
Petang itu kerusuhan terjadi karna kedatangan dua mahluk ghoib yang menurut Felysia sangat mencurigakan. Siapa lagi kalau bukan Leo dan Dian. Felysia yakin ada yang mereka sembunyikan selama ini, mungkin hubungan mereka.
"Katakan padaku apa hubunganmu dengan Leo?" Selidik felysia penuh curiga pada sahabatnya itu. Sekarang mereka berdua sedang berada di halaman belakang tepatnya di samping pintu belakang rumah.
Felysia menyeret Dian sampai kesini karna ingin berbicara empat mata saja dengan sahabatnya ini.
"A-aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengannya!" Dian berkata gugup,mata wanita itu berkeliaran Membuat felysia semakin curiga.
"Benar kan, kau tidak berbohong." Felysia menyipitkan matanya.
"Aduh bener deh suer. Kapan sih aku berbohong padamu." Dian menggaruk kepalanya.
"Kita sudah berteman sejak SMP loh. Aku hafal dengan semua sifatmu." Felysia menggamit lengan Dian.
"Aku harap kamu tidak berbohong. Kau tahu kan Leo orang yang seperti apa, Jangan pernah punya hubungan dengannya," kata felysia menatap lekat sahabatnya.
Felysia mengatakan ini sengaja untuk memberi peringatan kepada Dian. Selama ini Felysia mengenal Leo sebagai pria playboy yang suka mempermainkan hati wanita, dia melihat sendiri. Sementara Dian adalah wanita yang sempat trauma dengan yang namanya percintaan. Tiga kali gagal berhubungan bersama dengan tiga pria berbeda Membuat Dian lebih menutup diri,dan menganggap semua lelaki itu sama saja, brengs*k seperti mantan-mantannya.
Itulah sebabnya mereka berdua tidak boleh terjebak perasaan satu sama lain. Apa lagi status mereka berdua berbeda,akan sangat susah karna felysia tahu pak Taufiq,ayah Dian adalah lelaki dengan gengsi dan martabat yang tinggi, dia takut itu bisa jadi masalah suatu hari nanti.
Dian tampak merasa bersalah, dia berbohong kepada sahabatnya,mungkin Felysia pun peka akan itu. Dian menatap gamang dengan dada berdegup kencang. Apakah dia harus memberitahukan semuanya kepada teman baiknya ini.
Sementara di dapur kedua pria itu menatap ke arah pintu belakang di mana para wanita sedang berbicara serius di sana. Abhimanyu sih menatap santai tapi tidak dengan Leo, pria itu deg-degan, apakah Dian akan memberitahukan hubungan mereka kepada felysia.
"Kau benar mempunyai hubungan dengan wanita itu?" Abhimanyu bertanya sambil melipat tangan ke depan dada.
"Wanita itu, maksudnya Siapa tuan?" Leo bingung. Dasar telmi.
"Dian,teman istriku itu. Siapa lagi?" Abhimanyu menatap sekilas.
"Ouh Dian." Leo menggeleng sejenak, "Anda tahu kan saya dekat dengan wanita bukan hanya Dian saja, kirain siapa." Lelaki itu terkekeh pelan.
Aduh pikirannya terbayang Amrita,cewek ke 101 yang ada di list gebetannya itu pasti sedang ngambek karna dia belum memberi kabar.
"Memangnya kau mengira siapa?" Abhimanyu sampai lupa pengawal setianya ini di juluki Playboy cap kudanil,mana mungkin dia dekat dengan hanya satu wanita saja.
"Hehehe,saya kira nyonya muda, tuan." Leo cengengesan.
Abhimanyu menatap horor, "Jika kau ingin mati muda bilang saja. Tulis wasiat, sebelum malaikat maut menjemputmu." Kata-kata tajam itu keluar.
"Hehehe bercanda, bercanda." Leo membentuk tanda peace.
"Leo, saya mengenalmu bukan hanya sehari dua hari." Abhimanyu mulai serius.
"Lekaslah berubah dan bertaubat dan carilah wanita yang benar, lalu nikahi dan bina lah rumah tangga dengan baik." Nasihat Abhimanyu.
"Jangan sampai kau jadi perjaka tua." Lanjutnya.
