
"Nenek nona juga membuat kesalahan!" Jawab Jim.
(DEG) "Apa?!" Ucap Layla kaget.
"Ya yang seperti kita tau bahwa kakek nona Layla, yaitu tuan Harry, bukanlah orang yang pemaaf! Jadi pastilah nenek nona juga membuat kesalahan. Oleh karena itu, dia menghilang begitu saja!" Ucap Jim.
"Hm.. iya kau benar. Sepertinya memang begitu. Karena nenek hilang secara tiba-tiba. Aku pun juga tidak tau pasti kenapa nenek bisa tiba-tiba hilang. Jika aku bertanya pada kakek, dia pasti akan selalu menjawab bahwa nenek sudah meninggal karena sakit!" Ucap Layla.
"Iya itu benar. Dan apa nona pernah melihat jasad nenek nona?" Tanya Jim.
"Tidak pernah." Jawab Layla sedih.
"Maka sudah dipastikan bahwa kakek nona adalah pelakunya! Dialah yang telah membunuh nyonya Blaire!!" Ucap Jim.
"Iya, kau benar! Kakekku itu memang jahat! Aku tidak menyangka dia akan menyakiti istrinya sendiri! Bahkan sekarang, dia menyakiti seluruh keluarganya! Aku tidak akan pernah memaafkannya! Aku sangat membencinya! Aku sangat membenci kakek!!" Ucap Layla marah.
"KAKEK JAHAT!" TERIAK LAYLA.
"Hiks hiks. Kakek bahkan memisahkanku dari keluargaku. Sekarang aku harus bagaimana pak Jim? Aku harus bagaimana?!! Aku sendirian sekarang!! Hiks hiks." Ucap Layla yang langsung menangis.
"Sabar nona. Saya ada di sini bersama nona. Saya akan selalu bersama nona. Jadi nona jangan khawatir!!" Ucap Jim yang langsung memeluk Layla.
"Hiks hiks. Tapi aku takut kau juga kenapa-napa pak Jim. Sekarang yang kupunya hanyalah kau! Bagaimana kalau kakek juga menyakitimu?!!" Ucap Layla.
"Kalau begitu, nona Layla harus bisa bertahan sendiri! Nona Layla harus berjuang sendiri! Nona Layla tidak boleh menyerah begitu saja! Mau ada saya atau tidak, nona Layla harus tetap hidup dengan baik!!" Ucap Jim.
"Hiks tapi aku tidak mau ditinggal sendirian pak Jim! Kau harus selalu bersamaku!! Aku mohon, teruslah bersamaku!! Aku tidak mau ditinggal sendirian!! Huwaaa.." Ucap Layla yang langsung menangis histeris.
"Aku tidak mau hidup sendiri!" Ucap Layla yang langsung memeluk Jim dengan sangat erat.
"Hm.. baiklah nona. Saya tidak akan meninggalkan nona!" Ucap Jim.
"Kau janji?!" Ucap Layla.
"Iya, saya janji." Ucap Jim sembari tersenyum.
"Hiks terima kasih pak Jim. Aku tidak akan membiarkan kakek menyakitimu! Sudah cukup dia menyakiti orang terdekatku! Sekarang aku tidak akan membiarkannya lagi! Aku sangat membencinya!!" Ucap Layla marah.
"Iya nona. Saya mengerti. Perilaku tuan Harry itu memang sangat salah! Jadi dia sangat pantas untuk dibenci!" Ucap Jim.
"Hiks iya kau benar! Semoga saja kakek membusuk di neraka!!" Ucap Layla.
"Hm iya nona. Semoga saja keinginanmu terkabul! Tuan Harry pun juga harus merasakan rasa sakit yang sama seperti kita!!" Ucap Jim.
"Iya kau benar! Aku pasti akan membalasnya!" Ucap Layla.
__ADS_1
"Iya nona. Saya pun juga akan membalas perbuatannya!" Ucap Jim.
"Hiks iya." Ucap Layla yang masih saja menangis.
"Hm. Kalau begitu, ayo kita kembali ke rumah. Mata nona tidak boleh sampai bengkak. Nanti tuan Harry bisa curiga! Besok kan nona harus pergi menemuinya!" Ucap Jim yang langsung melepas pelukannya.
"Ah iya, kau benar! Mataku tidak boleh sampai bengkak!" Ucap Layla yang langsung menghapus air matanya.
