PERFECT FAMILY

PERFECT FAMILY
Monika yang sedang Menjalankan Misinya


__ADS_3

Ting..tong..ting..tong.. Bel apartemen Varel berbunyi, tidurnya terbangun karena dia mendengar bunyi bel dari pintu apartemen terus-menerus, niat hati bangun siang karena hari ini hari minggu, namun sayangnya niatnya pupus sudah.


"Awas saja jika bukan tamu penting," Varel masih mengucek matanya, bahkan dia tidak memakai baju atasannya. (Kebiasaan Varel tidur tanpa baju gayss).


Ceklekkk.. Mata Varel yang tadinya setengah tertutup, sekarang terbuka lebar bahkan sampai bola matanya mau keluar.


Monika datang dengan masih memakai piyama tidurnya dan juga membawa 1 buah koper besar yang entah apa isinya.


"Kamu habis mati suri yah? Tau gak? Aku disini udah nunggu hampir 1 jam, dan jariku rasanya mau patah karena terus-menerus menekan bel apartemenmu." Omel Monika, "Minggir!" Monika masuk kedalam apartemen Varel dia mendorong badan Varel sampai membentur ke tembok.


"Kamu ngapain kesini Mon? dan kenapa kamu pake acara bawa-bawa koper besar kaya gini! Kaya orang mau pindahan tau gak."


Ucap Varel, dia mendudukan bokongnya disamping Monika.


"Aku di usir sama Thata,"


"Aku kan gak punya kenalan siapa-siapa, jadi ya aku kesini aja! aku numpang dulu sama kamu ya Rel." pinta Monika, wajahnya terlihat menyedihkan, entah itu nyata atau dibuat-buat hanya Monika dan Tuhan yang tahu.


"Mau tinggal disini selamanya aja boleh Mon, toh nanti apartemen ini juga punya kamu." Varel tersenyum menggoda sambil mengedipkan satu matanya genit pada Monika.


"Oke kalau begitu,"


"Dimana kamarku Rel? Aku masih ngantuk mau tidur."


"Kamu jalan lurus aja terus, nanti ketemu pintu berwarna coklat, nah itu kamarnya."


Monika berdiri dari tempat duduknya, ia berjalan sambil membawa koper menuju arah yang telah diberitahukan Varel.


Monika memasuki kamar itu, dia menghadap kebelakang. "Kenapa kamu juga ikut kesini Rel?" tanya Monika.


"Mon di apartemen ini hanya ada 1 kamar, aku mendesainnya begitu, jadi mau tidak mau kamu harus memakai kamar yang sama denganku." seringai Varel, dia sudah merebahkan badannya diranjang.


"Kau bohong Rel! Bagaimana mungkin apartemen sebesar ini hanya punya satu kamar saja." Monika tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Varel, dia akan keluar kamar itu...


"Mau kau kelilingi 10 kalipun apartemen ini, tetap tidak akan menemukan kamar yang lain Mon."

__ADS_1


"Udah lah gak usah malu, nanti kita juga bakal jadi suami istri. Itung-itung pemanasan dulu Mon, ayo sini tidur!" Varel menepuk-nepuk bantal yang berada di sampingnya.


"Demi misi Mon, demi misi, ngalah aja dulu kamu sekarang, nanti kalau masalahnya sudah beres baru kau hajar itu laki-laki tidak tahu malu." ucap Monika dalam hati.


Monika merebahkan badannya disamping Varel, dia mengambil guling dan ditaruh ditengah untuk ia jadikan batasan antara dirinya dan juga Varel.


"Jangan melewati batas Rel!" ucap Monika dia membalikan badannya membelakangi Varel.


"Ini rumahku Mon, jadi semua yang berada disini itu mengikuti peraturanku." Verel memeluk Monika dari belakang.


"Varel kamu mau dihajar yah." Pekik Monika marah.


"Katanya ngantuk, sekarang tidurlah! Kalau tidak mau, aku buat kamu gak bisa tidur sampai besok loh."


"Eh aku ngomong gini maksudnya itu apa yah? Aku yang ngomong aku juga yang gak tau, bego banget aku, astaga." Dengus Varel dalam hati.


Monika sudah pasrah dengan laki-laki yang selalu membuatnya kesal, terserahlah dia mau melakukan apa, aku hanya perlu melindunginya.


***


"Ingat bahwa seorang Aron Junio Sandres akan selalu mencintai istrinya yang cantik ini."


"Sayang waktuku sudah habis, aku pamit yah! Sampai bertemu lagi di kemudian hari."