Leo hampir tersedak ludah sendiri mendengar kata terakhir Abhimanyu.sial, tuan muda ini menyindirku telak sekali, gumamnya.
Leo bermuka masam, "Iyah deh iya, yang udah nikah mah,enak." Leo mencibir.
Abhimanyu terkekeh pelan.ntah mulai sejak kapan hubungan dia dan Leo menjadi lebih akrab,tidak selalu serius dan terkesan kaku.
"Anda pikir nyari wanita baik-baik itu gampang, ibaratnya tuh kaya nyari jerami di tumpukan jarum,susah banget tuan,susah," ujar Leo mendramatisir.mulai lagi lebaynya.
"Tidak akan susah asal kau mau merubah diri." Kata kata singkat itu menyadarkan Leo.
Abhimanyu berlalu setelah mengatakannya. Leo mengintili dari belakang.
Abhimanyu lalu menuju kulkas tiga pintu yang terletak tak jauh dari dapur, lalu membukanya dan mengambil air dingin di sana.
"Kenapa kau mengikutiku?" Lagi-lagi Abhimanyu melayangkan tatapan horornya.
"Hehehe laper tuan,pengen maem." Leo mengusap perutnya yang tak buncit.
Suara dentuman dari dalam perut karetnya terdengar kencang.
"Tuhkan cacing-cacing dalem perut saya udah demo keras gak kalah keras dari konsernya BTS." Ucapnya menyebutkan salah satu boyband Korea kesukaan Dian.
Abhimanyu memutar bola mata malas, " pergilah ke meja makan sana, istriku sudah memasak banyak."
Leo terlonjak senang, "Yeah, terimakasih tuan muda, kau memang sangat tamvan dan baik hati." lalu berlalu.
__ADS_1
Abhimanyu yang mendengarnya seketika merinding, ucapan Leo bahkan lebih seram daripada mendengar ketawanya kuntilanak yang selalu bertengger di pohon mangga samping rumah.
Abhimanyu menggeleng kepalanya,lalu melanjutkan minumannya. memang sudah seminggu terakhir Leo selalu bertandang kerumah ini, karna libur panjang membuat waktu mereka berdua lebih banyak, biasanya Leo kesini karna ada urusan kantor atau hanya sekedar ingin bermain. bersyukurnya bukan hanya Leo, tapi Dian juga selalu menyempatkan kesini membuatnya tak khawatir jika harus meninggalkan felysia sendirian.
sementara Leo,bocah itu sedang sibuk menyendok nasi dan memasukkan lauk pauk ke atas piringnya,tidak main-main Leo bahkan menyendok lima centong nasi keatas piringnya,belum lagi lauk pauk yang hampir setengahnya ludes.
Memang masakan Felysia tak pernah salah, Leo sangat menyukainya, dia akan lebih sering numpang makan di sini dari pada dirumahnya. menurutnya masakan nyonya mudanya sangat pas rasanya seperti ada sentuhan magis dari tangan felysia saat memasaknya Membuat Leo ingin selalu nambah.
Dian bersama Felysia berjalan pelan ketika dua pria itu sedang sibuk urusan masing-masing. Leo yang sedang makan hanya menatap sekilas lalu kembali melanjutkan makannya.
Abhimanyu menghampiri keduanya, felysia hanya menunduk sementara Dian menatap sendu.
"Kau mau kemana?" Felysia hanya melewati Abhimanyu tanpa mengatakan apa-apa.
"Abi tolong samperin felysia, suasana hatinya sedang tidak baik."
"Sebenarnya ada apa?" Abhimanyu masih bersikap tenang.
Dian hanya menatap sendu tanpa mau menjawab pertanyaannya. Abhimanyu hanya menghela nafas pelan, sepertinya kedua sahabat ini sedang bertengkar.
Abhimanyu lalu berlalu menyusul felysia tanpa mengatakan apa-apa lagi,tak mau berbasa-basi juga. sudah di duga kan,dia melunak hanya kepada Felysia di luar itu Abhimanyu tetap sama, hanya pria dingin.
Dian membenarkan tas selempangnya matanya lalu tertuju pada Leo di meja makan sana, Leo bahkan tak mau menatapnya.Ah,apa yang dia harapkan, hubungannya dengan pria itu tak terlalu terikat hingga Leo harus memperhatikan dia seperti seorang kekasih.
