
Thata sedang berada dibalkon kamarnya sambil melihat pemandangan taman yang persis berada dibawahnya.
Aron baru saja selesai mandi dan berpakaian, Aron berjalan kearah balkon karena melihat siluet istrinya.
Tangan Aron melingkar dipinggul ramping Thata, dagunya ia jatuhkan pada bahu Thata, sesekali hidungnya mengendus bau pada leher Thata.
"Sayang," ucap lirih Aron, wajahnya ia gesekan pada bahu Thata.
Entah kenapa Thata merasa ada sesuatu pada suaminya. Tangan Thata terulur kewajah Aron, mengusapnya lembut dengan posisi yang masih sama.
"Apa ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Sayang nanti kalau kamu sudah mencintaiku, jangan bikin adik buat Rion dan Rara yah." ucap Aron penuh arti, nada bicaranya mengisyaratkan berbagai rasa yang bercampur menjadi satu.
Thata mengerutkan keningnya, dia bingung dengan apa yang dimaksud dari ucapan Aron.
"Kamu gak mau punya anak dariku lagi?" saut Thata tidak suka, ia pikir jika Aron tidak menginginkan anak lagi darinya.
Aron semakin mengeratkan pelukannya, "Bukan begitu Sayang." Aron menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa, aku takut kamu pergi meninggalkanku, aku takut Tha, sudah cukup sikembar saja yah. Aku mohon!" Pinta Aron, air mata yang sudah ia tahan sejak tadi pagi sekarang menetes begitu saja.
"Hiks.. hiks.. Maaf aku tidak ada saat kamu mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan sikembar. Maaf hiksss..." tangisan pria dingin bernama Aron terdengar di malam hari dengan bintang dan bulan yang menjadi saksi bahwa seorang pria ini sangat rapuh jika membahas soal istri cantiknya.
Baju tidur Thata basah dengan air mata yang dikeluarkan oleh Aron, Thata membalikkan badannya, ia tatap suaminya yang masih berderai air mata.
Thata menyeka air mata Aron menggunakan jari jemarinya. "Kenapa gak mau punya anak lagi hem, padahal kamu punya bibit unggul loh Ron, liat tuh kedua anak kamu! Mereka bisa sehebat itu. Kan sia-sia benih kamu Ron." ucap Thata santai.
"Huwaaa," tangis Aron semakin kencang. "Kamu benar Sayang benih unggulku akan sia-sia, tapi aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Aku takut Tha, sudah cukup 5 tahun kamu meninggalkanku." jawab Aron sesenggukan.
Cupp.. tanpa persiapan apa pun Aron menerima ciuman dari istrinya untuk pertama kalinya, dia masih terdiam namun Thata melanjutkan aktifitasnya pada bibir suaminya. Baru saja Aron membalas ciuman Thata, Thata malah melepaskan pautannya, namun tidak menjauh dari bibir Aron masih sangat dekat sangat.
__ADS_1
"Aku akan menuruti kemauanmu, jadi jangan menangis lagi yah, yang sudah terjadi biarlah terjadi, aku sama sekali tidak menyesal mempertaruhkan nyawaku untuk kedua anak kita."
Thata kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Aron sampai menempel, Aron tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aron ******* bibir Thata dengan lembut, namun semakin lama ciumannya menjadi ganas, dan entah kenapa Thata bisa menyeimbangi permainan Aron.
"Aku berjanji akan mencintaimu Ron, aku berjanji!! dan aku akan meminta pada Tuhan agar Tuhan sesegera mungkin membuka hatiku untukmu." ucap Thata dalam hati.
***
"Tha kapan kamu kembali ke MARSZIUS?" tanya Monika.
"Entahlah,"
"Zius merindukan Dewi Perangnya Tha, aku sudah di teror oleh semua orang untuk membawamu kembali ke Zius."
MARSZIUS adalah sebuah organisasi yang dipimpin oleh seorang perempuan dengan sebutan Dewi Perang yang tak terkalahkan. Sebutan SIANG MENJADI MALAIKAT DAN MALAM MENJADI IBLIS, sebutan yang terdengar sangat menakutkan bagi siapa saja yang mengetahui tentang MARSZIUS. Dewi Perang yang tidak lain adalah Agatha Victory perempuan cantik dengan wajah lembutnya siapa sangka dia adalah pemimpin dari organisasi yang menduduki tahta teratas di belahan bumi ini.
