Perfect Love Tuan Muda

Perfect Love Tuan Muda
PLTM : 10


__ADS_3

Pukul 06.15 Abhimanyu tiba di kantor, dengan gerakan elegan dia turun dari mobil Pajero hitamnya. tak lupa dia membetulkan kerah jas biru navy yang tampak sangat pas ditubuh kekarnya.Di susul ajudannya Leo, dengan berkas dan proposal yang berada di tas hitam yang ada di tangannya.


Semua aktifitasnya itu tak luput dari pandangan orang sekitar, lirikan mata dan bisik-bisik mulai terdengar, terutama dari karyawan wanita yang kebetulan lewat.meskipun hanya menampilkan wajah datar tak bisa dipungkiri pesona Abhimanyu sangat mendominasi di sini, meski ajudannya Leo, juga tak kalah tampan.


Tapi meskipun begitu Abhimanyu tak perduli dengan keadaan sekitar, dirinya terlalu acuh.seperti saat ini, sepanjang ia lewat banyak bawahan yang menyapa selamat pagi padanya tapi dia tak membalas sama sekali dan hanya menatap tajam ke arah depan.dan tentu di saat-saat seperti inilah peran Leo sangat di perlukan.


Berbeda 180 derajat dari bosnya itu Leo yang sejak dahulu terkenal playboy dan pria yang suka menggoda,tak segan untuk membalas sapaan para karyawan di sini.bahkan memberikan tip gratisnya kepada karyawati yang ada di sini seperti kedipan mautnya atau kiss dari jauh, terbukti sudah ada delapan karyawati yang dia goda sepanjang jalan,itulah Leo. Baginya tak hidup bila tak tebar pesona. Seperti saat ini dia sedang menggoda dua karyawati yang kebetulan lewat dengan gombalan mautnya.


"Hai Tiffany,kau tampak sangat cantik hari ini," ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya kepada wanita yang dipanggilnya Tiffany itu.


Tidak sampai di situ lelaki itu juga memberikan beberapa kiss jauh kepada amrita sahabat Tiffany yang berada di sampingnya.


"Jangan lupa ya amrita sayang,malam nanti kita kol-kol lan." godanya sambil tangannya meniru gagang telpon yang ia tempelkan di telinga.


Sementara dua wanita yang dia goda hanya cengengesan karna baper akut.


"Cepatlah Leo, jalanmu lelet sekali." teriak Abhimanyu, Membuat Leo kalang kabut.


"B-baik tuan muda!"


"Ya udah,bay-bay, selir-selirku.muachh." ucapnya terakhir kali kepada dua wanita itu sebelum melenggang pergi menyusul tuan mudanya.


Membuat kedua wanita itu histeris, kegirangan.


Sedangkan Abhimanyu sendiri termasuk orang yang selektif dan kompeten dari segi pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, dia akan sangat disiplin.dia menghargai waktu di mana pun kakinya berpijak, baginya waktu bukan hanya emas tapi juga kesempatan yang tak boleh di sia-siakan, apalagi jika bersangkutan dengan ambisinya dia akan sangat serius dan tekun.


Setelah menaiki lift, Abhimanyu dan Leo tiba di lobi perusahaan.terhitung sejak hari pernikahannya, Abhimanyu sudah dua hari menduduki kursi jabatannya sebagai seorang Presdir di maheswara group.


Meskipun begitu hal yang dia lalui juga tak mudah,tentu banyak orang terutama di anggota dewan direksi yang tak menyutujui di angkatnya ia menjadi Presdir baru, terlebih Abbas dan Arya. namun meskipun begitu tak ada yang bisa mereka lakukan, Abhimanyu miliki kekuasaan dan saham ayahnya yang telah di pindah alihkan padanya, pada akhirnya dia menjadi pemimpin utama yang sah di perusahaan ini menggantikan sang ayah.


Di saat rapat direksi saat itu, dia menyeringai senang melihat wajah kekalahan Arya dan para musuh-musuhnya di perusahaan. satu tujuannya telah tercapai, kini tinggal balas dendamnya lah yang harus di wujudkan.