"Iya. Oleh karena itu, jangan menangis lagi. Jangan buang air mata berhargamu untuk dia! Dia tidak pantas untuk ditangisi!" Ucap Jim yang langsung menghapus air mata Layla.
"Iya kau benar pak Jim! Dia memang tidak pantas untuk ditangisi! Kakekku itu memang benar-benar jahat! Dia itu iblis! Sekarang ayo kita kembali ke rumah! Karena besok aku harus pergi menemui kakek!" Ucap Layla.
"Iya. Ayo nona." Ucap Jim yang langsung berdiri dan langsung mengulurkan tangannya.
"Iya pak Jim. Ayo!" Ucap Layla yang langsung memegang tangan Jim.
Lalu mereka berdua pun langsung kembali ke rumah
"Sekali lagi, terima kasih ya pak Jim. Berkat kau, aku jadi merasa tenang sekarang!" Ucap Layla sembari tersenyum.
"Iya nona. Sama-sama. Saya senang kalau nona sudah merasa tenang sekarang!" Ucap Jim sembari tersenyum.
"Hm iya. Rasanya aku seperti sedang berbicara dengan papa deh. Rasanya benar-benar sangat menenangkan! Kau benar-benar sudah seperti ayah keduaku pak Jim!" Ucap Layla sembari tersenyum.
"Kau juga sudah seperti putriku sendiri nona Layla." Ucap Jim sembari tersenyum.
"Sama-sama." Ucap Jim sembari tersenyum.
Lalu mereka berdua pun sampai di rumah ~
"Nah sekarang masuklah ke dalam kamarmu. Lalu tidur. Besok kau akan bertemu dengan tuan Harry! Tapi jangan menunjukkan hal-hal yang mencurigakan ya nona. Dan jangan beritahukan percakapan kita barusan pada tuan Harry! Karena kalau tuan Harry tau, itu bisa sangat berbahaya bagi keselamatan kita berdua!" Ucap Jim.
"Hm iya, aku paham. Aku tidak akan memberitahukan percakapan kita barusan pada kakek! Dan aku juga tidak akan menunjukkan hal-hal yang aneh padanya! Aku akan bersikap biasa saja, seperti biasanya!" Ucap Layla.
"Bagus! Besok kita akan lihat, kita akan dibawa ke mana oleh tuan Harry. Jadi persiapkan dirimu nona!" Ucap Jim.
"Iya pak Jim! Dan kuharap, besok aku bisa bertemu dengan keluargaku. Karena aku sangat merindukan mereka! Semoga saja, kakek tidak menyakiti mereka. Karena aku tidak mau mereka kenapa-napa!" Ucap Layla sedih.
"Iya. Kau tenang saja nona Layla. Semoga saja mereka semua baik-baik saja." Ucap Jim sembari tersenyum.
"Iya semoga saja. Kalau mereka sampai kenapa-napa, aku pasti akan langsung membunuh kakek!" Ucap Layla dengan tatapan tajam.
"Hm. Dan aku juga tidak akan menghentikanmu nona!" Ucap Jim.
"Ya tentu saja! Kau tidak boleh menghentikanku!" Ucap Layla.
__ADS_1
"Hm iya." Ucap Jim.
"Yasudah kalau begitu, aku ke kamar dulu pak Jim. Sampai jumpa besok!" Ucap Layla.
"Iya nona Layla. Tidur yang nyenyak!" Ucap Jim.
"Iya pak Jim. Kau juga!" Ucap Layla.
"Iya. Selamat malam." Ucap Jim.
"Selamat malam juga." Ucap Layla sembari tersenyum.
Lalu Layla pun pergi
"Haah.. keluarga ini memang benar-benar rumit!' - dalam hati Jim.
Lalu Jim pun langsung mengunci pintu rumahnya
Tiba-tiba..
TRINGGG - HP JIM BERBUNYI
TIT
Jim pun langsung mengangkat teleponnya
"Halo?" Ucap Jim.
"Halo. Apa Layla sudah ada bersamamu?" Tanya (...).
"Iya. Nona Layla sudah ada bersamaku!" Jawab Jim.
"Bagus! Terus awasi dia dan jalankan rencana kita dengan baik!" Ucap (...).
"Ya. Pasti! Aku sudah melakukannya dengan baik!" Ucap Jim.
"Bagus! Aku selalu bisa mengandalkanmu Jim! Kalau begitu, aku tutup teleponnya." Ucap (...).
"Ya." Ucap Jim.
TUT
Telepon pun dimatikan
... - Jim dengan wajah datarnya.
__ADS_1
To Be Continued...