"No Aron, aku mohon jangan pergi! Jangan tinggalkan aku Ron." Permohonan Thata seolah tak terdengar, Aron hanya terus tersenyum sampai saat dirinya benar-benar hilang dari pandangan Thata.


"Aarroonnn, kumohon jangan pergi tinggalkan aku Roonnn." Thata berteriak sekuat-kuatnya, namun nihil, Aron benar-benar sudah menghilang, Aron meninggalkan Thata seorang diri, entah kemana Aron pergi.


Thata menangis sejadi-jadinya, dadanya benar-benar terasa sesak dan sangat sulit untuk bernafas.


***


"Akhh kumohon jangan pergi." Thata tiba-tiba berteriak dalam tidurnya, dia sudah terbangun dan duduk dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


"Sayang kamu kenapa berteriak hem?" tanya Aron yang nyawanya masih belum terkumpul.

__ADS_1


"Aroonn." ucap Thata lirih, dia menggeser badannya dan duduk di paha Aron dengan kedua kakinya yang ia rangkulkan ke pinggang Aron.


Aron merasakan dingin di bahunya seperti ada air yang mengenai bahunya, "Sayang kamu menangis?" panik Aron, Thata mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aron.


Jantung Aron terasa akan berhenti ketika melihat istrinya mengeluarkan air mata.


"Siapa yang buat kamu nangis sayang? Siapa coba bilang."


"Kamu, kamu yang buat aku nangis Ron."


"Hah? Aku Sayang? lah aku memang apain kamu?" Aron mengelap air mata Thata yang berada dipipi putih nan gembul milik Thata.


"Kamu pergi meninggalkanku. Aku bermimpi kamu meninggalkanku dan menyuruh ku untuk merawat sikembar sendiri lagi Ron. Aku tidak mau merawat sikembar sendirian lagi, aku mau bersama denganmu Ron."


Thata akan menangis lagi, Aron dengan sigap membawa Thata kedalam pelukannya kembali.


"Kamu hanya bermimpi sayang, mimpi itu bunga tidur. Aku hanya pergi di mimpimu saja, bukan di kenyataan."


"Lihat dan rasakan! aku masih disini bersamamu, aku janji tidak akan meninggalkanmu Sayang, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu hemm? Aku sangat mencintaimu sangat sangat. Aku janji akan membesarkan sikembar berdua bersama denganmu."


ucap Aron tegas namun lembut, dia menepuk-nepuk pundak Thata, agar Thata merasa lebih tenang.


"Janji?"


"Janji Sayang janji,"


Thata kembali memeluk erat Aron, dia benar-benar tidak ikhlas jika seseorang yang sedang memeluknya saat ini pergi meninggalkannya. Thata sudah terlanjur merasakan kenyamanan dan kehangatan dari seorang Aron.


"Aku tidak akan meninggalkanmu Tha, tidak akan! Aku mencintaimu, bagaimana bisa aku pergi darimu ketika aku memiliki rasa cinta sebesar ini. Aku tidak akan pernah pergi darimu itu janjiku Tha. Dan juga Aku belum menyelesaikan misiku untuk membuatmu mencintaiku." ucap Aron dalam hati.


Aron lupa jika kepergian seseorang itu, bukan hanya berdasarkan perasaan yang dimiliki saja. Ada satu alasan kepergian yang membuat manusia tidak bisa berkutik dan melakukan apa pun itu, manusia hanya bisa pasrah dan mengikhlaskan saja jika alasan seseorang pergi meninggalkan adalah sebuah Kematian.


Yah kematian, sebuah kata yang menakutkan bagi semua orang yang mendengarnya ataupun membayangkannya. Dan Kematian juga alasan kepergian seseorang yang dilupakan oleh Aron, kepergian seseorang dengan kematian akan sangat membekas bagi seseorang yang mempunyai rasa dan kenangan yang begitu banyak, bersama dengan seseorang yang pergi jauh entah kemana, saking jauhnya sampai-sampai tak bisa tergapai dengan apa pun hanya bisa berdoa dan berharap orang itu muncul di mimpi kita untuk melepas sedikit rasa rindu, ataupun hanya bisa mengharapkan untuk bisa bertemu lagi dikehidupan yang akan datang.


Bersambung...

__ADS_1


...Hay hay, jangan lupa like, komen, vote, tambahkan ke favorit dan search keorang-orang yang kalian kenal yah. Aku tunggu apresiasi kalian🤗 Terimakasih🙏...


__ADS_2