Wanita itu lalu berjalan pergi untuk keluar rumah, hari ini niatnya ingin mengajak felysia menonton pupus sudah,dia mencari masalah duluan, dia tahu. karna kecerobohannya ini.
Flashback*
"Katakan padaku yang sejujurnya Dian,apa hubunganmu dengan Leo?" di belakang rumah, felysia masih terus mendesaknya untuk jujur.
"Sudah ku bilang kan aku tidak hubungan apa-apa dengannya,dia hanya teman kebetulan kami sama-sama menyukai film Marvel. hanya itu." Dian kali ini mengatakan yang sejujurnya. sebenarnya hubungannya dengan Leo lebih dari itu,bisa dibilang mereka sedang dalam masa pdkt. tapi Dian tidak siap untuk bilang sekarang kepada temannya ini.
"jujur padaku jangan bohong, aku menyadari sejak seminggu lalu tatapanmu mulai berubah padanya. hubungan kalian sudah dekat kan."
Dian mulai jengah, "Aku harus mengatakan apa lagi supaya kau percaya."
"Aku hanya ingin kejujuranmu Dian. kau tahu kan bagaimana Leo, dia itu playboy, wanitanya ada di mana-mana. aku tak mau kau jadi korbannya."
"Ya terus kenapa kalau dia playboy, bisa saja kan dia berubah kalau bertemu wanita baik." Dian membela Leo. walaupun yang dikatakan felysia tak salah tapi Dian tak suka dengan nada bicaranya.
Dian mulai kehilangan kesabaran, "Fine. aku emang lagi Deket sama dia." ucap Dian akhirnya.
Felysia membeku sejenak, "Dian kau tahu kan bagaimana ayahmu? dia pasti akan menentang ini jika kau benar dengan Leo. Status keluarga kalian tak sama, bagiamana tanggapan ayahmu nanti."
Felysia tahu dan mungkin Dian pun sudah tahu Leo hanya anak pembantu, ibunya dahulu adalah pembantu di keluarga Maheswara sebelum akhirnya sakit-sakitan dan meninggal menyusul ayahnya. Leo dan adik perempuannya akhirnya di ambil asuh oleh keluarga Maheswara dan di besarkan oleh mereka.
Dian memandang tak suka felysia, dia meradang, Felysia sudah sangat kelewatan dengan membawa-bawa status ke sini.
"jangan membawa status disini.bahkan kau dengan Abhimanyu saja berbeda kasta!" Dian meninggikan suaranya.
Felysia terkejut bukan main,dia membulatkan matanya. sahabatnya yang sangat ia sayangi bisa setega itu mengatakan hal itu. dia tidak menyangka.
Dian tersadar, omongannya Sangat menyakitkan.
"F-fely bukan maksudku begitu. maafkan aku." Dian berjalan ke arah felysia tapi Felysia memundur.
"Aku tak menyangka kau bisa mengatakan hal sekejam itu dari mulutmu." mata gadis itu berembun. nafasnya tercekat seakan pasokan oksigen di tenggorokannya terhenti.
"Aku tahu aku dan Abhimanyu berbeda kasta. ibarat dia pangeran dan aku hanya seorang rakyat jelata. kau berpikir seperti itu kan." air matanya sukses meluncur.
"Fely,bukan maksudku seperti itu. aku terbawa emosi,aku minta maaf." Dian berusaha mengenggam lengan Felysia.tapi felysia menepisnya.
"jika orang lain yang mengatakannya aku mungkin bisa menerima,karna itu memang benar adanya. tapi kau ... kau sahabatku Dian.seseorang yang sudah kuanggap sebagai saudara." air mata felysia menjadi deras.
Kacau.ini sangat kacau Dian telah menghancurkan hati sahabatnya itu.
"Fely, maafkan aku." Dian hampir ikut menangis.
Tapi Felysia tak menggubris permintaan maafnya.gadis itu menghapus air matanya lalu berlalu meninggalkan nya.
*Flashback off
Sampai di teras Dian mengadah menatap langit yang tampak cerah hari ini. pasti akan sangat menyenangkan jika dia menghabiskan waktunya dengan felysia,tapi dia malah mengacaukannya dan melakukan hal yang sangat fatal. ketakutan mulai menghantuinya dia takut hubungan persahabatannya dengan felysia bisa hancur.
