
"Mommy bangun! Ini waktunya kita menjalankan misi, jangan tidur mulu dong mom!"
Rara mengguncang badan thata yang sedang terlelap ditempat tidurnya.
"Astaga Mom, jangan jadi bolot dong, masih muda lagi." pekik Rion.
Thata mengulet, "Sayang Mommy itu mau nikmatin masa-masa santai mommy, Mommy itu semalam begadang habis nyelesein drakor." Rara dan Rion menepuk kening mereka sendiri, bisa-bisanya mommy mereka yang biasa bergelut dengan dunia kerja sekarang malah jadi seperti pengangguran yang hobi nonton drakor.
"Mommy mending kerja aja deh apa gitu, jangan jadi orang pengangguran gini, mata Rara gatel liat Mommy jadi pemalas."
"Mommy gak kerja juga udah dapet uang sayang, kalau Mommy kerja kasihan orang lain dong, biarlah mereka mendapat keuntungan dari penganggurannya Mommy."
"Ah terserah Mommy deh, sekarang mommy bangun terus siap-siap kita mau kepanti asuhan."
"Oke sayang-sayangku."
***
Panti Asuhan Permata Hati.
Rion dan Rara berjalan masuk kedalam pintu panti asuhan bersama dua orang yang membawa barang-barang yang akan dikasihkan untuk panti. Sedangkan Thata sedang berada didalam mobil mereka dan mengamati dari layar laptop yang sudah atur oleh Rion.
"Wah ada anak tampan dan cantik dari mana ini?" Tanya pengurus panti.
"Hallo nyonya, aku dan kakakku disini untuk memberikan sumbangan yang dititipkan oleh mommy kita."
"Wah banyak sekali yang kalian bawa, terima kasih yah sayang."
"Nyonya dan ini ada sedikit tambahan, mohon diterima yah." Rion mengasihkan uang yang dibungkus dengan map coklat.
Pengurus panti berkaca-kaca, baru kali ini dia melihat ada seorang anak yang terlihat seperti malaikat dihadapannya, senyum mereka, tutur kata mereka menyentuh hati pengurus. Pengurus tentu saja sudah hapal dengan karakter pada anak-anak kecil, sudah bertahun-tahun lamanya dia mengutusi panti asuhan.
Rara mengusap air mata pengurus itu dengan telapak tangan kecilnya. "Nyonya jangan nangis dong, Nanti aku jadi ikutan sedih gimana."
"Hehehe maaf, aku hanya sangat senang bisa bertemu dengan anak kecil seperti kalian, kalian seperti malaikat kecil yang diturunkan ke bumi dari tuhan. Aku jadi penasaran dengan orang tua kalian, mereka pasti sangat bangga mempunyai kalian berdua dihidupnya."
Thata yang mendengar perkataan dari ibu panti itu tersenyum didepan layar laptop. "Tentu saja." Gumamnya pelan.
"Nyonya boleh kita bermain-main disini sebentar?" Tanya Rara.
__ADS_1
"Tentu saja, bermainlah dengan anak yang lain, mereka sedang berada dihalaman belakang."
Rion dan Rara menuju halaman belakang sesuai yang sudah diarahkan oleh pengasuh.
30 menit kemudian, Rara dan Rion mulai cape namun sosok Yolanda belum juga muncul.
"Kakak aku sudah mulai lelah."
"Sabar yah, lihat disana! Ada piano kamu main gih sana, anak-anak pasti suka mendengarkanmu bermain piano."
Rara berbinar, kenapa dia sampai lupa kalau disitu ada sebuah piano. Rara yang antusias dia berlari kearah piano, ia duduk didepan piano. Tangan kecilnya mulai memainkan nada-nada yang indah untuk didengar, Rara memainkan lagu kesukaan mommynya yaitu: River Flows In You entah kenapa ketika Rara memainkan lagu yang satu ini, dia selalu terlihat bahagia, Rara mengingat ketika untuk pertama kalinya menunjukan bakatnya dan menguasai lagu ini dan ia tunjukan pada mommynya. Rara teringat mommynya yang berkaca-kaca melihat rara memainkan lagu pada usia Rara yang masih muda.
Ketika Rara memainkan pianonya, Yolanda datang keramaian anak-anak yang mengelilingi sebuah piano berwarna putih dihalaman belakang panti asuhan. Yolanda mendengar begitu merdunya piano itu dimainkan. Dia melihat seorang anak kecil bergaun warna putih rambutnya panjang tergerai. Malaikat kecil siapa ini. Pikir yolanda.
