
Beberapa hari kemudian, kehidupan Thata yang tanpa adanya sosok Aron di hidupnya tidak membuat Thata terpuruk, ia menjadi perempuan yang ceria dan tukang makan. Terkadang tingkah jahilnya bahkan membuat Hansen dan Rion tepuk jidat dan pasrah.
Seperti saat ini, Rion yang sedang berkonsentrasi meracik obat malah direcoki oleh Thata.
"Mommy jangan ganggu Rion dong!" Ucap Rion yang mulai kesal.
"Mommy gak ganggu kamu Rion, Mommy hanya sedang bermain-main saja." Saut Thata santai.
Rion menatap Hansen yang baru masuk keruangan itu, tatapan matanya seolah berbicara. "Paman tolong! Buat Mommy pergi dari sini."
Hansen tersenyum tipis melihat Rion yang sudah putus asa menghadapi tingkah Thata.
"Mommy jangan masukan itu! Bisa-bisa ruangan ini meledak." Teriak Rion kaget, ketika Thata akan mencampurkan suatu cairan.
"Tidak papa meledak, nanti Mommy bangun lagi." ucap Thata santai, sangat santai. Rion mengacak rambutnya.
"Nanti kalau lahir adikku akan seperti apa Tuhan? Kalau didalam perut saja sudah meresahkan begini." Gumam Rion.
Hansen sangat ingin tertawa mendengar gumaman keputusasaan seorang Rion.
"Tha, jangan ganggu Rion terus, kasihan dia." ucap Hansen.
"Aku hanya ingin melakukan percobaan Kak, aku ingin membuat sebuah campuran cairan agar bisa meledak dan nanti warnanya berwarna-warni." jawab Thata yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Aku saja yang buatin ya Mom, wanita hamil jangan terlalu dekat dengan yang seperti ini, tidak baik." ucap Rion.
"Benar apa yang dikatakan Rion, Tha. Sebaiknya Rion saja yang mengerjakan." Timpal Hansen.
Thata nampak berpikir, "Percaya pada Rion, dia tidak akan mengecewakanmu. Sekarang kita makan saja yah, kamu udah lapar kan. Kakak masakin nasi goreng yah."
"Oke deh." Saut Thata cepat.
Rion tersenyum tipis, hanya Hansen yang mampu mengendalikan Thata saat ini. Apa pun yang dikatakan Hansen akan selalu mendapat jawaban iya. Terkadang Rion berpikir jika Daddy dari adiknya itu siapa? Adiknya tidak menunjukan ingin bertemu dengan Aron tetapi malah dengan Hansen. Padahal Rion tahu dengan jelas jika adiknya adalah anak dari Aron.
"Rion buat yang warnanya banyak yah, Mommy pengin besok malam sudah selesai."
"Siap laksanakan tuan ratu." ucap Rion.
Thata menarik tangan Hansen buru-buru sesuatu yang berada didalam perutnya sudah berdemo ingin segera dimasuki makanan yang enak.
***
__ADS_1
"Rara, boleh Daddy masuk?" tanya Aron didepan pintu kamar Rara.
"Masuk aja Dad." Saut Rara dari dalam kamar.
Aron tersenyum ketika melihat Rara sedang mengikat rambut panjangnya, Rara terlihat sedikit kesusahan. Yang biasa mengikat rambut Rara setiap pagi harinya adalah Mommynya.
"Sini biar Daddy yang mengikatnya," Aron berada dibelakang anaknya.
Dengan senang hati, Rara memberikan sisir dan juga ikatan Rambut pada Aron.
Aron dengar perlahan menyisir rambut panjang Rara, yang sangat mirip dengan rambut istrinya. "Daddy merindukan Mommy?" ucap Rara yang melihat Daddynya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sangat merindukan Mommymu." Jawab Aron tersenyum, namun hatinya merasa sakit.
"Sudah selesai, cantiknya anak Daddy." Puji Aron.
"Tentu saja, aku kan anak Daddy hehehe."
"Ayo berangkat!" Rara menggandeng tangan Aron, mereka akan berangkat bersama.
***
Sore harinya, Rara berlari begitu kencang menghindari banyaknya orang yang sedang mengejarnya.
Rara berlari, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Daddynya.