"Aku sudah tua nak,ku harap kau menjaga dan membangun perusahaan ini lebih maju lagi.setelah ini semua aku sudah cukup lelah,aku akan berlibur panjang, melihat hal indah yang ada di dunia ini di bawah kaki ku."


Itulah perkataan terakhir ayahnya sebelum dia pergi untuk beristirahat sejenak, menikmati masa tuanya untuk berkeliling dunia.tentu Abhimanyu mendukung keputusan ayahnya itu.


Tujuh tahun lalu ayahnya koma di saat dirinya terpenjara,ibunya lah yang selalu berada disamping ayahnya dan itu cukup membuatnya tenang karna memang Sinta, ibu tirinya itu benar-benar mencintai ayahnya bukan memanfaatkan kekayaan seperti wanita kebanyakan.


Hanya saja Sinta terlalu lemah jika bersangkutan dengan Arya, dirinya yang terlalu menyayangi putranya itu membuatnya tutup mata dengan apa yang di lakukan Arya dan kakaknya, meskipun hal itu jahat Sinta tak bisa menentang ataupun melaporkan.


Tapi kini mengetahui bahwa ibu tirinya itu juga ikut serta menemani sang ayah, membuatnya bisa bernafas lega setidaknya sekarang satu batu penghalangnya telah pergi dan terkadang Abhimanyu juga merasa sedikit kasihan melihat posisi ibu tirinya itu di manfaatkan oleh kakaknya dan dijadikan poin oleh anaknya sendiri,tidak bisa membayangkan bagaimana jika nyonya Sinta mengetahui semua kejahatan mereka berdua.


Sampai saat akan berjalan ke ruangan utama Presdir, Abhimanyu tak sengaja berpapasan dengan orang sejak dahulu ingin ia temui, 'kebetulan' fikirnya. Tak butuh waktu lama orang itu bersama dengan pengawal di sampingnya menghampiri Abhimanyu dengan senyum yang menurut Abhimanyu sangat memuakkan,senyum penjilat yang menjijikkan.


"Kebetulan sekali Abhimanyu, kita bertemu di sini.bagaimana kabarmu?" Ucap Abbas, ber basa-basi.


"Seperti yang kau lihat sangat baik." Semrik Abhimanyu.


Dari jarak seperti ini pun sudah sangat terasa aura permusuhan mereka, Abhimanyu tak akan melupakan kejadian tujuh tahun lalu,itu sudah terekam jelas di dalam otaknya.sekarang saatnya lah dia mencari bukti atas kejahatan dan kekejian pria di hadapannya ini dan tentu pria ini harus mendapatkan karmanya.tunggu saja.


"Sudah sangat lama ya,Ahh ... ya sudah sejak tujuh tahun lalu.saya terkejut anda masih terlihat baik-baik saja." Ujar Abbas mulai menunjukkan tanduk dan taringnya.


Abhimanyu masih bertampang datar, memperhatikan gerak-gerik pria di depannya ini.ciri-ciri penipu ulung dan penjilat berpengalaman itulah Abbas di mata Abhimanyu. Di lihat dari segi manapun Abbas terlihat sangat meyakinkan dengan kata-kata manis yang keluar dari mulutnya dan itu sudah terlihat sejak pertama kali ia bertemu dengannya.


"Seperti yang kau lihat aku sangat baik-baik saja,sama seperti pertama kali kau melihatku." Balas abhimanyu.dia harus ekstra sabar dan hati-hati untuk menghadapi orang licik seperti Abbas ini.


"Tentu saja, dinginnya jeruji besi tentu telah banyak merubah mu termasuk juga otakmu itu." Ujar Abbas tertawa yang sebetulnya adalah tawa yang mengejek.


Abhimanyu terkekeh pelan sambil memijit pangkal hidungnya, rasanya ingin sekali dia memberikan bogem mentah pada wajah keriput itu, untungnya dia masih bisa menahan diri.


