PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Kakek itu


__ADS_3

Aron berada disebuah padang rumput yang sangat menenangkan dia sedang duduk disebuah bangku dibawah pohon besar. Aron sedang menggambar disebuah kanvas menggunakan cat minyak. Dia menggambar sebuah bunga tulip berwarna merah.


Aron berada ditempat entah apa namanya seorang diri namun dia merasa sangat betah ditempat itu, dia merasa tenang dan damai.


"Kamu sedang menggambar apa?" tanya seorang pria paruh baya, beliau duduk disamping Aron.


"Bunga tulip merah Kek," jawab Aron sopan.


"Apa kamu tahu arti bunga ini?"


"Tidak tahu Kek, aku menggambarnya hanya karena bunga ini yang selalu muncul dipikirkan ku."


"Bunga itu memiliki arti cinta abadi yang tak terbatas. Apa kamu memiliki seseorang yang sangat kamu cintai Nak? sampai-sampai kamu menggambar bunga yang belum sekalipun kamu lihat"


Aron tampak berpikir, "Aku tidak mengingat apa pun, tapi aku merasa memang memiliki rasa seperti apa yang Kakek katakan tadi." jawab jujur Aron.


"Cobalah untuk mengingatnya sebelum terlambat!"


"Caranya bagaimana Kek? aku tidak memiliki ingatan apa pun, bahkan aku tidak tahu, aku sendiri itu siapa."


Kakek itu terkekeh mendengar jawaban polos Aron. "Pejamkan matamu lalu nanti kamu akan menemukan jawaban kenapa kamu tidak bisa mengingat apa pun!"


Aron memejamkan matanya, tanpa sadar air matanya menetes deras dipipinya, dia membuka matanya lalu menatap Kakek itu yang sedang tersenyum hangat padanya.


"Kakek, aku melihat seorang gadis yang sangat cantik dan 2 makhluk kecil yang sangat cantik dan juga tampan sedang tersenyum padaku, mereka sedang tersenyum padaku tapi kenapa aku malah meneteskan air mata Kek?" tanya Aron bingung, dia mengusap air matanya.


"Karena kamu hanya bisa mengingat mereka, tanpa mengingat apa yang telah kamu alami Nak, kamu meneteskan air mata itu karena perasaan kamu yang lebih dulu memahami kondisi sekarang dibandingkan dengan otakmu."


"Apa kamu mengingat yang lainnya?"


"Iya Kek banyak, dan ada Kakek juga, tapi itu suatu kejadian yang sangat menyeramkan. Ada banyak darah dan suara tembakan disaat aku bisa melihat Kakek." ucap Aron sedikit takut.


"Nak maafkan Kakek yah! jika selama ini Kakek selalu datang pada mimpi burukmu."


"Dengarkan Kakek! Kakek sama sekali tidak menyesal telah menolongmu pada waktu itu, pada saat kematian Kakek, Kakek merasa sangat bahagia telah menyelamatkan nyawamu." Kakek itu menarik nafasnya dalam dan kemudian kembali lagi bercerita.

__ADS_1


"Karena sekarang Kakek tau, jika pria kecil yang pada saat itu Kakek tolong adalah seseorang yang sangat mencintai cucu perempuan Kakek dimasa depannya, dan Kakek yakin dia akan membuat cucu satu-satunya Kakek hidup dalam kebahagiaan."


Kakek itu memegang pundak Aron.


"Waktu Kakek tidak banyak Nak, sekarang coba lah kamu kembali ketempat yang sebenarnya adalah tempatmu!"


"Kakek titip cucu perempuan Kakek padamu dan juga 2 makhluk kecil yang sangat ia sayangi."


Setelah berucap Kakek itu lenyap bagai asap yang terkena hembusan angin ketika memeluk Aron.


Aron mencoba memejamkan matanya, dia tidak tahu bagaimana tapi dia mencoba untuk fokus, dan selang beberapa waktu dia merasakan badannya terasa semakin ringan dan berubah menjadi transparan, kanvas yang tadi ia pegang terjatuh dan tergeletak ditanah.


***


"Awas Mon! Aron bilang padaku jika dia hanya tidur sebentar lalu menyuruhku untuk membangunkannya. Aku mau membangunkannya sekarang Mon, minggir!"


Thata mendorong tubuh Monika sampai Monika hampir terjatuh, untung saja ada salah seorang perawat yang menangkapnya.


Thata mendekat ke badan Aron yang sudah ditutupi oleh kain berwarna putih, ia buka kain itu lalu menampakan wajah Aron yang sudah pucat dengan beberapa luka jahitan di wajah Aron.


