
Berhari-hari sudah Aron membujuk Thata agar mau bicara padanya, tetapi Thata tetap kekeh pada pendiriannya, ia tidak mau melihat Aron lagi.
Aron terduduk lemas didepan pintu ruangan Thata. Setiap kali Aron disitu setiap kali juga Hansen menghembuskan nafasnya panjang.
"Dia masih belum mau bicara padamu?" tanya Hansen duduk disamping Aron.
Aron menggelengkan kepalanya, "Han, tolong bantu aku! Aku ingin bicara padanya." Mohon Aron pada Hansen.
"Ron, mau kau memohon padaku seribu sekalipun, mau tidaknya itu tergantung Thata. Aku sudah berusaha membujuknya, bahkan aku pakai nama sikembar juga, tapi apa. Lihat! Dia tidak mau bertemu denganmu." Jawab Hansen.
"Ya sudah, aku mau beli makanan dulu buat kalian, jaga dia dulu." Hansen pergi meninggalkan Aron.
Tok..tok..tok "Sayang buka pintunya! Aku sekarang ulang tahun Sayang, apa kamu tidak mau bertemu denganku? Aku Merindukanmu, maafkan aku! Buka yah, aku mohon. Agatha Vic..."
Ceklek... Thata membuka pintu ruangan yang sudah lama terkunci untuk Aron.
Aron berdiri tegap menghadap Thata, "Ikut aku!" Ucap Thata, Aron mengikuti Thata.
Thata membawa Aron ke taman yang berada di halaman belakang rumah sakit itu.
"Happy Birthday Ron," ucap Thata tersenyum pada Aron.
"Terima kasih Sayang." Balas Aron.
"Ron, kata Kak Hansen kau sudah tahu masa kecil kita, Clarissa yang menceritakannya bukan?" Thata memandang datar pada arah di depannya, rambut panjangnya sesekali berkibar ketika diterpa oleh angin. Cantik sekali, pikir Aron.
"Iya aku sudah tahu, Sayang ma..."
"Tidak usah berkata maaf, kau tidak salah Ron." Sanggah Thata.
Senyum Thata, entah kenapa bagai belati yang menancap pada dada Aron, sakit, yah terasa sakit, senyum indah itu sekarang terasa amat menyakitkan untuk dilihat.
Thata mengambil sesuatu pada tote bag nya, ia mengeluarkan sebuah kotak makan.
"Aku mau ngasih kamu Coklat yang sama persis seperti coklat yang pernah dihancurkan oleh Clarissa dulu." Thata memberikan kotak itu pada Aron.
"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padamu dulu. Terima kasih sudah menggendongku dan mengantarkanku sampai rumah pada saat itu. Terima kasih sudah menjadi seseorang yang pertama aku lihat ketika aku melihat dunia."
"Ini hadiah pertama dan terakhirku Ron, aku sekarang tidak punya hutang lagi padamu." Ucap Thata tenang sambil tersenyum.
"Tunggu Sayang! Apa maksudmu hadiah terakhir? Kau..."
"Yah benar, aku akan pergi dari kehidupanmu Ron." Saut Thata.
__ADS_1
Aron berjongkok didepan Thata, ia menggenggam erat jemari Thata.
"Tidak, tidak boleh! Kamu harus tetap bersamaku, kamu bilang mencintaiku Tha, aku yakin kamu masih mencintaiku. Jadi jangan bicara yang aneh-aneh yah! Aku tahu aku salah, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi hemm."
Thata tersenyum, ia melepaskan genggaman Aron ditangan kanannya. Tangannya mengulur pada wajah Aron, ia belai wajah yang sudah lama ia tidak sentuh itu.
Thata menatap manik hitam indah milik Aron, ia tersenyum dengan manisnya.
"Ron, I LOVE YOU SO MUCH BUT I HATE YOU." Ucapan Thata, mampu membuat Aron mematung, badannya seketika melemas seperti tidak ada tenang, matanya berkaca-kaca menatap Thata.
"Sayang, maaf. Maafkan aku yah. Jangan pergi dari hidupku! Aku mohon Tha." Aron tak kuat lagi menahan air matanya, ia benar-benar tidak sanggup jika Thata meninggalkannya.
Thata melepas genggaman Aron, ia berdiri dari tempat duduknya.
"Aku sudah memaafkan mu, tapi aku tidak bisa lagi hidup bersamamu. Aku pamit Ron, semoga kau bahagia dengan kehidupanmu tanpa ada aku. Kau bebas sekarang." Ucap Thata berlalu pergi meninggalkan Aron.
Mau sebanyak apapun, Aron memanggil Thata dan meminta maaf padanya, semua sudah terlambat. Hati yang sudah disakiti atau diukir oleh sebuah luka akan meninggalkan bekas atau goresannya.
Memaafkan memang mudah tapi melupakan tentang rasa sakit itu yang sulit, dan sialnya Thata tidak bisa lupa dengan luka yang diberikan oleh Aron.