"Tentu saja, setelah mendapatkan banyak pengalaman dari penjahat-penjahat di sana aku menjadi lebih pintar,cerdik,dan tentunya bakat memanipulatif seperti dirimu ya kan." Balas Abhimanyu.


Abbas yang mendengarnya pun menarik senyum simpul, seharusnya dia menyadari bahwa musuhnya bukan lagi remaja lugu seperti tujuh tahun lalu, Abhimanyu yang di depannya sekarang telah berubah dan tentu itu membuatnya semakin menarik untuk dihancurkan.


"Baiklah jika tak ada yang dibicarakan lagi aku permisi,aku tak punya banyak waktu." Ucap Abhimanyu yang sudah sangat muak melihat wajah musuhnya itu.


"Eitts ... Mengapa begitu terburu-buru." Abbas menghentikan jalan Abhimanyu.


"Ini,aku telah membelikannya untuk ucapan selamat pernikahanmu,aku telah mendengar dari adikku bahwa kau telah menikah,sayang sekali pernikahannya terjadi secara mendadak jadi aku hanya memberi ini." Abbas mengambil alih rangkaian bunga berukuran sedang itu dari tangan pengawalnya.


"Leo,ambil." Titah dari Abhimanyu membuat Leo maju dan mengambil bunga pemberian Abbas.


"Lain kali kau tak usah repot-repot ." Ucap Abhimanyu.


"Tidak sama sekali, sampaikan salam ku pada istrimu yah, hahaha kalau begitu aku permisi." Abbas kemudian melangkah untuk melewati Abhimanyu, tapi sampai di sampingnya Abbas membisikkan sesuatu.


"Kali ini kau memang menang, tapi lihatlah suatu saat nanti aku pasti akan menghancurkanmu," bisik Abbas penuh nada ancaman, lalu kemudian berlalu pergi.


Abhimanyu yang mendengarnya mengepalkan tinjunya erat, nafasnya memburu menahan amarah."kita lihat saja siapa yang akan mentertawakan siapa." Monolog Abhimanyu.


"Leo kumpulan para direktur koordinator,kita ke ruang rapat sekarang!"


"Baik tuan."


"Aku sudah menunggu saat-saat ini,lihat saja aku tak akan menyerah begitu saja kupastikan kalian para cacing tanah akan berlutut di kakiku dan meminta ampun."Abhimanyu bermonolog kepada dirinya sendiri.



Felysia memandang jam di pergelangan tangannya berkali-kali,dia menunggu seseorang yang dia undang di restoran ini dengan harap-harap cemas.tiga jam lalu setelah kepergian Abhimanyu untuk ke kantor,sia memberi pesan kepada Dian sahabatnya meminta untuk bertemu sebentar.



Banyak yang harus dia jelaskan kepada sahabatnya itu, terutama tentang pernikahannya yang terjadi secara mendadak ini, sejak hari dimana dia menikah Sia sama sekali belum bertemu dengan Dian lagi, bahkan pernikahannya inipun sahabatnya tidak tahu, bukannya Sia tak ingin memberitahu tapi waktunya yang saat itu selalu tak sempat.



Jadi Sia pikir inilah saatnya yang tepat,dia tak ingin sahabatnya itu khawatir dengan tidak memberi kabar tentang dirinya.dulu di saat dirinya membutuhkan seseorang sebagai sandaran Dian selalu datang dan memberikan entah saran ataupun bantuan.



"Gajimu pasti di ambil lagi oleh bibimu dan bella kan.ya sudah ayok aku traktir makan hari ini,aku membawa kartu kredit ayahku."



Itulah percakapan yang Sia sangat ingat dengan Dian,ya Dian memang terlahir dengan keluarga berada meski begitu Dian selalu mengatakan padanya bahwa dia kesepian jika berada di rumah karena ayah dan ibunya yang selalu sibuk dan tak punya waktu untuknya.



Oleh karena itu setiap seminggu sekali Dirinya akan menemani Dian bermain kerumah besarnya dan melakukan apa saja yang menyenangkan seperti memasak, bermain boneka,dan membaca cerita.



