PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Sabarnya Seorang Hansen


__ADS_3

Clarissa meringkuk kedinginan, dia mengenakan baju yang tipis dan badannya menempel langsung pada lantai di dalam sebuah sel penjara. Yang tidak lain sel penjara itu milik Thata, segala siksaan yang diberikan oleh sikembar seakan tak ada ujungnya. Kesal, marah, menyesal semua bercampur menjadi satu.


"Makanlah!" suruh Hansen yang tengah malam datang diam-diam.


Clarissa mendekat pada Hansen yang berada diluar sel, "Kenapa kamu baik padaku?" tanya Clarissa, ia heran dengan apa yang dilakukan oleh Hansen. Terkadang Hansen datang pada tengah malam untuk memberikan makanan-makanan yang enak pada dirinya.


"Karena kamu tidak boleh meninggal dulu, sampai kamu mau mengasih tahuku semua tentang Dirgantara." ucap Hansen dengan mata yang tajam, Clarissa menatap Hansen yang sedang berada persis didepannya, Hansen sedang berjongkok didepan Clarissa.


"Disaat semua orang fokus pada penyiksaan ku, hanya pria ini yang fokus pada Dirgantara, dia pintar, dia tahu tentang arti memanfaatkan. Menarik, andaikan aku dahulu bertemu dengannya dulu, sekarang aku tidak akan seperti ini."


"Jantungku berdebar ketika melihat pria ini, apa aku menyukainya? Tidak, tidak boleh dia tidak pantas untukku, dia terlalu sempurna." Ucap Clarissa dalam hati.


"Heh jangan hanya diam, aku disini untuk mendengarkan suaramu. Jangan membuang-buang waktuku."


"Aku ingin melihatmu lebih lama disini." Batin Clarissa.


Clarissa makan dan pura-pura tidak meghiraukan ucapan Hansen, ingin sekali Hansen memukul Clarissa. Tapi apa yang bisa ia pukul, badan Clarissa hanya tinggal kulit dan tulangnya saja, sangat kurus dan tidak terawat.


"Sabar Han sabar, ini ujian." Gumam Hansen, Clarissa yang dapat mendengarkan gumaman Hansen ia tersenyum sambil menundukan kepalanya.


Hansen melihat Clarissa aneh, "Hey kalau makan pelan-pelan aku tidak akan merebutnya." ucap Hansen cetus.


"Sering-seringlah berikan aku makanan seperti ini." Saut Clarissa tanpa rasa malu.


"Ada ya tahanan yang ngelunjak seperti kamu?"


"Ada, aku contohnya." Jawab sekenanya Clarissa.


"Sialan aku menyesal membawakan makanan buat kamu, bukannya mendapat kabar baik malah jadi emosi." Kesal Hansen.


"Tunggu selesai aku makan, aku akan mengatakan sesuatu padamu."


Hansen mendudukan dirinya dan bersandar pada dinding sel, ia memainkan game di ponselnya. Langit yang semakin menggelap membuat Hansen sesekali menguap, berulang kali ia melihat Clarissa. Clarissa masih makan dan tidak mau diganggu.


Selang beberapa waktu kemudian...


Ponsel Hansen terjatuh dipahanya, matanya menutup rapat karena sudah tidak bisa lagi menahan kantuk.

__ADS_1


"Tampan." Puji Clarissa, ia merapihkan wadah makanan yang dibawa Hansen.


Clarissa mengambil secarik kertas dan pena yang tadi sempat diberikan Hansen. Tangan yang tak halus lagi seperti dulu itu menulis pada lembaran kertas. Selesai ia melulis, kertas dan juga pena ia taruh pada samping tangan Hansen.


Clarissa bersandar pada tembok sambil menatap seorang pria yang sedang tertidur hanya menggunakan celana kolor dan kaos saja, namun terlihat sangat tampan.


"Kau pasti kedinginan, tapi maaf aku tidak mau membangunkanmu. Aku masih mau melihatmu lebih lama, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Karena ketika aku bangun besok pagi, aku tidak tahu kalau nyawaku masih berada di badan ini atau tidak." ucap Clarissa.


"Good night." Guman Clarissa, setelah lama ia memandangi Hansen, Clarissa menutup matanya ketika melihat Hansen sudah terbangun. Clarissa berpura-pura tertidur.


Hansen yang sudah bangun menemukan kertas yang berada disamping tangannya.


Hansen tersenyum setelah membaca satu kalimat yang ditulis oleh Clarissa.


"Cari sebuah brangkas yang berada di apartemen Dilon, kau akan menemukan sesuatu tentang keluarganya." Pesan yang ditulis oleh Clarissa.