Hansen meneteskan air matanya ketika melihat Aron dan Thata dari jarak lumayan jauh.
"Cinta kedua orang yang saling menyakiti." Gumam Hansen.
***
Tangan Monika membuka semua kancing piyama Varel, tangannya membelai semua yang berada ditubuh Varel. Tangannya merayap kebagian bawah Varel yang masih tertutup kain.
"Emm," lenguh Varel, ia memeluk gadisnya lebih erat lagi.
Kegiatan mereka semakin panas, Monika mampu membuat Varel bertekuk lutut dibawahnya.
Ketika Varel akan mencapai puncaknya, Monika bangun dari atas tubuh Varel, ia duduk di paha Varel.
"Selanjutnya tidak untuk sekarang Rel," ucap Monika, Varel ikut duduk dengan Monika yang masih berada dalam pangkuannya.
"Kenapa Baby? Aku siap bertanggung jawab kok, aku janji!" Saut Varel, dia masih dengan susah payah menahan sesuatu yang berada dalam dirinya.
Monika tersenyum manis, "Enak iya?' tanyanya. Varel menganggukan kepalanya.
"Aku tidak mau mengotori pria sesuci kamu Rel, aku perempuan pertama yang menyentuh tubuhmu kan?" Varel menganggukan kepalanya.
"Dan ciuman pada saat sebelum kita pacaran, itu juga ciuman pertamamu kan." Tebak Monika. Varel untuk ketiga kalinya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Baby, lanjutkan yang tadi! Aku sudah tidak tahan lagi." Ucap Varel memohon.
"Tidak Rel, aku bukan perempuan bejad yang mau mengotori pacarnya sendiri." Saut Monika menolak.
"Tapi aku ikhlas dikotori olehmu Mon, ayolah Mon. Kau tahu tidak? Rasanya benar-benar menyiksa ketika kau menghentikannya ditengah jalan, seperti ada yang akan meledak tetapi tertahan." Ucap Varel dengan bibir yang maju.
"Astaga aku punya pacar polos sekali, akhh jadi pengin aku kotori dia sekarang juga." ucap Monika dalam hati.
Varel menarik tangan Monika, "Sayang aku mohon!" Monika yang tidak tega dengan Varel ia menuruti kemauan Varel sampai Varel benar-benar puas. Tetapi Varel masih tetap suci yah.
"Terima kasih," ucap Varel di dada Monika, ia menghirup dalam-dalam aroma gadisnya.
"Aiss aku monodaimu menggunakan tanganku." Ucap asal Monika.
Varel tersenyum di dekapan Monika, "Sudah sana mandi gih!" Suruh Monika. "Mandiin dong!" Manja Varel. "Hey malu sedikit kenapa sih jadi cowo." Sungut Monika. "Apa yang perlu aku maluin dari kamu coba? Semuanya juga udah kamu lihat." Saut Varel asal.
"Astaga kenapa Varel jadi menggemaskan begini." Batin Monika.
Sekelebat bayangan perempuan menyebalkan bernama Audrey muncul di otak Varel.
"Rel dulu kamu sama Audrey melakukan apa saja?" Tanya Monika santai, tapi terdengar horor untuk Varel.
"Aku melakukan aneh-aneh hanya padamu Baby." Varel mencolek hidung Monika.
"Sayang ayo menikah! Nanti kita bisa melakukan yang lebih aneh dari tadi."
Plakkk... Monika memukul lengan Varel, "Dasar polos-polos tapi mesum." Sungut Monika.
"Aku penasaran Rel, kenapa kamu putus dengan Audrey? Apa kalian memang belum putus?" tanya Monika menatap Varel.
"Aku malas sekali membicarakannya Mon, tapi kamu yang minta baiklah aku akan menceritakan pada gadis cantikku ini." Gemas Varel ia mencubit pipi Monika.
"Aku mengenalnya pada saat aku masih disekolah menengah atas, dia cinta pertamaku aku berpacaran dengannya. Suatu ketika dia pergi meninggalkanku entah kemana tanpa kabar sedikitpun, tanpa kejelasan hubungan kita. Lalu aku melihatnya diluar negri ketika aku sedang perjalan bisnis dengan Aron juga. Aku melihatnya bersama seorang pria yang aku tahu dia adalah keturunan bangsawan di negara itu. Dari situ aku memutuskannya."
"Kau masih mencintainya tidak? Aku takut kau seperti Aron, Rel."
"Aku rasa kau bisa mengetahuinya sendiri tanpa aku yang menjawab Mon." Ucap Varel sambil menggoda Monika.
"Hehehe," tawa Monika. "Iya juga ya Rel."
"Udah jangan bahas perempuan itu lagi! Aku muak dengannya."
Varel membopong Monika, "Sekarang kita mandi saja, nanti sore kita jenguk Thata oke."
__ADS_1
"Hey lepaskan aku! Kau bisa mandi sendiri Rel." Monika berontak di gendongan Varel.
Bersambung...