya aku menunggunya aku ingin mengucapkan terima kasih, karena kemarin mengantarkanku sampai rumah."
"Perkenalkan namaku Thata, kamu siapa? Kamu terlihat sangat cantik." tanganku mengulur didepannya.
"Itu pasti, aku adalah kesayangan Kak Aron, Kak Aron tidak bakal kesini lagi, jadi lebih baik kamu tidak menunggunya lagi." ucapnya membuat hatiku terasa sakit.
"Baiklah aku tidak akan menunggunya lagi, aku mau menitipkan ini saja! tolong berikan ini kepada kak Aron sebagai ucapan terima kasihku." Aku menyodorkan kotak yang aku bawa itu.
Bukannya menerima kotak itu, gadis itu malah membuangnya di depanku, coklat yang sudah aku buat susah payah bececeran di tanah, dan dengan tidak berperasaannya gadis itu malah menginjak-nginjak coklat yang sudah aku buat.
"Hey kenapa kamu membuang coklatku?"
Aku berjongkok, aku memunguti coklat-coklat itu, dan tidak sengaja tanganku menyentuh kaki gadis itu.
"Singkirkan tangan kotormu itu!" Dia memegang tanganku lalu ia sayat menggunakan pencapit rambutnya, dia juga menendangku.
Baru saja aku ingin membalasnya, tanganku sudah berada sangat dekat dengannya, tetapi dia tiba-tiba terjatuh.
"Kak Aron tolong! dia mendorongku Kak." ucap gadis kecil itu sambil menangis.
Aku terdiam kaku, aku sama sekali belum menyentuhnya. "Apa yang kamu lakukan pada Clarissa?" tanya Aron marah, aku tertunduk takut. Luka yang menganga pada tanganku kusembunyikan dibelakang punggungku.
Aron membantu Clarissa bangun, dia juga membersihkan tanah yang berada di badan Clarissa. "Kamu tidak papa?" ucap Aron sayang pada Clarissa.
"Kak Aron, dia jahat, aku ingin menawarkan coklat padanya, tapi dia malah membuang coklatku Kak, lihatlah! Semua coklatku dia hancurkan. Dia juga mendorongku." ucap Clarissa sesenggukan.
Aron melihat marah padaku, "Aku tidak melakukannya..."
"Tidak ada maling yang mengaku jika dirinya adalah maling." ucapnya padaku.
"Jangan pernah kau tampakan mukamu itu pada kami lagi!" Aron membawa Clarissa pergi meninggalkanku yang masih terdiam ditempat itu, mataku melihat mereka sampai benar-benar pergi, sebelum mereka hilang dari pandanganku, Clarissa tersenyum mengejekku.
__ADS_1
Luka yang ada pada tanganku tidak sesakit jika di bandingkan dengan yang berada didadaku setelah mendengar ucapan pria itu.
***
Hari-hari berikutnya aku melihat mereka dari kejauhan, aku melihat mereka sedang mengukir nama mereka disebuah pohon besar.
Ketika mereka selesai mengukir nama mereka masing-masing, mereka pergi meninggalkan tempat itu. Aku berjalan ke pohon itu, aku melihat ukiran nama mereka berdua, tanganku menyentuh ukiran itu.
"Aku ingin namaku berada disini" ucapku, air mata yang selalu aku tahan selama ini, sekarang keluar tanpa izin.
Disore hari itu aku terduduk menyembunyikan wajahku pada tanganku yang bertumpu pada lututku. Aku menangis dengan kencang ditemani dengan hujan yang membasahi bajuku.
1 minggu berlalu aku selalu datang ketampat yang sama, tetapi Aron dan Clarissa sama sekali tidak terlihat. Mungkin mereka selesai dengan liburannya, pikirku.
3 hari kemudian, hari ini aku akan meninggalkan daerah ini, aku tak kunjung melihat kedua orang itu. Aku mendekat kepohon yang menjadi pusat didaerah itu, aku melihat ukiran mereka masih terlihat jelas, walaupun warnanya sudah menyesuaikan pada batang pohon itu.
Aku mengambil sebuah ranting yang cukup tajam, aku ukir namaku diatas nama Aron.
Tanganku terasa perih karena memegang ranting yang tidak rata itu.
"Selesai," ucapku.
Aku memnyentuh ukiran yang bertuliskan Aron, "Semoga kita bertemu lagi nanti, aku ingin membuat kisah bersamamu." ucapku sambil tersenyum.
Aku pergi meninggalkan tempat itu, dan entah sampai kapan aku datang lagi ketempat itu.
Pov and.
***
"Ternyata sedari dulu aku sudah kalah darinya Ron, dia selalu menjadi nomer satumu." Tangan Thata menyentuh pada batang pohon besar yang masih jelas terlihat tiga kata yang terukir disana.
"Apa aku harus menyerah pada perasaanku Ron?"
"Kenapa aku mengingatmu ketika semua ini terjadi Ron, kau tahu? Aku merasa seakan-akan alampun menunjukan padaku jika memang aku diciptakan untukmu hanya untuk menjadi orang cadangan di hidupmu." ucap Thata parau.
"Aku tahu sekarang kenapa aku bisa sangat marah padamu Ron, aku pernah merasakan kejadian yang sama seperti ini, tetapi saat ini lebih menyakitkan Ron. Apa kau tidak mengingatku? gadis kecil yang dulu kau pernah antar dia pulang karena kakinya terluka?" Thata tersenyum tipis sambil mengingat kejadian itu.
"Hahaha, tentu saja kau tidak ingat. Yang kau ingat hanya kenangan-kenanganmu bersama nya saja bukan? Bodohnya aku berharap padamu jika kau mengingatku. Mungkin jika kau mengingatku kau akan membenciku, aku orang yang dulu kau samakan dengan maling."
Jederrrr.... Suara petir bergemuruh, tetesan air hujan berjatuhan ditanah, Thata enggan pergi dari tempatnya, ia masih asik merenungkan kisah hidupnya yang begitu menyedikan.
"Tuhan aku lelah, aku penasaran, aku pernah berbuat apa sampai kau membuat hidupku seperti ini? Aku pernah melakukan kesalahan apa Tuhan?"
"Aku sekarang harus bagaimana?"
__ADS_1
Alam seperti tau apa yang sedang dirasakan Thata, suara teriakan putus asa Thata diiringi dengan suara petir, air matanya menyatu dengan tetesan hujan.
Bersambung...