Bahkan ketika mereka sudah beranjak remaja,hal tentang asmara pun Dian tak lupa menceritakan kepada felysia, tentang bagaimana Dian dengan barbar menyukai kakak kelasnya dan membuat keributan hanya karna ingin selalu dekat dengan kakak kelasnya itu.



Mengingat itu felysia tersenyum, Dian selalu menceritakan apapun masalahnya kepada felysia, sementara dirinya selalu merahasiakan masalahnya kepada Dian,dan itu terkadang membuatnya merasa bersalah.tapi yang dilakukan felysia itu beralasan, dia hanya tak ingin Dian menjadi khawatir.itu saja.



"Dian.di sini!" Felysia melambaikan pelan kepada gadis dengan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya itu.



Dian yang melihatnya pun segera menghampiri felysia di tempat duduknya dan langsung mendudukkan bokongnya di kursi kosong.



"Astaga kau tahu Jakarta pagi ini macet banget,udah gimana panas banget. Huh, gak kebayang deh kalo tiap hari kaya gini." Ujar Dian,dia meletakkan tas bermereknya di atas meja dan mulai mengipasi dirinya dengan kipas kecil yang dibawanya.



"Astaga kau memesan minuman? Aku minum ya." Setelahnya Dian langsung menyerobot minuman dingin yang memang telah dipesan Sia sejak awal itu.

__ADS_1



Felysia yang melihatnya tersenyum,sifat Dian yang blak-blakan seperti ini yang dia suka,dan terkadang Sia merasa iri dengannya dan ingin memiliki sifat seperti itu juga.



"Ngomong-ngomong untuk apa kau meminta bertemu seperti ini? Tidak seperti biasanya." Kata Dian sambil terus menyesap es cappucinonya.



"Aku ingin memberitahu hal penting kepadamu, aku ... Telah menikah."



ucapan felysia tentu saja membuat Dian kaget luar biasa, bahkan sekarang tersendak minuman sendiri saking kagetnya.



"Apa! Menikah!" Seru Dian dengan suara melengking.



"Ssstt ... Kau jangan berteriak seperti itu." Bisik felysia yang menempanya telunjuknya di bibir meminta Dian untuk diam.



Temannya yang satu ini memang sangat gawat jika diberitahu hal penting ditempat yang seramai ini.



"Habisnya aku kaget banget." Kata Dian tak kalah berbisik.



"Kau benar-benar sudah menikah? Menikah? Dengan siapa? Dengan tuan muda itu kan?" Tanya Dian bertubi-tubi. Beginilah jika Dian sudah diberitahu hal sesuatu, jiwa keponya akan berkoar-koar.



"Tentu saja dengan dia, memangnya dengan siapa lagi." Jawab Sia.



"Aish takutnya tuan muda mafia itu berubah pikiran dan menjadikanmu pembantu di istananya."



"Jahat sekali." Sia memukul pundak sahabatnya itu pelan,dan mereka malah tertawa setelahnya.



Dian dalam hati tersenyum,ntah kenapa jika bersama dengan Dian dia bisa dengan lepas mengeluarkan ekspresi dan pendapatnya,entah memang karena mereka sudah berteman sejak lama dan felysia yang nyaman dengannya, intinya jika bersama Dian sifat pemalu dan groginya itu hilang seketika.



"Emm ... Apakah kau tidak marah? Soalnya aku tidak memberitahumu dari awal." Kata felysia merasa bersalah.



Dian mendesah pelan, "untuk apa aku marah,Toh semuanya telah terjadi dan aku yakin kau pasti juga punya beberapa alasan sehingga tidak bisa memberitahuku."



Sia tersenyum.senyum Sia kali ini terasa tulus dan hangat, Sia sangat beruntung karena telah mendapatkan sahabat seperti Dian ini.dan Dian yang melihat Sia pun ikut tersenyum.



"Yang penting sahabatku ini baik-baik saja ya kan." Lanjut Dian dan angguki oleh felysia.




