PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Sebelum Aron Kecelakaan


__ADS_3

5 hari sebelum ulang tahun Thata tiba.


Aron sedang membuat kalung untuk Thata, ia berjalan menyelusuri jalanan kota untuk menemukan inspirasi.


Brakkk... Aron menengok kearah sumber suara, dia melihat seorang anak kecil yang usianya sama dengan sikembar, anak kecil itu terjatuh dari sepedanya.


Aron membantu anak kecil itu berdiri, "Kamu gak papa? Apa ada yang sakit? Ayo kita ke dokter!" panik Aron.


"Aku tidak papa Paman, terima kasih telah menolongku."


Aron membantu anak kecil itu mengobati luka yang berada lutut dan beberapa dibagian badan yang lainnya.


"Ayo paman antar pulang kerumahmu!"


Awalnya anak kecil itu menolak, namun Aron tetap memaksa dengan iming-iming akan memberikan es krim, anak kecil itu tentu saja tergiur dengan iming-iming yang akan Aron berikan.


"Baiklah ayo paman antarkan aku pulang." ucap anak kecil itu semangat, dia bahkan sampai melompat-lompat saking senangnya, padahal lututnya sedang terluka.


15 menit Aron menjalankan mobilnya, dia menghentikan mobilnya disebuah rumah yang terasa amat asri dengan banyak bunga-bunga di sekelilingnya.


Anak kecil itu sudah memegang satu kantong berisi eskrim yang banyak dan juga sambil menggenggam tangan Aron, anak itu membawa Aron kedalam rumahnya.


"Mamah," panggil anak kecil itu pada seorang perempuan yang sedang merangkai bunga. Perempuan itu mendekat ke arah Aron dan anak kecil itu.


"Sayang kenapa dengan lututmu?" tanyanya sambil berjongkok didepan anak kecil itu.


"Aku tidak papa, Mah. Aku tadi jatuh dari sepeda lalu ditolong oleh paman baik hati ini Mah, dan aku dikasih banyak es krim hehehe." jawan anak kecil itu dengan semangatnya.


Aron sedari tadi tidak mendengarkan percakapan anak dan ibu itu, dia sedang terfokus pada bunga berwarna ungu dan pink yang sangat menarik untuk ia pandang. Entah bagaimana dia bisa merasakan sesuatu ketika melihat bunga itu.


"Tuan," panggil Mamah anak kecil itu, Aron tidak menyautinya. "Tuan, maaf sudah merepotkan anda, membawa Chiko kemari dan membelikan es krim yang sangat banyak untuknya."


"Tidak papa, aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehnya." Aron berjongkok mensejajarkan badannya dengan tinggi badan anak kecil itu. "Paman sampai lupa menanyakan namamu, jadi namamu Chiko yah?"


"Iya Paman, namaku Chiko."


Aron membelai rambut Chiko, "Nama yang bagus dan cocok untukmu." Aron tersenyum.


"Tuan saya sangat berterima kasih pada anda telah menolong anak saya, boleh saya tau nama Tuan?"


"Panggil saja Aron," ucal Aron singkat.


"Baiklah tuan Aron, anda bisa memanggil saya Nania." Aron hanya menganggukan kepalanya, sedangkan Nania sudah bersemu merah pipinya.


"Nona boleh saya bertanya pada anda?"

__ADS_1


"Em em iya boleh Tuan." ucap Nania tergagap, jantungnya berdetak dengan kencang ketika menatap Aron.


"Bunga itu namanya apa?" Aron menunjuk salah satu bunga yang sudah menarik perhatiannya sejak pertama kali masuk kerumah Chiko.


"Itu namanya Sweet Pea Tuan,"


"Bunga itu melambangkan apa?"


"Ucapan Rasa terima kasih yang sangat mendalam pada seseorang yang spesial dan..." Belum juga Nania menyelesaikan ucapannya sudah langsung dipotong oleh Aron.


Aron tersenyum senang, "Baiklah, terima kasih Nona, saya mau pamit dulu."


"Chiko paman pamit yah, nanti kalau mau main sepeda lagi harus hati-hati yah!"


"Baik Paman." ucap Chiko tegas.


Aron pergi dengan senyum yang terus terbit dari bibirnya.


"Akhirnya aku menemukan sesuatu yang bisa kujadikan simbol untuk kalung Thata."


"Tuan itu kenapa memotong pembicaraanku sih, bunga itu kan buat ucapan selama tinggal." batin Nania, dia terus melihat mobil Aron sampai benar-benar tidak terlihat, barulah ia kembali masuk kedalam rumahnya.


***


10 Agustus.


"Akhh sialan, ternyata ini semua hanya akal busuk perempuan tidak tahu malu itu." umpat Aron marah.