"Dad, buruan jemput Rara! Rara dikejar oleh orang-orang suruhan Clarissa. Anggota Zius sudah berusaha menghalanginya, tetapi jumlah mereka terlalu banyak Dad." ucap Rara dalam panggilannya itu, ia segera mematikan panggilan itu. Dia masih berlari diiringi oleh pasukan bayangan dari Zius.
"Nona, pasukan kami sudah setengahnya tumbang, mereka bukan orang-orang sembarangan." Ucap salah seorang pria yang berada disamping Rara.
Rara tiba-tiba berhenti berlari, bukan karena cape, tetapi dia memiliki ide.
"Percuma saja kita berlari, bahkan mungkin jalan yang berada didepan kita adalah jebakan mereka, mereka sengaja menggiring kita. Cerdik juga mereka."
"Bantai mereka, jangan biarkan satu orangpun lolos, pancing mereka agar mengirim pasukan yang lebih banyak. Semakin banyak kita memberantasnya, semakin besar peluang kita untuk melindungi yang lain." Ucap Rara. Ia mengambil pistol kecil yang berada didalam tasnya.
Benar saja apa yang dikatakan Rara, semakin banyak orang yang berdatangan.
"Sayang sekali Kak Rion tidak ikut." Gumam Rara, ia mulai menembaki orang-orang yang berusaha mendekatinya.
Rara bukannya takut, ia malah semakin bersemangat, kegiatan seperti ini membuat semangatnya menggebu-gebu. Sudah lama sekali ia tidak seperti ini.
__ADS_1
Suara mobil-mobil bertadatangan, Aron keluar dengan memegang sebuah pistolnya.
Kedatangan Aron mampu menumbangkan banyak orang. Dia mendekati putrinya, ia melihat Rara sedikit terkejut, Rara terlihat sangat tenang menghadapi situasi berbahaya seperti ini.
Terlintas dipikirannya bagaimana Thata menghadapi para musuhnya. Putri kecilnya saja sudah terlihat profesional.
Dor... "Beraninya mau menembak putriku maka matilah kau." Ucap Aron.
"Jangan bunuh mereka Dad, tapi lumpuhkan mereka. Mati untuk mereka terlalu ringan, meraka harus menyalahkan diri mereka sendiri karena memilih tuan yang salah." Ucap dingin Rara. Para anggota Zius menyeringai bersamaan, inilah yang dirindukan oleh mereka.
Putri kecil manis dan manjanya berubah menjadi sosok perempuan pemberani dan tak terkalahkan serta dihormati oleh banyak orang.
Rara dan Aron beserta anak buah mereka masing-masing sedang menikmati kemenangannya.
Hari sudah mulai malam, matahari sudah tak terlihat.
Ponsel Aron tiba-tiba berbunyi, ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. "Akhhh sialan," Aron membanting ponselnya.
Rara mengambil ponsel Daddynya yang tidak jauh dari kakinya.
"Daddy ayo cepat kesana sebelum mereka kenapa-kenapa." Saut Rara.
"Saatnya memberitahukan Mommy, terlalu berat untuk menghadapinya, dia sepertinya punya bekingan yang hebat."
"Mommy tolong kami! Grandma dan Grandpa diculik oleh perempuan sialan itu." Ucap Rara pada jam tangannya.
Rara dan Aron menaiki jet yang sudah disiapkan oleh Zius, entah sejak kapan ada jet itu berada disana.
***
Thata yang sedang santai sambil menikmati cemilannya, jam yang melingkar ditanganya bergetar ada sebuah pesan dari Rara.
Thata mendengarkan dengan serius, "Sialan perempuan itu berani ingin menyakiti keluargaku, aku akan menghabisi mu malam ini juga." Ucap Thata bertekad.
Thata bangun dari duduknya, ia mengganti pakainnya dengan serba hitam, dan juga tidak lupa mengambil senjata apinya.
Hansen masuk kedalam kamar Thata, ia kaget melihat Thata berpakaian seperti saat ini. Hansen tau dengan jelas jika Thata berpakaian seperti sekarang, tandanya adiknya akan ikut bertempur.
"Thata kamu mau kemana dengan pakaian seperti ini? Ingat kamu sedang hamil Tha." Ucap Hansen mengingatkan.
"Jaga Rion! jangan sampai dia tahu aku pergi Kak, aku akan menolong Rara dari perempuan j*lang itu." Ucap Thata berlalu pergi dari Hansen, Hansen akan mencegahnya tetapi percuma saja.
__ADS_1
Bersambung...