
Suara kicauan burung membangunkan seorang pria tampan bernama Aron, Aron menggeliat namun badannya terasa berat seperti ada yang memeluknya, dan di dadanya seperti ada hembusan nafas yang hangat. Aron membuka matanya lalu mengerjap cepat dan mengucek matanya, dia memastikan bahwa yang berada di depannya bukan mimpi namun kenyataan. Yah sampai detik ini pun Aron belum percaya jika dia bisa menikahi gadis yang membuatnya menjadi sosok pria setia yang hanya mencintai cinta pertamanya.
Aron mensejajarkan wajahnya dengan wajah Thata. Ia pandang wajah cantik Thata yang terlihat lembut dan teduh, rambut pannjangnya Aron belai dengan sayang, ketika ada sinar matahari yang mengarahkan sinarnya pada wajah Thata melalui celah-celah jendela, Aron menutupi wajah Thata menggunakan telapak tangannya. Agar tidur Thata tidak terganggu oleh sinar matahari.
Lama Aron memandangi Thata, sampai Thata menggeliat.
Thata mengerjapkan matanya. "Morning my Wife."
"Emm Morning Ron." ucap Thata dengan suara seraknya.
"Kamu cantik sekali kalau sedang tidur." Puji Aron.
"Berarti kalau gak tidur gak cantik gitu?"
"Tentu saja cantik dong, masa perempuan secantik ini dibilang gak cantik, kalau ada yang bilang gitu mata orang itu katarak sayang."
Thata terkekeh lucu mendengar ucapan Aron.
"Sayang ikut aku keperusahaan yah nanti, sehabis ngantar anak-anak ke sekolahan baru."
"Kalau ikut aku ngapain disana? Nanti malah ganggu kamu."
"Sayang adanya kamu itu memberi semangat untuku, ikut yah! Please." ucap Aron dengan wajah menggemaskan.
"Oke deh tapi aku nanti nonton drakor yah, nungguin kamu kerja pasti lama."
"Suka banget yah sama drakor hemm."
"Iya sejak datang kenegera ini."
"Lakukan apapun yang kamu mau."
"Udah sana mandi Ron! aku siapin keperluannya sikembar dulu."
***
Ceklekkk.. Thata masuk kedalam kamar putrinya.
"Udah mandi yah, kamu wangi sekali sayang."
"Iya Mom Rara wangi, ini sabun yang di belikan oleh Daddy."
"Mommy aku mau rambutnya dikepang."
Thata mendekati anaknya, dia mengepang rambut panjang Rara.
"Bagus Mom, terima kasih." ucap Rara setelah Thata selesai mengepang rambutnya.
"Mommy ke kamar kakakmu dulu yah." Rara menganggukan kepalanya.
Thata masuk kekamar anak laki-lakinya, dia melihat anaknya sudah selesai mandi dan sedang memakai baju seragamnya sambil memasang dasi.
"Sini Mommy pasangin." Rion mendekat kearah Thata, Thata memasangkan dasi Rion.
__ADS_1
"Sudah selesai, kamu tampan sekali sayang."
"Apanya yang tampan Mom, muka Rion banyak luka gini."
"Tapi kamu tetap tampan sayang seperti Daddymu."
"Cie yang muji suami sendiri." Ledek Rion.
"Emang kenapa kalau muji suami sendiri hem?"
"Yak gak papa dong, em Mommy bahagia gak nikah sama Daddy?" Thata tersenyum.
"Sayang lihat Mommy! Kamu lihatnya Mommy bahagia atau tidak?"
"Hemm Mommy terlihat bahagia." Rion tersenyum lebar.
"Nah itu kamu tahu, Mommy mau bilang makasih sama Kamu dan Rara, berkat kalian Mommy sekarang bisa memeliki suami seperti Daddy kalian."
"Sama-sama Mom, kebagiaan Mommy kebahagian aku juga."
"Udah sana Mommy mandi, nanti Daddy kebauan lagi." Rion menutup hidungnya.
"Dasar anak nakal berani-beraninya ngatain Mommy."
Muachhh... Thata mencum pipi Rion dan kembali kemarnya.
***
"Ron sini aku pasangin dasinya." Aron tidak menjawab namun memajukan badannya.
Thata memasangkan dasi Aron dengan kaki yang berjinjit sedikit.
"Gak baca lagi itu berkasnya hem."
"Kamu lebih menarik sayang." Thata hanya tersenyum mendengar gombalan Aron.