Setelahnya felysia menjelaskan dengan detail semua yang terjadi padanya, sejak awa tragedi makan malam yang tak mengenakkan itu dan hingga terjadi hingga pernikahannya kini. Dian yang menyimak serius pun kadang sampai terbatuk atau emosi saking menghayatinya.



Jadilah setengah hari itu felysia habiskan untuk bercerita dengan sahabatnya,tentang bagaimana Arya yang sempat merusuh di hari pernikahannya, tapi bisa cepat di tangani oleh ayah mertuanya.tentang bagaimana baiknya Ny.sinta yang mendampinginya di pernikahan di saat dari keluarganya yang tak ada untuk mendampinginya dan Bella yang menuntut Arya untuk segera menikahkannya dan berakhir Bella yang memilih ke luar negeri agar Arya mengejarnya.



Semua kerusuhan itu terjadi secara bersamaan membuat felysia kerepotan mengatasinya dan untung sekarang ada Dian tempatnya bisa berkeluh kesah dan menjadi tempat sandaran,Dian yang satu tahun lebih tua dari felysia membuat Sia seperti memiliki sosok kakak dan itu membuatnya sangat bersyukur masih bisa dipertemukan orang-orang baik di hidupnya ini.



"Ouh jadi si brengsek Arya itu adiknya si tuan muda Abhimanyu." Kata Dian sambil mengangguk kecil setelah felysia selesai bercerita.



"Sudah ku duga felysia si Arya itu memang bukan pria yang baik-baik, sejak dahulu aku selalu mewanti-wanti dirimu jika dekat dengannya." Ucap Dian waspada kepada felysia.



"Dan sekarang terbukti kan! Untung saja saat itu ada tuan muda mafia itu." Lanjutnya,dan felysia hanya diam mendengarkan apa yang sahabatnya ini katakan.



"Dan aku tak cukup terkejut ketika kau mengatakan bahwa Bella mengandung anak Arya, aku sudah menduganya dari sifat Bella yang kecentilan jika Arya berkunjung untuk menemuimu."



"Cocok lah mereka berdua si brengsek dan si cabe.sangat klop jika disatukan."



Felysia yang mendengarnya pun mecubit lengan Dian, "jaga ucapanmu,kau baru saja mengatakan hal buruk kepada sepupuku."



"Baiklah baiklah tidak akan lagi." Jawab Dian seolah sudah menduga itu akan terjadi.sifat terlalu baik sahabatnya ini memang sudah sangat dihafalnya.



Felysia yang mendengarnya pun tersenyum dan mulai menyesap minumannya.



"Tapi ... Kau juga harus berhati-hati dengan tuan muda mafia itu, kita tidak tahu, sifatnya bisa saja sama dengan Arya."



"Tapi suamiku berbanding terbalik, sifatnya termasuk orang yang irit bicara." Cicitnya.



"Ck, manggilnya sekarang sudah 'suamiku' nih ye." Goda Dian yang kemudian menghela nafas, " jomblo sepertiku ini bisa apa ya kan."



"B-bukan kah memang seperti itu aku memanggilnya,kan dia memang suamiku." Ucap Felysia mulai gugup, pipinya mulai bersemu merah hingga ke telinga.



Dian menggelengkan kepalanya pelan, "ck ck kau ini terlalu naif fely, bagaimana jika tuan muda mafia itu memanfaatkanmu suatu saat nanti."

__ADS_1



"Gak akan,soalnya pernikahan ini--" ucapan Sia terpotong,dia mulai berfikir sejenak.



"Pernikahan ini, kenapa? kau suka sekali berbicara sepotong-sepotong." Ujar Dian penasaran.



"Tidak ada.hanya saja pernikahan ini terpaksa,ya terpaksa." Ucap Felysia,dia merutuki kecerobohannya dalam hati karena hampir keceplosan mengatakan bahwa pernikahan ini hanya pernikahan kontrak.



"Itu tentu bukan masalah,kau tahu pepatah Jawa 'witing tresno jalaran Soko kulino' cinta akan tumbuh karena terbiasa" Ujar Dian mulai puitis.



