PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Kehilangan


__ADS_3

"Dasar iblis," maki Yolanda. "Menyesal aku dulu pernah menganggapmu seorang anak."


Clarissa mendekat ke Yolanda, "Percuma saja kau menyesal, yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Dasar Tua Bangka bau tanah." Ucap Clarissa mengejek.


"Sialan kau perempuan menjijikan," Yolanda memberontak dalam ikatannya.


Clarissa menjulurkan lidahnya pada Yolanda, "Kemarilah kau, akan kujambak rambut kusutmu itu." Teriak Yolanda, Clarissa mengibaskan rambutnya.


"Tenanglah! Semakin kamu marah semakin dia senang." Saut Rangga.


Brakkk... Aron masuk beserta pasukannya, "Clarissa apa yang kamu mau sebenarnya hah?" Suara Aron menggelegar diruangan berwarna biru muda itu.


Clarissa tersenyum melihat Aron datang, ia berdiri dari duduknya lalu berjalan percaya diri kearah Aron.


Aron menatap Clarissa tajam, "Kak aku mau kamu Kak, itu saja. Jika kau mau hidup bersamaku, akan aku lepaskan kedua orang tuamu." Ucap Clarissa menggoda.


Clarissa akan memegang wajah Aron, sebelum itu Aron sudah menodongkan pistolnya pada kepala Clarissa.


"Tembak saja Kak! Maka akan aku pastikan kamu tidak bisa melihat kedua tua bangka itu lagi."


"Kak mau mereka lepas, tidur bersamaku sekarang. Aku berjanji akan melepaskannya."


"Bermimpilah saja kau tidur bersama Daddy, aku tidak akan membiarkan perempuan sepertimu mengelabui Daddy." Saut Rara muncul dari arah belakang pasukan Zius dan juga pasukan Aron.


"Kau," pekik Clarissa yang melihat Rara baik-baik saja.


"Kenapa kaget? Kau kira mau menculik ku semudah itu? Tidak, dasar perempuan bodoh." Maki Rara.


Boommm... Tiba-tiba tempat itu meledak, kedua orang tua Aron aman, karena memang mereka sedang dikurung disebuah kotak besi seperti didalam penjara. Banyak orang yang meninggal karena ledakan itu, Clarissa selamat karena ia sempat bersembunyi dibawah kolong meja. Sedangkan Aron dan Rara dia selamat, Aron menggendong Rara ketempat yang sekiranya kuat untuk menerima ledakan. Tetapi ketika mereka panik dengan ledakan, Aron menjatuhkan pistolnya entah kemana dan begitupun dengan Rara.


Clarissa mengambil pistol yang kebetulan berada didepannya, ia arahkan pada Rara.


"Kak jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain tidak bisa, apa lagi seorang anak dari perempuan itu. Lihat mukanya yang sangat mirip dengannya, itu yang sudah membuatku muak." Ucap Clarissa.


"Clarissa jangan sakiti putriku! Dia tidak bersalah." Saut Aron, dia berusaha berdiri.


Aron yang tadi pergi untuk mencari senjatanya, malah digunakan kelengahannya oleh Clarissa untuk menyakiti Rara.


Aron akan mendekat kearah Rara, tetapi Clarissa semakin mendekatkan pistolnya.


"Clarissa aku mohon jangan sakiti putriku."


Clarissa seolah tak mendengar ucapan Aron, ia menarik pelatuknya, Aron berlari kearah Rara. Ia memeluk Rara untuk menjadikan penghalang peluru dari pistol Clarissa....


Dor..dor..dorr.. Suara tembakan terdengar 3 kali, namun Aron tak merasakan sakit pada bagian belakangnya.


Rara, mengangkat sedikit kepalanya, "Mommy," pekik Rara berada dalam pelukan Aron.


Thata terkena tembakan Clarissa pada bagian perutnya, ia memegang perutnya yang mengeluarkan darah. Sedangkan Clarissa entah bagaimana keadaannya, Thata sudah menembaknya pada bagian dada sebanyak 2 kali.


Thata tak kuat lagi menahan rasa sakit pada perutnya, ia berdiri sempoyongan dan...


"Thata..." Hansen berlari dan mendekap badan Thata yang akan terjatuh dilantai.


"Mommy," panggil Rion yang juga datang ketempat itu.

__ADS_1


Aron terdiam hanya berjarak sekian detik saja ia bisa menangkap Thata, tetapi pria itu lebih cepat darinya.


"Rion berikan obat untuk menghentikan pendarahan cepat!" Ucap Hansen. Rion cepat mengambil obat yang dimaksud oleh Hansen.


"Buka mulutmu Tha!" Hansen memasukan obat itu kedalam mulut Thata.


Darah Thata bukan hanya keluar dari luka di perut Thata saja, tetapi dari bagian bawah tubuhnya.


"Kakak perutku sakit sekali." Ucap Thata yang mulai tak sadarkan diri.


"Kuat yah, sebentar lagi bantuan datang."


"Tha tetap sadar hey, Tha, jangan tutup matamu." Panik Hansen melihat Thata sudah akan pingsan.


"Sayang..." Baru saja Aron berucap.


"Daddy minggir." Usir Rion.


Thata membuka matanya perlahan, "Kak, tolong semalatkan Dia." Ucapnya menatap Hansen, kemudian Thata tak sadarkan diri.


Bantuan datang Hansen menggendong Thata tanpa memperdulikan pandangan permusuhan dari Aron.


***


Suasana menjadi hening dan mencengkam, semua orang yang berada disana menunggu kabar dari Ares dengan cemas.