Thata selesai memasangkan dasi dan merapihkan baju Aron, dan membenarkan rambut Aron menggunakan tangannya.
"Sudah selesai."
"Terima kasih."
"Sama-sama, aku mandi dulu kata Rion kamu bisa kebauan bau badan aku."
Pengantin baru itu terkekeh bersamaan, Thata masuk kamar mandi dan Aron kembali fokus pada berkas-berkasnya.
Diruang makan Aron sudah membawa sikembar untuk duduk dikursi meja makan, Aron kembali kekamarnya untuk melihat Thata.
"Sayang ayo kita sarapan, Rion dan Rara sedang menunggumu loh." ucap Aron yang mencari-cari keberadaan Thata.
"Ayo." saut Thata keluar dari ruang ganti.
Aron menatap bengong melihat penampilan Thata, sampai harus memerlukan waktu untuk Thata membawa Aron keruang makan.
__ADS_1
***
Mobil yang dikendarai Varel sampai di depan pintu masuk Sandres Group, satpam membukakan pintu mobil Aron.
Aron menggandeng Thata dengan mesranya. Seperti biasa Thata menggunakan masker untuk menutupi wajahnya, Aron yang terkadang bingung kenapa Thata sering menggunakan masker, sekarang dia tahu jika masker adalah penutup kecantikan Thata. Aron yang melihat untuk pertama kalinya Thata menggunakan gaun selain gaun pengantin menjadi uring-uringan dirumah karena takut kecantikan istrinya terekspos, dia tidak rela jika ada pria lain yang menatap istrinya degan tatapan memuja.
Ketika Aron, Thata dan Varel masuk ke lobi banyak karyawan yang melihat seorang perempuan yang sedang digandeng oleh bosnya. Tatapan mereka memandang Thata seolah-olah bertanya siapakah perempuan yang bisa digandeng oleh bosnya yang terkenal dingin dan anti perempuan itu.
Ketika mereka ingin membicarakan dengan rekan kerjanya, Varel menatap tajam kepada karyawan yang akan menggosip, karyawan-karyawan yang terkena tatapan tajam Varel memilih untuk melanjutkan perkerjaannya.
Aron dan Thata sampai di ruangan Aron, Thata membuka maskernya.
"Sayang kamu cantik."
Entah sudah berapa kali Aron memuji istrinya dan entah berapa kali Thata tersenyum mendengar pujian dari suaminya.
"Sudah sana kerjakan pekerjaanmu sebelum Varel datang ngamuk loh." ucap Thata yang sudah duduk disofa bersama Aron.
"Aku kan bosnya sayang, kenapa aku harus takut sama amukannya, yang ada nanti aku kirim dia ke kutub utara buat nemenin beruang disana."
"Iya iyah terserah kamu deh, bos yang paling berkuasa."
Aron dengan berat hati dia melangkahkan kakinya kearah meja kerjanya.
Thata mengeluarkan ponselnya dan menonton drakor yang sedang ia sukai.
"Sayang." Panggil Aron.
"Iya kenapa?" Thata melihat Aron sekilas dan kembali fokus pada poselnya.
"Sayang aku jadi gak fokus kerja lihat kamu yang cantik."
"Kalau gitu aku pulang aja yah, biar kamu fokus kerja."
"Kalau kamu pulang aku juga gak fokus, aku bakal terusan mikirin kamu, dan malah pengin cepat-cepat pulang."
"Terus kamu maunya gimana Ron."
"Peluk dulu, nanti aku konsen sama pekerjaan." Aron merentangkan tangannya.
Thata menghampiri Aron yang masih duduk dan membuka tangannya lebar-lebar. Thata memeluk Aron yang masih duduk, Aron dengan kejahilannya malah menarik tubuh Thata sehingga Thata terjatuh di pangkuan Aron.
Aron mengecup bibir Thata.
"Hey kam..."
Belum sempat Thata berbicara mulutnya sudah disumpal oleh bibir Aron, Aron memeluk pinggul Thata sambil mengusap lembut. Thata mengalungkan tangannya ke leher Aron.
Aron tahu jika Thata membalas ciumannya bukan karena cinta, hanya sebatas kewajiban istri yang dilakukan oleh Thata. Ciuman Thata masih terasa hampa dan kosong tanpa arti. Berbeda dengan Aron yang mencium Thata dengan perasaan menggebu-gebu, jantung yang berdetak dengan cepat, ciuman Aron seolah memyampaikan betapa besarnya dia mencintai istrinya.
"Aku akan membuatmu mencintaiku Agatha Victory." ucap Aron dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1