"Bilang saja pada mereka jika aku ingin berlibur panjang." jawab Thata santai.
Monika mendengus kesal, bisa-bisanya Thata meninggalkan Zius yang mempunyai ratusan ribu orang dibelahan bumi ini dan malah lebih memilih menonton drakor setiap saat. Menyebalkan sekali bukan Dewi Perang yang satu ini.
"Bukan aku yang dekat dengannya, tapi dia yang selalu menempel padaku Tha." Jawab Monika seadanya, dia menyuapkan makanan yangs udah ia pesan.
Monika dan Thata sedang berada di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor Aron.
"Sama saja Mon,"
Grepp.. Thata menangkap sebuah sendok besi dengan 2 jari tangan kanannya, jika telat 1 detik saja sendok itu akan mendarat tepat pada bagian mata Thata. Thata melirik kearah seseorang yang melemparkan sendok besi itu, matanya yang tadi teduh sekarang terlihat tajam dan menakutkan.
Thata dan Monika melihat perempuan dengan gaun yang sangat minim, sedang duduk di meja kafe depan mereka berdua hanya berjarak 3 meja kafe saja.
"Perempuan dajjal itu lagi, berani-beraninya dia ingin bermain dengan Dewinya Zius. Jika Thata tidak tega membunuhnya masih ada ratusan ribu orang yang siap menggantikannya untuk melenyapkan perempuan dajjal itu." ucap Monika dalam hati.
__ADS_1
Lolita sudah berdiri didepan Thata, Thata tampak tenang seperti tidak terjadi apa-apa, sedangkan Monika memilih untuk menyantap makanannya.
"Aku pringatkan padamu jangan dekati Kak Aron lagi, bercerailah dengannya." ucap Lolita dengan kencang.
"Siapa kau berani menyuruhku?" Saut Thata dengan santai.
Lolita menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun, Monika ingin sekali tertawa melihat Lolita yang belum apa-apa sudah kebakaran jenggot terlebih dahulu dengan ucapan Thata.
"Asal kau tahu Kak Aron itu milikku, dia hanya pantas denganku tidak dengan perempuan yang tidak tahu asal usulnya sepertimu." Lolita berbicara dengan percaya diri.
"Hahaha," Thata tertawa, ia melihat Lolita. "Kau bilang milikmu? Apa kau sedang bermimpi disiang hari? Bangunlah wahai nona pelakor! Aron itu milikku dia suamiku, dan jangan sebut dia milikmu. Karena aku tidak akan membiarkan orang lain mengambil apa yang aku miliki. Camkan itu!" Tegas Thata, Thata sekarang berdiri menatap Lolita yang terlihat sedikit gemetar.
Monika menyeringai tipis,
Lolita akan menampar Thata namun...
Plakkk... Thata terlebih dahulu menampar Lolita dengan keras sampai gadis itu terjatuh dilantai.
Thata berjongkok mendekati Lolita yang sedang ketakutan dilantai.
"Mau menamparku iya?" tanya Thata memegang dagu Lolita. "Itu hanya ada dalam mimpimu Sampah."
"A_ku ak_an mem_beri_tahu ka_k Ar_on ji_ka dia memi_liki is_tri sepe_rti ib_lis." ucap Lolita tersendat-sendat karena Thata memegang dagunya dengan erat.
"Oh kamu mau memberitahu suamiku? jika seperti itu, emm bagaimana jika aku membunuhmu terlebih dahulu sebelum kamu bertemu dengan Aron. Aku rasa itu ide yang sangat bagus bukan." Lolita ketakutan setengah mati, perempuan yang dia kira lemah dan gampang disingkirkan ternyata adalah perempuan yang sangat menakutkan.
Thata melepaskan cengkramannya pada dagu Lolita.
"Ingat! Ini pringatan pertama dan terakhir kalinya. Jangan berusaha menjadi pelakor di rumah tanggaku, jika kau masih nekat maka kau juga harus bersiap menerima konsekuensinya."
Thata dan Monika pergi meninggalkan Lolita yang masih tergeletak ketakutan dilantai.
__ADS_1
Jangan tanya kenapa Thata bisa bebas melakukan itu pada Lolita, yang jelas karena dia memiliki pasukan bayangan yang tersebar dimana-mana dan didalam kafe itu hampir semua pasukan bayangan Thata yang menyamar menjadi pengunjung.
Bersambung...