Selang 2 jam Ares keluar dengan muka kusutnya.


Semua orang berdiri lalu mendekat kearah Ares.


Ares tau semua orang yang berada disitu menunggu jawaban darinya, tetapi dia tidak sanggup untuk mengatakannya.


"Tapi..." Ucap Ares, ia menundukan kepalanya.


"Kandungan yang berada didalam perutnya kami tidak dapat menyelamatkannya, maaf."


"Apa? Kau bilang kandungan? Istriku Hamil Res?" Aron mencengkram kerah baju Ares. Ares hanya mengangguk lemah.


Aron mentap Hansen. "Kenapa menatap paman Hansen, Dad? Kau mau bilang jika adikku itu anak paman Hansen iya?" Tebak Rion, Aron menatap Rion.


"Itu anakmu Dad, anakmu." Bentak Rion.


"Jadi..."


"Mommy menyembunyikan kehamilannya darimu, karena kau tidak menginginkan adikku bukan?"


"Rion bukan seperti itu..."


"Adiku sekarang meninggal puas kau Dad? Selamat keinginanmu terkabul. Padahal Mommy sangat menyayanginya." Rion mulai menetaskan air matanya, Aron juga berkaca-kaca.


"Rion tenanglah!" Ucap Hansen, ia memeluk Rion."


"Paman bagaimana nanti kita akan menjawab jika anaknya sudah tidak ada, aku tidak bisa melihat Mommy bersedih lagi."


"Paman baru saja aku melihat tawa Mommy lagi, tapi aku akan melihat tangis Mommy lagi Paman. Paman kenapa dunia begitu jahat pada Mommy, tidak bisakah membuat Mommy bahagia. Sudah terlalu banyak luka yang didapat oleh Mommy, dan sekarang dia kehilangan anaknya." Ucapan Rion bagai belati yang menusuk dada Aron.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi! Mommymu perempuan yang kuat." Hansen sebenarnya tak tahan menahan tangisnya, tetapi ia berusaha dengan sangat keras dia tidak boleh terlihat lemah.


"Sayang kamu ternyata selama ini hamil, maafkan aku, apa kamu tidak ingin kembali padaku karena kamu pikir aku tidak akan menganggap anak kita? Tidak sayang, aku akan menanganggapnya, sama seperti kembar. Sayang maafkan aku, kau menyelamatkanku dan kehilangan anak kita, maaf kan aku. Aku tidak tahu lagi akan menebus kesalahanku dengan apa padamu Tha." Ucap Aron dalam hati, ia meneteskan air matanya dalam diam.


***


Sampai pagi hari Thata tak kunjung bangun, Aron dan yang lain setia menunggu diruangan itu.


Siang hari...


"Emm." Thata perlahan demi perlahan membuka matanya.


"Jangan banyak gerak dulu," ucap Hansen.


"Mommy sudah bangun." Thata tersenyum tipis melihat putrinya, ia menganggukan kepalanya.


"Sayang..." Panggil Aron.


"Kenapa kau disini? Tidakkah kau ketempat perempuan itu saja, dia sudah aku buat sekarat." Sarkas Thata.


"Sayang kumohon jangan berkata seperti itu! aku minta maaf ya,"


Thata tak menghiraukan ucapan Aron, ia mengelus perutnya, ia merasakan ada yang hilang.


Hansen menelan salivanya ketika ia peka apa yang sedang dirasa oleh Thata.


"Kak," panggil lirih Thata menatap Hansen.


"Kakak, kenapa peretku tidak merasakan kehadirannya lagi?" Thata sudah berkaca-kaca.


"Kakak, tolong jawab aku!"


Semua orang terdiam ketika Thata menanyakannya, "Kakak, dia tidak pergi kan Kak?" Bentak Thata.


"Tha ikhlasin yah..."


"Tidak akan Kak," marah Thata, "Dia pasti masih ada diperutku Kak. Kakak jangan yang aneh-aneh dong, gak lucu."


"Thata, Kakak tidak berbohong, anakmu tidak bisa diselamatkan."


"Akkkhhhh tidak mungkin." Thata mengamuk, ia mencabut infus yang berada dipergelangan tangannya sampai tangannya berdarah.


Thata menatap Aron yang berada di sampingnya, "Puas kau sekarang hah? Anakku hilang, kau yang menginginkannya kan? Selamat keinginanmu terkabul Ron."


Aron menggelengkan kepalanya menatap Thata, "Tidak Sayang, jangan bicara seperti itu..."


"Aku membencimu Ron, aku menyesal telah menyelamatkanmu jika tahu aku harus kehilangan anakku."


"Aku membencimu, sangat membencimu, aku muak terus dipertemukan oleh seseorang yang sepertimu Ron." Tangis Thata, tangannya mencengkram baju Aron.


"Pergi kau dari sini! Aku tidak mau lagi melihatmu." Usir Thata menghempaskan badan Aron.


Hansen menarik Thata kedalam pelukannya, "Tha, tenanglah! Jangan terbawa emosi. Semua pasti akan baik-baik saja yah."


"Kakak aku itu sebenarnya berbuat salah apa Kak? Kenapa aku merasa seolah-olah kebahagian tidak mau masuk didalam kehidupanku Kak. Aku lelah Kak, sangat lelah."

__ADS_1


Sakit memang melihat istrinya bisa tenang dipelukan pria lain, tetapi lebih sakit jika tahu bahwa dirinya lah yang menyebabkan istrinya sampai seperti itu.


Bersambung...


__ADS_2