Ketika Aron datang ditempat kejadian, dengan cepat dia bisa tahu asal mu asal proyek yang dibangunya mengalami kegagalan dan sampai menewaskan 10 orang pekerja. Dan dalang dari semua itu adalah Lolita, gadis yang dikira tidak akan berbuat sampai sejauh ini, ternyata malah berbuat licik bahkan tidak segan-segan untuk menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah.


"Lalu apa yang akan kita lakukan padanya Ron? Mau membawanya langsung kekantor polisi atau menyiksanya terlebih dahulu?" tanya Varel yang juga sedang dikuasai emosi.


"Penjara itu terlalu ringan untuk wanita terkutuk sepertinya Rel, kita ikuti permainannya terlebih dahulu. Aku penasaran siapa yang berada dibelakangnya sampai-sampai perempuan manja sepertinya bisa bertindak nekat seperti sekarang. Dan aku juga belum tahu dengan jelas motifnya."


Tok.. tok.. tok Varel dan Aron menatap dia sudah tahu siapa yang mengetuk pintu itu.


"Kamu tau harus melakukan apa Rel," Varel menganggukan kepalanya mantap.


Varel membuka pintu kamar hotel, Lolita masuk dan langsung menghampiri Aron yang sedang duduk sambil menyeruput teh hijaunya.


Varel pergi begitu saja meninggalkan Aron.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Aron datar.


"Aku ingin menemani kakak dong, aku tau kakak berada disini dari orang tuaku." Lolita dengan gaun yang kekurangan bahannya, tanpa malu duduk di meja depan Aron.

__ADS_1


"Astaga sangat menjijikan sekali perempuan ini." Batin Aron berteriak.


Aron berdiri, "Kakak mau kemana?" tanya Lolita. "Mau ke kamar mandi, ada sesuatu yang harus aku siapkan." ucap Aron asal namun terlihat serius.


Lolita tersenyum penuh arti, dia sudah membayangkan yang tidak-tidak.


"Baiklah Kak, jika butuh bantuan bilang saja."


Aron pergi menuju kamar mandi, dia merinding dengan apa yang dipikirkan Lolita untuk melakukan sesuatu rencana padanya.


Aron masuk kekamar mandi, selamg 5 menit lampu kamar hotel itu mati seketika.


Lolita yang memiliki ketakutan dengan kegelapan, dia sudah sangat gusar, dan berdiri lalu berjalan untuk menyusul Aron.


"Kak, tolong! Aku takut kegelapan." ucap Lolita ketakutan.


Ceklekkk pintu kamar mandi terbuka, "Lakukan pekerjaanmu dengan baik." ucap Aron, dia menepuk pundak seorang pemuda yang memiliki postur tubuh sangat mirip dengannya dan juga suara yang persis seperti Aron.


"Baik tuan!" Pemuda itu keluar dari kamar mandi lalu menghampiri Lolita.


Pemuda itu menuruti semua kemauan Lolita, yang Lolita inginkan, dari yang hanya cium-cium sampai celup-celup mereka lakukan.


Lolita sungguh benar-benar sangat bahagia, yang dia kira seorang pria yang sedang menghangatkannya adalah Aron.


Aron keluar dari kamar itu menggunakan kacamata khusus yang bisa melihat dalam keadaan gelap.


"Akhirnya bisa keluar juga, suara mereka benar-benar menjijikan." Aron masih merinding membayangkan betapa pemuda bayarannya itu menaklukan Lolita.


Aron memasuki mobilnya, "Akhirnya selesai, sekarang tinggal menemui istri cantik kesayanganku." Aron melajukan mobilnya secepat yang dia bisa, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya.


Lampu kamar hotel itu menyala, Lolita tersenyum dengan tenaganya yang sudah terkuras habis, dia menatap pria yang diduga Aron. Betapa kagetnya dia ketika melihat pemuda yang sedang tersenyum mengejek padanya.


"Kenapa? Kaget iya? Kau pikir bisa semudah itu mengelabui Tuan Aron hah?"


"Jadi aku tadi..."


"Yah benar kau tadi tidur denganku." Pemuda itu selesai memakai pakaiannya.


"Tidak kau pasti bohong," sangkal Lolita.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi mungkin kau akan percaya jika sudah ada benihku yang berkembang diperutmu. Kau bisa tes DNA, dan akan aku pastikan itu bukan bayi dari Tuan Aron." Brakkk... Pemuda itu menutup pintu kamar hotel dengan keras.


Lolita mengambil ponselnya.


"Aku perintahkan padamu untuk melenyapkan Kak Aron sekarang juga! jika aku tidak bisa memilikinya maka perempuan itu juga tidak aku ijinkan untuk bisa memiliki Kak Aron. Kak Aron lebih baik mati, lalu aku akan menyusulnya dan menemani dia didunia yang berbeda nanti." ucap Lolita penuh dengan amarah. Lolita menutup panggilan itu lalu membuang ponselnya sampai layar ponsel itu retak karena membentur tembok.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2