"Jadi meskipun sekarang kalian masih terpaksa menjalani pernikahan ini,aku yakin suatu saat nanti di antara kalian akan ada cinta di dalamnya." Lanjut Dian, seolah sedang membaca puisi Dian sangat mendalami, dengan tangannya yang menari menggapai udara dan matanya yang terpejam tersenyum.



"Jadi sekarang kau mengerti." Sia hanya mengangguk dengan ucapan Dian tadi,dalam hatinya dia meringis pedih . bagaimana menjelaskan kepada sahabatnya ini jika pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun saja.



"Tapi tuan muda itu telah memiliki kekasih." Ucap Felysia dengan tatapan kosong.



Dian yang mendengarnya pun terpekik kaget, "Apa! Tuan muda itu memiliki kekasih."



Felysia mengangguk lemah, hatinya berdesir perih setelah mengatakannya, seolah-seolah mengingatkan kembali luka hatinya ketika Abhimanyu tega mengatakan itu, seolah-seolah felysia adalah orang ketiga dalam hubungan dua insan itu.



"Bagaimana bisa seseorang yang telah menikah memiliki kekasih? Wah tuan muda sungguh sangat kejam."



"Bukan salahnya Dian, tuan muda itu memang sudah memiliki kekasih sebelum menikah denganku."



Dian yang mendengarnya tercengang, " Y-ya tetap saja kau sekarang itu istri sah.lebih tinggi statusmu dari pada wanita yang menjadi kekasihnya itu."



"Dengar." Dian mendekatkan dirinya ke samping felysia dan merangkul pundak sahabatnya itu, "kau harus mengambil hati tuan muda itu jika kau ingin tetap hidup."



"Maksudnya?" Felysia tak mengerti.



"Maksudnya kau harus merubah sifat pemalu mu itu menjadi sifat wanita pemberani dan periang untuk mulai mengambil hatinya."



Setelahnya Dian menjelaskan dengan apik apa yang harus felysia lakukan kedepannya,untuk membuat tuan muda irit bicara itu menjadi sangat banyak bicara padanya, singkatnya harus membuatnya jatuh cinta.



Tapi ada yang dilupakan oleh felysia dan tak di beritahunya kepada Dian,yaitu tentang Abhimanyu yang tak memiliki hati, bahkan adapun memiliki hati, hatinya akan sekeras batu.



Dalam hati felysia meringis, bagaimana caranya membuat seorang pria yang tak memiliki hati menjadi jatuh hati padanya. Bagaimana caranya Dia mengisi kekosongan itu.



Pukul 23.45, Abhimanyu melihat jam di pergelangan tangannya itu. Hari ini setelah hal yang panjang terjadi ingin rasanya dia bermalam di perusahaan saja, sebenarnya masih banyak yang harus dia kerjakan, tapi dia harus memeriksa sesuatu penting dan kebetulan hal penting itu tertinggal di ruang kerjanya.


Kebetulan malam ini Leo setelah dengan paksaan dan perdebatan yang sedikit alot, tidak menemaninya lembur dan pulang lebih awal.abhimanyu tahu bahwa saat itu Leo sedang dalam keadaan terdesak juga karna harus mengantarkan adik perempuannya ke suatu tempat jadi Abhimanyu menyuruhnya untuk pulang dan tak menunggunya.


Dan kebetulan memang Abhimanyu ingin mengendarai kendaraannya sendiri, untungnya dia sudah membuat persiapan jika musuhnya menjadikan ini kesempatan dan ingin mencelakainya. Hidup di dunia yang gelap dan keras membuat Abhimanyu harus menjaga langkahnya agar tak salah melangkah.


Pukul 12.05 Abhimanyu tiba di pelataran rumah bertingkat dua itu, Setelah menikah ayahnya sudah membujuk Abhimanyu untuk tinggal di mansion bersama dengan felysia.tapi Abhimanyu menolak karna dia tak ingin satu atap bersama dengan Arya dan memang sebelum inipun Abhimanyu tak pernah lagi tinggal di mansion dan lebih memilih untuk membeli apartemen.