Yolanda terpesona dengan Rara, gadis kecil itu berhasil membuat hatinya bergetar dan menghangat. Senyumnya terbit dibibirnya.
Selesai permainan Rara, Yolanda mendekat dan berjongkok didepan Rara yang masih duduk.
"Sayang permainan pianomu sangat bagus, siapa nama kamu sayang? Panggil aku Grandma ok."
"Nama aku Aurora biasa dipanggil Rara Grandma." Rara tersenyum manis.
"Mommy ku Grandma."
Deghhh... Yolanda tersadar jika gadis kecil yang berada didepannya ini memiliki mata yang sama persis seperti anaknya.
"Sayang tatap Grandma!" Titah Yolanda.
Yolanda memeluk erat Rara, apa anak yang sekarang berada didekapannya adalah anak yang dikatakan oleh Aron.
Ketika Yolanda memeluk Rara, Rara mengambil kesempatan untuk mengambil rambut Yolanda.
"Sayang dimana mommymu? Grandma ingin menemuinya." tanya Yolanda.
Ketika Rara ingin menjawab, tiba-tiba terdengar pesan suara dari Thata.
"Sayang cepat pergi dari situ, Aron tiba-tiba saja datang, dia akan masuk kepanti asuhan, cepat pergi lewat pintu belakang." ucap Thata panik.
Rion mengalihkan perhatian orang-orang yang berada disitu, dia mendorong sebuah guci besar sampai pecah. Rara dengan segera pergi dari sisi Yolanda yang masih fokus pada suara benda jatuh.
__ADS_1
Rion dan Rara bertemu, Mereka berdua memasuki mobil yang berada Thata didalamnya.
"Berhasil." Sorak mereka bertiga.
"Kak butuh berapa lama kita tahu hasilnya?"
"2 hari lagi, Mom laboratorium aku sudah bereskan Mom?"
"Sudah sayang, termasuk alat yang kamu inginkan juga sudah berada ditempatnya."
"Bagus."
***
"Cepat cari kemana gadis bergaun putih tadi." Titah Yolanda panik, dia baru sadar jika Rara pergi ketika kerusuhan itu terjadi.
Aron yang melihat mamahnya panik, dia mendekat. "Kenapa mah? Ada apa?"
"Aron Mamah ketemu gadis kecil yang memiliki mata persis sepertimu, cepat cari dia Aron!"
Aron membelalakkan matanya tak percaya.
"Var..." Aron ingin memerintahkan Varel namun tiba-tiba...
"Maaf Nyonya Sandres kami tidak menemukan gadis itu, dan rekaman cctv menghilang."
"Apa," pekik Yolanda. "Kalian bodoh, bagaimana mencari seorang gadis kecil saja tidak bisa."
"Mamah tenanglah! mereka memang sangat sulit untuk dicari, jika mudah sudah dari dulu Aron menemukannya." Aron mencoba menenangkan Mamahnya.
Yolanda terduduk lesu dibangku depan piano.
"Aron kamu harus menemukan gadis kecil itu, Mamah yakin jika dia putrimu. Dia sangat cantik seperti peri kecil, Aron apa kamu tahu? Dia bernama Aurora dia biasa dipanggil Rara, betapa indah nama yang diberikan oleh gadis yang kamu cintai nak. Dia mendidik anak kamu dengan sangat baik nak. Oh yah Rara tadi bermain piano dengan sangat indah loh, dia sudah memiliki bidang didunia musik, dia akan menjadi gadis yang sangat bersinar nantinya."
Yolanda membayangkan sosok Rara yang tadi berada didepannya, sebentar memang, tapi mampu memberikan kenangan yang indah, senyuman Rara, suara Rara, semuanya masih teringat jelas dipikiran Yolanda.
Aron tidak sanggup lagi berkata-kata mendengar ucapan dari Yolanda, perasaan rindunya semakin dalam pada keluarga kecilnya nantinya.
"Agatha dimana pun kamu berada, aku ingin sekali bertemu lagi denganmu, aku ingin menanyakan anak-anak kita, dan keadaanmu. Terima kasih telah menjadi sosok ibu yang luar biasa bagi anak kita. Aku akan selalu menunggu kedatangan mu lagi sayang." ucap Aron dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...