"Sayang bangun! Kamu bilang jika akan tidur sebentar saja bukan? Sekarang bangun yah Sayang, kita jalan-jalan lalu makan romantis seperti yang kamu ucapkan semalam." ucap Thata dia memeluk badan Aron erat.


"Sayang bangun! Kamu berjanji padaku untuk selalu bersamaku." ucapnya terjeda.


"Tapi kenapa kamu malah meninggalkanku secepat ini, tolong jangan jadikan hari ulang tahunku sebagai hari peringatan kematian mu Ron."


Semua orang yang berada disitu ikut meneteskan air mata ketika mendengar ucapan Thata.


Rara tiba-tiba melepaskan pelukannya pada Varel, dia berjalan ke arah tengah ruangan itu.


"Aku tahu Daddy masih disini bersama kita, aku merasakan kehadiranmu Dad." ucap Rara berteriak.


Monika mendekat ke Rara dia takut jika Rara, mengalamai tekanan batin karena kepergian Aron.


"Sayang jangan begini yah, ikhlaskan Daddymu yah."

__ADS_1


"Tidak akan pernah aku ikhlakan Daddy tan, Daddy hanya sedang berpisah dengan raganya saja Tan." sangkal Rara, dia menghempaskan tangan Monika yang ingin memeluknya.


"Daddy tolong buktikan jika omonganku benar jika Daddy masih berada disini, tolong Dad, aku benar-benar merasakan kehadiranmu Dad." Rara terduduk lemas dilantai dia menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Rara ikhlaskan Daddymu pergi ya sayang." Monika memeluk Rara.


"Daddy masih disini Tan, Daddy masih bersama kita Tan, tolong jangan bilang jika Daddy pergi meninggalkan kita. Karena Daddy sudah berjanji padaku untuk selalu bersamaku." ucap Rara lirih dipelukan Monika, gadis ceria yang selalu tersenyum itu kini terlihat sangat menyedihkan, air matanya tak berhenti keluar dari mata yang sangat mirip dengan Daddynya.


Rion ingin sekali mendekap adiknya lalu menenangkannya, namun keadaan dia juga sama seperti Rara, bahkan untuk berdiri saja kaki Rion rasanya tidak kuat.


Thata melihat kedua anaknya, dia tersadar jika disini bukan hanya dirinya yang merasakan kehilangan Aron, namun kedua anaknya yang masih kecil itu pasti lebih merasakan kehilangan, baru saja mereka bertemu dengan Daddy mereka. Sekarang Daddynya akan pergi untuk selama-lamanya.


Thata menghapus air matanya, dia harus kuat untuk kedua anaknya. Thata ingin berjalan kearah Rara namun tangannya tiba-tiba digenggam oleh seseorang.


Suara alat kehidupan Aron kembali menunjukan tanda-tanda kehidupan, para Dokter dan perawat yang melihat itu langsung mendekat kearah Aron berada.


Thata masih terdiam mematung, apa ini mimpi? Suaminya kembali hidup, Suaminya menepati janjinya, benarkah?


Thata meneteskan air matanya namun bibirnya tersenyum sambil menatap tangan Aron yang menggenggam tangannya, "Aku tau kamu pasti menepati janjimu Ron."


Thata melepaskan tangan Aron, dia mengecup kening Aron sebelum para dokter yang akan kembali membantu agar Aron tetap hidup.


Thata medekat kearah kedua anaknya, "Ayo sayang keluar dulu, biarkan para Dokter menangani Daddy kalian dengan tenang." Thata mencoba tersenyum didepan kedua anaknya.


"Mommy aku banar kan jika Daddy masih berada disini, sekarang lihat! Daddy kembali masuk kedalam raganya Mom." ucap Rara bahagia, yang sedang berada digendongan Thata. Thata hanya menganggukan kepalanya sambil mengelap air mata Rara.


Rion tersenyum mendengar ucapan Rara, dia sudah menduga jika Daddynya tidak akan pergi secepat ini.


"Aku menyayangimu Dad, terima kasih untuk tetap bertahan dan tidak meninggalkan kami bertiga. Kita akan menjaga Mommy dan juga Rara bersama-sama itu janji kita sebagai seorang pria kan, Dad."


Bersambung...


...Hay hay, jangan lupa like, komen, vote, tambahkan ke favorit dan search keorang-orang yang kalian kenal yah. Aku tunggu apresiasi kalian🤗 Terimakasih🙏...


Hay gays🖐️ aku up 2 bab nih hari ini, biar kalian gak terlalu greget bacanya🤗

__ADS_1


Hehehe maaf ya, aku bikin Aron meninggal kemarin, tapi udah aku hidupkan lagi kok sekarang🥰


Semoga kalian selalu suka dengan cerita yang aku buat✨


__ADS_2