__ADS_1
"Biar ku antar." Dian menoleh menatap Leo yang kini berada di sampingnya.
"Tidak usah,aku bisa sendiri." Dian mengeratkan genggaman tasnya.
"Kau mau pergi dengan apa? mobilmu saja berada di bengkel."
"Aku bisa memesan taksi online." dia menyela.
"Sudahlah kapan lagi aku menawarkan tumpangan padamu." Leo menggamit lengan Dian dan mengajaknya ke mobil. biasanya memang Dian yang selalu ingin menebeng Dengan Leo. bahkan memaksa ingin satu mobil dengan pria itu,seperti tadi.
Saat sudah sampai di depan mobil Dian menghentikan langkahnya gadis itu membeku dengan tatapan kosong.
Leo menghela nafas, "Dian, dengarkan aku terlepas dari apapun masalah kalian berdua, jangan pernah membenci nyonya muda,dia hanya berniat baik padamu."
Dian menatap Leo, " kau mendengarkan pembicaraan kami?"
Leo menggeleng, "tidak."
Bohong. Leo berbohong. Dian bisa melihat itu dari matanya. pria itu pasti tak sengaja mendengarkan pembicaraannya dengan felysia.
"Maaf." itu yang meluncur dari mulutnya.
"kenapa meminta maaf?" Leo bingung.
"Gak tau, pengen minta maaf aja." Dian menggeleng.
Leo tertawa pelan, "Kau lucu ya."
"Ayok." Leo kembali menggenggam lengan Dian.
"Tunggu, kita akan kemana?" Dian terhenti.
Leo tersenyum, "kita akan suatu tempat yang indah, untuk mengusir kesedihanmu."
****
Di kamarnya, felysia terduduk di kursi meja belajarnya. gadis itu terisak pilu masih tak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Dian.
Mereka berteman bahkan sejak dahulu, menikmati asam garam kehidupan bersama, Dian adalah satu-satunya sahabat yang dia punya Dan yang selalu baik padanya. kenapa Dian tega mengatakan seperti itu.
"Kenapa menangis?" suara bariton itu berasal dari Abhimanyu. pria itu lalu menghampiri sang istri.
"Ah, T-tidak mas,aku hanya kelilipan." Felysia buru-buru menghapus air matanya.
Lagi-lagi Felysia berkilah,kelilipan apanya.dia bahkan mendengar jelas isakan tangis sang istri.
"Jangan berbohong padaku. apa yang terjadi padamu dan Dian?" Abhimanyu sudah berdiri di depan felysia.
Felysia hanya bergeming.
"Jangan menangis. sudah ku bilang berkali-kali kan, hatiku sakit melihatnya." pria itu menghapus jejak air mata istrinya.
Abhimanyu lalu membantu Felysia berdiri dari duduknya dan segera saja membawa gadis itu ke pelukannya, dan mengusap pelan pundak Felysia.
Felysia menangis di dada bidang pria itu, kedua lengannya memeluk pinggang Abhimanyu.
"Sudah, sudah. jangan menangis." Abhimanyu memenangkannya. karna hanya itulah yang bisa dia lakukan.
"Kenapa Dian sampai berkata seperti itu padaku, padahal aku hanya memperingatinya.sebagai sahabatnya aku ingin melindunginya.aku tidak ingin dia kenapa-napa."
Abhimanyu diam, membiarkan sang istri mencurahkan isi hatinya.
"Aku tahu." dia melerai pelukan mereka.
"Sudah jangan menangis lagi. kita akan membicarakan ini lagi nanti." Felysia menurut menghapus air matanya.
"Kau ingatkan sore kita masih ada janji." Abhimanyu menelusupkan anak rambut ke telinga felysia.
Felysia mengangguk, "Iyah aku ingat."
Hari ini mereka akan menemui anak jalanan itu di gubuk mereka, felysia tak lupa.katanya Abhimanyu sudah menyiapkan hadiah untuknya juga di sana.
"Baiklah, sekarang ganti bajumu dahulu. aku akan menunggu sambil menaruh barang-barang di bagasi."
__ADS_1
Felysia mengangguk dia sudah sedikit melupakan rasa sakitnya. beruntung dirinya memiliki Abhimanyu di sampingnya.