Jadilah dengan perdebatan panjang, sang ayah menyerah dan lebih memilih memberikan salah satu rumah mewah di perumahan elit.abhimanyu awalnya menolak tapi mengingat ada felysia sebagai tanggungjawabnya akhirnya mau tak mau ia setuju.


Abhimanyu kemudian mengkelakson mobilnya pertanda untuk sang satpam rumahnya untuk membukakan gerbang besar yang menjulang tinggi itu,sang satpam pun segera membukakannya.


Abhimanyu masuk kerumah setelah membuka kuncinya, dia memang membawa kunci rumah sendiri.karna dia sering tak berada di rumah hingga larut malam Abhimanyu sempat berpesan kepada felysia agar pintu rumah di kunci saja dan dia membawa duplikatnya satu.


Abhimanyu berjalan melewati ruang utama dan kamar felysia.seolah dia adalah seorang bujangan yang hidup sendiri,dia berjalan santuy menuju tempat kerjanya dan mengambil file penting yang tertinggal itu.


Setelah mengambil file itu Abhimanyu menutup pintu ruangannya,merasa tenggorokannya kering dia menyempatkan diri untuk ke dapur dan mengambil minuman sebentar.


Tapi sesampainya di dapur Abhimanyu heran melihat lampu dapur yang menyala, biasanya di jam segini lampu belakang sudah dimatikan semua.merasa ada yang tak beres Abhimanyu melangkah pelan-pelan.


Dan alangkah terkejutnya dia mendapati felysia,wanita itu sedang meringkuk di meja makan dengan makanan yang terhidang rapi. Abhimanyu lantas mengatur ekspresinya dan berdehem pelan guna membangunkan gadis itu.


"Ahh,kau sudah pulang?" Sia yang terbangun karena deheman Abhimanyu itu.


"kenapa kau tidur di sini? apa kamarmu tidak cukup luas?" dengus Abhimanyu.


"Bukan begitu,aku kira kau akan pulang malam ini jadi aku sengaja menyiapkan makan malam untukmu, aku tidak sengaja tertidur disini menunggumu." jelas Felysia.


"Lain kali tak usah,aku tak biasa makan selarut ini."


Sia yang mendengarnya lantas tertunduk, " begitukah,lain kali aku akan mengingatnya." lirihnya.


"Kau akan pergi lagi?" tanya Sia yang melihat Abhimanyu masih mengenakan pakaian kantor.sebenarnya tak bertanya pun felysia sudah hafal jika Abhimanyu akan lembur lagi hingga pagi jika menyangkut pekerjaannya.


Abhimanyu mengangguk mengiyakan, "Bagaimana dengan semua makanan ini?"


"Ahh, tak usah khawatir aku bisa menghangatkannya untuk besok mang Ujang dan mang Jajang sarapan." ucap Felysia menyebutkan nama satpam dan supir pribadinya di rumah ini.


Abhimanyu lagi-lagi mengangguk dan akan siap beranjak pergi jika saja felysia tidak menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Abhimanyu berbalik.


"Bisakah kau menunduk sebentar?" felysia meminta.


"Untuk apa?" tanya Abhimanyu meski begitu dia tetap menunduk.


Cupp! ...


Tanpa aba-aba lagi, felysia yang berjinjit mengecup kening Abhimanyu sekilas dan itu sukses membuat Abhimanyu diam membeku.


"Ucapan selamat malam." hanya itu yang dikatakan felysia,dengan pipi bersemu merah sampai ke telinga.


Felysia lantas meninggalkan Abhimanyu begitu saja yang masih dalam keadaan syok.seperti patung Abhimanyu tak bisa beraksi apa-apa, tetapi detakan jantungnya yang berpacu kencang membuktikannya.


ada apa ini? Seorang Abhimanyu yang terkenal kejam menjadi salah tingkah karena seorang wanita?


 ~~~~~


Hai Kaka Kaka yang baik please jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote,like, favorit ceritaku yah supaya aku tambah semangat buat update! terimakasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2