Hansen pergi meninggalkan Clarissa yang ia pikir Clarissa sudah tertidur.


***


Hari yang sangat-sangat ditunggu Aron pun datang, hari dimana sahabat tercintanya yaitu Varel kembali dari bulan madunya.


Raut kesal Varel dan raut bahagia Aron dapat dilihat dengan jelas di kedua pria tampan itu.


"Udah jangan cemberut mulu kenapa sih Rel, udah bulan madu lama juga." ucap Aron dengan nada datarnya, namun sebenarnya ia sedang menahan tawa karena melihat wajah melas Varel.


"Tapi masih kurang Ron, kamu memang menyebalkan, kemarin waktu kamu nelpon aku, aku sedang itu bersama istriku. Malah kamu ganggu, sialan kau memang." Kesal Varel.


"Bhuahahaha," tawa Aron pecah. "Sory bro, aku gak tau. Bisa lanjut kapan-kapan lagi kok tenang aja."


"Sebenarnya kenapa harus secepat ini aku disuruh pulang Ron, padahal nambah 1 minggu lagi aku rasa masih oke."


"Aku mau libur dulu Rel, aku mau menulihkan ingatanku tentang kejadian itu." ucap Aron datar.


Varel menatap Aron serius, ia tahu bagaimana Aron sangat ketakutan ketika sedang bermimpi tentang kejadian itu. Dan sekarang apa? Ia malah mau memulihkannya, sudah gila memang sahabanya yang satu ini, pikir Varel.


"Kau gila Ron?"

__ADS_1


"Tenang saja Rel! Aku sudah tidak takut lagi, dan aku harus secepatnya mengembalikan ingatanku sebelum nantinya mereka bergerak terlebih dahulu."


"Maksudmu?" tanya Varel yang penasaran.


"Ceritanya panjang Rel, nanti aku akan ceritakan padamu, sekarang aku sudah ada janji dengan seseorang. Kau jagalah kantor jika ada yang mau menemuiku kau wakilkan saja."


"Baiklah, kalau ada apa-apa kau harus mengabari ku!"


"Hemm."


***


Dua orang perempuan cantik sedang duduk disebuah kafe yang sedang hitz itu.


"Bagaimana bulan madu mu hem?" tanya Thata.


"Luar biasa, aku harus berterima kasih pada Aron, karena dia sudah membuat Varel mampu membuatku terbang berkali-kali." jawab Monika spontan tanpa rasa malu.


"Varel memang tidak salah berguru kalau masalah seperti itu memanglah Aron suhunya." ucap Thata dalan hati.


"Bagus deh kalau gitu, pertama kalinya kamu tidak mengecewakan." saut Thata.


"Aku penasaran dengan nasib perempuan itu Tha, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Monika penasaran akan keadaan Clarissa.


"Kau bisa lihat sendiri di markas, yang jelas. Keadaanya yang sekarang sangat berbeda dengan dulu." jawab Thata santai.


"Jelas lah Tha, dia sudah menjadi mainan sikembar tentu saja tidak akan kata baik-baik saja di hidupnya."


"Yah kau tahulah sendiri, betapa kejamnya mereka berdua ketika menangani seseorang yang sudah mengusik kehidupan meraka." Monika mengangguk-anggukan kepalanya paham.


"Mon dari tadi ada yang mengawasi mu, apa kau sedang punya masalah dengan seseorang?"


"Siapa dia? orang-orang yang ia kirim bukan orang yang sembarangan." ucap Thata, matanya sedari tadi gatal melihat ada seseorang yang terus mengawasi mereka.


"Mungkin suruhan dari mantan Varel, Tha." Thata mengerutkan keningnya bingung. "Mantan Varel yang bernama Audrey itu berusaha mendekati Varel kembali. Mungkin dia menyuruh orang untuk mengikuti ku, karena dia sedang mencari kelemahan ku." jelas Monika


"Berhati-hatilah! aku tidak mau sampai kau kenapa-kenapa Mon." ucap Thata khawatir.

__ADS_1


"Tenang saja Tha, seorang Monika tidak akan dikalahkan oleh perempuan manja itu. Dia tidak ada apa-apanya jika di bandingkan denganku." Thata tersenyum setelah mendengar ucapan dari sahabatnya yang terlihat sangat percaya diri itu. Tapi apa yang dikatakan oleh Monika, Thata percaya jika Monika mampu menghadapi pelakor di dalam rumah tangga yang sangat baru itu.


Bersambung...


__ADS_2